
Setelah Zico selesai mandi dan bersiap, kini pasangan itu segera beranjak meninggalkan tempat tersebut. Mereka kembali menuju kediamannya.
Disepanjang perjalanan Zahira tampak begitu senang dan bersemangat karena sudah tak sabar bertemu dengan kedua buah hatinya.
"Seneng banget kamu?" tanya Zi sembari fokus mengemudi.
"Iya, Mas, aku sangat bahagia akhirnya bisa ketemu sama anak-anak. Hah, rasanya dua minggu itu bagaikan dua tahun," ungkap Zahira yang di tanggapi dengan senyuman oleh Zico.
"Bersyukur mereka mengizinkan kamu PKL di kantor aku, bagaimana jika kamu di tugaskan ke luar kota yang sangat jauh?" tanya Zi.
"Iya bersyukur banget, Mas. Tapi kamu tahu nggak aku tu sudah berniat akan mundur bila memang begitu kenyataannya. Aku akan kembali ambil cuti hingga Zhera sudah besar," jelasnya kembali.
"Tapi Alhamdulillah, semua atas izin Allah, dan akhirnya kamu di berikan kemudahan," timpal Zi.
"Alhamdulillah banget, tapi tentunya atas usaha kamu dalam mengajukan permohonan pada pihak dosen aku."
"Apapun akan aku lakukan untuk dirimu, Sayang. Selagi aku mampu maka aku akan selalu menjadi garda terdepan buat kamu dan anak-anak," jawab lelaki itu penuh perhatian.
Zahira tersenyum haru. "Terimakasih banyak ya, Mas. Kamu adalah lelaki terhebatku selain ayah," ujar Zahira bergelayut manja di lengan suaminya.
"Apakah ustadz Ali sudah bisa memaafkan kesalahanku, Dek?" tanya Zi tersenyum saat menyebut ayah mertuanya.
"Tentu saja. Ayah dan ibu pasti sudah tenang di alam sana, karena mereka melihat menantunya sudah berubah menjadi lelaki yang sangat baik dan juga menjadi wakil tangan Tuhan yang amanah. Semoga Allah jauhkan kita dari ujian dunia yang bisa membuat kita lupa akan hak rakyat kecil yang membutuhkan bantuan kita sebagai penegak hukum," ucap Zahira yang di aminkan oleh Zico.
"Aamiin, semoga saja kita di jauhkan dari hal semacam itu, Dek. Dan aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang kedua kalinya,"
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini pasangan itu sudah memasuki kota bertuah, kota dimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari dan juga tempat Zico bertugas.
Kepulangan Zahira di sambut senang oleh Zafran. Bocah kecil itu sudah merindukan sang Ibu yang telah berpisah darinya selama dua minggu.
"Umi....!" Seru Zaf menyongsong dimana Zahira baru saja keluar dari mobil.
"Sayang..." Zahira segera merentangkan kedua tangannya untuk membawa putra sulungnya masuk kedalam pelukannya. Zahira mengecup seluruh wajah bocah tampan itu.
"Umi juga sangat merindukan kamu, Nak. Mana adik Zhera?" tanya Zahira.
"Adik sedang bobok, Umi. Tadi Abang sudah kasih tahu "Adek jangan tidur, karena sebentar lagi Umi dan Abi akan pulang, tapi adek Zhe malah nangis," celoteh bocah itu membuat Zi dan Zahira terkekeh.
"Ayo kita masuk sekarang." Zahira membimbing bocah yang berumur delapan tahun itu masuk kedalam rumah.
"Kamu sudah datang, Nak," sambut Mama yang baru saja selesai melaksanakan ibadah ashar.
"Iya, Mama apa kabar? Aku kangen banget sama Mama," jawab Zahira sembari menyalami tangan wanita baya itu dengan takzim.
"Alhamdulillah Mama sehat. Mama seneng dengar kamu di tugaskan disini. Itu artinya kita punya banyak waktu lagi," ujar Mama menyambut bahagia kedatangan anak menantunya.
"Aku juga sangat bahagia, Ma. Dan itu semua berkat Mas Zi yang sudah meminta pada dosen aku untuk menugaskan aku disini," jelas Zahira.
"Kamu tidak mengancam mereka 'kan?" tanya Mama pada Zico.
"Ya nggaklah, Ma. Aku itu datang pada mereka dan memohon dengan segala kerendahan hati agar istriku mendapatkan kemudahan," terang Zi pada sang Mama.
"Syukurlah kalau begitu."
"Ma, aku mau ketemu Zhe dulu," pamit Zahira yang segera menuju kamar putrinya.
Zahira melihat bayi mungilnya sedang tertidur lelap Sekali. "Hei, anak Umi kok masih bobok? Kamu tidak kangen sama Umi? Pasti kamu sudah nyaman bersama Oma ya," ucap wanita itu yang sudah tak tahan, ia segera menggendong bayi Zhera yang sedang tertidur pulas.
Zahira mengecup wajah lembut itu penuh kerinduan. Sungguh rasanya ia tak sanggup lagi bila harus berpisah dengan bayinya.
Bersambung....
Happy reading 🥰