
Cukup lama Zico berada di lapangan untuk mendapatkan barang bukti. Ketua hakim itu tak ingin gagal dalam membuktikan bahwa Adri hanyalah korban sebagai kambing hitam bagi atasannya yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas insiden itu.
Zico meminta penyidik untuk mengintrogasi manajer lapangan agar mereka berkata jujur apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak Hendro, saya minta Bapak berkata jujur, karena jika anda tidak mengungkapkan yang sejujurnya, maka sidang akan kami tunda. Dan selama kasus ini berjalan maka perusahaan migas ini tidak akan beroperasi. Coba anda pikirkan, satu menit saja suckers rod pump tidak beroperasi perusahaan akan mengalami kerugian ratusan juta. Nah bagaimana jika sampai berbulan-bulan? Apakah anda semua sudah siap akan hal itu?" tanya Zico yang ikut langsung mengintrogasi.
Para petinggi perusahaan itu saling pandang, mata mereka seperti sedang meminta pendapat masing-masing. Karena ancaman dari ketua hakim itu tidak main-main. Bagaimana mungkin perusahaan migas terbesar di daerah Riau itu akan berhenti beroperasi hanya karena kasus ini?
"Begini saja, Pak. Kita tidak akan membuat kasus ini semakin pelik, tapi mari bekerja sama untuk mengungkapnya agar tersangka yang sesungguhnya bisa bertanggung jawab. Daripada kalian saling menutupi hingga akan banyak pihak yang terseret," tekan Zico sekali lagi.
"Begini Pak hakim, bagaimana jika kasus ini dibuat secara damai dengan dua belah pihak. Kita akan panggil para keluarga korban, lalu kita tanyakan bagaimana maunya mereka, asalkan mereka mau mencabut laporannya?" tawar salah seorang wakil direktur perusahaan itu.
"Baiklah, saya akan mencoba bicara kepada pihak penyidik yang menangani kasus ini. Dan tetapi saya ingin bukti akurat terlebih dahulu untuk sebagai jaminan agar Pak Adriansyah dapat bebas bersyarat dari tahanan. Karena saya sangat yakin bahwa beliau hanya sebagai korban dari tangan tak bertanggung jawab, bukan?" ucap Zi menatap para staf yang ada di ruangan itu.
"Baik Pak hakim, kami akan mengirimkan bukti itu secepatnya. Dan kami sangat berharap agar kasus ini tidak menjadi besar. Dan kami berjanji akan bersedia memenuhi segala persyaratan yang diminta oleh keluarga korban."
"Oke, kami usahakan agar kasus ini bisa di selesaikan secara kekeluargaan. Tapi sekali lagi saya tegaskan. Tolong bertanggung jawab penuh atas nasib keluarga korban, karena kalian pasti tahu bahwa korban adalah tulang punggung keluarga, maka berikan asuransi agar masa depan anak-anak dan istri mereka terjamin," jelas Zi sekali lagi sebelum sidang singkat itu di tutup.
"Baik, saya selaku wakil direktur berjanji akan memenuhi segala persyaratan yang diberikan baik oleh pihak keluarga maupun pihak berwajib," jawab wakil direktur perusahaan itu memberi jaminan atas kesepakatan itu.
Mereka yang merasa ikut andil dalam kasus itu maka harus menandatangani surat perjanjian yang di sodorkan oleh pihak penyidik kepada mereka.
Akhirnya Zico keluar dari kantor perusahaan migas, setelah cukup lama memakan waktu untuk memaksa mereka membuka mulut sehingga mereka menawarkan jalan damai tanpa harus melibatkan secara sepihak.
Zico sedikit merasa lega dengan hasil usahanya hari ini. Ternyata cukup sulit mengintrogasi para petinggi-petinggi perusahaan itu. Ia harus memutar otak agar mereka tak bisa lagi mengelak sehingga meminta jalan damai.
Zico dan anggota kepolisian kembali bertolak ke kota bertuah. Sesampainya ia segera menuju tahanan yang dimana Adri di tahan.
Zico segera meminta penyidik untuk memberi kebebasan bersyarat untuk sementara waktu pada Adri.
"Segera hubungi pihak keluarga korban untuk membicarakan tentang kasus ini, Pak. Jika mereka setuju maka secepatnya minta mereka mencabut laporannya agar sidang kedua bisa segera di batalkan," pinta Zi pada komandan yang menangani kasus Adri.
"Baik, Pak hakim. Kami akan segera menanganinya. Dan secepatnya akan kami beri laporan pada pihak jaksa," tukas penyidik itu menyetujui.
Akhirnya Zico berhasil membebaskan Adri. Malam ini pukul delapan malam Adriansyah dinyatakan bebas bersyarat, karena tidak terbukti tuduhan atas kelalaiannya dalam memberi pengawasan pada para karyawan lapangan yang sedang beroperasi.
Zico menunggu lelaki itu di depan pintu keluar lapas. Adri yang masih bingung dengan kebebasannya secara tiba-tiba, maka ia masih bingung mau pulang naik apa.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil mengagetkan Adri yang sedang termangu di pinggir jalan. Zico membuka kaca pintu mobilnya. Dan tentu saja membuat Adri tak percaya.
"Hei, apa yang kamu lihat? Ayo masuklah!" seru Pak hakim dengan senyum persahabatan.
