
***
Kediaman Diandragantran...
"Apa!!" Teriak sang ayah nampak syok setelah kabar sang anak semata wayangnya di singgung oleh dua anak tirinya.
"Yang benar Yasmin!! Apakan kamu punya bukti jika Elizha sudah menikah?" Tanya Sang ibu.
"Jika kalian tidak percaya, aku punya rekaman excusif yang begitu romantis" Ungkap Yasmin seraya menyerahkan sebuah ponsel "Ini..." Ia menampakan muka ponsel ke hadapan Ibunya.
"Lihatlah bu... Apakah ibu tahu siapa pria yang bersamanya ini?" Hasut Yasmin berharap ibunya bisa adil.
"Apa!!" Ibu Yasmin sungguh terbelalak tak percaya. Tangannya gemetaran setelah menerima ponsel dari sang anak. Raut wajah syok sungguh terlihat jelas di antara ketidak percayaannya.
"Tidak mungkin. Bukankah dia calon tunanganmu?" Tanya Ibu tiri Elizha.
"Benar. Teganya dia meninggalkanku hanya untuk menikahi adik tiriku yang sudah di cemari orang!" imbuh Yasmin penuh kebencian.
"Elizha sungguh sudah menikah?" Tanya ayah Elizha menatap Yasmin dan Syakila.
"Ck. Apakah dia sungguh membenci kita? Bagai mana bisa dia mengabaikan kita di acara pesta pernikahannya?" Imbuh Syakila dengan nada mencibir.
"Elizha..." Bisik sang ayah seraya duduk lemas di kursinya. Pikiran ayah elizha kini kacau, di sisi lain ia malu memiliki anak seperti Elizha yang telah mencoreng kluarganya. Tapi, di sisi lain... Ia sungguh rindu dan khawatir pada keadaan anak nya itu.
Elizha.... Sudah berapa bulan kita tidak bertemu? Apakah perlakuan kami terlalu kasar padamu nak. Hingga kamu tak ingin menemui ayahmu yang sudah rentan ini. Kembalilah dan tengok aku... Aku sangat rindu dan hati kecilku tak bisa bohong, jika aku memang sangat menyayangimu. Bathi0n sang ayah meracau.
Ayah Elizha mulai memijat jidaknya dan menunduk di kursi tersebut, Yasmin menghampiri sang ayah dan bersimpuh di hadapannya meminta ke adilan "Ayah... Apa sebaiknya kita menelpon tuan Wilson?" Tanya Yasmin dengan nanar berkaca-kaca.
Ayah Elizha belum mau menatap wajah anak tirinya "Untuk apa?" tanya Ayah Elizha enggan menatap manik mata anaknya.
"Kita jelaskan pada mereka, jika aku tidak mau pertunanganku gagal begitu saja. Ayh tahukan kluarga Wilson. Mereka adalah kluarga kaya ke dua setelah kluarga Pranata Winata.
"Benar Yah. Aku juga mulai ada kemajuan dengan anak bungsunya. Bisakah aya maju selangkah dan memikirkan perjodohan kami. Ayah harus adil pada kami, lagi pula seharusnya Elizha di jodohkan dengan pria dari kluarga Danur kan? Jadi ayah harus kooperatif sekarang" Jelas Syakila panjang lebar.
"Entahlah... Ayah tak bisa menentukan untuk saat ini. Biarkan ayah berpikir sejenak" pinta sang ayah mulai bangun dari kursinya.
"Yah. Tolongkah pikirkan kebahagiaan Yasmin dan Syakila. Mereka butuh keadilan mu, lagi pula... Elizha bukan wanita suci, dia malah menyalahkan tunangan Yasmin untuk bertanggung jawab atas kandungannya. Ini sungguh menyesakkan dadaku yah. Kasihan Yasmin" Ibu nya menghasut sang Ayah dan menghentikan langkahnya dengan kata-kata yang makin membuat Ayah Elizha makin binbang.
Meski kalian tak mau, Tapi di lihat dari sisi manapun. Elizha adalah anak kandungku, meski aku membencinya, aku akan merasa bahagia, jika dia bahagia. Dan jatuh ke tangan pria yang mencintainya juga menjaga dan mencukupi segala kekurangannya. Bathin Sang ayah.
"Ini memang terdengar seperti mimpi. Tapi, jika mereka saling mencintai, kenapa kita harus turun tangan? Biarkan dunia berjalan seperti semestinya, kita hanya perlu menyimak... Elizha sudah bahagia, carilah pria lain Yasmin. Aku yakin, pria manapun akan sangat menyukaimu karna kamu cantik dan menawan. Biarkan Elizha bahagia dengan pilihan hidupnya" Jelas Ayah Elizha seraya menggeser tubuh istrinya yang saat itu menghalangi jalannya menuju kamarnya.
"Tapi ayah! Pria yang di pilih Elizha adalah tunangan Yasmin!" Bentak sang ibu tak terima.
"Benar yah... Ayah tak adil. Mentang-mentang kami hanyalah anak tiri" Cemooh Yasmin dan Syakila berbarengan.
