
"Hah... Hah... Sayang, ayo sentuh aku..." Ucap Angel menarik tangan Gery dan menempelkannya pada dada Besar dan bulat miliknya. Keringatnya mulai menetes dan napas Angel sudah tak beraturan. Apakah sungguh Gery akan melakukan nya pada Angel. Sekuat tenaga Gery menahan sebuah gairah yang mulai merajai hatinya.
"Sayang... Cepatlah..." Angel mulai bertingkah aneh hingga bergeliat dan menggesek-gesekan miliknya yang masih terbalut itu ke gundukan Gery yang masih tertutup Handuk.
"Ayolah... Jangan lakukan ini, aku sedang tak ingin melakukannya sekarang" oceh Gery. Angel mulai tersadar dan sedikit marah, hingga ia pun lekas mengecup bibir Gery yang menurutnya bawal itu.
Cup!
Gery terbelalak untuk yang ke dua kalinya. Gery sedikit mendorong Angel agar tak agresif begini. Namun ciuman Angel memaksa Gery untuk lemah.
Angel sungguh pintar dalam berkecupan, Ia bahkan lebih mahir dari pada Gery. Napas keduanya kembali berada hingga terdengar sebuah ******* yang di keluarkan Angel. Suara itu sedikit merintih seakan menikmati keadaan. Jelas Elizha merinding di buatnya.
"Sayang... Tekan lebih keras, aku sungguh nyaman jika kamu melakukannya berualang-ulang. Tolong, perlakukan aku seperti ini sepanjang waktu..." Rintih Angel mendesah dan bergelinjat ketika Gery meremas miliknya.
"Aku akan memulainya..." jelas Gery.
Angel sungguh senang dan mengangguk dengan sebuah senyuman... Namun sesuatu terjadi, saat Angel melepas Underwearsnya. Sebuah bercak merah tergambar jelas dan membuat Gery kaget "Apa-apaan ini?" tanya Gery dengan Atensi tinggi.
"Ke-kenapa?" Tanya Angel mulai bangun dari rebahannya.
"Apakah bulan ini adalah tanggalnya?" tanya Gery mulai bangun dan menjauhi Angel. Angel tak paham dan lekas bangun mengikuti Gery.
"Bulan apa maksudmu sayang? Aku tak paham..." tanya Angel turun dari ranjang dan mengikuti Gery dengan pakaian semberawut.
"Pikirlah sendiri..." Gery menjauhi Angel dan segera masuk ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya. Sementara Angel tertatih di depan ruangan ganti itu mulai memutar otaknya.
"Sial! Apa masalahnya?" tanya Angel. Angel mulai mendelik ke arah matras Gery, lalu melihat Underswearnya tergeletak di sana. Ia pun menghampirinya lalu melihatnya. Ternyata yang membuat Gery marah adalah sebuah noda merah yang tergambar jelas di sana.
"Apakah aku sedang datang bulan?" tanya Angel melotot ke arah underweas miliknya.
"Ini gawat..." Bisik Angel. Tak lama setelah melihat darah miliknya sendiri, Angel mulai muntah muntah dan merintih. Ia tampak sangat aneh seperti ketakutan "Darah... Aku benci darah, aku benci darah!" Teriaknya membuat sebuah ke gaduhan. Elizha merasa heran dan mulai keluar perlahan untuk melihat hal apa yang terjadi pada Angel. Elizha bangkit dan mulai menatap di kejauhan, di tatapnya Angel... Elizha sungguh kaget. Saat itu Angel langsung berjongkok dan menutup kedua telinganya serta teriak histeris. Elizha lekas memakai pakaian seadanya dan menghampiri Angel yang tampak tak baik-baik saja.
Angel kembali menjerit dan meremas perutnya lalu kembali berteriak-teriak "Sakit... Sakit!" teriaknya dan seketika itu ia lemas lalu pingsan di tempat itu.
Bruuukk...
Elizha sungguh panik ia lekas menerjang dengan berlari ke arah Angel yang tak sadarkan diri itu.
"Nona... Nona!" Seru Elizha seraya menggoyang-goyangkan tubuh Angel. Tak ada respon yang belarti dari keadaan Angel saat ini...hingga membuat Elizha makin panik.
"Tuan cabul! Tuan cabul keluarlah... Lihat gadis ini?" Teriak Elizha panik. Gery sama sekali tam menggubris dan cenderung tak menjawab dan terus sembunyi di dalam ruang ganti miliknya itu.
"Bagai mana ini? Nona bertahanlah..." Elizha lekas keluar kamar itu dan lekas meminta bantuan.
Klek! pintu terbuka, elizha mulai meminta bantuan Yan dan Gabvin yang saat itu berdiri di depan kamar Gery.
