
"Syukurlah..." Elizha lekas menutup ponselnya dan mulai mengembangkan senyumnya "Apakah dia tak akan berubah pikiran?" tanyanya pada Rio. Rio membalas dengan senyumannya "Jangan khawatir, meski pria itu adalah bosku. Aku akan tetap menyuportmu. Jangan khawatir, jika dia macam-macam, maka kakakmu ini yang akan bertindak. Jangan khawatir ya ..." Jelas Rio seraya mengusap pucuk kepala wanita yang bergaya bah adik kandungnya.
"Makasih. Kamu memang kakak terthe bast deh!" Ujar Elizha.
"Jika sudah sehat, ayo kita pulang..." Ujar Rio.
Elizha sedikit bingung "Aku tak mau pulang ke rumah pria itu..." Elak Elizha.
"Jika kamu tak punya tempat untuk bermalam malam ini... Kakak akan meminjamkan apartement kakak" Ujar Rio.
"Benarkah?" Sontak Elizha merespon cepat.
"Ya. Lagi pula... Aku adalah pengawalmu sekarang. Jadi, tak akan ada yang curiga padaku..." Jelas Rio.
"Tapi, tetap saja kakak... Gery itu banyak sekali orang suruhan. Jadi, kakak harus tetap hati-hati..." jelas Elizha.
"Baiklah adikku yang baik. Akan kakak lakukan, kakak akan sangat hati-hati..." Balas Rio. Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan dokter. Elizha pun di persilahkan pulang, Rio bersama beberapa anak buahnya mulai melanjutkan perjalanan menuju apartement Rio di pusat kota.
***
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, Akhirnya Elizha sampai di apartement Rio "Dek. Ganti bajumu dengan pakaian yang cukup tertutup, kami bisa masuk angin nanti..." pinta Rio seraya melempar daster. Elizha tercengang "Wah. Hebat... Kakak punya pakaian perempuan di Apetementmu?" Tanya Elizha.
"Itu milik pacar ku" Jawabnya malu-malu.
"Lain waktu, kenalkanlah padaku ya?" tanya Elizha.
"Tentu.. Dia sedang kuliah ke LA jadi, mungkin tahun depan kami baru berencana untuk menikah" jelasnya.
"Syukurlah..." ucap Elizha.
"Lekas ganti pakaianmu dan pergilah tidur" Pinta Rio.
"Baiklah..." Elizha mulai bergeges mengganti pakaiannya. Ia masuk kamar mandi "Jangan terkena air dulu... Sebaiknya kamu membilas tubuhmu pelan. Atau kukamu tak akan keering' Jelas Sang kakak.
"Baik aku pahm" Seru Elizha di dalam kamar mandi. Rio lekas ke ruang tamu apartementnya, namun sayang... Rio malah kedatangan tamu tak di undang "Tuan..." Bisik Rio nyaris tak terdengar.
Gery sudah duduk saja di sana dengan posisi menyender di kursi "Kenapa kamu tak mengabariku?" Tanya Gery sedikit marah, raut wajah masamnya tampak sangat menakutkan.
"Karna, kupikir anda sedang sibuk tuan" Jelas Rio mencari alasan.
"Kau memang bedebah kecil yang tak paham situasi hatiku..." Imbuh Gery mendekati Rio.
"Maafkan saya tuan, lain kali saya akan sangat berhati-hati" Balas Rio berusaha meredam situasi.
"Uggghhh!!" Rio meringis saat perutnya di tinju oleh Gery beberapa kali "Apakah kau merasa sakit?" tanya Gery makin murka tanpa sebab.
"Maafkan aku tuan, aku sungguh tak bermaksud buruk pada nona muda" Jelas Rio tertatih-tatih seakan menahan rasa sakit nya.
"Lalu kenapa kau malah menyerahkan ponselku ke arah istriku?" Tanya Gery dengan tatapan melotot dan penuh amarah.
"... Nona muda merebutnya begitu saja" Jelas Rio.
Gery tersenyum menyungingkan satu bibirnya "Merebutnya? Lantas kenapa kau tidak segera menggunakan tanganmu untuk mengambilnya kembali!!!" Bentak Gery seraya menampar wajah Rio beberapa kali. Sadar dengan suara bising di luar kamarnya. Elizha yang sedari tadi tengah berkutat mengganti pakaiannya itu pun mulai keluar untuk mengucapkan selamat malam pada kakaknya.
