
Mohon maaf bagi raeder semuanya atas kebingungannya dalam membaca bab sebelumnya. Sebenarnya masih ada panjang episodenya untuk sampai kesana. Tetapi karena kesalahan update maka terlalu cepat. Soalnya author nabung bab. jadinya author salah update.
Jadi di bab ini akan author lanjut lagi ya, baru nanti sampai ke mereka yang sudah dewasa. Sekali lagi author mohon maaf atas ketidaknyamanan nya🙏🤗
***
Selesai mandi, Zico segera menuju meja makan. Ia melihat sang istri sedang sibuk menata masakan yang sudah ia sediakan untuk dirinya.
"Banyak banget, Sayang?" tanya Zi sembari menarik kursi untuk dia duduki.
"Iya, aku juga belum makan, Mas," jawab Zahira masih fokus dengan pekerjaannya.
"Kamu beneran belum makan di jam segini?" tanya lelaki itu tak percaya.
"Benaran, aku sengaja nungguin kamu, karena pengen makan bareng kamu. Kan biasanya juga begitu," jelas wanita itu.
"Astaghfirullah, aku benar-benar lupa, Dek. Maaf ya. Kamu pasti sudah lapar banget. Lain kali jika aku pulang terlambat kamu tidak perlu tungguin aku. Kamu itu menyusui, jadi harus banyak makan," sesal Zico yang benaran lupa akan kebiasaan istrinya.
"Iya tidak apa-apa, Mas. Aku paham akan hal itu. Yang penting kamu sudah menjelaskan padaku. Ayo sekarang makan, tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku sangat memahami profesi suamiku," jawab Zahira sembari mengisi piring makan sang suami.
"Terimakasih ya, Sayang." Zico tersenyum bahagia mendengar pengertian sang istri.
Selesai makan, pasangan itu duduk santai sejenak di ruang keluarga sembari menyaksikan drama yang ada di salah satu channel TV.
"Mama dan Papa tidak pulang, Dek?" tanya Zi.
"Nggak, Mas, mereka kan menghadiri acara pernikahan keluarga kamu yang ada di pulau," jelas Zahira.
"Oh iya, sayang sekali kita tidak bisa datang ya," jawab Zi sembari membawa tubuh sang istri untuk bersandar di dadanya.
"Ya harus bagaimana lagi, Mas, kamu aku suruh pergi barengan sama Papa dan Mama nggak mau kalau aku nggak ikut," timpal Zahira.
"Memang nggak mau kalau bidadari surgaku tidak ikut bersamaku," jawabnya dengan senyum manis.
Pasangan itu diam sejenak sembari mengamati drama yang sedang mereka saksikan. Jangan lupakan bagaimana tangan Pak hakim yang tak bisa diam, tangan pria itu merusuh sehingga membuat Zahira geram.
"Mas, jangan begini. Aku tidak nyaman," interupsinya.
"Hahaha... Kenapa, Sayang? Nikmati saja," jawabnya dengan enteng.
"Mas!" seru wanita itu melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Hahaha... Iya iya, janji nggak gitu lagi. Ayo sini!" Zico kembali membawa Zahira masuk kedalam pelukannya. Kali ini Pria itu benar-benar menepati janjinya, tangannya hanya mengusap mahkota sang istri dengan lembut.
"Mas?" Panggil Zahira pelan.
"Ya Sayang?" jawab Zi mengecup puncak kepalanya.
"Aku ingin bicara sama kamu."
"Apa itu, Sayang, Katakan?"
"Mas, apakah aku boleh meneruskan kuliahku kembali?" tanya Zahira menengadah menatap wajah tampan sang suami.
"Tentu saja, apakah kamu sudah siap?" tanya Pria itu tampak tak keberatan.
"Ya, Insya Allah aku sudah siap, Mas. Lagipula aku hanya akan mengulang enam bulan saja untuk mengulang menyusun skripsiku kembali," jelas Zahira.
"Oke, nanti setelah kamu habis edah, kita akan mencari universitas terbaik untuk kamu," jawab Zi.
"Kenapa harus mencari universitas lagi? Aku akan melanjutkan pendidikanku di universitas semula."
"Tapi Universitas kamu itu di luar kota, Sayang? Terus, gimana dengan Zhera?" tanya Zi tidak mengerti.
"Mas, cuma enam bulan saja. Sementara waktu Zhera bisa kita titipkan sama Mama. Dan kami sudah membahasnya. Mama sama sekali tidak keberatan, awalnya aku ingin mencarikan baby sitter untuk Zhera, tetapi Mama tidak mengizinkan," jelas wanita itu membuat Zi terdiam.
