ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Mungkin hanya setingan


***


Pernikahan Gery berlangsung hikmah dan penuh emosi. Untuk memuaskan papa mertua sekaligus ayah angkatnya. Gery rela tersiksa dengan pura-pura tersenyum sepanjang hari. Kini, resepsi pernikahan Gery dan Angel sudah ada di penghujung acara. Hingga tamu yang datang pun mulai berkurang dan Gery bisa melepas penat sesaat.


"Sayang... Kamu lelah?" Tanya Angel ikut duduk di samping Gery yang menyenderkan tubuhnya di sofa pelaminan.


"Tentu saja aku lelah... Tak pernah aku berdiri selama itu sebelumnya, sebagian tubuhku terasa sakit..." Keluh Gery memijat-mijat pundaknya.


"Kalau begitu, biar aku saja yang pijatkan..." Ujar Angel.


"Tak usah... Kamu sendiri sedang dalam masa pemulihankan?" Lerai Gery. Angel pun menunduk "Tapi..."


"Sudahlah... Aku akan ke toilet sebentar, jadi jangan ikuti aku... Mengerti?!" Tegas Gery mengingatkan.


"Tapikan acaranya belum selesai..." Komen Angel meminta Gery untuk tak beranjak dari tempat itu.


"Haah... Konyol? Mana bisa aku kabur... Tunggulah, aku segera kembali..." Jelas Gery seraya pergi menjauh dari Angel. Tinggalah Angel sendiri di pelaminan, hingga membuat papanya naik ke tempat tersebut, lalu bertanya "Lho nak. Mana Gery?" Tanya papa Angel.


"Katanya dia mau ke toilet sebentaran..." Balas Angel polos.


"Begitu ya... Setelah ini, acara akan di lanjutkan dengan sebuah pesta dansa. Kamu pasti suka..." Ujar Papa Angel.


"Benarkah papa?" mata Angel langsung saja berbinar karna terlalu bahagia.


"Tentu saja... Kamu adalah pasangan pertama yang akan memulai dansa malam ini. Jadi... Tunjukan tarian terbaikmu nak" Ujar Papa Angel lagi.


"Wah... Baiklah..." Teriak Angel kegirangan seraya memeluk ayahnya.


"Berbahagialah nak... Malam ini, kamu adalah ratu pestanya" puji sang papa.


***


Syuuuuerrrrrrr!! Bunyi air keran yang di tekan. Gery mencuci mukanya dengan air di keran wastafle tersebut. Lalu beberapa menatap wajahnya di cermin.


"Ini gila! Ini adalah ide tergila mu Gery!! Sadarlah... Karna keserakahan mu! Kau jadi pria penuh dusta..." Gumam nuraninya. Tatapan Gery lurus kedepan dan penuh tanda tanya di benaknya.


"Sebaiknya aku telpon Gabvin..." ia lekas merogoh ponselnya di dalam saku celana kattonya. Namun saat tangannya sibuk menggeledah, ia tak dapat apapun di saku celana tersebut "Sial! Aku lupa... Bukanya aku menyimpannya di sebelah kursi pengantin?!" Ia berdengus kesal.


"Kenapa aku jadi bodoh begini? Mungkin ini gara-gara pernikahan sialan ini! Huh... Gagal sudah rencana ku untuk menelpon Gabvin" Gery meracau penuh kekesalan di benaknya.


Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan lagi, selain kembali ke kursi pelaminan yang melelahkan itu. Akhirnya Gery kembali, di kejauhan ia melihat papa angkatnya berada di pelaminan "Sial, tua bangka itu ada di sana? Pasti dia akan menghujamku dengan beberapa pertanyaan yang menyebalkan" Gumam Gery enggan melangkah ke arah Angel. Namun apa daya, langkahnya terpergok tamu undangan dan meminta mereka bersalaman "Selamat menempuh hidup baru ya. Pak presdir..." ucap salah satu tamu perempuan yang tak di kenal Gery.


"Ah. Makasih atas kedatangan anda... Silahkan nikmati hidangan yang kami sajikan..." Pinta Gery memulai basa-basinya.


Tak ada yang bisa Gery lakukan hari ini selain jadi penurut. Dan akhirnya Gery pun mesti kembali ke kursi pelaminan hingga acara demi acara yang di susun papa mertuanya berjalan sesuai rencana.


"Sayang... Kamu sudah kembali?" Tanya Angel senang hingga pipinya merona merah.


"Tentu saja. Kan sudah ku bilang, aku hanya ke toilet" jelas Gery muram.


"Baiklah. Papa akan segera kembali... Duduklah di sini beberapa saat lagi, karna acara penutupnya akan segera di laksanakan" jelas papa Angel. Gery sama sekali tak paham "Acara penutup? Apa itu?" bisik Gery bertanya pada dirinya sendiri.


"Itu adalah acara spesial untuk kita..." Jelas Angel merangkul sikut Gery begitu erat hingga Gery merasa ketidak nyamanannya.


Rupanya papah Angel sengaja meminta Host untuk menyambut kedua mempelai dalam puncak acara pernikahan tersebut. Gery sungguh marah, tapi apa boleh buat semua adalah demi meyakinkan ayah mertuanya.


Acara pun berakhir hikmah setelah pesta dansa tersebut....


Bersambung...