ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Menjelang hari-H


***


Sudah dua hari mereka tak bertemu setelah acara makan malam itu...


'Sayang... Bagai mana kabarmu?" Tanya Gabvin di balik telpon.


"Aku baik... bagai mana denganmu?"


"Aku juga baik-baik saja, hanya saja aku terlalu rindu padamu..." Ucap Gabvin manja terdengar dari lenguhan suaranya yang sedikit parau.


"Apakah kamu sakit? Kenapa suaramu terdengar sedikit serak..." Tanya Elizha sedikit khawatir.


"Kamu memang cintaku... Selalu tahu apapun yang terjadi pada calon suamimu ini" Jawab Gabvin menggoda Elizha lagi.


"Hey. Ayolah... Kamu sudah ke dokterkan?" Tanya Elizha khawatir.


"Belum... Mungkin ini di sebabkan karna aku begitu rindu padamu, jadi aku tak terlalu menjaga pola tidurku" Balas Gabvin polos.


"Jangan terlalu cemas. Toh kita akan tetap menikah. Jaga pola tidurmu dengan baik, kamu tak mau kan di saat pernikahan kita... Kamu malah tumbang karna sakit. Apa lagi, acara pernikahan itu memakan waktu seharian, jika kamu tida vit... Bagai mana caramu menyapa para tamumu nanti?" Tanya Elizha bertubi.


"Tenanglah... Aku akan makan vitamin dan lekas beristirahat setalah menelponmu..." Jelas Gabvin.


"Ya sudah... Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur sekarang' Pinta Elizha.


"Tunggu jangan di tutup dulu..." Gabvin nampaknya belum puas bercengkrama malam itu.


"Sayang... Apakah kamu dapat pesan dari Margaret?" Tanya Gabvin memastikan, Ia tak tenang setelah sahabat Elizha itu mengiriminya potret mesra bersama suaminya beberapa hari yang lalu.


"Tidak kenapa? Apakah dia mengirimimu surel?" Tanya Elizha jadi penasaran.


"Ah tidak-tidak... Kupikir, dia menelponmu atau memberimu kabarnya saat ini" Tanya Gabvin terlanjur membuat Elizha khawatir.


"Tidak. Kan aku tak punya nomor ponselnya... Oh ia, jika tidak keberatan... Tolong kirimkan nomor ponsel Margaret ke ponselku" pinta Elizha.


Gabvin terdiam seperti tidur "Gabvin kamu di sana?" Tanya Elizha.


"Ya sayang... Aku masih di sini" Balas Gabvin.


"Kamu dengarkan yang aku bicarakan tadi kan? Aku minta nomor ponsel Margaret, tolong kirimkan nomornya ke ponselku" Ulang Elizha.


"Oh ia sayang... Apakah kamu tidak rindu padaku?" Tanya Gabvin menggoda.


"Tentu saja... Mana mungkin aku tidak rindu" Jawab Elizha malu-malu.


"Aku tak bisa tidur setiap malam... Karna begitu mengkhawatirkanmu..." Ucap Gabvin penuh perhatian, hingga bathin Elizha terenyuh.


"Kamu berlebihan..." Elizha meyakinkan hatinya agar tak meleleh oleh rayuan Gabvin.


"Sayang... Apakah kamu sudah tidur?" Tanya Gabvin lembut dengan suara lenguhan manja, bulu kuduk Elizha berdiri kala Gabvin menggodanya dengan suara manja itu.


"Aku masih belum ngantuk..." Jawab Elizha tegas.


"Kenapa sayang? Apakah karna kamu merindukanku?" Gabvin kembali menggoda Elizha.


"Ti-tidak..." Balas Elizha bohong.


"Jika kamu tidak merindukanku...bagai mana bisa aku sangat merindukanmu saat ini. Aku sangat rindu ketika aku dekat denganmu sayang... Tapi, untuk beberapa hari ini. Hatiku akan mengalami radang yang cukup parah" Jelas Gabvin berlebihan.


"Radang? Radang hati?! Itu sangat berbahaya! Bagai mana ini... Kamu harus segera berobat, jika tidak pernikahan kita bisa... Pernikahan kita bisa batal gara-gara kamu tidak dalam kondisi yang stabil" Elizha kahwatir akan ke sehatan Gabvin.


"Sayang... Jangan terlalu panik, radang hati ini akan sembuh saat kamu merawatku. Aku sangat rindu padamu... Aku hanya rindu" Jelas Gabvin.


"Jadi maksudmu... Radang hati itu artinya... Karna Kamu merindukanku, bukan karna penyakit medis yang harus di tangani dokter?" tanya Elizha panik.


"Tentu... Aku sangat menyayangimu. Sampai-sampai, sesak rasanya jika tak bisa berjumpa denganmu untuk waktu yang cukup lama... Aku sangat tak sabar, tapi... Saat aku menunggu hari itu tiba, kenapa rasanya sangat lama sekali..." Jelas Gabvin membuat Elizha makin tak berdaya.


"Aku juga... Aku sangat merindukanmu... Aku juga ingin segera bertemu denganmu. Jika kamu berkata terus seperti itu, aku jadi makin cengeng dan makin ingin bertemu denganmu. Jadi tolong, bertahanlah di sana dan jaga kesehatanmu... Karna kelak, setelah kita halal... Aku janji padamu, aku akan tetap berada di sampingmu sampai salah satu di antara kita berpulang..." Jelas Elizha begitu menyenyuh hati Gabvin.


"Terimakasih sayang... Baiklah, malam ini... Sudah cukup, aku akan segera tidur. Jaga dirimu... Tidurlah... Selamat malam" Gabvin mulai menghentikan ocehannya setelah Elizha merayunya habis habisan.


Akhirnya... Mereka pun menutup ponsel tersebut, dan mereka pun terlelap... Lama terasa waktu di antara mereka, ketika menunggu hari H tiba beberapa hari lagi...


Gabvin terima kasih karna telah menyayangiku...lebih dari kamu menyayangi dirimu sendiri. Bathin Elizha begitu bersyukur.


Bersambung