
Pasangan itu makan dengan tenang, selesai makan tak banyak yang mereka lakukan. Zico sibuk dengan Mack books, yaitu alat penunjang pekerjaannya. Ia fokus memeriksa setiap email yang masuk.
Sementara Zahira memeriksa tugas kampusnya, setelah cukup istirahat sembari bergelut dengan buku-bukunya Zahira segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Zahira hanya mengenakan daster rumahannya. Wanita itu terlihat begitu cantik dan wangi. Ia ikut duduk di samping suaminya yang masih fokus menatap layar tipis yang ada di pangkuannya.
"Mas," panggil Zahira menyandarkan kepalanya di bahu Pria itu.
"Ya, Sayang?" jawab Zi tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu.
"Cantikan mana aku sama MacBook kamu itu?" tanya Zahira membuat Zico terkekeh kecil sembari menyudahi pekerjaannya.
Zico menaruh benda penunjang pekerjaannya di atas meja lalu netranya segera menatap wajah cantik yang ada disampingnya.
"Kenapa pertanyaanmu itu sangat menggemaskan?" ungkap Zi seraya melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibir tipis wanitanya yang sedari tadi selalu mencari masalah dengannya. "Andai saja kamu tidak datang bulan, maka aku sudah memakanmu," gumam Zi dengan senyum nakal.
"Abisnya kamu lebih tertarik dengan benda itu daripada aku," protes Zahira dengan manja.
"Mana mungkin aku tertarik dengannya, aku hanya tertarik denganmu. Oya, apa rencana kita sore ini?" tanya Zi memeluk wanita itu.
"Kita disini saja ya, Mas, benaran aku lagi males banget gerak," jawab wanita itu memang begitu adanya.
"Yaudah, kalau begitu buatin Mas kopi dong?" pintanya.
"Baiklah, tunggu sebentar ya." Zahira segera beranjak menuju dispenser membuatkan secangkir kopi panas untuk suaminya.
Karena Zahira sedang malas pergi kemana-mana, maka pasangan halal itu menghabiskan waktu di kost sembari mengerjakan tugas mereka masing-masing.
***
Pagi-pagi sekali Zahira sudah bangun lebih dahulu dari Zi. Ia segera berberes sebelum memulai kegiatannya di kampus. Pagi ini Zahira mempunyai dua makul maka ia harus datang lebih awal dari yang biasanya.
"Mas, kamu tidak pulang hari ini?" tanya Zahira membangunkan suaminya yang masih enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Iya, Dek, aku pulangnya nanti agak siangan. Karena hari ini aku tidak ada jadwal sidang," jawab Zi dengan mata terpejam.
"Baiklah, kalau begitu kamu bangun, anterin aku ke kampus," pinta Zahira.
"Kamu kuliah pagi?" tanya Zi melihat istrinya sudah rapi.
"Iya, Mas, hari ini aku ada dua mata kuliah. Ayo sekarang cepetan kamu bangun. Nanti aku terlambat, Mas," desak wanita itu tak sabaran melihat gerak suaminya seperti keong.
"Iya, Sayang, tunggu sebentar." Zico segera menuju kamar mandi.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk lelaki itu membersihkan diri. Zico sudah keluar mengenakan bathrobe.
"Ini pakaian kamu sudah aku siapin, Mas," ujar wanita itu menyerahkan pakaian ganti suaminya.
Dan tak berselang lama Zico sudah terlihat rapi dan tampan dengan casualnya. Pria itu sedikit merapikan rambutnya di depan cermin.
"Oke, ayo berangkat, Dek," ajak Zi sembari meraih kunci mobil yang ada di nakas.
Zahira sedikit tertegun melihat penampilan suaminya yang tidak menggunakan stelan dinas, ataupun dasi di lehernya. Pria itu terlihat begitu Maconya.
"Masya Allah, kenapa melamun, Dek? Katanya buru-buru," tegur Pria itu seraya meraih tangan Zahira membawanya keluar kamar.
Pasangan itu segera menuju kampus. Ikha masih saja melirik suaminya. Dengan senyum penuh damba.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh?" tanya Zi heran.
