ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Terasa kaku


***


Pagi menjelang siang...


Elizha pergi menuju rumah Margaret bersama Gabvin. Sepanjang perjalanan Elizha tak bergeming sama sekali, padahal ketika ada di kediaman Gabvin, Elizha sedikit bernergik. Bahkan bisa bercengkrama secara bebas. Namun nampaknya kini, ia malah lebih suka diam...


Ayolah... Ngobrol dong... Bathin Gabvin.


"Tuan... Kemana tujuan kita?" Tanya sang supir.


Oh. Ia, aku kan tak tahu arah rumah Margaret. Bathin Gabvin menggumam.


"Eh... Eh, Zha... Kemana arah rumah Margaret?" Tanya Gabvin menepuk bahu wanita tersebut.


"Oh. Ke arah timur perkomplekan elit Diamond Squerts... Blok 100 nomber 36, turunkan aku setalah sampai di sana..." Elizha menjawab dengan sigapnya. Gabvin mulai tersenyum "Kamu mengingatnya dengan jelas tempat tujuanmu" Ucap Gabvin masih menatap Elizha dengan senyuman hangatnya.


"Oh. Tentu saja, dia adalah sahabat baikku..." Jawab Elizha singkat, ia tak ingin menatap Gabvin sama sekali, entah apa alasannya.


"Hem... Belarti kamu cerdas..." Gabvin masih ingin menggoda Elizha, tapi jika di dekat Gabvin. Elizha selalu terlihat kecut dan tahan harga.


"Jika cerdas hidupku tak akan seberantakan ini..." Jawabnya dengan nada yang pelan. Elizha lekas membuang wajahnya ke arah kaca jendela mobil tersebut.


"Jangan salah paham bodoh dan ceroboh itu adalah dua hal yang berbeda ... Mungkin saat itu, nasib mu sedang sangat buruk..." ucap Gabvin berusaha lebih akrab dengannya.


"Benarkah...? Tapi. Kenapa aku merasa bahwa keduanya adalah hal yang sama... Sama-sama membuatku menderita..." Gumam Elizha mulai muram. Gabvin seketika itu mulai diam dan tak bisa berkata-kata lagi.


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah membuat Elizha makin muram. Bathin Gabvin menggumam.


Tak berselang lama, mereka pun mulai sampai di tujuan "Tuan. Apakah lokasinya di sini?" Tanya sang supir. Elizha mulai bergeming "Zha. Inikah rumah sahabatmu itu?" Tanya Gabvin.


"Ya. Terimakasih sudah mau mengantarku..."Ucap Elizha seraya turun dari mobil tersebut.


'Hati-hati Zha..." Ucap Gabvin melambaikan tangannya.


"Ya. Jangan khawatir, aku akan pulang tepat waktu..." Ujar Elizha.


Elizha mulai menjauhi mobil tersebut dan kemudian masuk setelah pintu gerbangnya terbuka "Tuan, kemana selanjutnya kita akan pergi?" Tanya sang supir.


"Kita akan pergi ke rumah sakit saja..." Jelas Gabvin seraya bimbang. Antara ingin pergi ke rumah sakit dan ingin menunggu Elizha hingga ia keluar dari rumah tersebut. Meski hal tersebut akan memakan waktu berjam-jam tapi... Nampaknya Gabvin jadi dilema sendiri...


"Tuan... Apakah kita akan pergi?" Tanya sang supir.


"Eh... Baiklah... Ayo..." Ucap Gabvin, mobil pun mulai melanju ke arah rumah sakit.


BRUUMMM! Mobil mulai melesat cepat.


"Berhenti... Mundur lagi..." Tiba-tiba Gabvin berubah pikiran, CIIITT! Rem di tekan mendadak dan membuat Sang supir bingung... supir mulai kembali memundurkan mobilnya, tanpa banyak bicara.


"Baiklah tuan..." mobil mulai berhenti tepat di depan gerbang tadi.


Gabvin menatap gerbang tersebut, dan kemudian melihat jam di lengan kirinya "Ahhh sepertinya aku akan kesiangan dan melupakan berkasku yang bertumpuk di mejaku, jika tetap di sini aku akan terkena deadline... Sebaiknya ayo jalan! Lagi pula tak akan lama kok..." Ucap Gabvin.


Sang supir pun mengangguk kembali "Baik tuan..." Ucapnya patuh.


Bruuummm! Mobil kembali melesat ke jalan menuju ke arah rumah sakit.


Mobil kembali melaju beberapa meter dari kediaman Margaret, namun...beberapa saat kemudian, ketika Gabvin mulai kembali berfikir hal yang buruk akan terjadi dan menimpa Elizha, iapun kembali memerintah sang supir "Ah! Tidak-tidak... Kembali ke tempat semula! Putar arah! Putar arah..." Pinta Gabvin tergesa-gesa.


Sang supir merasa heran pada majikannya itu,


Belum pernah ia melihat majikannya se plin plan ini.


Ciiitt! Rem kembali di injak.


Mobil kembali putar arah dan mulai kembali ke depan Gerbang kediaman Margaret.