"Tidak ada salahnya kan, Mas? Toh setiap libur aku bisa pulang kesini."
"Tapi, Dek?" tanya Zi masih belum rela.
"Mas, ayolah, aku butuh dukungan kamu. Karena sayang sekali pendidikanku yang sedikit lagi selesai," ucap wanita itu memohon pengertian sang suami.
Zico mencoba untuk memahami segala keinginan sang istri. Ia tak ingin menjadi penghalang wanitanya dalam menuntut ilmu.
"Baiklah, nanti setiap aku libur, maka aku yang akan mengunjungi kamu," jawab Zi yang pada akhirnya menyetujui keinginan Zahira.
Zahira tersenyum senang kembali masuk kedalam pelukan sang suami. "Terimakasih ya, Mas. Kamu tidak perlu khawatir, aku hanya ingin menyelesaikan pendidikanku yang sudah kepalang tanggung," ucap Zahira mengecup kedua pipi suaminya.
"Baiklah, sekarang ayo kita istirahat. Ini sudah cukup larut." Zico mengakhiri perbincangan mereka. Ia membawa Zahira untuk segera istirahat.
Pasangan itu naik keatas ranjang, tentunya mereka memeriksa bayi mungil itu terlebih dahulu. Sepertinya sang bayi masih sangat lelap tidurnya.
Zahira yang sudah sangat mengantuk, maka dalam sekejap saja sudah berada di alam mimpi. Namun, berbeda dengan Zico sudah jam dua dini hari, tetapi lelaki itu masih belum bisa menemui mimpinya.
Zico menatap wajah cantik sang istri yang sedang tertidur pulas. Entah kenapa rasanya begitu berat harus melepaskan istrinya untuk menyelesaikan pendidikannya.
"Kenapa kamu begitu pengaruh dalam hidupku, Dek. Bahkan saat mendengar kita akan berpisah saja membuatku mengalami insomnia," gumam Zi sembari membelai rambut wanitanya, sesekali ia mengecup keningnya dengan penuh kelembutan.
Puas bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Pak hakim terlelap juga dengan sendirinya. Mungkin efek lelah seharian sibuk mengurus kasus-kasus yang ia tangani.
Pagi ini Zahira bangun terlebih dahulu. Seperti biasanya, ia membangunkan sang suami untuk melaksanakan ibadah wajib dua rakaat.
Sebenarnya sedikit tidak tega, tetapi karena ia tak ingin Zico melewatkan waktu subuhnya maka ia membangunkan juga.
"Mas, ayo bangun, sholat subuh dulu ya. Nanti habis sholat kamu boleh tidur lagi," ucap Zahira sedikit mengguncang bahu suaminya.
"Jam berapa ini, Dek?" tanya Zi masih enggan membuka matanya.
"Sudah jam lima lewat."
Zico segera duduk sembari membaca Do'a agar matanya tidak sepet lagi. Dengan langkah gontai lelaki itu menuju kamar mandi untuk berbersih.
Pagi ini Zico sudah rapi dengan stelan kerjanya. Agendanya pagi ini sangat padat. Banyak kasus yang harus ia sidang, maka ia harus lebih cepat berangkat dari jam biasanya.
"Sayang, nanti Abang Zaf diantar Pak Iwan saja ya, soalnya Abi tidak sempat," ucap Zi pada sang istri sembari menduduki kursinya di meja makan.
"Baik, Mas. Ayo sarapan dulu." Zahira dengan cekatan mengisi piring suaminya. Ia tidak akan membiarkan Pria itu pergi dalam keadaan perut kosong.
Zico makan sedikit tergesa karena ia sedang di kejar waktu. Hanya dalam waktu beberapa menit ia sudah menyelesaikan sarapannya.
"Berangkat dulu ya, Sayang." Zico mengulurkan tangannya, dan disambut cepat oleh Zahira.
"Hati-hati ya, Mas. Nanti kalau telat pulang jangan lupa memberiku kabar," pesannya sembari berjalan mengantarkan kepergian suaminya dalam menjemput rezeki.
"Oke, Sayang." Zico meninggalkan jejak sayang di kening istrinya.
"Abi!" panggil Zaf yang baru saja selesai mengenakan pakaian sekolahnya.
"Hai, Sayang. Untuk hari ini Abang diantar Pak Iwan ya, soalnya Abi lagi buru-buru, Nak," ucap Zi sembari mengecup kedua pipi putranya.
"Baik, Abi. Hati-hati ya Abi," jawab bocah itu begitu patuh.
"Siap komandan!" ucap Zico tersenyum bahagia sembari masuk kedalam mobilnya.
Bersambung.....
Happy reading 🥰