"Ah baiklah!"
Adri segera membuka pintu mobil bagian depan, sehingga duduk berdampingan dengan lelaki yang dulu sempat menjadi saingannya.
"Selamat atas kebebasanmu kawan!" ucap Zi mengulurkan tangan.
Adri tak bisa bicara, ini adalah hal yang paling haru dalam hidupnya. Akhirnya ia bisa menemukan seorang penegak hukum yang benar-benar adil sehingga dapat mendengarkan suaranya bahwa ia benar-benar tidak melakukan kesalahan itu.
"Terimakasih banyak, kawan!" Adri menerima uluran tangan Zi sembari memeluk dengan rasa terima kasih. Ia tahu ini semua adalah atas usaha hakim itu hingga dirinya bisa kembali menghirup udara bebas.
"Biasa saja, aku tidak melakukan apapun untuk dirimu," ucap Zi sembari memukul punggung temannya dengan pelan.
Adri melerai pelukan mereka. "Jangan bicara seperti itu. Aku tahu ini semua berkat dirimu. Jika tidak aku tidak akan mungkin berada disini," sahut Adri menatap malas.
"Hahaha... Baiklah, sekarang katakan kamu mau kemana?" tanya Zi dengan kekehan.
"Tentu saja aku ingin segera pulang. Aku sudah begitu merindukan anak dan istriku," jawab Adri bersemangat.
"Ah maaf, Zi. Untuk malam ini aku benar-benar ingin segera pulang untuk bertemu Rayyan. Tapi aku janji sore besok kita akan konkow menghabiskan waktu, karena banyak cerita yang ingin aku sampaikan padamu."
"Ah kamu bisa saja. Bertemu Rayy, atau Ibunya?" ledek Zi.
"Hahaha... Kalau itu sudah pasti. Tapi beneran aku ingin Rayy tidak mencemaskan aku lagi. Karena kata Mamanya Rayy selalu menanyakan keberadaanku," sahut Adri.
"Oke baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang."
Kedua lelaki dewasa itu banyak bercerita di perjalanan pulang. Mereka membahas tentang bagaimana Zi bisa memberi jaminan hingga Adri bisa bebas.
Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Zico sudah berhenti di depan rumah Pak manajer itu.
"Sekali lagi terimakasih banyak, Zi. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas segala kebaikanmu," Adri dengan tulus.
"Tidak perlu pikirkan hal itu. Aku melakukannya dengan ikhlas. Jangan sungkan bila membutuhkan bantuanku. Sekarang masuklah, temui anak dan istrimu," ujar Zi menepuk bahu Adri.
Adri tersenyum, lalu segera turun dari mobil sahabat baiknya. Dan Zico segera beranjak untuk menuju kediamannya.
Adri segera mengetuk pintu rumahnya. Ternyata Art yang membukakan pintu.
"Pak Adri!" Sentak Bibik terkejut melihat kedatangan Pria itu.
"Ya, Bik. Apakah istri dan anak saya sudah tidur?" tanya Adri.
"Sepertinya sudah, Pak. Soalnya sedari tadi Den Rayyan sangat rewel sehingga membuat Bu Mila kewalahan," jelas Bibik.
"Baiklah, kalau begitu saya ke kamar dulu." Adri segera menuju kamarnya.
Ia membuka pintu kamar, terlihat anak dan istrinya sudah terlelap dalam balutan selimut. Adri menghampiri ranjang dengan sangat perlahan, lalu telapak tangannya mengusap wajah kedua orang kesayangannya. Adri mengecup keduanya secara bergantian.
"Aku sangat merindukan kalian," lirihnya.
Adri memperbaiki selimut mereka, lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena di tahanan tidak akan sama sterilnya di rumah sendiri. Mandi disana juga tidak nyaman dengan air yang di takar pas-pasan.
Mila tersentak saat suara petir begitu besar sehingga membuat aliran listrik padam. Tak beberapa menit hujan turun cukup deras.
"Ya Allah, mati lampu lagi." Mila meraba-raba untuk mencari ponselnya. Namun, ia merasakan ada wajah seseorang di samping sebelah kanannya.
Wanita itu terdiam sejenak, ia mencoba untuk meraba sebelah kiri, ternyata ada Rayy disana. Lalu, siapa orang yang ada disamping kanannya?
Mila berusaha untuk tetap tenang agar orang yang disampingnya tidak bangun. "Ya Allah siapa orang ini? apakah Bibik? Tapi wajahnya berasa wajah laki-laki," gumam wanita itu dalam hati.
Tak berselang lama listrik kembali menyala. Mila segera menatap orang itu.
"Mas Adri!" pekik wanita itu dengan segala tidak percayanya. Ini benar-benar berasa mimpi melihat Pria yang amad dicintainya ada di depan mata.
Mila segera naik keatas tubuh Pria itu lalu memeluknya dengan tangis bahagia.
"Mas, kenapa kamu jahat sekali, kenapa kamu pulang tidak memberitahu aku," gumamnya masih dengan tangisan.
Adri yang sedang tidur nyenyak segera membuka mata saat merasa tubuhnya ada yang menghimpit.
"Hei, Sayang. Kenapa menangis? Aku disini bersamamu," ucapnya mengusap punggung istrinya dengan lembut, lalu mengecup puncak kepalanya berulang kali.
Bersambung...
Happy reading 🥰