Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 47


Zahira kembali merasakan sakit kepala hebat. Wanita itu selalu merintih menahan sakit. Zico segera membawa istrinya berbaring di ranjang.


"Ayo, Sayang, Berbaring dulu ya." Zico membantu Zahira untuk berbaring di ranjang.


Perlahan tangan Pria itu memijit lembut kepala istrinya, masih tak ada perlawanan, apakah wanita itu sudah lelah untuk menghalau dirinya saat mendekat.


"Mas, kenapa kepala aku sakit seperti ini? Biasanya tidak pernah sakit," lirihnya hingga tak terduga wanita itu mengangkat kepalanya menjadikan paha Zico sebagai bantalan.


Zico kembali dibuat kaget tak terkira saat istrinya sudah berani meletakkan kepala di pahanya. Apakah dia sudah ingat kembali? Zico segera membelai mahkota sang istri dengan lembut.


"Masih sakit, Sayang?" tanyanya dengan lembut.


"Tidak begitu, Mas, Zafran mana?" tanya wanita itu lagi.


"Zafran?" tanya Zi masih belum percaya bila istrinya juga ingat dengan Putranya.


"Hmm, mana dia Mas, kok aku dari tadi tidak lihat," jawabnya datar.


"Ah, ada kok Sayang, Zafran ada di kamarnya."


"Kok disana, bawa kesini Mas. Kasihan dia harus tidur sendiri."


"Iya, Sayang, nanti aku bawa. Kamu istirahat saja ya."


"Nggak mau, aku mau Zafran, Mas!" sanggahnya sembari menegakkan tubuhnya untuk duduk sejajar.


"Iya, Sayang, aku akan bawa Zafran kesini, tapi kamu harus istirahat," ujar Pria itu tak tega melihat wanita itu.


"Aku mau Zafran, Mas," rengeknya sembari masuk kedalam pelukan suaminya begitu saja.


Zico segera membalas pelukan itu begitu mesra dan mengecup puncak kepalanya berulang kali. "Baiklah, Sayang, aku ambil Zafran, kamu tunggu disini saja ya." Pria itu segera beranjak keluar dari kamar dan menuju kamar bayi mungil itu.


"Zi, mau dibawa kemana Zafran?" tanya Mama berpapasan


"Ah, Ma, aku mau bawa ke kamar, karena Zahira tanyain Zafran," ujarnya masih menggendong bayi yang sudah tidur itu.


"Kamu serius? apakah dia sudah tidak takut denganmu?" tanya Mama begitu penasaran.


"Alhamdulillah untuk saat ini dia sudah ingat denganku, dan Zafran, Ma. Aku tidak ingin menyimpulkan. Semoga saja ini adalah awal yang baik," jelas Pria itu pada sang Mama.


"Aamiin... Semoga saja Zahira benar-benar sudah ingat kembali. Mama selalu mendo'akan kesembuhannya," ujar Mama dengan tulus.


"Terimakasih ya, Ma." Zico segera menuju kamarnya.


"Loh, udah tidur Mas," ujarnya sembari mengambil Zafran ditangan suaminya.


"Iya, Sayang, ketiduran di kamarnya."


Zahira membawa bayi itu dalam buaiannya, dan mengecup dengan penuh kasih sayang. Terlihat dari raut wajahnya sangat merindukan sang anak.


Zico hanya melihat penuh rasa haru, rasa mimpi, hampir sebulan penuh wanita itu tidak ingat akan dirinya dan bayi itu. Tentu saja dia sangat bahagia.


"Mas, kamu kenapa, kok sedih?" tanya perempuan itu menatap heran pada suaminya yang tampak berkaca-kaca.


Zico berjalan mendekati kedua orang yang ia cintai. "Dek, apakah kamu ingat siapa aku?" tanyanya memastikan sekali lagi.


"Mas, kenapa kamu bicara seperti itu? Ya tentu saja aku ingat. Kamu itu suami aku. Emang kenapa sih Mas? Apakah aku melupakan kamu?" tanya Zahira bingung sendiri.