"Nggak, aku melihat kamu sangat tampan pagi ini," jawab Zahira dengan jujur.
"Iya iya, aku percaya bahwa suamiku ini sudah tampan dari dulunya.
Hanya dua puluh menit mereka di perjalanan, kini kendaraan roda empat itu sudah terparkir dengan kendaraan yang lainnya.
"Kamu nggak langsung pulang, Mas?" tanya Ikha heran melihat suaminya ikut keluar dari mobil.
"Aku kan sudah bilang bahwa aku akan berangkat nanti agak siangan," jawab Zi.
"Sudah mulai jam kuliahnya?" tanya Zi sembari menilik jam tangannya.
"Belum, masih dua puluh menit lagi," jawab Zahira
"Bagaimana jika kita sarapan dulu di kantin?"
"Boleh, kebetulan aku sudah lapar," jawab Zahira menyetujui permintaan suaminya.
Zico segera menggandeng tangan istrinya menuju sebuah kantin yang ada di samping kampus. Pasangan itu menggunakan waktu yang ada untuk sarapan bersama.
Selesai sarapan, Ikha melihat jam pelajarannya akan segera di mulai. Ia segera pamit pada Zico.
"Mas, aku masuk sekarang ya. Nanti kamu pulang hati-hati di jalan, jangan ngebut. Titip salam rindu untuk anak-anak. Dan juga buat Mama dan Papa," pesan wanita itu sebelum mengikuti jam kuliahnya.
"Oke, Sayang. Semangat belajar ya. Jangan lupa selalu kabari aku," pesan Zi sembari memeluk sang istri dan meninggalkan jejak sayang di keningnya.
"Masuk ya, Mas. Bye..." Ikha segera meninggalkan suaminya yang masih berada di kantin.
"Setelah Ikha masuk kelas, Zico segera mencari ruang rektor pembimbing istrinya. Ia ingin menemui mereka untuk mengajukan permohonan agar wanita kesayangannya itu bisa PKL di kantornya.
"Permisi, boleh saya masuk?" sapa Zico yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Ya silahkan. Ada keperluan apa, Pak?" tanya salah seorang lelaki yang di perkirakan adalah dosen di universitas itu.
"Saya ingin bicara dengan dosen pembimbing PKL untuk jurusan hukum," jawab Zi.
"Ya dengan saya sendiri, Pak. Ah, silahkan duduk dulu, Pak," ucap lelaki itu dengan ramah.
"Baik, terimakasih. Oya, perkenalkan nama saya Zico Hamdi. Saya bekerja di pengadilan negeri kota Xx," jelas Zico sembari menunjukkan kartu id cards nya pada Pak dosen itu.
"Wah ternyata Bapak seorang ketua hakim? Dan suatu kebanggaan bagi kami bisa di kunjungi oleh ketua hakim yang sudah tidak diragukan lagi integritasnya," sambut lelaki itu dan juga dosen-dosen yang lainnya.
Mereka tampak senang menyambut kedatangan Zico yang secara tiba-tiba.
"Maaf, jika saya boleh tahu, ada keperluan apa Bapak menemui saya ya?" tanyanya sedikit heran.
"Begini, Pak. Saya datang kesini ingin meminta bantuan Bapak," ucap Zi.
"Bantuan apa itu, Pak?"
"Saya ingin minta tolong pada Pak dosen untuk menempatkan mahasiswi yang bernama Zahira agar PKL nya di tempatkan di kantor pengadilan negeri tempat saya bertugas," ujar Zi yang membuat semua dosen-dosen disana menatap tak mengerti.
Maksud Pak hakim bagaimana ya?" tanya lelaki itu masih bingung dengan permintaan Zico.
"Begini, Pak. Sebenarnya Zahira itu adalah istri saya. Dan kami mempunyai seorang bayi yang masih berumur empat bulan, jadi saya minta pengertian dan kerja sama Pak dosen agar mengizinkan Zahira untuk PKL disana. Untuk soal tugas-tugasnya Bapak tidak perlu khawatir, meskipun saya bekerja disana, tetapi hak penuh dalam membimbing bisa Bapak percayakan dengan petugas yang lain.
Bersambung....
Happy reading 🥰