ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Ungkapan perasaan yang tulus


Sarah selesai merekam adengan Gery dan Elizha. Setelah itu, Sarah pun lekas pergi ke rumah sakit. Di mana Angel di rawat..


Sementara Gabvin dan Elizha masih terus melangkah ke arah jalan utama "Gabvin. Sampai di sini saja kamu mengantarku... Aku bisa pergi sendiri" Jelas Elizha menghindar. Gabvin termenung "Apakah kamu sudah pergi dari sisi Gery?" tanya Gabvin tiba-tiba. Padahal sedari tadi, Gabvin tidak banyak bicara dan cenderung diam "Apa?" tanya Elizha canggung.


"Aku hanya menebaknya saja. Apakah kalian sedang bertengkar? Atau malah kamu yang memilih pergi dari sisinya?" tanya Gabin mengulang. Elizha mulai tak nyaman dengan pertanyaan yang Gabvin utarakan padanya.


"Ini tak ada hubungannya denganmu... Jadi, tolong biarkan aku pergi" balas Elizha selalu kecut jika berhadapan dengan Gabvin.


"Bagaimana jika aku perduli. Bagai mana jika aku sangat khawatir pada keadaan mu dan bayimu?" Tanya Gabvin mulai membuat situasi Elizha makin canggung.


"Gabvin cukup! Tolong Hentikan!" Pinta Elizha membentak Gabvin.


"... Elizha" Gabvin tercengang.


"Hentikan ku mohon, kamu tak seharusnya memperhatikan atau memperdulikan ku. Aku bukanlah siapa-siapa mu?" Bentak Elizha. Gabvin terdiam membisu "Aku bukanlah wanita yang pantas kamu perhatikan atau khawatirkan. Jadi ku mohon, menjauhlah dariku!" Pinta Elizha menjauhi dengan melangkah mundur.


"Bagai mana jika aku tak bisa melakukannya?" tanya Gabvin melangkah maju mendekati Elizha yang mundur beberapa langkah darinya.


"Hentikan, aku tak mau mendengarmu lagi... Berhenti memberiku perhatian mu yang ternyata adalah sebuah belas kasihan!" Marah Elizha mengecam Gabvin.


"Apakah kamu akan percaya jika aku tulus menjagamu?" tanya Gabvin.


"Tak perlu khawatirkan aku! Aku sungguh bisa menjaga diriku sendiri!" Bentak Elizha. Saat ia mundur beberapa langkah ke belakang, rupanya dia malah menginjak kerikil dan kakinya terpeleset, hingga ia hendak jatuh dengan posisi terlentang.


"Akkhhh!" Pekik Elizha berusaha menyeimbangkan beban tubuhnya. Gabvin kaget dan sontak mendapatkan tubuh Elizha dan menahan pingganya dengan satu tangannya. Keadaan tersebut amat sangat manis, Elizha seperti sedang menari dansa di sebuah pentas seni. Gabvin masih menahan tubuhnya seraya mengolok "Menjaga dirimu sendiri. Heh, jangan bercanda" umpatnya menahan tawa. Elizha kesal dan lekas mendorong Gabvin, ia berusaha bangkit dan menyeimbangkan tubuhnya.


"Uughh... Itu hanyalah sebuah kecelakaan. Aku hanya sedang ceroboh" Umpat Elizha membenahi pakaiannya.


"Kamu sangat manis jika sedang gugup" Ujar Gabvin.


"Hentikan, ini bukan saatnya bercanda" Umpat Elizha.


"Bagai mana jika aku serius dan ingin menjadikan mu istriku?" Tanya Gabvin makin membuat Elizha tak nyaman.


"Hentikan, ini semua sudah tidak lucu lagi..." Pekiknya mengelak. Elizha berusaha mencari taksi atau kendaraan lainnya.


"Hentikan aku merasa sangat rendah jika kamu terus bicara hal yang tak masuk akal seperti ini!" Bantah Elizha terus mencari taksi. Gabvin melangkah ke arah Elizha dan bersiap-siap, saat Elizha menoleh ke arah sebaliknya. Gabvin mulai mencuri kecupannya ketika Elizha mengarahkan wajahnya ke arah di mana Gabvin berdiri.


