
***
Kelvin dan Gabvin berkutat mencari, namun entah pergi kemana Elizha saat ini bersama ketakutannya pada kelakukuan Kelvin.
"Kak, kamu menemukannya?" tanya Kelvin di telpon.
"Tidak... Pokoknya, aku tak mau tahu... Cari wanita itu sampai ketemu. Jika tidak, aku akan benar-benar memasukkan mu ke penjara, atas tuduhan pelecehan di lift! Kau paham?" Desak Gabvin seraya mematikan ponselnya.
Kelvin kembali mencari meski ia belum menemukan tanda-tanda adanya Elizha di manapun.
"Sial... Apa yang sudah aku lakukan! Mungkin aku terkena pobia patah hati. Hingga setiap melihat wanita itu, aku selalu ingin memelik dan menciumnya juga mengikatnya di kamarku!!!... Sial! Apa aku sudah gila!!" Amuk Kelvin menendang tempat sampah juga boneka manekin yang terpajang di toko pakaian.
Sementara Gabvin...
"Kemana wanita galak itu pergi..." Gabvin terus celingukan dan sedikit berlari cepat lalu sesekali berjalan mengintif beberapa toko.
"Apakah dia kembali ke kasir untuk mengambil belanjaannya? Hah itu sungguh konyol... Tapi bukankah itu patut di coba. Meski rasanya agak sedikit gila?" Pikir Gabvin.
Ia pun mencoba kembali ke kasir di mana pertama kali mereka masuk. Gabvin melangkah lebar dan tergesa-gesa menuju ke sana.
Sesampainya di sana "Maaf nona. Apakah ada seorang wanita berpakaian dress putih berjalan ke sini?' Tanya Gabvin.
Nona kasir sedikit terbengong "Apakah anda... pria yang tadi memborong mainan anak sebesar 13 juta itu kan?" Tanya Nona kasir.
"Ya. Apakah anda melihat pasangan saya mampir lagi kemari untuk mengambil barang belanjaannya?" tanya Gabvin nampak makin panik.
"Oh. Beberapa menit yang lalu, setelah anda beranjak ada seorang pria tampan yang ramping dengan kulit putih pucat menyeretnya ke arah sana. Dan bahkan ia membayarkan belanjaan pasangan anda sebesar 7 juta lebih. Apakah ada masalah? Apakah harus telpon scurtty?" tanya nona kasir.
"Ah... Tidak. Ini hanya masalah kecil. Tapi dia tidak kembali kemari kan?" tanya Gabvin ke nona kasir itu.
"Ah tidak. bahkan belanjaannya masih ada di sini" Jelas Nona kasir.
"Begitu ya. Sudah ku duga... Kemana perginya dia..." Gabvin lekas menjauh dari kesir dan mulai keluar dari pusat perbelanjaan "Eh tuan! Belanjaan anda" Teriak nona kasir.
Gabvin ingat dan mulai membawa beberapa belanjaan itu dan lekas memasukkanya ke bagasi mobil.
Jika kejadiannya seperti ini... Mana mungkin aku membawanya ke mari. Lagipula sejak kapan Kelvin terus membuntuti kami. Sungguh menyebalkan. Bathin Gabvin.
Blam! Bagasi mulai terkunci, Gabvin hendak melanjutkan pencariannya. Namun telinganya sudah terganggu dengan suara tangisan yang begitu lirih terdengar di telinganya.
Gabvin lekas mencari tangisan itu, Ia pun berjalan perlahan seraya menyimak sekeliling. Saat semua sudah di pastikan, barulah Gabvin menghampiri wanita yang ia cari. Gabvin menyercidkan alisnya dan perasaan ragu mulai melanda hatinya.
Rupanya, kala itu Elizha berjongkok di samping pintu mobil dan bersembunyi di sana. Ia menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kedua sikutnya.
"Hiks. Hikss..." Isyak tangis lirih itu terus mengganggu pikiran Elizha.
Gabvin berjalan perlahan lalu menyahutnya lembut "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Kelvin dari arah belakang. Elizha terbangun dan mulai berdiri tegap dengan mata yang membulat "Zha... Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Gabvin mengulang kata-katanya.
Ia amat cemas pada Elizha, Elizha yang mendengar suara familiar itu pun mulai membalikan badannya penuh rasa ragu, tubuhnya bergetar bah kedinginan. Gabvin menghampirinya lebih dekat dan mengulang pertanyaan yang sama "Aku sungguh khawatir. Ku kira... Ada hal buruk terjadi lagi padamu... Hah... Syukurlah jika kamu sungguh baik-baik saja. Aku sungguh merasa lega" Ungkap Gabvin mengutarakan ke gusarannya.
Elizha tak bergerak, ia hanya menahan tangisannya. Bibirnya bergetar hingga giginya terdengar bertabrakan. Gabvin lekas membuka jasnya dan memasangkannya ke tubuh Elizha "Cuacanya akan makin dingin jika sore tiba. Kamu harus memakainya agar tetap hangat" Jelas Gabvin memasangkan jas itu di bahu Elizha.
Saat itu, pikiran Elizha kosong dan tak ada yang perduli pada nya selain Gabvin. Bahkan suaminya saja tak mencemaskannya sama sekali.
