ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Calon menantu idaman


***


Rumah sakit...


Setelah ayah Elizha di turunkan dari dalam mobil ambulans, Pramedis membawanya ke ruang Emergency menggunakan brankar dalurat, Elizha berlari untuk mengejar brankar yang membawa ayahnya, namun Gabvin menghentikannya dengan cepat "Berhenti, jangan berlari bisa pendarahan nanti!" Pinta Gabvin menarik tangan Elizha.


"Tapi, ayahku..." Pekik Elizha membungkam mulutnya dengan tangan kanannya, nanar nya sudah sembab sedari pagi, dan Gabvin pun tak tega melihat nasib Elizha yang selalu buruk. Hidupnya sungguh di penuhi deraian kesedihan yang tak kunjung usai.


"Jangan khawatir... Ayahmu akan baik-baik saja" jelas Gabvin berusaha menenangkan Elizha. Gabvin memeluk Elizha dan membiarkan Elizha mengumpat di dada bidang nya "Ayah..." Tangisan Elizha terdengar sesegukan.


"Berdoalah... Semoga, ayahmu kuat menjalani masa-masa sulitnya" Pinta Gabvin.


"Ayah... Berjuanglah..."Elizha makin terlihat menderita, Gabvin tak bisa menghentikan tangisannya ia hanya bisa sedikir menenangkannya.


Gabvin mulai mengajak Elizha untuk duduk di kursi tunggu, Elizha pun mulai duduk bersamaan di kursi tersebut "Gabvin maafkan aku..." Ucapnya seraya menundukkan wajahnya.


"Untuk apa kamu meminta maaf... Lagi pula kamu tak salah kok" Balas Gabvin mulai menyentuh dagu Elizha yang sedari tadi menunduk, lalu menghempas bulir basah di pelipisnya dengan selebar saputangan.


"Hiks..." Isyak Elizha masih terdengar sesegukan.


"Aku punya bahu yang cukup kekar, jika kamu lelah bersandarlah di sana... Jangan sungkan atau pun malu..." Jelas Gabvin. Elizha pun makin sedih kala mendengar pria yang begitu rela di permainkan meski pun Elizha tak memberinya sebuah kesempatan.


"Maafkan aku... Aku selalu saja menyeretmu dalam masalahku... Aku sungguh malu..." Ucap Elizha membuang wajahnya.


"Aku sungguh senang bisa dekat denganmu. Apapun yang menjadi masalah mu... Itu juga akan menjadi urusanku. Jadi tolong, jangan terus menganggapku sebagai orang lain lagi... Aku akan tetap ada di sampingmu apapun yang terjadi" Kata-kata Gabvin yang manis selalu membuat Elizha senang. Tapi, terlepas dari itu... Elizha sungguh sedih, Elizha selalu rendah diri dan enggan membuka hatinya untuk Gabvin. Alasan yang sama selalu memutar di otaknya, yakni... Ia bukanlah wanita yang pantas untuk pria baik seperti Gabvin.


Elizha menunduk, ia sungguh malu dan terharu "Sudah, jangan banyak berfikir... Sebaiknya kamu istirahat saja... Wajahmu tampak sangat lelah" Ucap Gabvin cemas.


"Tidak, aku ingin menunggu hingga dokter tiba, lalu memberi sebuah penjelasan terkait gangguan kesehatan ayahku" Jelas Elizha.


"Hmmm seperti biasa kamu memang selalu keras kepala" Imbuh Gabvin seraya mengelus kepala Elizha hingga rambutnya jadi makin berantakan.


Saat mereka sedang asyik bercengkrama, Ponsel Gabvin berdering "Ponselmu" Ucap Elizha.


"Ah ia... Akan ku angkat" Ucapnya seraya merogoh ponsel di jasnya.


"Eh..." Gabvin terlihat tak begitu baik.


"Siapa?" Tanya Elizha khawatir ketika melihat Ekspresi Gabvin yang terlihat berbada.


"Kakakmu... Apa yang harus aku jawab?"


"Katakan saja kita ada di sini' Balas Elizha mengangguk ketika menatap Gabvin.


"Baiklah.. Hallo" Sapa Gabvin.


"Ya. Ini aku Rio, kalian di mana? Hampir petang kok belum pulang, Aku khawatir lho" Jelas Rio di balik telpon.


"Maaf, ada insiden yang cukup tak di duga" Jelas Gabvin.


"Insiden? Tentang apa itu?" tanya Rio panik.


"Ayah Elizha masuk rumah sakit" Jelas Gabvin. Rio pun kaget "Apa? Ayah? Apa yang terjadi padanya?" tanya Rio sungguh cemas.


