
***
Akhirnya, setelah mampir ke kediaman Margaret, Elizha pun mulai melanjutkan langkahnya ke arah kediamannya. Di perkomplekan Diamond Squert 2.
"Elizha, apakah kamu baik-baik saja kan?" Tanya Gabvin khawatir.
"Aku baik-baik saja... Nanti, ketika sampai di kediamanku... Sebaiknya kamu pulang saja" Pinta Elizha
Gabvin mulai diam, Elizha kembali berkata "Jangan bicara hal yang aneh di depan orang lain, aku sungguh merasa sangat buruk" Ucapnya.
"Apakah aku jelek?" Tanya Gabvin tiba-tiba. Elizha kaget atas pertanyaan yang Gabvin lontarkan padanya.
"Apa?" Elizha menatap Gabvin bingung.
"Apakah wajahku tidak menarik untukmu, hingga kamu sungguh tak ingin menatap atau memilihku sebagai calon suamimu?" Tanya Gabvin penuh harap. Elizha malah menelan salivanya sendiri GLUK!
"Ke-kenapa kamu malah bertanya demikian, aku sungguh tak bisa menjawab apapun..." Elizha kembali membuang wajahnya.
"Apakah karna kamu mulai menyukai Gery, jadi tak bisa melupakannya... Mungkin, kamu memang sudah tak mau membuka hati mu untukku?" Gabvin sungguh berharap.
"Gabvin dengar, aku tahu... Perasaanmu itu hanyalah sebuah belas kasih mu untukku. Karna kamu selalu melihatku di sakiti Gery, hatimu jadi begitu lembut dan membuat mu menyangka bahwa kamu menyukaiku. Padahal perasaan itu hanyalah sebuah belaskasihan. Apakah aku tampak menyedihkan di matamu?" Tanya Elizha.
Gabvin sangat tersinggung dengan perkataan Elizha "Lalu... Bagai mana caraku membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh menyukaimu?" Tanya Gabvin bersikeras.
"... Entahlah, lagi pula... Kita tidak lah cocok, aku hanya wanita kotor dan sudah mengandung anak dari pria lain. Lagipula... Mana mau kluargamu menerimaku yang hina ini..." Jelas Elizha menghindari obrolan yang terasa menyiksanya itu.
"Lalu... Bagai mana jika, ternyata orang tuaku mau menerimamu sebagai calon menantunya...?" Tanya Gabvin masih berusaha.
Elizha makin merendahkan dirinya "Ayolah Gabvin, jangan buat dirimu merasa bersalah atas nasibku. Aku sungguh tak mau menikah denganmu, karna aku bukan wanita yang baik untukmu..." Jelas Elizha menolak secara halus.
"Dengar aku Zha... Sebenarnya, jika kamu berfikir bahwa Gery harus bertanggung jawab atas anak di luar nikah itu adalah sebuah permintaan yang salah besar secara hukum islam..." Jelas Gabvin, Elizha sedikit tersinggung.
"... Apa maksudmu Gabvin... Kenapa kamu seperti menyalahkanku" Umpat Elizha tampak kesal.
"Sebenarnya, anak di luar nikah itu tidak seharusnya di nafkahi oleh ayah biologisnya. Hisabnya akan kamu tanggung seorang diri hingga anak tersebut menemukan pasangannya dan ayah dari anak itu tak bisa menjadi wali sah jika anak mu lahir berjenis kelamin perempuan... Jadi menurutku, akulah yang pantas menjadi suamimu Zha..." Jelas Gabvin panjang lebar. Elizha hanya bisa pura-pura tak mendengarkan perkataan Gabvin dan diam tanpa mau membalas ujaran tersebut.
Elizha sungguh dilema kala mendengar peringatan Gabvin yang menjelaskan bahwa anak di rahimnya memang tak berhak mendapatkan ayah biologisnya secara hukum islam.
Dari mana dia tahu tentang hal tersebut... Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bathin Elizha menggumam.
Setelah lama di perjalanan...
Elizha sampai di kediamannya, ia segera masuk ke gerbang rumahnya dan membiarkan Gabvin di luar. Elizha masuk begitu saja tanpa memperhatikan Gabvin dan perasaannya.
***
"Kak! Biarkan aku masuk..." Pinta Elizha.
"Heh. Jangan harap, rumah ini akan jadi kotor jika kamu masuk ke dalam" Jelas Syakila.
"Tolonglah kakak, aku sungguh rindu pada ayah. Aku ingin masuk sebentar saja" Pinta Elizha bersikeras.
"Tidak! Ya Tidak!" Teriak Yasmin.
Karna kegaduhan di luar rumah, ibu Yasmin dan Syakila pun datang "Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di luar?" Tanya Ibu Tiri Elizha.
"Ini bu... Wanita ja-lang ini ingin masuk ke rumah kita" Syakila menunjuk Elizha tanpa sopan santun.
"Bu. Izinkan aku masuk... Aku ingin bertemu ayah sekali saja" Pinta Elizha memohon.
"Heh. Siapa yang menyuruhmu datang ke kediaman kami hah?" Ibu tirinya sungguh murka kala Elizha meminta restu untuk masuk ke kediamannya sendiri.
"Ia pergi sana. lagi pula tak ada yang menginginkan mu di sini" Bentak Yasmin.
"Aku sudah meminta dengan tulus! Kalian sebaiknya menyingkir!" Elizha jadi sedikit brutal kala kedatangannya di hambat oleh dua kakak beradik dan ibu tirinya.
"Oh. Sikap liarmu memang belum berubah sedikitpun ya? Kalau bergitu enyahlah!" pekik Yasmin seraya mendorong keras tubuh Elizha, hingga Elizha mundur ke belakang dan menginjak satu anak tangga, ia terpeleset dan tubuhnya melayang ke bawah hendak jatuh terguling di tangga tersebut.
GREEPPP!
Seseorang menangkap tubuh Elizha dengan sigap, hingga ia sedikit aman "Apa??!" Yasmin, Syakila dan ibu tirinya terbelalak tak percaya pada apa yang ia lihat.
"Aaahhh?" Pekik Yasmin.
Elizha menoleh ke arah di mana seseorang berhasil menangkapnya dan menggendongnya "Ga-gabvin..." bisiknya tak percaya
"Halo ibu menantu tiriku... Aku datang untuk melamar putrimu..." ucap Gabvin memberi tatapan ramah dengan sebuah senyuman.
Yasmin dan Syakila sungguh terpaku di depan pintu. Sedangkan ibu tiri Elizha tak berkutik sedikit pun.
"Aku akan masuk dan meminta restu dari calon ayah mertua..." Jelas Gabvin seraya merkasak masuk ke dalam rumah Elizha. Sedangkan Elizha yang masih di gendong Gabvin hanya bisa terdiam dengan wajah merah pekat.
Bersambung...