
Sarah menatap Gabvin yang begitu acuh padanya. Ia malah sibuk pada dirinya sendiri dan sama sekali tak menoleh atau berterima kasih pada wanita di samping ranjang Gabvin.
...Apa yang menganggu pikirannya... Ia tampak gelisah di setiap lelapnya dan kini ia malah sibuk seakan ada hal penting yang perlu ia selesaikan. Bathin Sarah menggumam....
"Ponselku" pintanya. Sarah lekas memberikan ponsel tersebut "Ini... Sepertinya habis battrai" jelas Sarah seraya menyerahkan ponsel tersebut. Lalu tak lama setelah itu, Gabvin pun menyalakan ponselnya dan menelpon Gery sesegera mungkin.
Setelah Gabvin menelpon Gery, Ia sedikit termenung "Sial. Apakah aku sehina itu! Hingga memimpikan hal yang tak mungkin terjadi seperti itu!" Gumam Gabvin dengan mendengus kesal.
"Tuan Gabvin... Apakah anda lapar?" tanya Sarah khawatir.
"Tidak" Jawabnya acuh.
"Tapi, anda sudah tak makan selama dua hari ini... Biarkan aku merawat anda hingga anda sembuh total" pinta Sarah cemas.
Gabvin menoleh ke arah wajah Sarah "Merawatku? Hingga sembuh total?" tanya Gabvin di iringi sebuah senyuman menyunging.
"Bisakah... Saya melakukannya kali ini saja untuk anda?" tanya Sarah penuh harap.
Entah kenapa, tentramental Gabvin kali ini sedang kacau hingga Gabvin malah membuang wajahnya dan mendengus "Heeeh... Kau sungguh berharap" ocehnya menatap sinis Sarah.
"Tapi harus aku sampaikan dengan jelas padamu... Kita bukanlah pasangan kekasih. Jadi, jangan terlalu akrab padaku. Aku sungguh merasa risih dan tak senang mendengar kamu begitu khawair dengan ku" Jelasnya seraya melepas jarum infus yang menempel di lengannya. Sarah sungguh kaget pada pilihan Gabvin dan mengabaikannya.
"Tapi tuan... Anda tidak boleh melepas selang tersebut! Anda harus tahu jika saat ini anda sedang tidak sehat" Pinta Sarah memohon, ia sungguh khawatir pada kesehatan Gabvin.
Gabvin menoleh dengan tatapan dingin "Berhentilah bersikap seolah aku ini adalah pasangan mu! Mengerti?!" jelas Gabvin penuh emosi. Akhirnya Gabvin pun mulai turun dari ranjangnya dan lekas meraih jas yang ia kenakan beberapa hari yang lalu.
Blam! Pintu kemudian tertutup, tinggalah sarah yang masih menunduk di matras terseut dengan rambut menutupi seluruh wajahnya.
"Hiss...." Sarah mendengus di ruagan sepi itu, perlahan tangan nya yang lentik meraba bibir tipisnya dan mulai menatap sayu...
"Apakah ini sungguh kabar baik untukku?" tanya nya seraya terus meraba bibir itu.
Sesaat ia ingat nama yang sering Gabvin ucapkan kala demam melanda hingga ia mengigau hebat "Elizha..." Bisik Sarah.
"Dia sungguh wanita pengganggu... Akan ku buat perhitungan dengannya... Lihat saja, siapa yang cocok untuknya. Aku atau dia..." umpatnya dalam sebuah balutan amarah. Tanpa sadar, Sarah mulai menargetkan Elizha untuk menjadi musuhnya.
"Akan ku buat perhitungan dengan mu! Elizha!!" Teriaknya lantang hingga mengundang beberapa suster ke kamar tersebut.
Sarah pun mulai kabur setelah para suster masuk dan menanyakan keadaan pasien di kamar itu "Maaf. Aku harus pergi!" imbuhnya seraya lekas kabur dengan langkah seribu.
Sebenarnya apa yang sudah Sarah lakukan saat Gabvin tak sadarkan diri? Bukankah dengan demikian ia bisa melakukan apapun semaunya?
***
"Taksi!!" pekik Gabvin mulai menghentikan laju cepat mobil taksi tersebut. Ia pun tancap Gas ke arah perusahaan milik Pranata Winata.
Bersambung...