ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Berakhir 2


Epilog ....


BYUUURRR!!! Gabvin menjatuhkan Elizha ke dalam Bathtub yang terisi penuh oleh air, hingga Elizha tenggelam ke dalam bathtub tersebut.


"Maafkan aku Elizha... Tapi kamu harus sadar! Aku tak mau membuatmu malah membenciku" Imbuh Gabvin.. Tubuh Gabvin mulai lemas hingga ia pun menyender ke dinding kamar mandi tersebut untuk sedikit menenangkan diri. Namun, Elizha malah muncul lagi ke permukaan dan membuat Gabvin kaget hingga terbelalak. Tubuh Elizha malah membuat Gabvin makin tergoda, seluruh lekuk tubuh Elizha malah tergambar jelas saat ia muncul terengah-engah seperti kesusahan bernapas. Hingga Gabvin pun mulai menutup seluruh matanya dengan ke sepuluh jarinya.


"Astaga... Bagai mana bisa aku terjebak antara ke adaan yang cukup menakutkan ini. Tuhan, aku akan bertanggung jawab atas mataku yang telah berjina ini!" Gumam Gabvin meracau seraya mengumpat.


"Hosh! Hosh! Hosh!" Suara napas Elizha tersenggal-senggal.


"Zha... Kamu dah sadar?" Tanya Gabvin mulai mendekat, Gabvin menurunkan tangannya yang sedari tadi menutup wajahnya itu. Elizha masih menunduk dan belum bergeming, perlahan Elizha mulai meyibat rambutnya yang menjuntai ke arah wajahnya yang tak beraturan itu karna basah. Elizha menyibat rambutnya perlahan ke arah atas kepalanya, hingga wajahnya mulai terlihat jelas tanpa halangan.


"Zha... kamu dengar aku kan?" Tanya Gabvin mengulang pertanyaannya kembali, karna tak ada respon dari Elizha Gabvin pun mulai melangkah pelan untuk menghampiri Elizha.


Wajah Elizha mulai menatap kosong lurus ke depan, Gabvin pun berjongkok dan menatapnya secara intrents "Zha... Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Gabvin mengulang kembali. Tapi Elizha malah berkata "Dingin..." Gumamnya masih menunduk.


"Akan aku ambilkan handuk" Ujar Gabvin mendonggakan wajahnya ke area katstok. Namun, Elizha malah mencubit pakaiannya dan mulai menyimak keadaan nya yang cukup memalukan "Kyaaaaa!! Apa yang terjadi!!" Teriak Elizha membisingkan telinga Gabvin. Hingga Gabvin pun terjungkal ke belakang karna kaget "Zha... Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Gabvin seraya memegangi dada kirinya yang berdegup kencang tanpa henti.


"A-apa-apaan ini" Gumamnya mulai memeluk lututnya seakan tak biarkan siapapun menatap pakaian tipis transparan yang ia kenakan.


"Apakah kamu sudah sadar?" Tanya Gabvin.


"Apa yang kamu lihat! Ini sungguh memalukan!" Teriak Elizha mengumpatkan wajahnya di balik tumpukan sikutnya "Aku tak lihat apapun... Biar aku tutupi dengan handuk" Ujar Gabvin mulai berdiri dan meraih handuk putih yang menggantung di dinding kamar tersebut.


Elizha mulai bersuara "Kamu... Kenapa kamu hanya diam... Kenapa tak menghentikanku yang bertindak begitu memalukan... Hiks... Setidaknya, biarkan saja aku terikat di sana hingga aku merasa lebih baik. Aku, aku sangat memalukan!! Hiks... Hikss.. Aku malu.... Hiks, setidaknya... jauhi saja aku. Aku sungguh malu... Huhuhuhu... Hiks, bagai mana caraku menghadapimu kelak. Aku sungguh malu pada tindakanku yang sangat buruk... hiks huhuhu..." Tangisan tak berdasar itu pecah di hadapan Gabvin.


Gabvin masih belum bergeming, Malam itu... Elizha benar-benar memberi dua tanda merah, Yang pertama di leher sebelah kirinya berupa tanda kecupan hak milik. Dan yang ke dua tato merah alami bergambar kelima jari Elizha di pipi sebelah kanannya. Malam itu, elizha sungguh membuat Gabvin benar-benar dilema.


Elizha masih menangis di Bathtub tersebut, karna Gabvin tak ingin membuat Elizha makin tersiksa, ia pun mulai berdiri dan menjauhi Elizha. Ia melangkah menjauhinya dan mulai membuka slot kunci kamar mandi tersebut. Ia pun mulai keluar dari kamar mandi dan melangkah di sertai tatapan kosong.


Langkahnya mulai terhenti di pintu keluar kamar tersebut. Di lihatnya, beberapa anak buah Rio masih berdiri dan menyekap tubuh Tuan Arya "Kalian, pergilah bawa pria tua menjijikan ini ke tempat di mana Rio berada. Jika kalian beruntung, pria ini akan membawa kalian keluar dengan selamat" Jelas Gabvin. Para pengawal mulai bertanya "Lalu... Apakah anda akan ikut dengan kami?" Tanya salah satu pengawal itu.


"Ya. Aku akan menyusul secepat mungkin" Jelas Gabvin.


"Baiklah tuan..." Mereka mulai berhamburan pergi menuju arah Rio berada.


Gabvin mulai berdiri tegak dan ia pun oleng ke dinding, Ia menyandar ke dinding itu seraya memegangi pipinya yang merah pekat.


Auuu... Adudududuuduhhh... Mimpi apa aku semalam, malah dapat tamparan paling menyakitkan seumur hidupku. Aku yakin pipiku akan bengkak jika tak segera di kompres. Bagai mana ini, bagai mana jika saat jumpa pers pipiku sebesar bola tenis... Aku bisa benar benar malu... Tangis Gabvin memegangi pipinya yang terasa nyud nyudan.


Lalu bagai mana keadaan Rio yang sedang baku hantam ketika melawan Cole. Dia belum tahu jika Elizha sungguh baik-baik saja dan perkelahiannya itu akan berakhir tabu. Namun meski Elizha baik-baik saja, bathin Elizha pasti terasa tak nyaman dan sesak karna rasa malunya yang dalam pada Gabvin.


Bersambung...