Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 46


Jam tiga dini hari, keluarga besar itu sahur bersama. Zahira juga ikut bergabung, mengisi piring untuk suaminya. Sepertinya wanita dalam mode sadar, tak ada kejadian yang mencuri atensi keluarga itu, mereka makan dalam suasana hangat.


Hari pertama puasa tak ada kejadian yang aneh pada perempuan itu, Zahira hanya mengalami lupa, tapi hanya sebentar-sebentar saja. Karena keluarga sudah paham akan kondisinya, maka mereka sudah tak heran lagi. Hingga waktu berbuka tiba, Alhamdulillah puasa pertama berjalan dengan lancar.


Pagi ini Zico harus tugas, yaitu ada sidang hari ini yang harus di pimpin olehnya di pengadilan negeri. Zico pamit pada sang istri sebelum beranjak pergi.


"Sayang, aku pamit dulu ya. Kamu jangan memikirkan apapun. Jika ada apa-apa, kamu telpon aku ya?" pesan Pria itu pada istrinya.


"Baiklah, ini kopinya, Mas," ujar Zahira sembari menyerahkan secangkir kopi pada Pria itu.


"Sayang, aku lagi puasa," ujar Zi memberitahu.


"Astaghfirullah, maaf, aku lupa Mas, benaran aku lupa, aku tidak amnesia kok," ucap wanita itu meyakinkan sang suami bahwa dirinya sedang lupa, Zico hanya tersenyum lembut sembari mengecup kening istrinya.


"Tidak apa-apa, Dek, aku tahu. Yaudah, aku pergi dulu ya. Sini kopinya Mas bawa kebelakang," ujar lelaki itu sangat sabar dan pengertian atas kondisi sang istri.


Zahira hanya tersenyum hambar. Pikiran wanita itu entah seperti apa. Ia segera beranjak menuju taman belakang melihat putranya yang sedang berjemur dengan Babysitter.


Siang selesai mengadili perkara, Zico segera menuju ke kantor, Pria itu menghabiskan waktunya sepenggarinya di kantor perusahaannya sendiri. Sore menjelang magrib ia baru sampai di kediaman orangtuanya.


Sebenarnya ia ingin memboyong istri dan anaknya untuk menempati kediamannya yang pertama ditempati mereka sebelum mengenalkan istri dan anaknya pada kedua orangtuanya. Bukan apa-apa, Zico hanya ingin menikmati momen bahagia bersama keluarga kecilnya, tetapi dengan kondisi Zahira yang tidak memungkinkan, maka ia akan lebih nyaman menitipkan istrinya pada keluarga saat dirinya sedang bertugas.


"Assalamualaikum," seru Pria itu masuk kamar.


"Aaaaakh! Ka-kamu siapa?" pekik Zahira mundur perlahan kebelakang.


"Sayang, ini aku suami kamu," ujar Zi meyakinkan sang istri.


"Stop! Jangan mendekat! Pergi!" sentaknya dengan keras.


"Dek, ini aku!" Zico masih berusaha meyakinkan.


"Tidak! Aku tidak kenal kamu. Lancang sekali kamu masuk ke kamarku!" bentak wanita itu kembali.


"Ya, baiklah." Zico segera keluar untuk menenangkan perasaannya.


Zico duduk di balkon teras lantai dua. Tatapannya lurus kedepan dengan pikiran tak menentu, apa yang ia takutkan kini terjadi. Kini wanita cantik itu melupakan dirinya, hatinya hampa, gairah hidup serasa surut, dunianya kembali mendung.


"Zi, kamu disini. Ayo turun, Nak, bentar lagi buka puasa. Mama cariin rupanya disini," ujar Mama menghampiri Putra semata wayangnya.


Zico masih diam tak menggubris ucapan Mama. Pria itu larut dalam pikiran sendiri. Entah sampai kapan Zahira akan melupakan dirinya.


"Zi, kamu dengar Mama?" tanya wanita baya itu sembari mengusap bahu anaknya dengan lembut.


"Ah, Mama! Ya, Mama bilang apa?" tanya Pria itu benar-benar tidak fokus.


"Zi, kamu kenapa, Nak?" tanya Mama menatap wajah anaknya yang tampak begitu sedih.


"Ma, Zahira melupakan aku," ungkap Pria itu dengan lirih sembari memeluk wanita yang telah melahirkannya kedunia ini. Zico tak kuasa menahan air matanya. Ia tak pernah merasakan hatinya seperih itu, rasanya begitu sakit saat orang yang sangat dicintai melupakan dirinya.


"Sabar, Sayang, Mama yakin, ini tidak akan berlangsung lama. Kamu harus perca itu." Mama berusaha untuk menenangkan putranya yang tampak rapuh.


"Sampai kapan, Ma? Aku takut jika istriku akan melupakan aku selamanya, aku tidak sanggup, Ma," ucap Zico dengan haru.


"Jangan berkata seperti itu, Nak, kamu harus berpikir positif, jangan pesimis dulu."


Zico hanya mengangguk paham. Pria itu mengikuti langkah sang Mama turun kebawah untuk berbuka puasa. Terlihat Zahira sudah duduk disana. Wanita itu menatapnya dengan datar, tak ada respon apapun, sehingga membuat hati Pria itu semakin ngilu.


Zico duduk menjarak agar sang istri tetap nyaman. Pria itu tak berselera makan, perasaannya masih tak tenang. Terasa aneh, dirinya bagaikan orang asing Dimata wanita itu.