"Haaah... Akhirnya aku kembali ke sini..." Ia mulai menyender di kursi belakang beberapa saat dan kemudian Gabvin pun kembali ingat pada pekerjaannya "Ah tidak!!" Pekiknya seraya bangun dan menatap ponselnya.


Sang supir mulai merinding kala sang majikan terlihat agak aneh... Apa lagi sekarang? Apakah dia akan berputar-putar terus di area ini? hingga bahan bakar kendaraan nya habis?" Bathin sang supir menggumam dengan bulu kuduk yang berdiri.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sebentar..." Jelas Gabvin mulai tenang.


"Baik tuan..." Mobil kembali melaju.


Baru saja beberapa meter "Berhenti! Putar arah..." Jelas Gabvin membuat sang supir bingung.


"Aah tidak... Maju lagi..." pinta Gabvin. Mobil maju kembali.


"Aahh tidak! Mundur..." Pintanya...


Ciit! Mobil mundur lagi... Lalu ia berteriak lagi "Maju saja... Kita keburu siang! Apa yang kamu lakukan pak supir... Kenapa kamu terus kembali dasar lamban!!" teriak Gabvin.


"Tidak mundur! Elizha akan dalam bahaya jika di tinggalkan sendiri" Gumamnya membuat sang supir bingung.


"Tidak maju! Maju... Kita akan terlambat dan aku akan kehilangan klienku..." Ucapnya meracau.


"Mudur! Mudur kembali putar arah!"


"Aaaahhhh ini membuatku gilaaa...." Teriak Gabvin.


Mobil pun maju dan mundur seperti judul lagu.


"Hah hah hah! Sebaiknya... kembali saja..." Gabvin terlihat lelah setelah memerintah.


Supir mengangguk dan melajukan kendaraannya secepat mungkin agar majikannya tak mendapatkan masalah, namun lagi lagi Gabvin berteriak "Kembali-kembali..." Pintanya salah kaprah.


"Tapi tuan, anda bilang anda sedang sibuk sekarang..." Ucap supir mejelaskan.


"Apakah sekarang kamu adalah bosku?" Tanya Gabvin marah.


"Ah baiklah... Maaf, karna sudah membatah anda..." Sang supir kembali menginjak rem CIIITTT! Mobil kembali memutar arah.


Bruuummm! Akhirnya mobil kembali ke depan gerbag Margaret.


"Baiklah... Tunggu dia kembali beberapa jam, setelah itu kita akan pergi ke rumah sakit..." Ucapnya mulai tenang.


"Baik tuan..." Jawab sang supir.


Namun, karna terlalu banyak berputar-putar, seseorang dari pos keamanan pun datang dan mengetuk kaca mobil Gabvin.


Tok! Tok!


"Siapa itu?" Tanya Gabvin pada sang supir.


"Sepertinya pihak ke amanan komplek ini..." Jawab sang supir.


"Buka kaca mobilnya" Pinta Gabvin, kaca mobil mulai terbuka "Selamat siang tuan..." Sapa pihak ke amanan komplek tersebut.


"Ya ada apa pak..." Tanya Gabvin masih belum mau turun dari mobil.


"Bisakah anda turun sebentar?" tanya Scurty tersebut.


"Ya... Baiklah" Gabvin mulai turun dan mendekat ke arah Scurty tersebut.


"Maaf sebelumnya. Bisakah kami tahu, apa tujuan anda datang ke perkomplekan ini?" Tanya sang Scurty.


"Ini... Saya sedang menunggu istri saya... Memang ada apa ya pak?" Tanya Gabvin heran pada scurtty tersebut.


"Maaf... Tapi, kami sedikit curiga pada gerak-gerik anda yang bolak-balik seprti tengah mengawasi keadaan rumah tersebut. Bisakah anda menunjukan kartu identitas anda?" tanya Scurty tersebut.


"Ah... Apakah maksud anda saya adalah seorang salah satu komplotan pencuri?" Tanya Gabvin sedikit tersinggung.


"Bukan begitu, tapi... Sebaiknya anda tunjukan saja kartu identitas anda..." Pinta Scurty. Gabvin pun mulai mengangguk "Keterlaluan... " Gumamnya. Ia pun mulai merogoh saku jasnya dan mencari dompet berisikan berkas penting..."Lho... Di mana dompetku?" Tanya Gabvin bingung.


"Jika anda tak bisa memperlihatkan berkas anda, silahkan ikuti kami ke pos keamanan komplek ini" Jelas sang Scurtty.


"Eh tungguu... Aku sepertinya melupakan dompetku di meja kerjaku..." Jelas Gabvin.


"Anda tidak punya bukti. Jadi sebaiknya anda lekas ikut kami beserta sang supir" Jelas Scurtty.


"Tidak. Aku tidak mau pergi..." Bantah Gabvin.


"Jika anda terus menolak kami. Maka jangan salahkan kami jika kami akan memanggil pihak berwajib untuk menahan anda...." Jelas Scurty.


Bagai mana ini. Bathin Gabvin


Bersambung...