
Sarah lekas keluar dari kamar yang di pakai Gabvin untuk memulihkan kesehatannya.
BLAM! Pintu kamar tersebut mulai tertutup, Sarah lekas melangkah tanpa memperhatikan sekelilingnya. Namun, seseorang menyahutnya. Hingga ia pun terpaksa harus menoleh ke arah tersebut "Nona Sarah..." pekik seorang lelaki. Sarahpun menoleh ke arah sahutan tersebut "Yan..." bisiknya.
"Nona... Ada hal yang ingin saya sampaikan" Pinya Yan. Sarah sedikit canggung, ia seakan ingin enyah dan mengabaikan permintaan Yan.
"Ini tentang nona Angel..." Tambah Yan. Sarah pun mulai menarik napas panjangnya "Haaah..." iapun terpaksa menoleh ke arah Yan.
"Ada apa dengan Angel?" tanya Sarah.
Yan lekas membalas dengan sangat singkat "Ia menyuruh anda datang ke masion tuan Gery hari ini. Ada hal yang ingin ia rundingkan dengan anda..." Jelas Yan.
Sarah pun mulai termenung sesaat...
"Jika anda berkenan... Saya akan mengantar anda saat ini juga..." Pinta Yan. Sarah pun mulai mengangguk "Tentu. Sudah cukup lama aku tak pernah berunding dengan Angel..." Jelas Sarah. Setelah Sarah memutuskan, mereka pun mulai meninggalkan rumah sakit tersebut.
***
Sesampainya di sana (Masion Gery).
"Sudah lama kita tidak bertegur sapa..." Sapa Angel ramah pada sahabatnya itu.
Sarah merangkul Angel dan memeluknya "Wah... Setelah jadi nyonya Gery kamu sungguh terlihat kurus, apakah karna Tuan Gery selalu membuatmu lelah sepanjang waktu ya?" Tanya Sarah menggoda Angel. Angel menatap diam kala pertanyaan panjang itu terlontar 'Andai saja itu sungguh terjadi padaku. Tapi sayang, sejak pernikahan itu di gelar. Tak secuilpun ia menyentuhku apa lagi melakukan hubungan suami istri..." bathin Angel menggumam kesal.
Angel tersenyum pahit dan mulai tertawa "Ahhh... Kamu ini bisa aja, Ayo duduk" pinta Angel berusaha tegar. Sarah pun mulai duduk berhadapan dengan Angel di ruang tamu kediaman tersebut. Mereka bicara empat mata...
"Ada apa... Bukankah kita sudah bertemu beberapa hari yang lalu. Apakah kamu masih belum puas dan rindu padaku?" tanya Sarah terkekeh.
"Ia... Lagi pula sekarang aku sedang senggang. Dan tak ada teman mengobrol... Apakah kamu tidak keberatan..." ungkap Angel mulai meraih teh yang telah di sediakan para pelayan dan meneguknya pelan.
"Oh begitu... Tapi untungnya ada aku. Karna aku masih memiliki cuti beberapa hari lagi..." Balas Sarah.
"Syukurlah.." Helan napas lega terdengar kala Sarah memberinya ruang.
Sarah mulai menelisik sekelilingnya "Oh ia. Omong-omong... Dengan rumah sebesar ini, apakah kamu tak kesepian kala suamimu pulang terlambat?" Tanya Sarah sedikit penasaran.
Setelah pertanyaan itu terlontar, entah kenapa raut wajah Angel mulai berubah "Ah... Maafkan aku! Sepertinya aku sudah lancang dan membuatmu sedikit sedih..." Sarah sungguh merasa tak nyaman.
"Sarah... Sebenarnya aku menyuruhmu datang kemari karna... Ada hal yang harus kamu ketahui" Jelas Angel sedikit canggung. Angel menatap mata Sarah penuh kegusaran.
"Tentu... Tapi, tentang apa itu?" tanya Sarah.
"Ini tentang kejadian dua hari yang lalu..."
"Apa maksudmu..." komen sarah sudah mulai tak nyaman.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf atas kelakuanku ini. Tapi, yang aku sampaikan adalah hal yang sangat penting untukmu dan karna aku sangat menyayangimu sebagai sahabatku, jadi... Kuharap kamu mau menerimanya..."Jelas Angel panjang lebar hingga membuat Sarah makin tak tenang.