"... Ta-kut.. " Kata itu yang mulai terlontar.
Gabvin merasa bersalah pada dirinya sendiri, sebab ia meninggalkan Elizha sendirian dan membuatnya dalam msalah lagi kali ini "Aku sungguh takut..." Ucap Elizha bersama tangisannya yang mulai pecah di depan Gabvin.
"Takut! Hiks... Aku sungguh takut" kalimat itu terus terulang dari mulut Elizha dan makin menyiksa Gabvin. Pikirannya yanb blank membuatnya tak pikir panjang. Gabvin memeluk erat Elizha yang tengah menangis di depannya.
"Hiks.. Hu huhu... Aku sungguh takut! Bawa aku pergi..." pinta Elizha merengek di pelukan Gabvin.
"Tak apa-apa...! Kamu akan baik-baik saja" Ucap Gabvin menenagkan Elizha yang di hantui kenangan buruk Kelvin.
"... Ku mohon. Bawa aku pergi!" Pinta Elizha.
"...Menangislah. Menangislah yang keras, jika semua tangisan itu mampu membuat mu merasa lebih baik... Aku tak akan membiarkanmu menderita sendirian kali ini. Aku akan tetap ada di belakangmu meski kamu menolakku seratus kali sekalipun..." Imbuh Gabvin memantapkan hatinya.
Sore menjelang senja... Gabvin mendekap Elizha tanpa ragu, ia lebih mengesampingkan urusan pribadi nya dengan Gery ketimbang melihat hidup Elizha yang terus menerus dalam tekanan Orang tua, Suami dan mantan kekasihnya.
"Hosh! Hosh!" Satu lagi pria berlarian mencari wanita yang telah ia hianati. Namun saat ia sadari, langkahnya akan semakin jauh dari yang ia bayangkan.
"Hosh... Sial!" Ia mendegus amat kesal. Kelvin lihat dengan jelas, ketika satu mobil lain beranjak. Yang tersisa adalah dua sejoli yang tampak seprti sepasang kekasih tengah larut dalam sebuah pelukan kala senja menyambut pekatnya malam.
"Dia kakakku? Dia lebih memilih kakakku? Kenapa? Kenapa dia menghiantiku! Apakah aku memang pantas di benci olehnya. Ini sungguh picik! Aku..." Kelvin menatap Gabvin penuh amarah.
"...Aku tak akan menyerah meski lawanku adalah kakakku sendiri. Setidaknya... Ia harus menyerah ketika menghadapiku! Karna akulah adiknya.
Flasback...
"Kakak! Apa maksudmu...?" tanya Kelvin penuh ragu.
"Kamu seharusnya malu! Ia sudah sangat menderita gara-gara kelakuanmu. Menyerahlah dan biarkan dia hidup bebas..." Jelas Gabvin.
"Kami hanya bertengkar biasa... Hanya saja, malam itu, aku tak sadar jika sudah bermain gila dengan adik kelasku yang ternyata adalah temannya sendiri" Jawab Kelvin tanpa di tutup-tutupi.
"Hem... Kamu yakin bahwa Elizha tak patah hati saat itu?" tanya Gabvin.
"Hentikan pertanyaanmu sungguh menyudutkanku. Aku hanya khilaf dan melakukan satu kali kesalahan padanya. Jadi aku mohon... Jangan dekati mantan pacarku. Karna aku, tak akan menyerah meski aku harus melawan kakakku sendiri"
"Kelvin! Apakah kamu sadar dengan ucapanmu itu?! Hentikan dan menyerahlah jangan buat Elizha terpuruk gara-gara kamu. Jika terjadi sesuatu pada kandungannya... Maka aku tak akan tinggal diam. Bukan hanya kasus pelecehan yang aku ajukan... Tapi juga pecobaan pembunuhan. Kau harusnya paham dan menyerah!" Bentak Gabvin panjang lebar.
"Aku tetap tak mau... Lalu bagai mana pendapatmu?"
"Pertama... Jika bukan karna kau! Elizha takan mengalami nasib buruk. Kedua, Ia di usir di setelah kamu mencampakannya. Ketiga, dia hidupnya sungguh hancur...Tolong menyerahlah dan biarakan dia hidup" Pinta Gabvin.
"Aku sungguh tak percaya pada kata-katamu..." bentak Kelvin menggebrak dinding Lift tersebut.
"Jika kamu tak percaya, tanyakan saja pada wanita itu. Lantas ia akan menbencimu... Sebab kamulah cikal bakal dari kesengsaran hidupnya. Jika kamu pria bermartabat tinggi... Maka enyahlah. Dan biarkan masalalu itu menjadi bagian dari dirimu" Jelas Gabvin.
"Kau..." Kelvin amat murka dan mengepalkan tangannya.
"Jangan diam saja! Cari wanita itu sampai ketemu! Jika kamu tak menemukannya... Jangan salahkan aku, karna hal buruk pasti akan menimpamu!" bentak Gabvin.
Kelvin pun lari terbirit-birit meski ia tak tahu di mana wanita itu berada saat ini.
Flasback off...
"Sial... Dia sendiri yang menyuruhku untuk mencarinya. Lantas dia sendiri yang menikmati hasilnya" Bathin Kelvin mengguman penuh kekesalan.
Bersambung...