ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Harus terima, paksaan?!


***


Sesuai perintah sang Bos. Gabvin mulai membujuk Elizha untuk mau mengikuti permintaan bosnya tersebut.


Klinik...


"Udah baikan kan?" tanya Elizha.


"Ya. Cuman memar, kasih salep anti luka bakar aja cukup kata dokter" Balas Gabvin simpel.


"Ya udah. Aku langsung pulang aja..." Celetuk Elizha. Tapi, Gabvin sudah menjelaskan panjang lebar terkait titah tuannya yang menyuruh Elizha untuk datang ke kediaman bosnya malam ini.


"Lho kok pulang?" Cengang Gabvin.


"Ya lah. Kan kamu dah baikan, jadi tugasku bereskan?" Tanya Elizha mendelik ke Gabvin.


"Tapi bos menyuruh kita untuk datang ke masionnya malam ini kan? Masa aku musti dateng sendiri..." lenguh Gabvin memelas.


"Bete ah... Aku lagi males kotak langsung sama cowok itu. Lagian dan lelah banget... soalnya hari ini banyak banget hal yang udah terjadi dan lagi... tadi siang dia kemana di telpon juga nggak di angakat" Jelas Eliz seraya memutar langkah hingga mengabaikan Gabvin. Gabvin lekas bangun dari duduknya dan mulai menelpon bosnya untuk bicara langsung dengan Elizha.


"Apaan sih! Gak jelas banget sih kamu Vin" Bentak Elizha menghempaskan tangannya.


"Tunggulah. Nih ngomong sendiri sama bos ku... Bilang apa maumu sebenarnya" pinta Gabvin menyerahkan ponsel tersebut.


"Dah ah. Kan aku bilang lagi males kontak sama cowok itu. Dah malem juga..." Gumam Elizha malas.


"Jangan gitu dong. Nih kamu yang ngomong..." Gabvin telah tersambung dengan bosnya dan memberikan ponsel itu langsung ke tangan Elizha.


"Ikh! Nyebelin..." Gumam Elizha. Akhirnya mau nggak mau, Elizha musti ngangkat tuh ponsel yang dah ada di tangannya.


"Hallo!" Sapa Elizha kecut.


"Hallo. Mana Gabvin..." jawab Gery di balik ponsel tersebut.


"Apaam sih nggak jelas banget. Gabvin bilang kamu mau ngomong ke aku. Trus sekarang kamu bilang mau ngomong ke Gabvin... Geje banget deh" Celetuk Elizha super kecut.


"Hemmm" Degus Gery kesal.


"Ku kasih ponselnya ke Gabvin sekarang nih" Jutek Elizha sedikit kesal dan ada rasa kecewa di hatinya entah apa itu.


"Nggak! Maksudku jangan..." Ricuh Gery salh tingkah.


"Lalu mau apa? mau ngomongin apa?" Tanya Elizha nggak sopan.


"Malam ini datang saja ke masionku. Ada hal yang harus aku sampaikan... ini tentang rencana pernikahan kita" Ungkap Gery. Mendengar ungkapan pernikahan, yang ada dalam hati Elizha adalah sebuah kejutan.


"Pe-pernikahan?" Tanya Elizha terbata-batah.


"Ya. Datanglah malam ini. Biarkan Gabvin mengantarkanmu kemari" Jelas Gery. Jelas Saja raut wajah Elizha jadi semberingah begitu.


"Oke. Aku dateng sekarang" Elizha langsung saja menutup ponselnya dan mulai menyerahkan ponsel itu ke tangan Gabvin.


"Apa kata bos ku?" tanya Gabvin.


"Dia menyuruhku dateng malam ini" Balas Elizh dengan pipinya yang merona merah.


"Hmmm... ada yang kasmaran nih" Gurau Gabvin terkekeh.


"Apaan sih. Nggak kok..." Elak Elizha membuang wajahnya.


"Huh. Naif... padahal senang kan... dasar wanita di rayu sedikit ada, langsung terbuay..." Komen Gabvin mengolok-olok Elizha.


"Apaan sih. Bukan urusanmu ini kok... Dah ah, anter aku ke masionnya sekarang... ada hal yang perlu kami selesaikan" Jelas Elizha nggak sabaran.


