
"Lepakan aku!" Pekik Elizha meronta, Gery lekas memegangi kedua tangan Elizha dan memghimpitnya di ranjang.
"Apa yang akan kamu lakukan? Dasar bodoh!" Bentak Gery melotot ke arahnya.
"...Lepakskan!" Balas Elizha terus meronta.
"Jangan lakukan hal bodoh yang bisa membuatmu menyesal nantinya!" marah Gery.
"Apakah ini sebuah perhatian? Atau peringatan? Untuk apa kamu khawatirkan aku, urus saja istri sah mu dengan baik..." Singgung Elizha.
"Heh. Rupanya kamu cemburu pada Angel?" Tanya Gery sedikit senang.
"Berhentilah bersikap seperti ini... Karna aku sedikit muak, cemburu pdamu? Hah yang benar saja..." Umpatnya sedikit kesal.
"Heh. Jangan pura-pura, aku bisa lihat sesuatu di matamu..." Imbuh Gery.
"Sesuatu? Mungkin itu hanyalah kotoran di mataku" Jawab Elizha sigap.
"Berhentilah bicara, Aku sedang serius dengan mu saat ini..." Ujar Gery
"Kalau begitu, akan kah kamu terus menggerutu di posisi seperti ini?" Tanya Elizha menatap Gery.
"Heh... Aku lebih nyaman jika lebih dekat dengan mu seperti ini" Balas Gery tersenyum.
"Hentikan, Ini sungguh tidak lucu lagi sekarang... Lagi pula, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu" Jelas Elizha.
Gery pun membalas "Tentu saja, aku pun ada hal yang ingin di sampaikan padamu"
"Kalau begitu, lepaskan aku..." Pinta Elizha.
Mereka pun mulai saling membenahi diri, Gery melepaskan cengkramanya dan mereka pun duduk di samping ranjang.
"Apa rencanamu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Tanya Elizha dengan pandangan menunduk.
Gery menoleh "Tentu saja karna aku sangat rindu padamu... Jadi, tidak ada salahnya jika kita menghabiskan malam ini bersama" Jelas Gery tersenyum hangat pada wanita di sampingnya itu.
"Benarkah? Memangnya kita terlihat seperti pasangan yang serasi?" Tanya Elizha mulai menatap dua manik mata Gery.
"Memangnya apa masalahnya..." tanya Gery, ia cukup heran atas pertanyaan Elizha.
"Masalahnya adalah, aku hanyalah istri kontrakmu..." Jelasnya menatap sinis.
"Memang kenapa? Lagipula... Kamu tak pernah keberatan, lalu kenapa hari ini kamu malah mengusik hal tersebut" Tanya Gery tak senang.
"Karna ini sangat menggangguku... Rasanya aku ingin sekali menjauh darimu bahkan menghilang seumur hidupku" Imbuh Elizha pada Gery.
"Menjauh? Yang benar saja... Jangan bergurau seperti ini, lebih baik kita tidur bersama dan saling berpelukan satu sama lain, itu akan lebih baik dari pada berdebat hal yang tak jelas begini" Pintanya mengalihkan pembicaraan.
"Hentikan... Aku sungguh berkata jujur, mari kita akhiri semua lelucon bodoh ini. Aku sungguh muak" Pinta Elizha mendorong dada Gery yang sedikit terbuka.
"Hentikan kata mu? Heh... Memangnya akan semudah itu?" Tanya Gery menatap Elizha dengan pandangan membulat.
"Hehehehe... Apa-apaan ini? Awalnya kamu datang dan memohon padaku, lalu memintaku menikahimu... Dan sekarang kamu sendiri yang ingin menyudahinya? Apakah otakmu sehat?' Tanya Gery mencemooh.
"Ya. Aku sehat, aku sungguh berfikiran realistis... Hingga aku memilih jalan ini. Ku pikir, saat aku tidur denganmu tanpa sengaja malam itu... itu adalah sebuah kesalahan besar yang seharusnya tak terjadi" jelas Elizha.
"Kau sendiri yang memilih untuk di hancurkan, itulah takdirmu" Balas Gery menatapnya dan terkekeh.