Ayah Elizha kembali menoleh "Apakah kamu yakin, colon tunanganmu tidak melakukan sebuah kesalahan? Bagai mana jika... Pria itu yang telah menodai Elizha tempo hari, dan terpaksa memutuskan ikatan perjodohan denganmu hanya untuk bertanggung jawab pada Elizha. Biarkan lah dia bahagia... Aku sudah tenang ketika mendengar kabar itu..." balasnya dan ia pun mulai melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan sebuah senyuman mengembang dan membuat pipinya tampak tembem.
Sedangkan tiga wanita di rumah itu masih menatap punggung sang ayah penuh ke angkuhan "Aku tak terima dengan jawaban ayah. Mana mungkin ayah lebih memilih anak busuk itu!" Gumam Yasmin penuh emosi.
Ibunya menoleh ke arah Yasmin dan mulai menekan pundaknya "Sayang. Jika ayah tak mau menemui tuan Wilson. Kenapa kita harus risau, kita bisa berngkat sendiri dan memintanya berubah pikiran..." Pinta sang ibu menghasut anaknya.
Yasmin menoleh dan segera menatap ibunya dengan nanar yang berbinar "Benarkah itu bu??" Tanya Yasmin senang.
"Ya... Kita akan menyusun rencana yang cukup exsterim. Agar Elizha paham dengan posisinya yang tak pantas itu..." Imbuh sang ibu dengan tatapan jahat penuh kemurkaan.
"Ya bu. Sekalian saja... Kenalkan aku pada ayahnya Kelvin. Aku juga ingin sekali jadi menantunya..." jelas Syakila.
Tawa menyeringai mulai terlukis kala sang ibu dan dua putrinya berencana menghancurkan kehidupan juga reputasi yang di miliki Elizha dan kluarga Diandrantaran.
Di tempat lain...
"Kelvin. Apakah kamu ingat plat mobil hitam yang menculik Elizha?!" Tanya Gabvin resah.
"Entahlah... Tapi aku memotretnya di ponselku" jelas Kelvin di sela-sela kemudinya.
"Mana ponselmu... Serahkan" pinta Gabvin. Kelvin pun berusaha merogohnya dan menyerahkan ponsel tersebut.
"Ini..." Kelvin menyerahkan ponselnya dan Gabvin menangkapnya sigap.
Saat ponsel di usap, layar memampangkan sebuah photo kenangan Kelvin bersama Elizha dan membuat Gabvin sedikir merengut "Ponselmu terkunci..." Ujar Gabvin.
"Itu hanya bisa ku buka dengan suaraku" Jelas Kelvin.
"Heh. Kenapa repot sekali. Memangnya ada berkas apa di ponselmu hingga harus begitu terjaga" Gumam Gabvin meledek.
"Jika aku jelaskan memangnya kamu yakin tak akan patah hati kak?" tanya Kelvin menggumam.
"Sebaiknya itu jadi rahasiamu saja... Lekas buka kuncinya" Pinta Gabvin.
"Usap ke atas..." Pinta Kelvin.
"Nih..." Gabvin menyodorkan ponselnya.
"My honey Elizha..." Ucapnya sedikit konyol hingga Gabvin tertawa "Ahahahhahaha..." Tawa Gabvin. Kelvin menoleh "Apaan sih... Kenapa kakak tertawa di saat tak tepat begini. Sungguh aneh" Marah Kelvin.
"Habis. Kamu sungguh konyol... Diakan mantanmu mana boleh kamu seintim itu... Lain kali, gantilah kata kunci itu. Toh sebentar lagi, dia akan jadi kakak iparmu" Jelas Gabvin.
"Huh. Sombong... Memangnya keadaan seperti ini adalah waktunya untuk pamer apa... Elizha sedang dalam bahaya..." Imbuh Kelvin penuh kecemburuan.
"Ya sudah..." Ia membuka ponsel Kelvin lalu membuka Galerinya. Di lihatnya plat nomber mobil tersebut "Kurang jelas karna terlalu kecil. Gabvin pun memperbesar potret layar tersebut.
"Bagai mana? Apakah sudah jelas..." Tanya Kelvin.
Ketika Gabvin sadari plat nomber mobil itu, Ia pun mulai sadar dan terlihat syok.
"Ada apa?" Tanya Kelvin. Gabvin belum bergeming dan tampak Flustrasi. Ia mengepalkan tangannya dan menggigit bibirnya sendiri tanpak kesal.
"Kak ada apa?" tanya Kelvin panik.
"Sebaiknya kita kembali saja..." Pasrah Gabvin.
"Lho kenapa kakak? Memangnya ada apa?"
"Ku bilang kembali..." Tambah Gabvin.
"Kamu gila kak! Kita harusnya mencari Elizha. Tapi kenapa kamu malah menyerah...!"
"... Aku bilang kembali ya kembali!" bantah Gabvin pasrah.
Kenapa dia menyerah setelah melihat ponselku? Apakah dia cemburu pada ke akraban kami ketika melihat photo-photoku bersama Elizha di masa lalu? Bathin Kelvin menggumam.
Bersambung...