Zico tak menjawab, ia hanya mendekap wanita itu begitu erat dan posesif, takut sekali bila nanti sang istri akan melupakan dirinya kembali.


"Dek, jangan lupakan aku lagi, ingat aku selalu," lirihnya mengecup wajah wanita itu.


Zahira melerai pelukannya, dan menatap wajah Pria itu begitu dalam. "Mas, berapa lama aku melupakan dirimu? Apa yang aku lakukan? Apakah aku menyakiti perasaamu?" tanyanya memberondong. "Maafkan aku, Mas. Aku juga tidak ingin hal itu terjadi kembali dalam hidupku, Mas. Maaf bila aku tak sadar melakukannya. Sungguh aku tidak ingat apapun Mas,"


Zahira mengusap wajah ayah dari anaknya itu dengan lembut. Netranya mulai mengeluarkan cairan bening. Rasa bersalah bergelayut, mungkin dia telah melukai hati suaminya selama dirinya tak ingat apapun.


"Sayang, aku tidak pernah menyalahkan dirimu. Aku hanya takut bila nanti kamu melupakan aku lagi. Hari-hariku hampa saat dirimu menatapku sebagai orang lain."


"Do'akan agar hal itu tak lagi terjadi ya, Mas. Semoga Allah sehatkan pikiranku kembali."


"Aamiin ya Allah." Pasangan itu kembali berpelukan dengan bayi itu ada diantara mereka sebagai pelengkap kebahagiaan.


Zahira sudah terlelap bersama buah hatinya, sementara Zico masih sulit menemui mimpi. Pria itu masih takut dan cemas bila nanti saat sang istri bangun kembali melupakannya.


"Mas Zi, kok belum tidur?" tanya Zahira saat terbangun menemui suaminya duduk menatap dirinya begitu dalam.


"Subhanallah, tentu saja aku ingat Mas, insya Allah aku akan selalu ingat kamu. Udah, ayo tidur," Zahira meraih tangan Zi untuk segera merebah disampingnya.


Pria yang berprofesi sebagai seorang Hakim agung itu menurut saat tangan lembut itu membawa berbaring disampingnya. Zahira merubah posisi tidurnya menghadap pada sang suami.


Zico merangkum kedua pipi wanita itu dengan lembut, mengecup bibir mungil yang sudah lama sekali ia rindukan. "Aku sangat merindukan kamu, Dek," lirihnya di telinga wanita itu.


"Aku milikmu seutuhnya, Mas," jawab Zahira begitu pasrah dalam buaian kasih sayang suaminya.


Hasrat Pria itu semakin menggebu mendengar suara pasrah wanitanya. Zico segera melu mat bibir Zahira dengan penuh perasaan dan kasih sayang. Malam takbir malam yang penuh kebahagiaan bagi pasangan suami istri itu, yang mana kasih sayang mereka telah terhalang oleh penyakit lupa yang di derita istrinya kini kembali mereka rajut dengan penuh kerinduan.


Jika pasangan Hakim agung itu sedang bahagia atas kembalinya ingatan sang istri, berbeda dengan seorang wanita yang sedang hancur hatinya dimalam takbiran itu.


"Ma, perkenalkan, dia adalah Mila, kekasihku," ujar Adri memperkenalkan wanita yang sudah beberapa bulan ini telah mengisi hatinya.


Wanita baya itu menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tak ada sambutan hangat ataupun senyum dibibirnya. Mila menjadi kikuk dengan perasaan takut. Netranya menatap setiap orang yang ada di ruang keluarga itu.


"Selamat malam, Bu," ujar Mila mengulurkan tangannya, namun tak mendapatkan sambutan dari wanita itu, bahkan mengelakkan tangannya saat gadis cantik sederhana itu ingin menyalami.


"Tinggal dimana kamu? Dimana kamu mengenal anak saya? Apa profesimu?" tanya wanita itu memberondong lebih dari interogasi.


