
"Tunggu! Jangan lakukan hal bodoh, turunkan pecahan botol itu dari lehermu!" pekik Gery seraya menghampirinya.
"Satu langkah lagi kakimu mendekatiku... Maka aku sungguh akan menggores pembuluh darah di leherku ini!" Bentaknya terus memundur beberapa langkah kala Gery yang keras kepala itu enggan memberikan sebuah keputusan.
Elizha masih bisa bertahan di posisinya saat ini, Gery yang bingung mulai berseru "Rio!! Datanglah kemari..." Ujar Gery.
Rio! Kenapa rasanya aku pernah mendengar nama itu beberapa menit yang lalu... Bathin Elizha menggumam.
Brak! Pintu pun terbuka dan Rio bersama beberapa anak buahnya datang berhamburan ke kamar tersebut.
Setelah Elizha pastikan orang dengan nama lengkap Rio Laksamana itu, Elizha pun tercengang. Begitu pun Rio, Rio terbelalak ketika melihat tetesan darah mulai mengelir dari leher Elizha dan membasahi gaun malamnya yang berwarna merah itu.
"Hentikan! Jangan lakukan hal konyol!" pinta Gery masih membujuknya..." Sedangkan Rio hanya bisa melotot dengan kelakuan yang Elizha perbuat itu.
Rio! Rio... Dia benar benar kak Rio!!! Bathin Elizha begitu senang. Rio adalah anak yang di besarkan oleh mendiang ibu Elizha, saat umurnya sebelas tahun. Rio terlunta-lunta di jalan. Hingga Elizha memintanya untuk merawatnya, Rio di besarkan penuh kasih sayang oleh mendiang ibu Elizha. Namun saat masuk Smp, Ibu Elizha meninggal. Lalu ayahnya pun menikah lagi. Rio di usir tanpa sepengetahuan Elizha. Dan mereka baru bertemu lagi setelah 5 tahun kemudian... Sedangkan selisih umur mereka adalah 3 tahun.
"Rio!! Apa yang kau lakukan!! Cepatlah hentikan dia!!" pinta Gery membentak.
Elizha panik Oh tidak. Jangan-jangan kak Rio sudah tak mengenaliku lagi. Bathin Elizha panik.
"Nona, tolong turunkan benda tajam itu... Anda bisa terluka nanti" Pinta Rio mencoba menghentikannya, Rio menghampiri Elizha perlahan.
"Jika kamu ingin melakukan drama... Silahkan sayat sedikit lehermu, lalu pura-puralah pingsan. Aku pasti akan membantumu" Bisik Rio nyaris tak terdengar.
Elizha tercengang dan bengong beberapa menit Apa maksudnya? Apakah kak Rio masih mengenaliku? Bathin Elizha.
"Rio! Apa yang kau lakukan? Tanya Gery dengan nada membentak, ia makin cemas dan makin marah, Kedatangan Rio untuk membujuk Elizha tidak membatunya sama sekali.
"Cepat hentikan dia sebelum terlambat!!" pinta Gery.
Elizha menatap sinis ke arah Gery dan iapun lekas menggores pelan, namun rupanya darah pun mulai berhambur "Elizha!!" pekik Gery menghampirinya panik. Namun Rio yang dekat dengan Elizha, lebih dulu menangkapnya dan lekas membawanya keluar. Sedangkan tangannya yang terkulai lemah itu pun mulai menjatuhkan pecahan botol yang saat itu berlumuran darah.
"Bawa dia ke rumah sakit sekarang!" pekik Gery membentak seraya ketar ketir berlarian.
Mereka pun mulai pergi dan meninggalkan kamar hotel 110 itu dengan penuh kegetiran. Sudah dua kali pertemuan Elizha dan Gery, kamar itu menjadi saksi malam kelaman di anata keduanya.
"Rio, apakah aku akan mati?" Bisik Elizha di dalam dekapannya.
"Aku akan pastikan kamu baik-baik saja" Rio berlari sangat cepat hingga Gery saja tertinggal di belakang.
"Aku sangat ngantuk, aku ingin tidur..." Jelas Elizha.
"Tetaplah menatapku! Jika kamu tidur... Akan sangat bebahaya..." Jelas Rio panik.
"Rio, apakah kamu masih sama seperti lima tahun yang lalu? Apakah aku masih bisa memanggilmu kakak?" Tanya Elizha tetap terjaga.
"Kau boleh panggil aku apapun semaumu. Tapi, satuhal yang ku minta darimu. Bertahanlah dan tetap lah bersamaku!" pintanya.
Eliha tersenyum "Jika aku mati nanti. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Gabvin dan Adiknya. Entah aku plin plan atau murahan, yang jelas... Saat aku ada di sisi Gabvin, semua masalahku seakan sirna. Jadi, tolong sampaikan padanya permohonan maafku. Bilang padanya maaf karna selalu membuatnya khawatir dan maaf karna selalu membuat harinya sibuk untuk mengurusiku. Aku sungguh sangat beruntung karna sudah mengenalnya" Jelasnya panjang lebar.
Sampailah di lantai bawah dan Rio pun mulai masuk mobilnya di dampingi dua anak buahnya. Sedang Gery masih ada di belakang Rio.
"Jalan sekarang ke arah rumah sakit terdekat!" pekiknya. Mobil pun mulai melaju ke arah tersebut.
Bersambung...