"Ia. Kenapa kamu begitu panik? Apakah ada hal aneh yang terjadi?" tanya Gebvin.
Tentu saja panik... Bukankah kalian tertangkap basahkan? Heh... Memang si bos harus tahu rasa..." bathin Gabvin.
"Tolong. Di dalam ada gadis cantik yang pingsan" pinta Elizha panik. Yan pun berlari ke arah kamar tersebut dan segera memastikannya.
"Tunggu, apa maksudmu...?" tanya Gabvin menarik tangan Elizha. Elizha menoleh ke arah Gabvin dan berkata "Di dalam, kekasih Gery pingsan begitu saja" jelas Elizha. Seketika Gabvin terdiam, dan melepaskan tangan Elizha pelan. Apa lagi saat itu, di leher Elizha amat penuh dengan tanda cinta milik Gery.
"Aku akan masuk..." Gabvin mulai masuk dan mengacuhkan Elizha. Namun saat Gabvin hendak masuk. Yan terlebih dahulu keluar dari kamar Gery dengan menggendong tubuh Angel yang saat itu di balut selimut kamar tersebut.
Angel pun berada di tangan yang tepat, Yan lekas membawanya ke sebuah rumah sakit agar Angel bisa mendapatkan perawatan yang intensif.
Setelah Yan pergi ke rumah sakit... Elizha hanya bisa berdiri mematung tanpa arah, dan di tambah lagi Gabvin yang saat itu ada di sampingnya sedikit mengacuhkan wanita itu. Entah kenapa, menurut Elizha... Gabvin saat ini terlihat lemas.
Apakah dia juga sedang cemburu pada Gery... Jangan-jangan, dia jatuh cinta pada Angel... Soalnya Ekspresinya tampak sedih begitu. Bathin Elizha.
Tak berselang lama... Gery keluar dari dalam kamar nya dan mulai melangkah perlahan ke arah Elizha "Hei. Kau baik-baik saja?" Tanya Gery menatap sayu Elizha. Elizha mendelik sesaat dan membuang wajaahnya lagi "Hem. Exspresi apa itu..." Dengus kesal Gery. Bahkan Gabvin masih ada di sana ketika mereka saling bertegur sapa.
Apakah pria ini memang tukang pamer. Bathin Gabvin tak senang.
"Gabvin... Kau ada di sini?" tanya Elizha mengalihkan pembicaraannya.
"Ya aku dari tadi di sini... Selamatya, atas pernikahan kalian..." ucap Gabvin mengayunkan tangannya ke arah Elizha mengharap jawaban yang belarti "Tolong jangan dibahas... Aku sedang tak senang saat ini" Jawab Elizha marah.
"Kamu mulai cemburu... Jangan-jangan kamu mau menikah denganku gara-gara jatuh cinta padaku ya?' Goda Gery sedikit mengoceh.
"Hentikan. Bagai mana bisa kamu bicara seenteng itu... Bahkan wanita itu kamu biarkan tergeletak di lantai begitu saja" Ekizha sungguh marah.
"Apa maksudmu?" Tanya Gabvin kepo. Gery menatap Gabvin "Ini bukan urusanmu jadi silahkan keluar" pinta Gery. Gabvin merasa sedikit marah dengan perkataan itu.
"Wah... Pas udah nikah, kamu memang beda ya? Ger..." Kekeh Gabvin kecewa.
"Hentikan... Aku akan pergi, sebaiknya cepat susul kekasihmu itu ke rumah sakit!" Jelas Elizha seraya menghentikan kakinya sejauh mungkin dari hadapan Gery.
"Tunggu Elizha..." Teriak Gery hendak menyusulnya. Tapi Gabvin malah mengehentikan langkah Gery "Berhenti..." Pinta Gabvin. Gery lekas menatap Gabvin dengan sedikit nyolot "Ada apa denganmu... Kenapa kamu malah menghentikan ku?" tanya Gery.
"Ini bukan saat nya mengkhawatirkan Elizha. Khawatirkanlah Angel... Jangan-jangan penyakitnya kambuh lagi..." Jelas Gabvin memperingatkan. Gery tersinggung dan lekas menepis tangan Gabvin.
"Heh. Ini bukan urusanmu..." Jelas Gery membuang wajahnya, seraya melangkah menjauhi Gabvin. Ia berjalan pelahan dan tampaknya ia mulai melangkah ke parkiran mobil. Lalu beberapa supir mulai menunduk dan mobil pun melaju membawa Gery yang saat ini sedang marah. Sementara Gabvin mulai beranjak dan mencari keberadaan Elizha.
"Kemana gadis malang itu pergi..." Gumam Gabvin.
Bersambung...