ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Suasana yang canggung


***


"Lepaskan! Tolong!!" Elizha terus teriak dan meminta pertolongan.


"Tolong diam lah nona..." Pinta para pria berjas hitam.


"Tapi, kalian siapa? Apa yang kalian inginkan! Kenapa kalian menculikku?" Tanya Elizha ketakutan.


"Maaf jika cara kami sungguh membuat anda tak nyaman. Tapi ini adalah sebuah perintah..." Jelas salah satu pria dalam mobil itu.


Elizha makin tak nyaman dan terus ketakutan "Siapa? Siapa yang menyuruh kalian menculikku?" Tanya Elizha makin panik.


"Hei. Tolong buat dia diam" Seorang pengemudi berkomentar demikian. Hingga salah seorang pria berjas hitam yang duduk di samping Elizha pun menekan sapu tangannya di mulut Elizha "Apa yang kalian!!! Mhhhhhh?" Berontak Elizha panik. Matanya terbelalak membulat sempurna. Dua kali tarikan napasnya dan iapun mulai terkulai tak berdaya. Kemudian Elizha tak sadarkan diri, mungkin mereka menaruh obat bius di saputangan tersebut.


***


Beberapa menit kemudian...


Tok! Tok!


"Masuk..." Jelas seorang pria dengan suara pamiliar.


"Tuan. Nona dalam perjalanan" imbuh Salah satu kepercayaan Gery. Ya, pria itu rupanya Gery Pranata Winata. Ia terduduk di sebuah matras kamar hotel nomber 101. Seraya menunggu hasil kerja keras para anak buahnya.


"Kerja bagus. Pastikan, kalian tidak menyakitinya..." Balas Gery seraya menyungingkan bibirnya.


"Kami akan berhati-hati..." Imbuh pria itu, seraya kembali memutar langkah keluar kamar hotel tersebut.


Tak selang beberapa lama... Para orang-orang Gery pun mulai berdatangan. Jumlah mereka enam orang, dua orang memantau situasi, yang satu mendorong kursi roda dan yang lainnya mengikuti dari belakang "Aman... Ayo!" Jelas pria yang berjalan lebih depan. Langkah cepat para bodyguard tersebut telah sampai di kamar nomber 101.


"Ketua... Kami kembali" Seru pria dengan kursi roda.


Ketua bodyguar bernama Rio itu menoleh pelan lalu menatap keadaan Eliza "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Rio menatap para anak buahnya.


"Kami menarik paksa korba, dan mungkin ia syok lalu pingsan" jelas pria dengan kursi roda itu. Rio mulai menghampiri pria tersebut lalu menatap nya tegas "Sudah ku bilang. Kalian lakukan dengan sangat hati-hati!" Bentak Rio. Rio pun membungkuk kan tubuhnya, lalu mengendus mulut Elizha dengan hidunya yang sensitif terhadap bau "Heh. Kalian berani berbohong?" tanya Rio amat marah besar.


"Kami..." Pria dengan kursi roda itu tampak kaku.


Rio kembali menegakkan tubuhnya lalu, sebuah pukulan kasar mendarat di pipi pria tesebut "BUAK!!" Pria tersebut lekas terdorong ke belakang hampir terkapar. Namun di bantu keriga rekannya dari belakang.


"Kakak! Anda baik-baik saja?" tanya para rekannya.


Mereka menunduk, tak ada satupun yang mau mengaku dan menatap manik mata pria itu "Jika tak ada yang mau mengakui kesalahan fatal ini. Maka, akan ku hukum kalian semua dengan hukuman yang sangat berat! Bahkan tak akan kalian lupakan seumur hidup kalian!" Bentak Rio. Tal berselang lama, seseorang mulai maju ke hadapan Rio dan menyerahkan diri "Maafkan aku ketua, dalam perjalanan dia meronta dan membuat kami semua panik. Di tambah lagi suaranya yang berisik membuat semua orang curiga. Aku mengaku salah! Aku pantas di hukum!" Pria itu lekas menunduk dan tak berani menatap Rio.


Rio mendekat dan pria itu perlahan menatap mata Rio. Rio tersenyum menyungingkan bibirnya, lalu setelah itu ia pun mulai mendang betis pria itu hingga pria itu berdiri tanpa keseimbangan "Akkhh!"


Rio kembali tersenyum "Apakah itu sakit?" tanya nya, kemudian pukulan keras mendarat di pipi pria itu, hingga wajahnya terhempas "Aahhh... Uhuk!" seteguk darah mulai keluar dari mulut pria itu.


"Lain kali... Lakukan lah yang benar!' Jelas Rio seraya mengambil alih kursi roda dan membawanya ke front daun pintu kamar tersebut.


Rio menarik tubuh Elizha lalu menggendongnya. Dua di antara pria berjas hitam itu mulai membukakan pintu kamar tersebut setalah mengetuk pintu dua kali "Masuklah..." Pekik Gery dari dalam.


Elizha kemudian di gendong menuju kamar tersebut. Entah apa yang ingin Gery lakukan padanya, Gery sedikit kaget kala menatap Elizha yang tak berdaya "Apa yang terjadi padanya? Rio?" Tanya Gery sedikit kesal.


"Maafkan kami. Kru kami melakukan sedikit kesalahan" jelas Rio kaku.


"Kalau begitu, baringkan dia dengan benar..." Pinta Gery.


"Baik tuan..." balas Rio. Rio pun meletakan tubuh Elizha di matras itu dengan posisi terlentang. Setelah di baringkan dengan begitu hati-hati, Rio pun mulai menyelimuti wanita tersebut. Gery sungguh menatap Rio di kursi kamar tersebut dengan seksama "Apa yang kau lihat? Bukankah tugasmu sudah selesai?" tanya Gery. Rio menoleh dan lekas menunduk "Baik tuan. Kalau begitu saya permisi" Jelas Rio mulai membuang wajah nya dan mulai melangkah ke arah pintu ke luar.


BLAM...


"Heh. Ada apa dengannya, tatapan pria itu pada istriku membuatku sedikit cemburu. Jangan bilang dia juga menyukai istriku... jika demikian, bersiaplah mendapatkan konsekuesi yang cukup sepadan..." Gurau Gery sedikit marah..


Gery masih belum bergeming "Tok! Tok!" Pintu kembali di ketuk.


"Masuk..." Jawab Gery.


Lalu dua wanita yang bergerak di bidang rias artistic mulai masuk "Tuan. Kami siap menjalankan tugas..." Jelas dua wanita tersebut.


"Baiklah... Lakukan tugas kalian dengan benar! Juga, buanglah pakaian itu lalu ganti dengan pakaian baru... Karna aku sungguh tak suka bau pria lain melekat di tubuhnya!' Bentak Gery dengan tentramentalnya.


"Baik. Kami akan lakukan tugas kami dengan benar..."


Mereka mulai berkutat, sedangkan Gery masih duduk dan meneguk beberapa anggur dengan kadar alkohol tinggi.


Apa yang sebenarnya akan ia lakukan pada Elizha? Dari tatapannya saja, rasa benci mulai menyeruat ketika menatap wanita malang tak berdaya itu.


Bersambung...