"Ya. Sebelumnya aku juga berfikir... Tak apalah jika dia jodohku, habis selain dia adalah ayah dari anakku, dia adalah pria tampan yang terlihat baik hati... Namun seluruh perkiraanku adalah salah... Rupanya aku malah di pertemukan dengan sosok monster yang bisa melakukan apapun atas kehendaknya dan ke egoisannya sendiri..." Jelas Elizha. Gery terdiam dan menghapus senyuman yang ia pertahankan sedari tadi.
"Kau adalah seorang monster, kau tidak perduli betapa aku menjaga bayi di perutku. Entah ia akan lahir dengan jenis kelamin perempuan atau pun laki-laki. Dia adalah anakku, aku akan merawat dan menyayanginya... Sebelum hari itu datang, entah itu kabar baik atau buruk... Tapi, aku harus menjelaskannya padamu... Aku ingin kita akhiri sampai di sini saja. Karna lebih lama berada di sampingmu membuatku sangat gila..." Ungkap Elizha melontarkan segala unek-unek dalam hatinya.
Sudah saat nya aku mundur, pernikahan ini sungguh membuatku tertekan setiap waktu. Kamu memutuskan hal yang sangat membuatku sakit hati secara sepihak. Meminta kontrak pernikahan dan membawa wanita lain di kediamanmu sungguh membuatku makin tak nyaman. Apalagi, kamu selalu mengkhawatirkan jenis kelamin anak kita. Ini juga sangat menggangguku... Aku tak mau anakku menjadi beban dan membuatmu memilih jalan yang kotor untuk menyingkirkanku... Bathin Elizha
"Apakah ini semua ulah Gabvin?" Tanya Gery menuju ke arah berlawanan.
"Apa?" tanya Elizha.
"Ya. Aku tahu, ini mungkin siasat mu untuk menjauhiku. Apa ini ada hubungannya dengan Gabvin?" tanya nya lagi.
"Heh. Jangan konyol, dia tak ada hubungannya dengan semua ini..." Imbuh Elizha.
"Bohong... Jangan-jangan karna terlalu sering bertemu, kamu malah jatuh cinta padanyakan?" tanya Gery mengulang.
"Hentikan... Ini tak ada hubungannya dengan pria itu. Ini hanyalah tentang kecocokan dan ke tidak nyamanan" jelas Elizha.
"Hentikanlah drama mengharukanmu ini. Aku punya telinga dan mata di mana-mana... Gerak gerikmu setiap hari, aku bisa tahu... Lagipula, Aku sudah melihatnya sendiri... Gabvin mulai menyukaimu" jelas Gery.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Gabvin tak pantas untukku... Dia adalah pria baik dengan hati yang lembut. Sementara aku hanyalah wanita kotor yang di nodai dan di rendahkan juga di injak-injak harga dirinya olehmu..." jelas Elizha mantap.
"Hahhahaha... Jawab saja. Berapa banyak pria dalam hidupmu yang telah kamu buat kecewa seperti ku?" Gumam Gery.
"Jangan campuri hubungan kita dengan siasat anehmu. Mari selesaikan sampai di sini, setelah itu aku akan pergi menjauh dari hidup kalian... Aku akan pergi ke pulau sebrang dan menetap di sana" Jelas Elizha.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Gery.
"Kalau begitu... Aku akan mati saja agar kamu puas" Bentak Elizha mulai melangkah ke arah meja dan mengambil botol minuman kosong dan memukul meja. Akhirnya botol pun pecah dan ia menodongkan pecahan botol itu di lehernya sendiri.
"Apa yang akan kamu lakukan?' Tanya Gery.
"Aku sudah terlanjur kotor dan hancur... Jadi, biarkan aku mati... Agar kamu puas!!" Jelas Elizha menekan pecahan botol itu di lehernya, hingga lehernya pun tergores dan darahpun mulai menetes.
"Jangan lakukan hal bodoh..." Gery berusaha membujuknya.
"Lakukan sesuai perintahku atau kamu tanggung sendiri akibatnya" Jelas Elizha.
"Astaga... Kamu sungguh wanita plin plan..." Gumamnya.
"Aku sungguh tak ingin berlama-lama bernegosiasi denganmu... Tentukan sekarang! Atau tidak sama sekali!!" Jelas Elizha makin menantang. Dan pada akhirnya Gery pun menyerah.
Bersambung...