ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Penjelasan apa?


***


Pagi ini, Gabvin dan Elizha hendak berangkat ke rumah bersalin yang minggu lalu mereka kunjungi, tapi di tengah perjalanan Elizha sedikit teringat "Eh tunggu... Apakah kita akan ke rumah bersalin yang minggu kemarin kita kunjungi itu?" tanya Elizha sedikit tak yakin.


Gabvin menoleh di sela-sela kemudinya "Ya... Memang kenapa?" tanya Gabvin dengan wajah yang datar.


"Ah tidak..." Elizha lekas menunduk.


"Kamu sakit?" tanya Gabvin khawatir.


"Aku baik-baik saja... Hanya saja aku sedikit malas jika harus masuk ke sana" gumam Elizha sedih.


"Jangan khawatir... Hasil test di tempat itu akurat kok. Jadi kamu akan dapat hasil yabg optimal" Ujar Gabvin meringankan ke gusaran Elizha.


"Bukan itu yang aku takutkan..." Balas Elizha menatap dirinya di cermin yang ada di sampingnya.


"Lalu...? Apa yang kamu khawatirkan selain itu?" tanya Gabvin menepis sebuah ke gusaran Elizha.


"Aku takut saja... Kalau di sana nanti, aku akan bertemu dengan orang yang tak ingin aku temui lagi" Jelas Elizha. Sontak Gabvin mulai ingat "Apakah dia Kelvin adikku?" tanya Gabvin menebak. Elizha lekas mengangguk "Oh... Nanti aku akan bicara padanya" Jelas Gabvin meringankan ketakutan Elizha.


"Benarkah?" Tanya Elizha ragu.


"Tentu..." Balas Gabvin ringan.


"Percaya diri banget sih kamu. Emang apa yang akan kamu jelaskan padanya... sampai-sampai kamu yakin bahwa dia nggak akan gangguin aku lagi?" tanya Elizha. Lekas Gabvin terdiam dan tak bisa menjawabnya...


"Apa ya...?" bisik Gabvin mencari sebuah alasan.


"Heh... Dasar bodoh. Hanya bisa bicara saja..." Gumam Elizha merendahkan Gabvin.


"Ya baiklah... Diakan Adikku, jadi aku bisa membujuknya dengan mudah..."Elak Gabvin.


"Terserahlah..." Elizha enggan meracau lagi. Ia mulai lelah dan ingin terdiam seraya bersndar di kursi nyaman mobil itu.


Tak berselang lama... Karna sebuah hembusan ac mobil itu, Elizha pun terlelap sesaat. Gabvin yang sedari tadi mengajak Elizha ngobrol pun mulai menoleh ke arahnya dan melihat Elizha yang terlelap begitu saja. Gebvin mulai menepikan mobilnya ke bahu jalan dan menatap nya sesaat.


Lantas saja bos menyukaimu... Meski keras kepala... Tapi, kamu memang baik. Coba kalau pertemuan kita lebih awal... Sebelum bos memiliki mu. Mungkin aku bisa lebih awal menjadi kan mu ratu dalam hidupku. Bathin Gabvin menggumam. Entah kenapa Hasrat itu mulai muncul dan berkata demikian.


Gabvin merasa senang jika ia tetap berada di samping Elizha, meski hanya sebagai teman ngobrolnya. Gabvin lekas membuka Jas yang menempel di tubuhnya. Lalu ia pun memakaikannya tubuh Elizha dengan cara di selimutkan. Gabvin pun mulai mematikan Ac dan lekas melajukan mobilnya kembali ke arah rumah bersalin itu.


Beberapa saat kemudian... Sampailah Gabvin di rumah bersalin itu. Gabvin pun mulai keluar dari mobil itu dan lekas melangkah ke arah rumah bersalin itu.


Saat Gabvin masuk, tanpa sebuah pemberi tahuan apapun. Gery datang ketempat tersbut seraya menyeru Gabvin lalu menghampirinya "Vin..." Teriak Gery di kejauhan. Sontak Gabvin kaget dan lekas menoleh ke arah tersebut "Bos. Kamu di sini?" Tanya Gabvin panik.


"Ya. Aku ikutin Gps di mobilmu... lho, mana istriku?" Tanya Gery celingukan.


Istri katanya? Apakah maksudnya istri kontrakmu?" bathin Gabvin tak senang mendengar kalimat tersebut.


"Oh. Nona Elizha ada dalam mobilku. Dia lagi tidur..." Jelas Gabvin.


"Tidur jam segini? Dasar pemalas" gerutu Gery lekas melangkah ke arah mobil Gabvin. Tapi Gabvin menghentikan langkahnya.


"Tunggu. Jangan di bangunkan..." pinta Gabvin. Gery pun terdiam dan mulai heran "Kenapa? Kenapa kamu melarangku bertemu dengannya" Tanya Gery sedikit sinis.