"Saya bekerja disebuah kantin. Saya kenal Mas Adri di sana, kebetulan kantin kami berdekatan dengan tempat kerja Mas Adri," jelas Mila menjawab pertanyaan wanita yang telah melahirkan lelaki yang sangat ia cintai.


"Hng! Jadi kamu hanya berkerja sebagai penjaga kantin. Kamu berharap dapat restu dari saya? Apakah kamu pernah berkaca? Lihatlah bagaimana bentuk rupa dan penampilan kamu! Ibarat kata, apakah pantas bila tempurung merangkai permata?"


Duaarr!


Bagaikan petir menyambar di tengah malam buta. Hati wanita itu begitu sakit dan pilu, dua butir cairan bening jatuh disudut pipinya.


"Ma! Apa yang Mama katakan?! Aku sangat mencintai Mila. Jadi tolong hargai keputusanku!" Sentak Adri dengan kesal.


"Jangan melawan Mama Adri! Mama berhak menentukan mana yang pantas buat kamu!"


"Tidak Ma! Aku yang lebih..."


"Sudah, Mas. Aku tidak apa-apa!" Mila segera beranjak meninggalkan kediaman orangtua Pria itu.


"Mila, tunggu dulu!" Adri ingin mengejar langkah gadis itu, tapi langkahnya terhenti saat seruan Mama begitu keras.


"Biarkan dia pergi Adri!" sentak wanita baya itu.


Adri menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang, perlahan tubuhnya menghadap pada sang Mama.


"Wanita seperti apa yang Mama inginkan untukku? Apakah seperti Tasya?" tanya Adri dengan tenang, tetapi matanya menyorot dengan tajam.


"Ya, Mama ingin kamu dan Tasya menikah. Dia lebih sepadan dengan kita. Dia cantik, kaya, dan juga seorang desainer," jawab Mama dengan bangga menyebutkan titel wanita itu.


Adri tersenyum hambar menatap wanita yang sudah melahirkannya kedunia ini. "Bagaimana jika aku menolak keinginan Mama?" tanyanya datar.


"Jangan menjadi anak durhaka kamu Adri!" sentak Mama kesal sekali.


"Maaf, Ma, aku tidak pernah berniat melawan atau berkeinginan untuk menjadi anak durhaka. Tetapi aku berhak menentukan kebahagiaanku sendiri. Untuk kali ini aku tidak akan mengikuti keinginan Mama. Dan itulah alasan kenapa sampai saat ini aku masih sendiri, karena Mama tidak pernah menerima setiap wanita yang aku cintai. Permisi!"


Adri segera meninggalkan tempat itu, dan menyusul wanita yang telah diberi malu pada Mamanya. Adri tidak akan pernah meninggalkan wanita itu.


Ditengah pekatnya malam, Mila berjalan menyusuri jalanan kota bertuah itu. Hatinya begitu sakit dan pilu. Apa yang salah pada dirinya yang seorang gadis miskin.


Mila menyusut air matanya yang tak bisa berhenti. Perempuan yang berumur dua puluh enam tahun itu mengingat kembali ucapan kedua orangtuanya. "Carilah pasangan yang sederajat dengan kita Nak, jangan sekali-kali menaruh hati dengan lelaki yang berharta, karena kamu tak akan dihargai oleh keluarganya"


"Ternyata apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ya, aku harus melupakan Mas Adri. Aku harus merelakan dia pergi dari hidupku." Wanita itu bergumam sendiri.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil dan cahaya pijar kendaraan roda empat itu menghentikan langkahnya. Mila menoleh kebelakang, ia melihat Pria yang baru saja ia niatkan untuk melepaskan sudah berada di belakangnya.


Adri segera keluar dari mobil, Pria itu menghampiri dimana sang kekasih sedang berdiri. Gadis itu tampak masih berurai air mata.


Bersambung....


Happy reading 🥰


"