
Selesai sholat Ied, Adri segera menelpon temannya untuk menjadi driver mengantarkan dirinya dan kekasih untuk pulkam. Mila tak ingin membantah keinginan Pria itu
Gadis itu hanya mengikuti mau Adri yang ingin sekalian meminang dirinya untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Mila tak bisa membohongi hati kecilnya yang memang sangat mencintai Pria itu.
"Dek, kita beli oleh-oleh dulu buat keluarga di kampung ya," ujar Adri pada Mila. Ia minta pada supirnya untuk berhenti di pusat oleh-oleh yang ada di kota Bukittinggi.
"Dirumah siapa saja, Dek?" tanya Adri ingin tahu keluarga wanita itu.
"Ada Ayah dan Ibu, terus, ada dua orang adik aku Mas," jawab Mila jujur.
"Yaudah, habis beli oleh-oleh, kita berhenti di plaza Bukittinggi beli sesuatu untuk mereka," ujar Adri yang masih ingin memberi sesuatu pada calon mertua dan adik-adik iparnya.
"Eh, nggak usah, Mas. Jangan repot-repot," tolak Mila merasa sangat sungkan. Wanita itu tak ingin terlalu banyak makan budi.
"Tidak apa-apa, nggak merasa direpotkan. Hanya sekali-sekali. Jangan menolak, aku ikhlas memberikan.
Mila bingung harus bersikap bagaimana pada Pria itu, takut membuat Adri tersinggung bila selalu menolak. Akhirnya ia menerima saja apapun yang dibelikan olehnya.
Merasa sudah cukup, pasangan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Jam enam sore mobil yang ditumpangi mereka telah memasuki kota Padang. Mila segera menunjukkan alamat rumahnya.
Mila disambut antusias oleh keluarganya. Terlebih lagi kedua adiknya yang masih menduduki sekolah menengah pertama. Mila membawa Adri masuk kerumah sederhana itu.
"Assalamualaikum... "
Pasangan itu mengucapkan salam, dan disambut oleh kedua orangtuanya dengan ramah.
"Apa kabar, Bu?" tanya Mila sembari menyalami tangan kedua orangtuanya dengan takzim, dan memeluk penuh kerinduan.
"Alhamdulillah, ibu dan Bapak sehat, Nak. Ibu senang banget, Akhirnya Onang pulang," ujar Ibu tampak begitu bahagia menyambut kepulangan Putri sulungnya.
"Oya, Bu, Yah, ini Mas Adri." Mila memperkenalkan Pria itu pada kedua orangtuanya.
"Minal Aidin Wal Faidzin, Bu, Yah," ujar Adri menyambut tangan calon mertuanya dengan sopan.
"Sama-sama, Nak. Ayo, mari masuk." Pasangan itu membawa anak dan tamunya untuk masuk.
"Mila sibuk membantu Ibu di dapur mempersiapkan hidangan lebaran yang sengaja disimpan oleh ibu untuk menyambutnya pulang.
Selesai makan, Adri mengeluarkan oleh-oleh yang tadi ia beli di kota Bukittinggi untuk mereka. Adik-adik Mila begitu senang mendapatkan bingkisan lebaran yang berisikan pakaian baru dari calon Abang iparnya.
"Bagus sekali, ya ampun, Terimakasih banyak Mas Adri," ujar mereka begitu senang sembari mengucapkan rasa terima kasih.
"Ya, sama-sama. Syukurlah jika kalian suka."
"Kenapa repot-repot begini, Nak Adri. Ibu jadi tidak enak. Ini terlalu berlebihan," ujar Ibu begitu sungkan karena banyaknya hadiah yang diberikan Pria itu.
"Jangan sungkan, Bu, aku ikhlas memberinya, semoga ibu dan Ayah juga suka."
Keluarga itu merayakan hari raya idul Fitri penuh kehangatan, meskipun hidup sederhana, tetapi Adri mendapatkan kenyamanan disana. Tak seperti dikeluarganya yang selalu penuh penekanan. Namun sebagai seorang anak, Adri tetap mengikuti keinginan sang Mama, agar tak mengurangi rasa hormatnya kepada wanita yang telah melahirkannya.
Adri mungkin akan mengikuti segala keinginan Mama, tapi tidak dengan masalah jodoh, Pria itu menentang keras perjodohan dari sang Mama. Karena jodoh itu adalah masalah hati dan baginya sekali seumur hidup, maka ia tidak akan mungkin mau menikah dengan wanita yang tidak ia cintai.
