
Saat Zi baru saja masuk, ia mendapati sang istri sedang mengejan. Dengan cepat ia memberi pegangan pada wanita itu.
"Iya sedikit lagi, Bu. Ayo terus!" ucap Dokter yang menangani.
"Aaaahhh...! Mas, sakit banget!" serunya pada sang suami.
"Sabar ya, Sayang. Kamu pasti bisa. Sebentar lagi anak kita akan lahir. Ayo semangat!" ucap Zico memberi semangat.
"Mas, serius ini sakitnya nggak main-main. Astaghfirullah..." Wanita itu masih merintih dan menjerit saat rasa sakit di sertai angin ngeden.
"Aakkhhh...!"
"Iya, sedikit lagi, Bu. Iya bagus!"
Oek! Oek! Oek!
Suara bayi menggema diruangan bersalin. Zico dan Zahira segera mengucapkan syukur kepada Allah.
"Alhamdulillah ya Allah." Zico mengecup kening istrinya penuh kasih sayang. "Terimakasih banyak, Sayang. Akhirnya bayi kita lahir dengan selamat," bisik lelaki itu di telinga sang istri.
Zahira tersenyum sembari menghapus air matanya. "Aku sangat bahagia, Mas," lirihnya dengan tangis bahagia.
"Iya, Sayang. Dia cantik banget seperti kamu," ucap Zi kembali mengecup pipi Zahira.
"Selamat Bu Zahira dan Pak Zico, putri kalian cantik sekali," ucap Dokter sembari menelungkupkan bayi merah itu di dada sang Ibu.
Zahira tersenyum bahagia menerima bayinya. "Assalamualaikum, Sayang. Selamat datang di dunia, semoga kelak menjadi anak yang Sholeha," lirih wanita itu sembari mendekap tubuh mungil itu dengan penuh kelembutan.
"Terimakasih sudah melengkapi kebahagiaan Abi dan Umi, Nak. Abang Zafran pasti sangat senang karena sudah mempunyai adik yang sangat cantik," ucap Zico sembari mengecup baby girl penuh kasih sayang.
"Sebentar, Abi wudhu dulu ya." Zico segera masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu sebelum melantunkan kebesaran Tuhan di telinga bayinya.
***
Kini Zahira sudah di pindahkan ke ruang rawat, Mama begitu bahagia menimang cucu perempuannya. Wanita itu sedari tadi sangat betah di RS menemani bayi mungil itu sehingga tak merasakan lelah.
"Ma, Mama harus istirahat. Cucu Mama sudah tidur," ucap Zi.
"Nanti dulu, Zi. Mama masih ingin dekat dengan cucu Mama," jawab wanita baya itu.
"Ya Allah, Mama. Segitunya yang baru dapat cucu perempuan," ledek Zico.
Tak berselang lama terdengar suara ponsel Zico berdering. Pria segera menerima panggilan yang ternyata dari Papa.
"Assalamualaikum, Pa."
"Wa'alaikumsalam, Zi mana Mama kamu?"
"Ada lagi menimang cucunya."
"Suruh Mama pulang sebentar. Papa gimana nih? Ya Allah, kenapa Mama kamu bisa lupa diri begini. Papa belum mandi dan juga belum makan," celoteh lelaki itu sedikit kesal pada istrinya.
"Baik, Pa. Akan aku sampaikan pada Mama." Zico segera memutus sambungan teleponnya.
"Ma, bayi besar Mama minta di urus," ucap Zi dengan senyuman.
"Siapa? Zafran?" tanya Mama tidak paham.
"Bukan, tapi Papa. Mama di omeli Papa. Mana papa belum mandi karena tidak ada yang menyediakan pakaian ganti, dan juga belum makan karena tidak ada yang melayani," jelas Zico yang sudah tahu bahwa sang Papa sangat ketergantungan dengan mamanya.
"Ck, Papa kamu itu kebiasaan. Nggak bisa apa lihat istrinya senang sedikit saja," omel Mama.
"Kalau begitu Mama cari saja baby sitter untuk Papa biar ada yang ngurusin seperti Zaf," timpal lelaki itu yang segera mendapat pelotot dari Mama.
"Ya habisnya Mama pengen bebas dari Papa," timpal Zi.
"Bebas tapi bukan gitu juga. Enak saja mau kasih papa baby sitter. Nggak sudi Mama. Yasudah, Mama pulang dulu. Nanti mama dan papa akan kesini lagi," ucap Mama sembari menghampiri menantunya terlebih dahulu sebelum beranjak dari ruang rawat itu.
