Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bertemu Adri


Zico menjalani rutinitas seperti biasanya. Setelah beberapa hari cuti, kini ia kembali mengadili para terdakwa. Zico benar-benar menjadi hakim yang amanah sejak dirinya menikah dengan wanita Sholehah itu.


Zi benar-benar menimbang dengan seadil-adilnya. Sadar sekali profesinya yang sebagai tangan Tuhan, maka harus amanah dan bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang ia ambil.


Lelaki yang berumur tiga puluh tahun itu tampak begitu fokus membaca segala berkas yang ada di hadapannya. Dengan menimbang seadil-adilnya Pria itu menjatuhi hukuman setimpal sesuai undang-undang pasal yang berlaku.


Zico keluar dari gedung pengadilan negeri kota bertuah itu saat waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore. Ia tak langsung pulang, sesuai kesepakatannya dengan kuasa hukum pihak Adriansyah.


"Selamat siang, Pak hakim!" sapa salah seorang kepala kuasa hukum itu menjabat ramah tangan Zico.


"Ah, selamat siang kembali. Jangan panggil dengan sebutan itu. Karena takut bila ada orang yang salah mengartikan pertemuan kita," ucapnya meminta pengertian mereka.


"Ah, baiklah. Mari silahkan duduk Pak Zico. Terimakasih sudah mau menemui kami disini," ucap kuasa hukum itu begitu ramah, karena bagi mereka ini adalah suatu kebanggaan karena bisa duduk bersama dengan ketua hakim PN itu.


Mereka bertemu di sebuah Cafe sekalian makan siang bersama. Setelah itu lanjut membahas tentang kasus yang sedang menimpa seorang manajer perusahaan minyak itu.


"Apakah bukti-buktinya sudah lengkap?" tanya Zi.


"Sebagian sudah, Pak. Cuma ada bukti akurat yang tak bisa kami dapatkan, karena menurut pihak lapangan mengatakan bahwa cctv yang ada di gate minyak tidak berfungsi saat insiden itu terjadi," jelas mereka.


"Apakah penyidik sudah memeriksa cctv itu sendiri?"


"Sudah, Pak. Tapi memang tak ada rekaman di jam kejadian itu."


"Baiklah, saya akan meminta rekan saya untuk membantu saya dalam penyelidikan. Rasanya sangat mustahil bila cctv tidak berfungsi di area yang sangat penting itu," jelas Zi.


"Kami juga berpikir seperti itu, Pak. Kenapa mereka tidak mengeceknya sebelum kejadian itu," timpal kuasa hukum itu.


"Nanti akan saya kabari kembali saat saya akan mendatangi tempat kejadian itu secara langsung."


"Baik Pak Zico. Terimakasih banyak atas waktunya."


"Kalau begitu mari kita ke tahanan sekarang. Saya ingin bertemu dengan Pak Adriansyah."


"Ah mari, Pak." Zico dan pihak pengacara itu segera meluncur ke Bareskrim polri untuk menemui Adri. Dan tentu saja hakim agung itu sudah menukar pakaiannya terlebih dahulu, dan meminta orang dalam untuk mempertemukannya dengan Adri. Agar tak menimbulkan kecurigaan, Zico menggunakan masker dan topi untuk menyamarkan pengamatan orang sekitar.


Zico dan pengacara Adri duduk di ruang tunggu. Tak berselang lama pihak tahanan sudah menggiring Adri untuk bertemu dengan mereka.


"Selamat sore, Pak Adri. Bagaimana kabar anda?" sapa pengacaranya.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar istri dan anak saya?" tanya Adri yang begitu mencemaskan istri dan anaknya.


"Alhamdulillah Bu Mila dan putra anda baik-baik saja. Oya, Pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Adri," jelas kuasa hukumnya.


"Siapa?" tanya Adri tidak tahu.


"Beliau ada di sana," tunjuknya pada lelaki yang duduk di pojokan lelaki itu menggunakan masker dan topi, sehingga membuat Adri tak dapat mengenalinya.


Zico segera menghampiri Adri. "Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Pria itu sembari mengulurkan tangannya.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja. Maaf, anda siapa ya? Apakah kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Adri masih bingung.