Selesai makan, Zahira segera menuju kamar melaksanakan sholat magrib tiga rakaat. Setelah itu ia duduk dikamar dalam keseorangan.


Sementara itu Zico menggunakan kamar Putranya untuk bersih-bersih dan melaksanakan sholat magrib. Selesai sholat magrib, Pria itu berniat ingin sholat tarawih, ia mencoba masuk kembali ke kamarnya untuk melihat situasi, apakah istrinya masih lupa akan dirinya.


Ya, wanita dua puluh lima tahun itu masih belum mengenali dirinya. Zico kembali keluar saat kejadian serupa terjadi. Zahira masih histeris mendapati dirinya berada di kamarnya.


Zico mencoba menekan perasaannya agar tak larut dalam kesedihan. Pria itu segera beranjak menuju masjid untuk melaksanakan ibadah taraweh. Padahal sebelumnya mereka pernah berencana untuk ibadah bersama, tapi semua tak dapat diduga, wanita itu lupa jati dirinya.


Zico merampalkan Do'a untuk istri tercinta, agar segera diberi kesembuhan oleh yang Maha Kuasa. Dia harus tetap tegar, masih ada simungil Zafran yang harus ia curahkan kasih sayang.


Tak terasa waktu berjalan, Zahira masih melupakan orang-orang sekitarnya, Zico selalu menuntut pada Dokter syaraf yang menangani, kenapa istrinya begitu lama melupakan dirinya dan orang sekitarnya.


Dokter hanya meminta agar Pria itu tetap bersabar dan berdo'a, karena semua butuh proses yang tidak sebentar. Zahira harus diberikan untuk berpikir sendiri dengan dibantu obat-obatan yang dia konsumsi.


Siang ini Zahira mengalami sakit kepala yang begitu dahsyat, ia segera meminum obatnya, dan beristirahat sejenak. Zahira masih merasa asing tinggal dikediaman itu. Ia masih sulit untuk mengingat.


Malam terakhir Ramadhan, Zico tak henti-hentinya melangitkan Do'a untuk istri tercinta agar segera pulih dari amnesia yang sedang ia alami. Pria itu memohon kepada Allah agar segera mengembalikan ingatan istrinya seperti sediakala.


Zico menangis di sujud terakhirnya. "Ya Allah, hamba mohon tolong kembalikan ingatan istri hamba, jika ini adalah hukuman atas dosa yang telah hamba lakukan, maka hamba mohon jangan timpakan pada wanita Sholeha itu ya Rabb, sudah cukup segala penderitaannya selama ini. Timpakan saja hukuman itu kepada hamba, sungguh hamba ikhlas menerimanya." Gumam Pria itu didalam hati merayu sang khalik.


Selesai sholat malam, Pria itu merebahkan diri disamping putranya, semenjak Zahira melupakan mereka, Ayah dan anak itu tidur berdua demi memberi kenyamanan pada wanita kesayangannya.


Suara takbir berkumandang begitu riuh menyejukkan hati, Zahira duduk seorang diri di balkon kamarnya, beberapa hari wanita itu enggan untuk keluar kamar, selain merasa asing, ia juga sering mengeluh sakit kepala.


Zahira hanya mengangguk patuh bila Mama memberinya obat setiap jam. Ia hanya mengenali Mama sebagai Mama kandungnya. Malam ini setelah minum obat, ia duduk sendiri menikmati seruan takbir.


Zico baru pulang dari masjid bersama Papa, ia segera menemui Zahira, meskipun wanita itu selalu tak menyukai kehadirannya, tetapi ia tak mau menyerah. Zico hanya ingin menyapa wanita itu walau sesaat.


Pria tiga puluh lima tahun itu sangat merindukan kehangatan dari sang istri. Sebenarnya setiap malam matanya enggan terpejam, ingin sekali datang menemui wanita itu dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


Zico tak melihat kehadiran wanita itu dikamarnya. Netranya menyapu seluruh ruangan mencari sosok wanita cantik itu. Zico berjalan membuka pintu balkon yang tak tertutup rapat. Pria itu memeriksa secara detail.


Sosok yang ia cari sedang duduk melamun seorang diri. Lama Pria itu berdiri diambang pintu mengamati sang istri dari jarak beberapa meter. Perlahan ia berjalan mendekati.


"Hai, kenapa melamun?" tanyanya membuat lamunan wanita itu buyar seketika.


Zahira menatap, namun tidak beranjak seperti biasanya, ia akan menjauh dan meminta Zico untuk pergi, tapi kali ini tidak seperti itu. Zahira menatap lekat pada wajah Pria itu.


"Aaaaakh!" Zahira mengerang sembari memegang kepalanya.


"Dek, kamu kenapa? Apakah kepala kamu sakit lagi?" tanya Zi begitu cemas.


Zahira masih diam dan menunduk. Perempuan itu merasakan belaian lembut di kepalanya, Rasanya sudah tak asing lagi dengan belaian itu. Ia segera mendongak menatap wajah tampan itu kembali dengan seksama.


"Mas Zi!" ucapnya sedikit serak.


Zico terpaku dengan perasaan bercampur baur saat mendengar wanitanya kembali memanggil namanya. Dengan hati membuncah ia menggenggam tangannya.


"Sayang, apakah kamu sudah ingat denganku?"


Bersambung....


Happy reading 🥰