"Sebenarnya... Ada apa? Katakan saja, jangan merasa tak nyaman padaku. Jika itu sebuah saran, maka aku akan mendengarkannya..." Jawab Sarah sungguh risih pada suasaan yang tiba-tiba senyap itu.
"Sarah. Malam itu, setelah para dokter keluar dari kamar pasien. Aku melihatmu melakukan hal yang cukup tabu pada Gabvin..." Ungkapan Angel pada Sarah membuatnya terbelalak dan diam mematung tanpa mengelak.
"Kamu menciumnya beberapa kali, sedangkan Gabvin saat itu sedang tak sadarkan diri. Kenapa kamu lakukan hal itu?" tanya Angel sedikit menekan. Sarah sungguh malu hingga menunduk sedalam bumi. Ia sungguh tak berani menjawab atau menatap Angel yang ada di hadapannya. Wajahnya merah pekat dan keringat dingin di jidaknya mulai bercucuran.
"Aku... Hiks" Sarah mulai bersuara, meski tenggorokannya berat kala menahan kesedihannya atas perbuatan bodohnya itu.
Dengan suara bergetar ia berkata "Aku sangat menyukai Gabvin sejak ia menjadi siswa menangah pertama... Sejak saat itu, aku selalu menyukainya. Tapi, Gabvin selalu menolakku dan enggan memberiku sebuah kesempatan"Jelas Sarah di sela-sela tangisannya. Angel mulai berdiri dan menghampiri Sarah, ia menepuk punggung Sarah lalu memeluknya "Kamu memang sahabatku..." Bisik Angel berusaha menenangkan hati Sarah.
"Maaf jika membuatmu jijik atas kelakuanku... Saat itu, aku sungguh tak bisa menahan batasanku... Dan melakukan kesalahan. Aku sungguh Khilaf" Jelas Sarah dalam rangkulan Angel.
"Tak apa-apa... Perasaan suka tak terbalas memang sangat menyakitkan. Tapi, kita tak perlu merugikan orang yang kita sayang. Toh, cinta itu tak mesti memiliki" Ujarnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat Gabvin menyukaiku?" Tanya Sarah sungguh berharap. Angel terdiam sesaat, ia menjauhkan pelukannya dan manarik Sarah. Mereka saling bertatapan...
"Angel..." Bisik Sarah dengan suara paraunya.
"Sarah, kamu temanku satu-satunya... Aku sangat menyayangimu. Tapi, ada hal yang harus aku sampaikan pada mu..." Ujar Angel seraya merapihkan helayan rambut Sarah yang tergerai.
"Apa itu?" Sarah sungguh penasaran.
"Sebenarnya... Aku tinggal disini tidak lah sendirian. Sebenarnya aku tinggal bersama tunangannya Gabvin..." Jelas Angel sungguh membuat Sarah Syok.
JDERRR!!! Bah di sambar petir, hati Sarah sungguh remuk tak terkira.
"Maafkan aku..." bisiik Angel kaget.
"Tu-nangan Gabvin...?" tanya Sarah lemas. Tangannya bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku, tapi itulah hal yang harus kamu ketahui... Jika tak salah, namanya adalah Elizha..." Meski tak tega, Angel tetap menjelaskan hal yang telah terjadi pada Sarah sepenuhnya.
"Sarah... Maafkan aku karna terlalu optimis menjodohkan kalian. Aku baru tahu jika Gabvin sudah memilih calon istrinya.
"Tidak mungkin" bisik Sarah tak percaya.
"Juga... Dia sedang mengandung..." Tambah Angel. Sarah makin syok dan membelakakan matanya lebar-lebar.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin... Tidak!!" Pekik Sarah menolak kebenaran yang ada.
Sedang di tempat lain...
Gabvin dan Gery saling menatap tajam satu sama lain...
Gabvin masih mengepalkan tangannya membulat, sedang Gery masih terdiam dan di kursi singgah sananya itu belum menjelaskan apapun.
"Apakah kamu ingin minum sesuatu?" tanya Gery.
"Jangan berlebihan . Aku bukanlah tamu mu" Jelas Gabvin .
"Baiklah... Sayang ambilkan aku coffe hitam" Pekik Gery. Dan seketika itu, Elizha muncul lalu meletakan kopi itu di meja Gery. Gabvin terbelalak sedang Elizha hnya bisa menunduk tanpa menoleh ke arahnya.
Apa yang sebenarnya terjadi... Tolong Jelaskan padaku! Bathin Gabvin bersama emosinya.
Bersambung...