"Ya, tentu saja kita pernah bertemu. Dan bahkan aku sangat berutang Budi padamu," jawab Zi masih memberi teka teki pada Pria itu.


Adri menatap manik mata lelaki yang duduk di hadapannya. "Sungguh aku tidak tahu. Bisa perlihatkan wajahmu?"


Zico tersenyum, lalu membuka maskernya sebentar untuk memperlihatkan wajahnya pada lelaki itu.


"Kamu?" ucap Adri tak habis pikir.


"Ada apa kamu datang kesini?" tanyanya penasaran.


"Hei, apakah kamu lupa bahwa aku adalah seorang hakim, dan kasusmu masuk kedalam agendaku. Akulah yang akan mengadili nanti," jelas Zi.


"Apa maksud kedatanganmu kesini?"


"Tentu saja aku ingin membantumu terbebas dari jeratan hukum. Itupun jika memang kamu terbukti tidak bersalah dalam kasus ini."


Adri baru bisa bernafas lega mendengar penjelasan sang hakim. "Terimakasih banyak atas niat baikmu. Sungguh aku tidak menyangka akan di kunjungi oleh orang penting sepertimu," ucap Adri tersenyum menyambut niat baik lelaki itu.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Ayolah, mulai sekarang mari kita berteman," sambut Zico mengulurkan tangannya. Dan tentu saja disambut senang oleh Adri.


"Senang bisa berteman denganmu," sahut Adri tersenyum lega.


"Baiklah, mari kita membahas pokok permasalahannya."


Mereka bicara dengan serius dalam membahas kasus yang sedang menimpa Pak manajer di perusahaan yang bergerak di bidang industri migas.


Cukup lama mereka ngobrol, dan tentu saja itu semua berkat Pak hakim yang mempunyai rekan di bagian lapas, jadi mereka mempunyai waktu sedikit lama untuk bicara.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Kamu tenanglah, jangan banyak pikiran, karena anak dan istrimu aman dalam penjagaan orang-orangku," ucap Zico sebelum pamit.


"Terimakasih banyak, Kawan. Sungguh aku banyak berhutang Budi padamu," ucap Adri merasa sungkan.


"Jangan bicara seperti itu, karena dulu kamu juga pernah menjaga anak dan istriku," sahut Zi.


Kedua lelaki itu berpelukan ala manly. Adri kembali di giring masuk kedalam tahanan, sementara Zico dan pengacara berpisah di parkiran, karena Zico mengendarai mobil sendiri.


Diperjalanan pulang, Zico kembali menghubungi orang suruhannya untuk menjaga kediaman Adri, agar Mila dan Revan tetap aman. Zico sadar sekali bahwa kasus yang sedang ia tangani adalah kasus besar, karena akan banyak pihak yang akan terseret disana. Dan termasuk direktur utama yang mempunyai perusahaan migas itu.


Zico tiba di kediamannya sudah hampir magrib. Kepulangannya disambut ceria oleh sang istri.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam... Abi sudah pulang!" seru Zahira segera menyongsong lelaki itu. Tak lupa menyalami dengan takzim, lalu mengambil tas kerjanya.


"Kok sepi, Sayang? Mama dan anak-anak mana?" tanyanya sembari mengecup kening bidadari surganya.


"Ada di kamar baby Zhera. Ayo aku urus kamu dulu," ucap Zahira sembari bergelayut mesra di lengan lelaki terhebatnya.


"Terimakasih, sayangku." Zico membalas merangkul bahu wanitanya tak kalah mesra.


"Loh, ko pakaian kamu ganti, Mas?" tanya Zahira yang baru saja menyadari.


"Iya, sengaja aku ganti, karena tidak mungkin menggunakan pakaian dinas ke kantor polisi," jawab Zi dengan jujur.


"Kamu serius?" tanya Zahira tersenyum sengit sembari menatap mata teduh lelaki itu. Sebenarnya ia tahu bahwa Zi tidak berbohong, tetapi hanya ingin godain saja.


Zico membuka tali niqab Zahira, kini tatapan mereka begitu dekat sehingga mengikis jarak.


"Apakah kamu mencurigaiku?" tanya lelaki itu sembari menatap lekat wajah cantik istrinya dengan penuh damba.


Bersambung....


Happy reading 🥰