Cup! Gabvin memejamkan matanya, sedangkan Elizha terbelalak tak percaya. Gabvin perlahan melepaskan kecupannya dan membuka matanya pelan "Ini adalah bukti ketulusan hatiku. Semoga kamu bisa menerima ketulusan yang memang seharusnya di berikan pada wanita yang paling belarti di hidupku..." Jelas Gabvin lekas menyeka bibir Elizha lembut. Elizha masih bengong dan belum berkutik, ia seakan Syok pada apa yang di lakukan Gabvin padanya.


Adegan manis itu terlihat jelas di nanar Gery dan Rio, juga papa dan Kelvin. Mereka menatap Gabvin yang menyerang Elizha di kejauhan. Meski mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ayah Gabvin sangat senang. Akhirnya ia bisa merasakan masa tuanya dengan mendengarkan gelak tawa seorang bayi. Sedangkan Kelvin dan Gery hanya bisa menatap gemas kelakuan Gabvin yang begitu berani.


Tak lama setelah seluruh pikiran Elizha berkumpul, Elizha lekas melayangkan tangannya di pipi Gabvin "Plak!" Wajah Gabvin terhempas dan menunduk "Jangan bicara hal yang bodoh. Aku bukanlah wanita murahan yang selalu pergi dengan pria lain. Untuk saat ini.. Aku hanya butuh sendirian! Dan belum mau mendapatkan apapun selain sendirian!" Bentaknya seraya berpaling.


Gabvin mulai mendapatkan sebuah jawaban yang tegas. Bahwa Elizha belum bisa menerima hati siapapun. Apa lagi, Gabvin adalah seorang pria lajang, sedangkan Elizha adalah wanita yang telah kotor dengan status tak jelasnya. Pertentangan ini akan membuat Gabvin sangat kesulitan...


"Tunggu Rio!!" pekik Gabvin. Rio menoleh "Bisakah kita bicara?" tanya Gabvin.


"Tentang apa?" tanya Rio.


"Kemarilah... Kita bicara empat mata" Pinta Gabvin.


"Baiklah... Jika menurutmu itu penting, mari bicara..." Rio mulai pergi bersama Gabvin ke suatu tempat.


***


Cafe...


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Gabvin.


"Kopi hitam exspress" balas Rio.


"Heh. Nampaknya ke sukaan kita sama..." Ujar Gabvin.


"Kurasa kita tak cocok..." Balas Rio dingin.


"Ku lihat dari exspresimu, nampaknya kamu tak begitu menyukai Gery. Kenapa?" tanya Gabvin.


"Itu bukan urusanmu..." jelas Rio membantah.


"Apakah kamu masih bekerja di bawah kuasa Gery?" tanya Gabvin mulai mencoba membuka hati Rio.


"Kenapa kamu begitu penasaran padaku. Apakah kamu berharap aku mau membocorkan informasi perusahaan tuan Gery?" tanya Rio membolak balikan petanyaan.


"Aku lihat, kamu tak suka Elizha di sentuh oleh pria lain.. Apakah kau juga menaruh hati padany?" Tanya Gabvin makin mendesak.


"Kau sungguh konyol. Aku sama sekali tak ada maksud pada Elizha, karna hubungan kami begitu erat sedari kecil. Makanya aku putuskan untuk menjaganya seumur hidupku..." Jelas Rio menterjemahkan ke akraban yang terjalin antara mereka.


"Heh. Menjaga seumur hidup, cih... Yang benar saja. Jika berpikir seperti itu, rasanya sudah jelas bahwa kamu memang menyukai Ellizha... Dekat sedari kecil. Yang benar saja..." gabvin sedikit tersinggung.


"Aku hanya menyanyanginya seperti adikku sendiri tak ada hal yang lebih. Jika ada yang membuatnya menderita, maka mereka akan berhubungan denganku" Jelas Rio mulai membuat Gabvin tenang.


"Jika hubungan kalian erat, aku akan meminta restu mu. Tolong restui aku calon kakak ipar" jelas Gabvin Rio tercengang dan mulai membelalakan matanya.


"A-apa!!" Pekik Rio dengan mulut menganga.


Bersambung...