ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Kabar Baik dari Margaret...


***


CIT! CITT!


Pagi mulai menyambut kehidupan dengan segala kehangatannya. Hari ini, Elizha masih terlelap di kamar miliknya. Sudah begitu lama kamar tersebut di tinggalkannya. Hingga sekarang ia bisa tidur sepuasnya. Bahkan ia tak perlu tidur secara terlunta-lunta untuk saat ini. Kehidupan yang normal kembali ke dirinya setelah begitu banyak nasib sial yang ia alami.


Rio masih berkutat di dapur, setelah ia mengamas sarapan pagi. Ia pun lekas pergi ke kantor Gabvin dan mulai kembali bekerja seperti biasanya.


"Ayah. Aku akan berangkat" ucap Rio pamit.


"Apakah kamu tidak sarapan terlebih dahulu?" Tanya ayah Rio.


"Tidak... Aku akan makan di kantor saja. Ayah tolong katakan pada Elizha untuk makan lebih banyak sayuran dan lauk. Agar keponakan ku tumbuh dengan cepat" jelas Rio. Seraya membuka pintu dan mulai keluar.


"Dia begitu sangat perhatian... Padahal Elizha hanyalah adik angkatnya" umpat Ayah Elizha seraya melangkah menuju ke meja makan.


"Mana anak itu? Sudah agak siang tapi dia belum juga datang?" tanya ayah Elizha menatap jam di legannya beberapa kali. Ia masih menunggu Elizha yang entah jam berapa dia akan bangun.


Lama menunggu Elizha yang tak kunjung datang ke meja makan. Akhirnya Ayah Elizha pun berjalan menuju kamar Elizha, tapi... Entah kenapa, bel rumahnya malah berbunyi beberapa kali pagi itu.


"Ting Tong" Ayah Elizha yang hendak membangunkan putrinya pun mulai bergegas melangkah ke pintu keluar.


"Siapa yang datang?" Tanya Ayah Elizha seraya membuka pintu rumah nya.


Klek! Saat pintu terbuka, Ayah Elizha cukup kaget. Karna Margaret tiba-tiba ada di depan rumah kediaman itu "Nona Margaret?" tanya Ayah Elizha cukup heran.


"Ya. Tuan... Apakah saya bisa bertemu Elizha?" tanya Margaret. Sudah lama sekali Margaret tak berkunjung ke kediaman itu setelah lulus sekolah. Hingga ia tak tahu jika Elizha baru saja kembali ke kediaman tersebut.


"Oh. Elizha sedang tidur... Dia belum bangun" jelas Ayah Elizha terasa malu.


"Oh begitu ya...' Margaret kecewa.


"Akan aku bangunkan jika ada hal yang mendesak" jelas Ayah Elizha.


"Sebenarnya saya datang kemari untuk mengantarkan undangan pernikahan" jelas Margaret.


"Wah. Siapa yang akan menikah?" tanya Ayah Elizha senang.


"Saya tuan. Saya akan menikah satu minggu lagi, jadi... Saya ingin Elizha datang ke pesta pernikahan kami" Pinta Margaret. Ayah Elizha belum mempersilahkannya masuk.


"Oh begitu.. Ayo masuklah dulu. Kita bicara di dalam, aku akan sampaikan pada Elizha bahwa kamu datang nak" Imbuh Ayah Elizha begitu ramah.


"Maaf sebelumnya. Tapi, untuk saat ini... Saya sedang sibuk. Saya harus menyebar undangan ini ke seluruh kerabat dekat saya" Jelas Margaret.


"Bagitu ya. Sayang sekali... Mungkin jika Elizha bangun dia akan sangat senang ketika bertemu dengan mu" jelas Ayah Elizha tampak kecewa.


