
***
Beberapa hari kemudian...
"Tuan... Anda mendapatkan kabar buruk" Ujar Sarah. Sarah kembali menjadi asisten Gery setelah Elizha kabur dan Rio pun ikut lenyap bersamanya.
"Sial. Apa lagi sekarang!!!" Bentak Gery. Ia sangat kesal, sebab perusahaan yang baru ia pimpin itu mulai mengalami pergeseran "Tuan besar masuk rumah sakit dan nona Angel kembali mengalami pendarahan..." Jelas Sarah. Gery makin muak dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya kali ini.
"Ugghh!! Sial, aku akan berangkat sekarang..." Ia mulai bergegas ke arah rumah sakit yang telah di tuju Sarah.
Dalam perjalanan menuju ke arah rumah sakit... Gery termenung memikirkan nasib perusahaan nya kedepannya.Hal yang menjadi obsesinya kini mulai mengalami kemunduran setelah perusahaan Gabvin menggegeser posisinya.
Sungguh sial, rencanaku sungguh gagal total. Tak ada hal yang aku dapatkan sekarang. Aku tak punya hal lain yang aku banggakan lagi. Uang ku pasti akan habis oleh biaya perawatan ayah angkatku. Lalu kanker servic yang di miliki Angel sangat membebaniku. Apakah aku harus menjual seluruh sahamku di perusahaan Itu?" Bathin Gery menggumam.
Meski ia hendak menjenguk sang ayah angkat, tapi entah kenapa ia memilih membiarkan ayah angkatnya mati "Nak, apa yang terjadi pada perusahaan papa?" tanya Sang papa dengan napas tersenggal.
"Aku akan berusaha memperbaikinya pah. Jangan khawatir" jelas Gery berusaha meyakinkan sang ayah angkat.
"Papa sangat berharap, kamu bisa bahagia bersama Angel. Tapi, Angel selalu mengeluh pada papa bahwa ia sangat kesepian" Jelas sang papa dengan suara napas yang tersenggal.
"Itu karna aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Jadi aku tak punya waktu mengurusi istriku..." jawab Gery.
"Jangan terlalu sibuk... Tolong cintai dan sayangi Angel. Papa tak punya banyak waktu sekarang, papa hanya meminta tolong pada mu nak. Tolong jaga anak papa satu-satunya itu, Angel berhak bahagia... Tolong bahagiakan dia..." Pinta Papa Angel. Setelah bicara panjang lebar, akhirnya papa Angel mengalami gagal jantung dan beberapa suster bersama dokter mulai memeriksa papa Angel "Tuan silahkan keluar... Kami harus memeriksa pasien!" imbuh dokter terlihat panik. Gery pun mulai menjauh seraya menyungingkan sebelah bibirnya seakaan puas.
"Apa yang terjadi pada ayahku? Kenapa kamu malah tersenyum?" tanya Angel tiba-tiba ada di samping Gery. Gery cukup kaget dan mulai menoleh 'Ah. Kenapa kamu kemari? Bukankah harusnya kamu ada di ruanganmu?" tanya Gery sedikit menekan nada bicaranya.
"Apa yang terjadi di dalam sana!!! Kamu belum menjawab pertanyaanku!!" Bentak Angel menepuk nepuk dada Gery.
"Diam lah!! Ayahmu sedang bergelut dengan maut!!" Bentak Gery seraya meraih tangan Angel dan meremasnya "Aahh sakit... Lepaskan..." Ringisnya. Gery yang marah mulai menghempaskan tangan Angel dengan cukup kasar hingga Angel terpelanting.
BRUKKK!! Kepala Angel menabrak sikut kursi dan Angelpun mulai jatuh pingsan "Sial! Apa lagi sekarang, dia berusaha membuat drama!!" Bentaknya. Gery pun mulai meraih tubuh Angel dan menggendongnya dengan sangat marah. Padahal selang infus itu sangatlah belarti bagi Angel. Tapi, Gery malah memutusnya karna terlalu merepotkan jika menggendong Angel dengan selang tersebut. Gerry lekas menidurkan Angel kembali dan kembali melihat sang ayah angkatnya.
***
Beberapa jam menunggu, akhirnya dokterpun datang "Apakah anda kluarga pasien?" Tanya sang dokter yang barus saja melepas sarung tangan medisnya.
"Ya. Saya adalah anaknya... Bagai mana perkembangannya dok. Apakah papa saya sudah melewati masa kritsinya?" Tanya Gery berharap.
Tapi, dokter malah menundukan netranya "Maafkan kami. Tapi, kami sudah berusaha dengan sangat keras. Mungkin inilah jalan terbaik bagi mendiang... Silahkan anda bisa masuk dan mengucapkan salam perpisahan" jelas sang dokter.