"Entahlah, dokter sedang memeriksanya" Jelas Gabvin.


"Sekarang dia ada di rumah sakit mana? Aku akan datang ke sana" Pinta Rio.


"Datanglah ke Hospital ikatan kasih" Jawab Gabvin.


"Apa katanya?" tanya Elizha.


"Dia panik dan akan segera datang ke sini" Jawab Gabvin.


"Kakak pasti syok. Ia paling menyayangi ayahku" Jelas Elizha merengutkan wajahnya.


"Sudah ku bilang jangan khawatir, sekarang berdoalah agar ayahmu bisa segera melewati masa-masa kritisnya" Jelas Gabvin mencoba menenangkan Elizha kembali.


"Baiklah..." Elizha mulai terasa lebih baik ketika dekat dengan Gabvin.


Alangkah indahnya jika sebuah hubungan terasa hangat seperti ini. Jika keberadaanmu bisa jadi berharga bagi seseorang. Betapa bahagianya... Nyaman dan tentram. Bathin Elizha.


***


Elizha terlelap di bahu Gabvin, kemudian dokter datang dan menjelaskan "Tuan Dian hanya syok. Dan itu berpengaruh pada kesehatan jantungnya..." Jelas sang dokter.


"Lalu... Bagai mana kabarnya sekarang?" tanya Gabvin khawatir.


"Dia sudah bisa melewati masa kritisnya. Kemungkinan besok sudah bisa di pindahkan ke ruang Icu" jelas sang dokter.


Gabvin mulai merasa lega "Apakah aku bisa menengoknya?" Tanya Gabvin.


"Tentu saja... Tapi, jangan berisik karna tuan Dian baru saja terlelap" Jelas sang dokter.


"Kalau begitu saya akan masuk" ucap Gabvin.


"Silahkan" Bals dokter.


Gabvin menyendekan kepala Elizha perlahan ke sebuah Jas yang ia lipat menyerupai bantal. Ia sangat hati-hati karna tak ingin membangunkannya...


Setelah selesai membuat Elizha nyaman, Gabvin lekas pergi ke ruang emergency dan masuk perlahan, di lihatnya tubuh gemuk itu telah terlelap berselimutkan kain putih khas rumah sakit tersebut.


"Ayah mertua...":Bisik Gabvin bicara dengan penuh kehati-hatian.


Ayah Elizha sekilas, tampak baik-baik saja... Hanya saja ia harus di bantu oleh alat bantu pernapasan, terlihat selang oksigen melintas di hidung ayah Elizha. Ia terlihat lebih baik setelah datang ke rumah sakit tersebut.


Gabvin duduk di samping ranjang Ayah Elizha, ia meraih tangan Ayah Elizha yang saat itu di bantu selang infusan. Ia menggenggamnya pelan dan mulai menciumnya "Ayah... Aku akan menganggapmu seperti ayahku sendiri. Tolong berusahalah hidup demi Elizha dan calon cucukmu..." Jelas Gabvin.


"... Izinkan aku, jadi pria beruntung yang akan selalu menjaga Elizha hingga akhir hayatku. Tak perduli dia wanita macam apa di matamu... Tapi, aku akan selalu menjadikanya ratu di hatiku... Ayah, tolong sembuhlah kembali, dan restui kami. Ku mohon... Semoga kamu berumur panjang... Ayah" Jelas Gabvin mengutarakan isi hatinya.


Entah kenapa, jemari Tuan Dian mulai bergerak "Ah... Ayah... Apakah kamu mendengarkan ku?" tanya Gabvin senang.


"... Siapa namamu nak?" Tanya Ayah Elizha.


Gabvin sungguh kaget ketika tahu jika ayah Elizha telah sadar "Ayah..." Pekik Gabvin mengambangka senyumnya.


"Siapa namamu?" Tanya Ayah Elizha mengulang.


"Namaku Gabvin ayah. Gabvin Wilson..." Jawab Gabvin.


"Gabvin... Nama yang bagus, Gabvin tolong jaga Elizha..." Jelas sang ayah dengan senyumnya. Ia pun mulai menutup matanya kembali. Tampaknya ia sangat lelah...


Gabvin, nampaknya mendapat restu dari ayah Elizha, dialah calon menantu idaman tuan Diandartara...


Siapkan like dan komen, autor akan crzy up besok berturut-turut. Mohon bantuannya ya. Jika ada typo mohon di maklumi dan di usulkan agar autor bisa merevisi ulang. Hatur nuhun para leader budiman...


Bersambung...