Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 32


Zahira hanya diam membatu, tapi tak bisa menolak, karena sudah kewajiban seorang istri. Setiap orang yang menikah pasti akan melaluinya. Perasaan wanita itu entah seperti apa, keringat dingin tetiba saja keluar di dahinya.


Ruangan yang dingin rasanya menjadi panas saat tangan kekar itu masih melingkar di pinggangnya. Zahira ingin bergerak, tapi tak mempunyai keberanian. Pria itu masih memeluk dengan posesif.


"Sayang, kamu dengar aku 'kan? Aku sangat merindukan kamu, bolehkah aku menginginkan dirimu malam ini?" lirih Pria itu dengan nafas memburu yang telah di liputi ga irah.


Hati Zahira semakin tak menentu. Apa yang harus ia lakukan? Apakah batinnya sudah siap.


Tenang Zahira, ingatlah! Dia adalah suamimu, dia berhak atas dirimu.


Dengan perlahan Zahira memutar tubuhnya menghadap pada Zico, kini tatapan mereka bertemu. Zico menatap sayu dengan penuh harap.


Perlahan tangan Pria itu terulur mengusap pipi lembut sang istri. "Apakah kamu belum siap? Tidurlah Sayang," ucapnya begitu lembut.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Zico masih berharap.


"Mas, Insya Allah aku sudah siap. Diriku milikmu seutuhnya," jawab Zahira dengan lirih.


"Apakah kamu serius?" tanya Zico memastikan sekali lagi bahwa apa yang dia dengar tidaklah salah.


"Hmm." Zahira hanya mengangguk pasrah. Kedua insan itu bergumam Do'a sebelum menjemput berkah.


Zico meraih tangan Zahira, lalu mengecupnya dengan lembut. Perlahan kecupan itu berpindah pada bibir mungil nan seksi wanita itu. Seketika tubuh wanita itu bergetar saat menerima sentuhan yang membuat perasaannya semakin tak menentu.


Nafas pasangan itu mulai memburu. Sebenarnya mereka sama-sama dini masalah ranjang, tetapi sebagai seorang Pria dewasa, tentu saja Zico tak perlu lagi belajar, seakan ilmu itu sudah melekat dengan sendirinya.


Dengan perlahan Pria itu menuntun Zahira agar lebih pandai dan nyaman. Tangan Pria itu sudah mulai agresif dan nakal. Zico membawa Zahira berlayar di gelombang cinta, dan menyelam dalam lautan madu asmara.


Semakin dalam menyelami lautan madu, Zahira tak tahan, sehingga suara keramat itu keluar dari bibirnya yang mungil. Semakin Zahira mengerang, maka semakin menambah kabut gai rah Pria itu.


Entah sejak kapan kedua insan itu melu cuti pakai annya, Zahira benar-benar malu hanya untuk menatap tubuhnya sendiri yang telah po los, wanita itu hanya menutup mata agar tak melihat pemandangan yang membuat wajahnya bersemu.


Zico yang menyadari sang istri sedang malu, maka ia mematikan lampu kamar itu, dan mengganti dengan lampu tidur. Perasaan Zahira sedikit lega, ternyata Pria itu begitu peka apa yang sedang ia rasakan.


Merasa cukup bermain pada tu buh sin tal sang istri, Zico segera menuntaskan hasr atnya yang sudah lama ia pendam. Zahira sedikit menjerit saat sesuatu yang asing bertandang pada tubuh intinya.


Meskipun ini bukan pertama kalinya, mungkin karena sudah terlalu lama cuti, maka akan terasa asing lagi, namun rasanya tetap sama. Apalagi Zico yang begitu mabuk dengan rasa itu.


"Sakit, Sayang?" bisik Pria itu di telinga sang istri, terasa tangan Zahira mencengkeram kuat di kedua bahunya.


Zahira hanya menggeleng sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Pria itu. Zico hanya tersenyum melihat ekspresi wajah malu sang istri.


Entah berapa kali Zahira mengejang meliuk-liuk bak cacing kepanasan, bertanda bahwa wanita itu sudah menemui gelombang pelepasannya.


Zico sudah tak bisa menahan lagi, akhirnya ia ikut tumbang disamping wanita cantik itu. Senyum bahagia terkembang dari bibir mereka. Zico meraih tubuh Zahira untuk tidur dipangkuannya.