"Mama pulang dulu ya, Sayang. Kalau Zico rusuh segera hubungi Mama," pesan wanita itu sembari mengecup kening anak menantunya.
"Siap, Mama. Terimakasih sudah jagain Zhera. Titip Zafran ya, Ma. Nanti jika mama tidak repot aku mau ketemu Zafran," ucap Zahira.
"Baiklah, Sayang. Nanti kalau Mama kesini lagi, mama bawa Zaf. Mama pamit ya."
"Ya, Ma. Hati-hati."
Setelah Mama pergi, kini hanya tinggal pasangan itu disana. Zico mengambil posisi duduk di Sofa untuk memeriksa email yang masuk. Karena tugasnya hari ini harus diganti oleh rekannya yang lain, maka sangat banyak pekerjaan yang menumpuk.
Zahira mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi tidak bisa. Netranya mengamati wajah tampan lelaki yang sedang fokus menatap layar laptop diatas pangkuannya.
"Sssttt! Ssstt!"
Wanita itu memberi kode sehingga membuat Zico menoleh. Pria itu tersenyum melihat perangai istrinya yang sekarang semakin nakal.
"Kamu kenapa, sayang? Lagi keselek?" tanya lelaki itu sengaja pura-pura tidak peka.
"Ck, nggak peka banget. Mas, aku nggak bisa tidur," rengek wanita itu sembari merentangkan kedua tangannya.
"Masya Allah, kenapa kamu begitu manja. Padahal baby kita sudah lahir," ujar lelaki itu sembari membuka kacamata radiasinya, lalu menghampiri wanita itu.
"Benaran aku nggak bisa tidur, Mas. Pengen di peluk kamu dulu."
"Baiklah, ayo Mas temani kamu tidur. Kalau begini caranya bukan aku yang rusuh, tapi kamu. Maunya kamu yang di aduin sama Mama," gumam Zico tersenyum gemas.
Pria itu naik keatas bad pasien ikut merebah disamping wanitanya, dan Zahira segera masuk kedalam pelukan sang suami.
Rasanya begitu nyaman saat berada dalam dekapan sang suami. Zahira mengangkat wajahnya menatap begitu dalam. Tak pernah terbayangkan bahwa ia akan segitu besar mencintai Pria yang dulu sebagai musuhnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Zi mencuri kecupan di bibir wanita itu.
"Terimakasih sudah menjadi lelaki terhebatku. Aku sangat mencintai kamu, Mas. Tetaplah bersamaku untuk selamanya," ucap wanita begitu haru.
Zico segera memeluk sang istri dengan erat. "Aku akan menemani kamu selamanya. Terimakasih sudah hadir untuk menyempurnakan hidupku. Aku tidak tahu bagaimana statusku saat ini bila aku tak bertemu denganmu, Sayang," ucap Zico sembari merangkum kedua pipi Zahira.
Kini tatapan mereka bertemu. Zico menyingkap kain penutup wajah Zahira, lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Namun, suara bayi mungil itu membuat mereka terkekeh bersama.
"Putri kamu marah, Mas. Habisnya Abi nakal," ucap Zahira mencubit pipi suaminya sangat gemas.
"Hahaha... Mana ada Abi nakal, Umi yang nakal, kan Umi yang minta Abi tidur disini," ucap Zi.
"Tapi Aku cuma pengen di peluk. Kamunya aja yang rusuh," balasnya.
Zico segera bangkit untuk menggendong bayi mungil itu untuk memberikan pada Zahira agar mendapatkan ASI.
"Udah bangun anak Abi, kenapa Sayang? Kamu haus ya. Ayo mimik dulu sama Umi ya." Zico menimang sesaat, lalu menyerahkan bayi itu ke pangkuan sang istri.
"Anak Umi sudah haus ya, uuu... Kacian, yuk kita mimik dulu ya." Zahira segera memberi putrinya ASI. Setelah merasa kenyang bayi itu kembali terlelap.
Zico benar-benar menjadi suami siaga bagi wanita itu. Ia rela begadang demi membiarkan sang istri untuk tidur lebih nyaman. Ia begitu pengertian bahwa Zahira belum bisa banyak bergerak, maka urusan mengganti popok dan membersihkan kotoran bayi mereka diambil olehnya. Zico akan memberikan bayi itu saat ingin ASI saja, setelah itu ia akan kembali menidurkan hingga bayi itu terlelap.
Bersambung....
Happy reading 🥰