Namun betapa kagetnya ia ketika pintu kamar tersebut sedikit terbuka dan melihat kakaknya sedang di aniaya "Kakak!" Teriak Elizha terpana di balik daun pintu yang telah ia buka.
Gery lekas menoleh ke arah Elizha dan mulai terdiam, Elizha melangkah perlahan dan sedikit Syok kala melihat wajah sang kakak telah babak belur "Kakak..." Bisik Elizha menghampirinya dan memebelai wajah sang kakak dengan tangan gemetar. Gery marah dan meraih tangan Elizha yang saat itu hampir mendarat di wajah sang kakak.
Elizha berbalik menatap Gery dan satu lemparan tangannya mulai mendarat di pipi kiri Gery "PLAK!!"
Ngiiiiiing... Seakan gelap tiba-tiba pandangan Gery. Ia marah pada pria didepannya dan sedikit bingung kala Elizha memanggil Rio dengan sebutan Kakak.
...Kakak? Katanya kakak? Bathin Gery meracau tak terduga....
"Berapa orang yang akan kamu sakiti oleh ke egoisanmu ini?" Tanya Elizha mulai membentak Gery. Gery yang sadari tadi menunduk menerima tamparan Elizha itu pun mulai menoleh pelan seakan gemetaran ke arah wanita tersebut.
"Kau... Lancang sekali menamparku!" Bentak Gery. Elizha tersenyum dan kembali memblukan amarahnya "Gery kau ini egois! Kekanak-kanakan! Serakah dan arogant! Apakah kau yakin... Kau adalah kluarga Pranata Winata? Dari kelakuanmu saja, aku menduga bahwa kamu terlahir sebagai brandal yang kejam!" Cecah Elizha tak memberinya ruang untuk membalas.
"Hentikan segala kekacauan yang telah kau buat. Pernikahan kita sudah berakhir. Kamu sendiri yang mengakhirinya, kata talak tak bisa di permainkan... Kamu sudah memutuskannya, jadi... Aku yakin jika kamu pria sejati, kamu pasti malu untuk menjilat ludahmu sendiri. Konsistenlah pada apa yang kau pilih... toh kita bukan jodoh!" Elizha berkata panjang lebar. Padahal hatinya sakit, entah ia sakit karna perbuatan Gery yang semena-mena padanya. Atau sakit melihat kakaknya tersiksa, atau juga sakit mendapatkan kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebuah alat untuk melahirkan anak laki-laki untuknya.
"Kau..." Gery tak bisa berkata-kata lagi, apa yang Elizha katakan semuanya benar. Dan ia terlalu malu jika menarik kata-katanya lagi.
"Jangan ganggu kakakku! Ia bekerja di bawah pengawasan serikat kepala Bodyguard internasional... Jadi, jika kamu sungguh melakukan hal buruk padanya. Maka aku tak segan membawa kasus ini ke pihak yang berwanang" Jelas Elizha.
Gery mulai menatap Rio dan mulai menatap Elizha, sesaat terilah sebuah senyum yang mengolok Elizha, namun karna hati Gery terlanjur hancur. Ia pun tertawa menutupi lukanya "Hah, Haha... Hahhahahahahhaha... Dasar, kalian berdua memang Psycopat!" Ujarnya. Gery pun duduk di sofa tersebut dan mulai menggaruk-garuk rambutnya. Setalah itu, iapun mengacak-acak isi meja di depannya. Elizha terkejut dan terlihat takut "Baiklah jika itu yang kau minta. Berikan aku waktu satu minggu, untuk menyelesaikan berkas ku... Setelah itu, kau sungguh akan ku lepaskan..." Jelasnya. Mendengar pernyataan itu. Elizha sungguh bahagia.
"Memang itu yang selalu ku nanti beberapa bulan lalu. Menanti pelepasan yang adil darimu. Aku sungguh merasa beruntung dan bersyukur. Rupanya, tuhan masih sangat menyayangiku..." Imbuh Elizha seraya lekas mengobati luka sang kakak.
Sementara Gery, ia tampak tak puas dengan keputusan yang telah ia buat itu. Tapi, Elizha sungguh bersikeras meminta sebuah perpisahan yang adil untuknya.
Wanita ini sungguh seekor siluman!! Amuknya
Flasback off...
BERSAMBUNG...