
***
Elizha terbelalak tak kala seseorang berdiri di depannya dan menyelamatkannya.
Siapa dia?!" Bathin Elizha.
"Sarah. Apa yang kau lakukan..." Pekik pria itu dengan notasi cukup tinggi. Nampaknya ia marah besar.
"Tu... tuan Gabvin. Maafkan saya... tangan saya licin dan saya menjatuhkan kopi itu ke wanita itu..."Lenguh sarah penuh ke dustaan. Gabvin menggelengkan kepalanya seraya menatap sarah marah, mungkin gabvin pura-pura tegar... padahal ia kesakitan.
Tuan... gabvin. Bathin Elizha.
"Pergilah..." Ucap Gabvin. Sarah ketar ketir dan langsung hilang dari pandangan.
Gabvin menoleh dan mulai bertanya "Kamu baik-baik saja Zha?" Tanya Gabvin tampak cemas. Elizha yang masih kaget terus menatap Gabvin seraya mengangguk.
Gabvin lekas memegang tangan Elizha dan menyeretnya ke area terang. Elizha tak bicara dan ia ikut ke mana Gabvin menariknya.
Ternyata, sedari tadi Gabvin tak tahu... Bahwa Gery terus memperhatikan kedekatan mereka. Entah apa yang Gery pikirkan, hingga ia tampak mengepalkan tangannya bulat-bulat. Gery tampak marah saat Elizha di boyong ke luar kantin oleh Gabvin.
Akhirnya karna marah dan nggak bisa apa-apa Gery lekas keluar dari ruangan itu dengan kan kakinya lebar-lebar menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangan Gery barulah memudalkan segala amarahnya Buak! Sebuah pukulan keras mulai mendarat di meje kerja yang sehari-hari menemani pria itu.
Sial! Ada apa denganku! Kenapa aku musti marah pada Gabvin. Seharusnya aku senang... karna Gabvin lah yang menolong Elizha dari kecelakaan yang hampir saja menimpanya. Uuugh! Gumam hati Gery. Nampaknya amarahnya masih mendidih... dan juga terlihat jelas saat ini... jika Gery mulai menyukai Elizha.
Gery yang uring-uringan itu, Lekas melangkah ke belakang meja yang ia pukul tadi dan mulai duduk di kursi kerjanya. Bruk! ia bahkan menjatuhkan tubuhnya kasar dengan seganap amarah yang ada dalam hatinya.
"Sial! Sakit sekali..." Bisiknya menatap pergelangan tangannya yang terlihat memar karna menggebrak meja tadi.
"Uuughhh.. apa yang ku pikirkan. Kenapa rasa penasaran dalam hatiku membuatku sangat gila. Aku ingin sekali memergoki Elizha dan Gabvin... kira-kira sedang apa mereka" Gumam Bathin Gabvin terus meracau tanpa henti.
Akhirnya, lama memutar otak... Gery pun lekas berdiri dan hampir melangkah kan kakinya menuju pintu keluar. Namun siapa sangka, Pintu terbuka dan seseorang mulai masuk. Betapa kagetnya Gery saat ini, ternyata yang datang ke ruangannya itu adalah Angel bersama papahnya. Seketika Gery tak bisa berkutif, Hingga pikiran tentang Gabvin dan Elizha pun enyah seketika itu. Gery hanya bisa mematung di hadapan keduanya dengan sedikit keringat dingin bercucuran di jidak pria tampan itu.
"Lho. Sayang... kamu mau ke mana?" Tanya Angel terlihat heran pada pria yang ingin sekali ia temui itu. Gery lekas menjawab pertanyaan wanita yang berstatus menjadi tunangannya itu.
"Emmm... ini, aku tadi pesen kopi pada sarah... tapi udah satu jam belum juga datang sayang. Jadi aku mau..." Gery belum selesai ngomong papa Angel mulai menyela "Nak Gery. Papa mau bicara... soal pernikahan kalian" Jelas papa Angel.
Gery yang kaget langsung tersedak "Uhuk! Uhuk!" Angel panik dan lekas menangkap kekasihnya itu karna merasa khawatir "Sayang... kamu baik-baik saja?" Tanya Angel seraya menatap nanar kekasihnya yang tampak pucat itu.
"Papa. Kita bicaranya sambil duduk aja..." Pinta Angel.
"Ya. Biar enak... apa lagi, ini bicara tentang pernikahan kalian" Komen sang papa Angel yang amat bahagia ketika membahas tentang pernikahan Angel dan Gery.
"Ayo sayang..." Angel segera menempelkan tubuh moleknya ke Gery yang jelas-jelas sudah teracuni oleh Elizha.
"Ya. silahkan duduk pa" Gery mempersilahkan tuan besar perusahaan G.O gruop itu.
Sial. Mereka datang di saat aku sedang tak ingin bertemu dengan mereka. Bathin Gery.
"Nak Gery. Papa lihat bulan ini produk perusahaan kita semakin laku dan laris di pasaran. Karna melihat perkembangan perusahaan yang kian hari kian pesat. Papa ingin sekali mempercepat acara pernikahan kalian... Papa ingin minggu ini. Kalian menikah" jelas papa Angel.
"Tapi pa... bukankah kata papa Angel harus kuliah di Newyork dulu. Angel aja belum memutuskan... yakan sayang?" tanya Gery sebagai penolekan ringan.
"Nggak apa-apa nggak kuliah di Newyork juga asalkan sama kamu. Aku mau kok" jawab Angel semakin membuat Gery bingung.
Sial... maksud hati ingin meraup untung dari mereka. Kenapa aku sendiri malah terjebak... apa lagi sejak awal aku emang nggak mencintai Angel. Bathin Gery menggumam.
"Nak Gery! Apa lagi yang kalian tunggu... papa ingin segera punya cucuk lho" Jelas Papa Angel.
Gimana nih. Padahal aku juga udah nge hamilin Elizha.... dia juga minta di nikahin. Jika aku milih Elizha... perusahan yang sedari dulu aku impikan ini takan bisa aku kuasai. Jika aku milih Angel... udah jelas aku nggak akan bahagia. Bathin Gery menggumam.
"Sayang. Ayo jawab... papa lagi cerita tuh. Papa minta pendapatmu... kita nikah minggu depan ya..." Sela Angel.
Gery pun mulai memutuskan "Ya pah. Terserah papa aja... yang jelas Gery ikut papa aja. Soalnya Gery kan nggak punya orang tua... Jadi apa yang baik bagi papa baik juga bagi aku" Imbuh Gery tegas. Batapa bahagia nya Angel, ia lekas memeluk Gery erat erta seraya menciumi Gery karna bahagia.
"Sayang makasih ya. Aku janji aku bakalan jadi istri terbaik buat kamu. Aku nggaka akan nyia-nyiain pilihan kamu ini... Jadi pingin cepat-cepat hari H deh" Imbuh Angel bahagia.
"Ya sayang. Aku juga..." Balas Gery dengan nanar datar.
Lalu bagai mana dengan Elizha. Bathin Gery bimbang.
Yah... Gery udah putusin mau nikahi Angel. Kasian dong Elizha. Yuk simak episode berikutnya.
Bersambung...