"Jangan salah paham Ger. Nona Elizha baru saja terlelap, Yan bilang sepanjang malam ia tak pernah tidur... Karna ia menunggumu pulang Ger..." Jelas Gabvin. Mendengar penjelasan itu, Gery sedikit menundukan wajahnya.


"Begitu ya... Kasihan sekali..." bisik Gery.


"Dari pada ribut di sini... Lebih baik kita kedalam dan ambil hasil testnya..." Jelas Gabvin. Gery pun mengangguk dan mulai ikut saja.


"Di mana ruangannya?" tanya Gery.


"Di sana... Ayo ikut..." Gabvin mulai mengajaknya ke sebuah ruangan. Rumah bersalin itu memang terlihat sederhana di luar, namun ketika masuk amatlah luas dan rapi.


"Tunggulah bos. Kita harus berjalan menuju ruang resepsionis..." Jelas Gabvin.


"Haaah... Aku tunggu di sini saja..." Gumam Gery.


"Ya tunggulah di sini. Aku akan kedalam sekarang" jelas Gabvin.


"Apakah ini ruangannya?" tanya Gery.


"Ya... Apakah bos juga ingin ikut ke dalam?" Tanya Gabvin ramah.


"Boleh... Sekalian aku tanya dokternya tentang ke ralistisan hasil ini..." Jelas Gery.


"Baiklah... Ayo masuk..." Gabvin dan Gery pun masuk. Di ruangan tersebut ada seorang suster dan meja dengan dua kursi pasien konsultasi.


"Selamat pagi... Ada yang bisa kami bantu?" tanya sang suster.


"Saya akan mengambil hasil test dna sus apa dokternya ada?" tanya Gabvin ramah. Sementara Gery hanya bisa menelisik seluruh ruangan bercat putih itu.


"Oh. Begitu ya. Silahkan duduk..." pinta suster. Gery dan Gabvin pun mulai duduk.


"Bos. Bagai mana kabar Angel?" tanya Gabvin memulai percakapan.


"Aku sedang tak ingin membahasnya..."Tolak Gery membuang wajah kesalnya. Ia pun mulai merogoh ponsel dan mulai menyibukan dirinya dengan ponsel itu.


"Begitu ya. Baiklah... Kita bicarakan hal lain saja yang lebih menarik" gumam Gabvin mencoba memecah suasana.


Tak lama setelah mereka duduk...


Dokterpun mulai datang dan menyapa Gery juga Gabvin "Selamat pagi tuan-tuan..." ucap sang dokter menyapa keduanya.


"Pagi dok..." Gabvin berdiri dan menyapa dokter tersebut mereka saling bersalaman. Gery pun mulai bangkit dari duduknya dan melakukan hal yang sama dengan Gabvin.


"Apakah ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya sang dokter sedikit basa basi.


"Ya. Saya kemari untuk mengambil hasil test DNA minggu lalu..."Jelas Gabvin. Gery hanya acuh pada percakapan mereka.


"Maaf jika boleh saya tahu... Atas nama siapa ya?" Tanya sang dokter.


"Atas nama Tuan Gabvin Morensky" Jelas Gabvin. Mendengar nama itu, Gery tercengang dan menghentikan kesibukannya.


"Baiklah... Suster, ambilkan berkas atas nama Gabvin Morensky" Ujar sang dokter.


Gery mengerutkan dahinya dan sedikit tersulut emosi "Apa vin... Tadi kamu bilang apa?" tanya Gery menunggu sebuah penjelasan Gabvin. Lalu Susterpun datang "Ini dok..." Ucap Sang suster.


"Ini dia hasilnya tuan..." Dokter mulai menjelaskan.


"Hasil test DNAnya sudah selesai dan hasilnya adalah 99.99/sen janin dalam kandungan istri anda adalah positif. Bahwa janin tersebut memiliki Gen yang sama dengan DNA ayahnya..." Jelas sang dokter.


Gery sedikit cemburu dan ia tak paham...


"Apa maksudnya ini?!" Tanya Gery terlanjur cemburu.


Gabvin yang takuymt semuanya salah pahama pun mulai menjelaskan "Gery... Selamat... Anak dalam kandungan wanita itu adalah anakmu secara biologi... Kamulah ayahnya" jelas seraya mengayunkan tangannya dan menjaabat tangan Gery. Dokterpun tercengang "Tunggu tuan. Saya tak paham pada ini semua?" tanya dokter.


"Sebenarnya rambut dan wanita yang saya antar kemari adalah teman saya. Dan ini adalah suaminya. Jadi jika anda mengira saya suami wanita itu. Anda salah paham..." Jelas Gabvin merincikan kesalah pahaman sang dokter.


Dokter pun tersenyum "Oh begitu ya? Jika begitu...saya ucapkan selamat..." Ucap dokter seraya berjabat tangan.


Mereka pun mulai keluar dari ruangan tersebut dengan hati senang. Gery akan jadi ayah sekarang, Dan Gery tak bisa lagi mengungkiri janjinya untuk menikahi Elizha secara hukum dan sah.


Bersambung...