"Wah-wah kabar baik dong. Syukur deh... kalau kamu yang minta kan aku nggak musti repot ngebujuk" Gurau Gabvin masih menggoda Elizha.


"Dah ah. Jangan banyak omong... anterin aja deh... biar cepet kelar nih urusan" Pinta Elizha melangkah lebar menuju daun pintu dan hendak keluar dari ruangan tunggu klinik tersebut.


"Ya elah... Nggak ngerti deh sama jalan pikiran cewek jaman Now. Tadi Nggak, sekarang bilang Ya. Plin plan amat sih loe mbak mbak..." Gemuruh batin Gabvin yang merasa sangat heran pada wanita di depannya itu. Ia pun terpaksa harus mengikuti langkah Elizha yang terlihat amat sangat bersemangat itu.


Gabvin dan Elizha lekas memasuki mobil dan mereka pun langsung tancap gas menuju masion Gery.


***


Beberapa saat kemudian...


Elizha turun dari mobil Gebvin, saat ia menyentuh aspal di depan kediaman mewah itu... ia terkesima, sebeb kedatangannya di sambut beberapa pelayan yang berjejer menunduk ke arah Elizha. Pakaian yang mereka kenakan amat rapi dan senada perpaduan hitam dan putih. Apa lagi, para pelayan itu mengikat rambut mereka begitu simpel hingga terkesan menarik perhatian.


"Hey! Ada apa" tegur Gabvin.


Elizha terkejut "Ah. Nggak... ini, kok aku di sambut kek gini sih. Kan kaget..." Gumam Elizha.


"Jangan banyak bicara... langsung masuk aja" Jelas Gabvin.


"Silahkan masuk nona. Tuan sudah menunggu di dalam..." Pinta Kepala pelayan ke pada Elizha.


"Noh. Kan... goh masuk..." Titah Gabvin. Elizha menoleh ke arah Gabvin "Loh. Kamu nggak ikut masuk?" Tanya Elizha.


"Nanti. Kalau bos nelpon, aku akan masuk... diakan belum nelpon lagi" Jelas Gabvin.


"Aman lah. Masa bosku mau apa-apain kamu di rumahnya sendiri... dah jalan sana. Percaya sama aku... bosku orangnya baik" Jelas Ganvin.


Akhirnya dengan rasa takut dan bingung Elizha lekas melangkah sesuai arahan sang kepala pelayan yang berjenis kelamin laki-laki itu.


"Sial. Beneran nih aku mau di nikahin. Jangan sampai deh aku di apa-apain... atau malah aku mau di mampusin nih. Ah nggak-nggak! Kalau dia macam-macam... aku tinggal ambil pisau dan potong habis tuh burung. Biar tau rasa dia..." Gumam Bathin Elizha. Seraya meracau dalam hatinya, keringat dingin di tubuh elizha mulai berhamburan dan terlihat jelas saat ini bahwa Elizha hampir mati kutu.


"Nona... sebelah sini" lama melangkah akhirnya, Elizha sampai di tempat tujuan. Sebuah ruangan aneh dengan pintu tinggi yang cukup elegant.


"Sebentar... saya akan memanggil tuan saya..." Jelas sang kepala pelayan. Elizha hanya bisa mengangguk.


"Tok! Tok!" Pintu di ketuk dua kali dan pintu pun mulai terbuka secara otomatis.


Gila nih rumah... Bokap gue orang kaya, tapi anehnya nggal setajir pria ini. Ampe pintu aja ada signalnya gini. Keren" Gumam bathin Elizha.


Pintu terbuka, kepala pelayan mulai mempersilahkan Elizha untuk masuk "Silahkan nona. Tuan telah mempersilahkan anda untuk masuk" Jelas pelayan itu. Elizha mengangguk dan melangkah perlahan menuju ruangan aneh tersebut.


Saat kaki Elizha masuk lebih dalam ke dalam ruangan itu. Pintu pun mulai tertutup secara otomatis kembali hingga membuatnya terkejut.


Dug!Dug!


Jantung Elizha sudah menggebu tak karuan, pikiran tentang sebuah pembunuhan atau penganiayaan telah terlukis dalam imajinasinya. Apa lagi, dari awal... Elizha sama sekali tak kenal sifat asli pria itu. Dalam ruangan itu terasa dingin, dan sedikit agak gelap. Dalam penglihatan Elizha saat ini, ia malah menelisik sebuah meja kerja dan sebuah kursi yang telah diduduki seseorang. Namun seseorang itu terduduk dengan cara membalikan tubuhnya, hingga semua itu makin membuat Elizha amat sangat tegang.