"Terimakasih Sayang," ucap Zico sembari mengecup seluruh wajah sang istri penuh kasih sayang.


Zahira hanya mengangguk, ia masih malu untuk menatap wajah Pria yang beberapa detik telah membuat tubuhnya terasa melayang dan menemui surgawi.


"Tidur, Dek," ucapnya masih membelai dengan sayang.


"Nggak bisa tidur, Mas," jawab Zahira masih dalam dekapan sang suami.


"Kenapa Dek? Apakah ingin lagi?" tanya Zico membuat wanita itu tersenyum malu dan mencubit pinggangnya.


"Terus, apa?"


"Lapar?"


"Oh, kenapa tidak bilang dari tadi, Sayang? Yaudah, kamu tunggu disini, aku akan ambil makanan buat kamu," ucap Zico segera duduk, dan tak lupa menyelimuti tu buh polos sang istri.


Saat Zico masuk membawa nampan yang telah berisi makanan, ia melihat Zahira baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrob dan handuk kecil menggulung rambutnya yang basah.


"Kok udah berbersih Sayang? Nggak ingin tambah lagi?" tanya Zico menaruh nampan diatas meja.


"Jangan dulu, Mas, masih tidak nyaman," jawab wanita itu dengan wajah merona.


"Hehe... Yaudah, ayo makan." Pria itu merangkul bahu istrinya dan mencuri kecupan di pipi mulusnya.


"Mau aku suapin?" tanya Zico yang selalu ingin memanjakan ibu dari anaknya.


"Nggak usah, Mas, aku bisa makan sendiri. Mas tidak mandi?" tanya Zahira sembari menyendok makanan yang ada di piring.


"Pengennya tambah lagi, tapi kamunya tidak nyaman, yaudah tidak apa-apa, tapi besok pagi boleh ya, Sayang?" pinta Pria itu tak lagi sungkan.


"Ish, kamu tuh ya, masih saja ada cara untuk berusaha," balas wanita itu gemas sendiri.


Zico tersenyum, dan segera duduk mepet dengan sang istri, bibirnya tak bisa tenang, kecupan hangat selalu nempel dikedua pipi Zahira, dan tangannya memenjarakan tubuhnya.


"Mas, awas, aku mau makan dulu. Jangan glendotan begini, sana mandi Mas," usir wanita itu merasa ruang geraknya sempit karena Pria dewasa itu selalu nempel.


"Pengen kamu yang mandiin," ucap Zico yang mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"Mas!" intrupsi Zahira dengan mata membulat.


"Hehe... Santai aja mantapnya, Dek. Oke, Abi mandi dulu ya, Umi habiskan makannya." Pria itu kembali mencuri kecupan sebelum beranjak menuju kamar mandi.


Pagi ini seperti janjinya semalam, Zico sudah bersiap ke masjid untuk ibadah berjamaah. Zahira sudah mempersiapkan peralatan sholat suaminya.


"Berangkat dulu ya Dek, Do'ain suamimu tetap istiqamah," ucap Pria itu sembari mengulurkan tangannya.


"Aamiin ya Rabb, aku selalu berdo'a untuk kamu, Mas, bahkan dulu sebelum kita bertemu kembali, aku selalu menyelipkan namamu di setiap Do'aku," ungkap wanita itu dengan serius.


Zico terdiam mendengar pengakuan sang istri. Ternyata diluar saja terlihat begitu galak, tapi sebenarnya hati wanita itu begitu baik.


"Boleh aku tahu Do'a apa yang telah kamu langitkan kepada Allah?" tanya Zico menatap sendu sembari merangkum kedua pipi istrinya.


"Aku mendo'akan agar kamu menjadi Hakim yang amanah, dan semoga tidak ada lagi kejadian seperti yang aku alami. Karena sekarang kamu sudah menjadi suamiku, maka aku menambah permohonan kepada Allah, agar kamu menjadi imam yang Sholeh untuk aku dan anak-anak kita kelak dunia dan akhirat."


Zico meraih tubuh wanita cantik itu masuk dalam dekapannya. "Terimakasih atas do'anya, Sayang, insya Allah aku akan berusaha menjadi apa yang kamu inginkan, dan tentunya semua karena izin Allah."


Bersambung....


NB. Maaf ya untuk raeder, author tidak bisa double update karena sibuk di dunia nyata. Maklum persiapan bulan ramadhan 🤗🙏


Happy reading 🥰