Tak terasa kini sudah lebaran ke-lima Pria itu berada di kediaman kekasihnya, Adri tak ingin menunda lagi untuk bicara dengan kedua orangtua Mila. Ia akan menyampaikan niat baik untuk meminang Putri mereka.
"Bu, Yah, aku ingin bicara," ujar Adri sedikit gugup saat berhadapan dengan calon mertuanya.
"Apa itu, Nak Adri?" tanya Ayah bersiap untuk mendengarkan.
"Yah, Bu, aku ingin melamar Mila, aku ingin menikah dengannya," ungkap Pria itu bersungguh-sungguh.
"Maaf, Nak, Ayah tidak menolak lamaranmu, tapi suruhlah kedua orangtuamu untuk datang memintanya pada kami. Karena adat kami diranah Minang seperti itu," ujar Ayah menjelaskan.
"Sebelum aku minta maaf atas kelancangan diriku yang telah datang sendiri untuk melamar Putri Ayah. Aku ingin jujur, sebenarnya hubungan kami tak direstui oleh Mama, aku hanya punya Mama, Papa sudah meninggal dua tahun yang lalu. Maka, izinkanlah aku meminang Mila untuk memintanya jadi istriku. Meskipun tak ada restu dari Mama. Tapi aku berjanji akan membahagiakan Mila, aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku akan menyayanginya setulus hati," ujar Adri meyakinkan kedua orangtua Mila.
Ayah dan Ibu tampak saling pandang. Tak perlu dijelaskan bahwa pasangan itu keberatan. Mereka sedari dulu sudah memberi wejangan pada putrinya, agar mencari lelaki yang sederajat dengan kehidupan mereka, agar nanti Putri mereka tak menjadi bahan bulan-bulanan dari pihak keluarga suaminya.
"Maaf, Nak Adri. Ayah dan Ibu juga tak bisa memberi restu pada hubungan kalian. Jika tak ada restu dari orangtuamu, maka kami tidak akan mau menikahkan Mila dengan kamu. Kami tidak ingin suatu saat Mila akan menjadi bahan hinaan dikeluarga kamu, lebih baik kamu cari saja wanita yang sepadan, karena Mila memang tak pantas bersanding denganmu," tegas Ayah menolak lamaran Pria itu.
"Tapi, Yah?"
"Tapi, Yah, aku dan Mas Adri saling mencintai, Yah," ujar Mila menimpali ucapan sang Ayah.
"Mila, apakah kamu tidak ingat pesan Ayah saat kamu pergi merantau ke kampung orang. Jangan sampai hanya karena cinta, maka harga dirimu direndahkan oleh keluarga suamimu. Jika orangtuanya yang tak merestui, maka Ayah pastikan tidak akan ada kebahagiaan di rumah tangga kalian!" bantah Ayah.
Mila menatap Adri dengan deraian air mata. Rasanya tak sanggup untuk berpisah dengan Pria yang dicintainya. Gadis itu tertunduk sedih.
"Yah, aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa membuat Mila bahagia meskipun tanpa restu orangtuaku. Aku juga akan berusaha untuk melunakkan hati Mama," ujar Pria itu masih berusaha untuk meyakinkan Ayah dari sang kekasihnya.
"Tidak! Sekali Ayah katakan tidak, jadi tolong mengerti."
Adri menghela nafas dalam. Dadanya terasa sesak saat orangtua itu menolak keinginannya yang akan menghalalkan wanita pujaannya. Mila masih menangis sembari menunduk.
"Selesaikan masalah kalian, setelah itu Nak Adri segeralah pergi dari sini. Kami juga tidak enak di pandang oleh para tetangga, karena menampung orang asing disini," ujar Ayah dengan tegas.
Adri hanya mengangguk paham. Kedua orangtua Mila meninggalkan mereka yang masih duduk di raung tamu. Kini pasangan kekasih itu tak tahu harus bicara dan berbuat apa.
"Dek, maaf jika aku belum berhasil meyakinkan kedua orangtuamu. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja," ujar Pria itu pada sang kekasih.
"Apa yang harus Mas lakukan? Aku sangat tahu bagaimana sikap Ayah, beliau tidak akan mengubah keputusan bila sudah mengatakan tidak," jelas Mila yang sangat tahu bagaimana ayahnya.