"Akhirnya kamu datang juga..." seseorang mulai membalikan kursinya. Ya itu adalah Gery.


"Ka-kamu... mau apa sebenarnya menyuruhku datang" Tanya Elizha mengerutkan alisnya.


Gery terkekeh "Ini kah cara mu menyambut seseorang?" Tanya Gery.


"Ini bukan urusanmu... Sekarang, jawab yang jelas. Apa mau mu memanggilku kemari?" tanya Elizha tegang.


"Heh. Kasar sekali..." Pekik Gery. Gery lekas berdiri dari duduknya, lalu mengeluarkan sebuah berkas yang agak sedikit bertumpuk.


"Mau apa dia" bathin Elizha menggumam.


"Kenapa berdiri di sana terus. Sini... duduk di depanku. Lalu bicara..." pinta Gery.


"Nggak apa-apa nih. Oh tuhan... aku takut dia menikamku jika terlalu dekat. Apa lagi, selama ini aku nuntut buat di nikahin sama pria cabul itu" gumam Elizha dalam hati.


"Apa ucapanku kurang keras, atau kamu emang ngak paham sama kalimat ku tadi?" Tanya Gery.


"Dari pada di pukul, mending turutin aja deh" Gumam Bathin Elizha.


Elizha menghempiri Gery dan duduk di depannya "Mau apa?" Tanya Elizha kasar.


"Aku sih belum yakin kalau anak dalam kandunganmu itu adalah anakku. Jadi, sebagai jaminan... kamu harus mau menandatangani berkas-berkas ini sebagai kesepakatan kita sebelum menikahimu secara sah dan di akui negara" Jelas Gery.


Sialan. Mau apa sebenarnya cowok brengsek ini. Kenapa ngomongnya kayak gitu... Bathin Elizha.


Bruk!


Gery menyerahkan berkas tersebut ke arah Elizha untuk di bacanya "Apaan nih. Apa ini adalah sebuah kontrak?" tanya Elizha menatap kasar Gery.


"Yah. Bisa di bilang seperti itu..." Santai dan sedikit merendahkan dalam inotasi yang di lontarkannya.


"He he he... aku nggak mau..." Kekeh Elizha tersenyum pahit.


"Heh. Kau pikir aku akan terima jawabanmu ini?" tanya Gery menekan.


"Kayaknya nggak ada yang perlu kita bahas. Aku mau pulang aja... nggak jelas juga bicara dengan pria macam kamu!" Bentak Elizha mulai berdiri.


"Aku adalah tuan di rumah ini... Jika aku tak berkehandak... siapapun tak akan bisa keluar dari rumahku" Jelas Gery mulai berdiri.


"Kamu memang berengsek!" Teriak Elizha memaki Gery.


"Teriaklah sesukamu. Karna pilihamu satu-satunya adalah harus menandatangani berkas ini secepatnya" jelas Gery. Elizha enggan melakukan itu.


"Jika jawabanku tidak? apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Elizha menentang.


"Jika tidak. Maka... Ctik!" Suara jentikan jari di sela-sela argumen itu. Lalu setelah suara jentikan itu berbunyi, tiga pria berpakaian serba putih pun mulai bermunculan di ruangan itu.


"Kau! Si-siapa mereka?" Tanya Elizha ketakutan.


"Mereka adalah para dokter aborsi... jika kamu mau keluar dari rumahku tanpa sebuah kepastian. Maka... merekalah yang akan mengeluarkan bayimu dari perut itu" jelas Gery begitu mudahnya.


"Kau!" Teriak Elizha merinding.


"Pilihlah salah satu... atau kau akan kehilangan ke duanya" Jelas Gery.


Elizha membelalakan matanya dan terasa sesak seketika itu *Sial. Kenapa semuanya jadi begini... bahkan ia mambuatku terjebak seperti ini. Bathin Elizha.


Oh tuhan... tolong aku*. Gluk! Elizha menelan salivanya sendiri.


Bersambung...


Gery... jangan jahatin Elizha ya? Plisss...


Lanjut Episode berikutnya ya. Makasih sama yang udah like ke novel receh autor ini