"A-apa... Papa?" Tanya Gery sedikit merubah air wajahnya.
Gery sangat bahagia meski ia telah kehilangan. Akhirnya kabar duka itu tersiar kemana-mana hingga banyak sekali palayat yang datang ke kediamaan Pranata Winata dengan membawa bunga untuk mendiang. Sedangkan Angel tak tahu jika ayahnya telah tiada dan di semayamkan oleh suaminya di komplek pemakaman umum daerah tersebut.
Gabvin beserta ayah juga Kelvin turut datang ke pemakaman tersebut "Ger... Maaf jika aku pergi tanpa pamit. Tapi, aku sudah berpikir bulat sekarang. Aku memilih hidup bersama kluargaku sekarang..." Jelas Gabvin.
Gery menatap dengan pandangan dingin "Kenapa? Itu bukanlah urusanku..." balasnya sinis dan sangat menyinggung Gabvin.
"Kamu yang tabah ya... Lagipula, kita semua juga pasti akan mengalami hal yang sama... Kita semua pasti akan mati kelak" ujar Gabvin memepuk pundak Gery. Namun Gery menepisnya kasar dan mulai menepukki pakiaan yang baru saja di sentuh Gabvin. Hingga ayah Gabvin cukup merasa tak senang. Dan Elizha pun datang bersama Rio ke acara pemakaman tersebut "Kau!" Gery terpekik dan pandangannya teralihkan sekarang "Aku tak akan meminta maaf. Aku datang kemari hanya untuk bersilaturahmi... Jadi, tolong jangan salah paham" Ujar Elizha membawa sebingkai bunga dan meletakannya di makam ayah angkat Gery.
"Semoga kamu bisa sabar dan tabah atas kehilangan orang tuamu ini... Aku pamit" Imbuh Elizha.
"Semoga mendiang dalam lindungan yang kuasa... Dan di terima amalannya..." Rio pun ikut mendoakan mendiang.
Elizha dan Rio pun mulai memutar langkah dan pamit "Tunggu!' Pekik Gery meraih tangan Elizha. Elizha menoleh "Lepaskan..." Pintanya. Kelakuan Gery kali ini sungguh sangat terbuka hingga Sarah dan para stap pelayat lain mulai melihat keintiman yang terjadi itu.
"Kenapa kamu pergi tanpa pamit! Bahkan aku belum memutuskan apapun!" Jelas Gery sedikit marah. Sedangkan Elizha saat itu sungguh tak punya muka. Gery berusaha memermalukannya di muka umum.
"Lepaskan dia!" pekik Gabvin menghadang Gery. Gery menoleh ke arah Gabvin "Ini bukan urusanmu!" Pekiknya.
Gabvin marah dan mulai menepis tangan Gery yang melekat erat di sikut Elizha. Papa Gery bersama Kelvin sedikit kercengang dan tak paham "Ini adalah tempat umum... Pikirkan perasaan Elizha!" Bentak Gabvin menyingkirkan tangan Gery.
"Kau!! Jangan ikut campur!" pekik Gery seraya melayangkan sebogem tinju ke arah Gabvin. Namun Rio pun ada di sana, Rio menghadang tinju Gery dengan telapak tangannya PAAKKK!! Cukup keras tinju itu hingga tangan Rio sedikit kebas.
Karna Gabvin malu, Ia pun mulai membopong Elizha menjauhi makam tersebut. Gabvin berjalan cepat untuk menghindari Gery "Kembali!!! Jangan bawa dia pergi!!" Teriak Gery sedikit menggila, Gery tak bisa lakukan apapun sebab Rio terus saja menghadang langkahnya.
"Anda sebaiknya diam di sini dan sapa para pelayat itu" jelas Rio. Sedangkan Ayah Gabvin dan Kelvin tercengang kala melihat kedekatan Gabvin dan Elizha yang telah pergi jauh dari pemakaman.
"Vin. Siapa wanita yang bersama kakakmu itu?" tanya Ayah Gabvin.
Kelvin menjawabnya dengan sangat malas "Itu... Dia adalah kekasih kakakku..." Jelas Kelvin lemas.
"Oh. Jadi dia ya..." Ayah Gabvin terkekeh.
Sedangkan Rio dan Gery sangat sibuk... Rio sangat berusaha menjaga Gery agar tak kabur dan menyusul langkah Gabvin dan adiknya.
"Huuh... Sial!" bentak Gery. Sarah ada di sana dan merekam adegan jelas intim Gery kala kontak pisik dengan Elizha.
Sudah ku duga... Elizha punya hubungan gelap dengan tuan prsedir... Angel harus tahu ini... Bathin Sarah menggumam...
Bersambung...