"Mungkin lain kali aku akan berkunjung bersama suamiku tuan. Oh ia, sekalian tolong sampaikan pesanku pada Elizha... Salam dari Margaret dan jangan lupa datang ke pesta pernikan ku..." Jelas Margaret seraya tergesa-gesa. Margaret pun enyah bersama mobil yang mambawanya ke kediaman Elizha. Surat undangan sudah di pegang sang Ayah. Ayah Elizha pun menyimpannya di sebuah laci ruang tamu, ia kemudian lekas melangkah untuk membangunkan Elizha.


Untuk saat ini, ayah Elizha hanya bisa mengendalikan perusahaan kecilnya di rumah atas alasan kesehatannya yang tak begitu baik.


Tok! Tok!


"Elizha! Bangunlah..." Pinta sang ayah mulai masuk. Elizha masih terlelap di balik selimut kamarnya. Belum pernah ia merasakan nikmatnya hidup kala terlelap di kediamannya sendiri. Hingga ia tak mau bangun meski ayahnya berusaha keras.


"Elizha ayo bangun dan sarapan lah..." pinta sang ayah.


"Aahh tidak. Biarkan aku tidur beberapa jam lagi..." lenguh Elizha.


"Tapi... Kakakmu sudah susah payah membuatkan kita sarapan. Makannya kamu harus makan..." pinta sang ayah membujuk.


"Aku tidak lapar. Aku masih ngantuk" sudah lama ia tak manja pada ayahnya. Sejak keluar rumah, ia mana bisa bangun siang seperti saat ini.


"Oh ia. Tadi ada sahabat baikmu yang bernama Margaret itu datang kemari" imbuh sang ayah. Elizha lekas menbuka matanya lebar-lebar dan bangun dengan sigap "Margaret? Dimana dia?" Elizha terduduk dan mulai celingukan mencari "Ah... Mana dia aku harus mencarinya" jelas Elizha kelimpungan tergesa-gesa turun dari ranjang.


"Hati-hati jangan terburu-buru nanti kamu bisa terpeleset!" jelas sang ayah. Akhirnya... Ayahnya mulai menjelaskan kabar kedatangan Margaret ke kediamannya.


"Margaret akan menikah Yah?" tanya Elizha kaget. Ia sungguh tak percaya jika pernikahan Margaret akan tejadi beberapa hari lagi.


"Ia dia bilang begitu... Sebaiknya kamu pastikan saja" jelas sang ayah.


"Benar juga. Tapi jika aku ke sana hari ini. Aku pasti tak akan bertemu dengannya..." Umpat Elizha.


"Kenapa?" tanya Ayahnya.


"Karna dia sangat sibuk ayah... beberapa kali aku datang ke kediamannya. Dia sama sekali tak pernah ada di tempat. Aku jadi selalu kecewa... Jadi sebaiknya aku tunggu saja hingga hari H nya tiba" jelas Elizha.


"Begitu ya?" Ayah Elizha hanya bisa berkata demikian.


"Baiklah aku lapar. Ayah ayo kita sarapan"Ujar Elizha.


"Oh Ayo..." ayah Elizha mulai makan bersama di ruang makan. Elizha menyuapi ayahnya beberapa kali. Hidupnya makin nikmat setelah ibu tiri dan adik tiri juga kakak tirinya enyah.


Mereka makan dengan lahap, mau bagai mana lagi... Masakan Rio adalah nomber satu...


Elizha mulai menceritakan undangan pernikahan dari Margaret untuknya ke Gabvin. Dan ia ingin Gabvin datang bersamanya ke acara pernikahan Margaret untuk memperkenalkan Margaret juga Calon suaminya. Selain Margaret, Elizha juga akan menjadi wanita paling bahagia ketika melihat sahabatnya mulai melangkah ke pelaminan..


"Ayah mana undangannya?" Tanya Elizha.


"Eh ayah lupa menaruhnya di mana" Ucap ayah Elizha seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Ayah gimana sih!" Elizha kini malah kelimpungan mencari undangan tersebut. Sang ayah malah lupa dan akhirnya undangan tersebut pun tak di temukan.


Bersambung...