"Aku tidak peduli, Dek. Biarkan aku tetap berjuang!" sanggah Pria itu masih keukuh dengan pendiriannya.
"Mas Adri, aku mohon pulanglah. Mungkin kita memang tak berjodoh, karena sudah kedua belah pihak tak merestui hubungan kita. Aku selalu berdo'a, semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik," ujar Mila berusaha melepaskan dan mengakhiri hubungan mereka.
"Mila, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu begitu mudah mengambil keputusan ini?" seru Adri tak mengerti dengan jalan pemikiran sang kekasih.
"Aku harus berbuat apa, Mas? Kita tidak akan mungkin bersatu bila orangtua tak merestui," jelas Mila masih berusaha meyakinkan.
"Aku akan berusaha Mil, aku akan meyakinkan Ayah dan Ibu kamu."
"Sudahlah, Mas. Jangan melakukan tindakan yang akan sia-sia. Aku sangat tahu bagaimana Ayah dan Ibu. Begitu juga adat di ranah minang ini."
"Apakah kamu juga sudah menyerah?" tanya Adri meminta jawaban terakhir dari wanita yang dicintainya.
"Ya, aku menyerah, Mas, aku memang tak bisa menikah denganmu bila tak ada restu dari kedua orangtua kita. Apa yang dikatakan Ayah memang benar, tak ada yang bisa menjamin bila suatu saat aku akan menjadi bahan hinaan dari orangtuamu."
Adri menatap tak percaya pada wanita itu. Perasaan kecewa begitu besar bertumpuk dalam hatinya. Ternyata hanya sampai disitu perjuangan Mila untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan pergi sekarang, tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah berhenti untuk berharap padamu. Jika suatu saat nanti kamu kembali memintaku berjuang, maka aku akan datang untuk memperjuangkan Restu dari kedua orangtuamu," jelas Pria itu masih meyakinkan Mila.
"Kenapa kamu hanya berjuang mendapatkan restu dari orangtuaku? Kenapa kamu tidak berjuang mendapatkan restu dari Mama kamu, Mas? Apakah kamu sudah tahu bahwa Mama kamu sampai kapanpun tidak akan pernah memberi restu?" tanya Mila dengan curiga.
"Baiklah, aku juga akan berjuang untuk mendapatkan restu Mama terlebih dahulu, tapi setelah itu berjanjilah untuk tak menolakku lagi. Aku akan pergi sekarang, kamu jaga diri baik-baik ya. Aku akan selalu merindukanmu." Tanpa minta izin, Adri segera memeluk wanita itu sebagai pelukan terakhir.
Mila tak kuasa menahan tangis. Gadis itu juga membalas pelukan Pria yang amad dicintainya. Dengan hati ikhlas ia melepaskan Adri meninggalkan kampung halamannya.
Mila masih memandangi saat mobil Pajero sport exceed berwarna hitam itu menghilang dari pandangannya. Hati gadis itu masih gundah gulana. Mila segera masuk kedalam kamarnya untuk menumpahkan kembali air matanya.
Mila menangis tersedu-sedu menahan sesak yang dirasakan. Sementara Adri juga diam membisu di dalam mobilnya. Pria itu enggan bicara saat temannya membawa bicara.
"Udah, tak perlu galau segitunya. Percayalah, kalau jodoh tak akan kemana," jelas temannya yang bernama Hamdan.
"Tapi rasanya nyesek banget, Ham, bagaimana jika nanti Mila menikah dengan orang lain atas pilihan kedua orangtuanya," balas Adri.
"Ya, berarti kalian tidak berjodoh. Udah, gitu aja kok repot," jawab Hamdan.
"Ya ampun, enak banget mulut kamu kalau ngomong. Kamu kira aku bisa merelakan begitu saja? Aku tidak bisa membiarkan wanita itu harus jatuh di tangan lelaki lain!" sanggahnya tak terima.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Kamu harus fokus dengan niat awalmu, yaitu untuk meminta restu dari Mama kamu. Nah, setelah mendapatkan Restu, baru kamu menghadap kembali pada kedua orangtua Mila," ujar Hamdan memberi solusi.
"Ya, kamu benar. Aku harus meminta restu Mama untuk menikahi Mila. Bagaimanapun caranya aku harus bisa meyakinkan Mama," jawab Adri dengan yakin.
Bersambung.....
Happy reading 🥰