
"Dokter! Ada bayi lain yang hendak keluar!!" Pekik Sang suster begitu panik kala kepala bayi siap keluar dari jalan lahir wanita hamil itu.
"Ada bayi lain?" Tanya sang suster. Ia lekas menaruh satu bayi Elizha di sebuah inkubator khusus bayi frematur. Sisanya para suster lekas memasang alat pernapasan juga alat detektor jantung yang di tempelkan di dada sang bayi.
Dokter lekas mengambil alih dan satu bayi lainnya pun selamat "Syukurlah. Tertolong tanpa harus di tekan. Kamu beruntung nyonya" Jelas sang suster.
Elizha dan Gabvin terbelalak tak percaya "Kamu melahirkan bayi kembar sayang?" Tanya Gabvin sedikit tak percaya. Elizha menatap Gabvin dengan tatapan haru, satu tetes air mata Elizha jatuh dan membuat Gabvin tersentak "Kamu hebat. Jangan menangis... Aku akan menyayangi mereka..." Ucap Gabvin menghapus tetesan basah itu.
"Nona... Selamat anda melahirkan bayi laki-laki dan perempuan sekaligus" Jelas sang dokter.
"Syukurlah..." Elizha sungguh beruntung, ia melahirkan dengan terus di dampingin Gabvin. Meski anak yang ia lahirkan bukanlah anak Gabvin, tapi Gabvin senantiasa menyuport Elizha apapun yang terjadi.
"Bayi yang pertama lahir beratnya lebih kecil dari anak kedua, yakni 1500 gram. Sedangkan anak yang kedua 1700 gram..." Jelas sang dokter.
"Dok apakah aku bisa melihatnya?" Tanya Elizha penasaran.
"Tentu, tapi setelah suster menyelesaikan pekerjaannya. Anda harus tunggu satu jam hingga pendarahannya berhenti" Dokter terus menjelaskan Eizha serinci mungkin terkait kesehatan sang bayi. Hingga Elizha tak terlalu merasa sakit saat bagian sensitif itu di jahit oleh para suster setelah mengalami kerobekan paska melahirkan.
"Sudah selesai... Anda beristiratlah sejenak" Jelas suster. Elizha mulai berbering dan di selimuti Gabvin "Tunggu sebentar lagi, anda akan membersihkan diri dengan air hangat yang telah di siapkan" Suster kembali memperingatkan.
"Gabvin... Maafkan aku" lenguh Elizha sungkan.
Gabvin seperti biasanya selalu tersenyum dan penyuport Elizha "Maaf untuk apa?" tanya Gabvin mulai meraih kursi dan duduk di sebelah ranjang Elizha.
"Maaf karna jika kamu menikahi ku... Kamu akan langsung kerepotan karna harus mengurus ku dan anak-anakku" Ucap Elizha menundukan atensinya. Gabvin mulai menekan dagu Elizha dan menatapnya, mereka saling menatap "Kamu marah?" tanya Elizha, ia khawatir jika Gabvin marah karna ia sama sekali tak menjawab apa yang jadi keluh kesahnya itu.
"Ya aku sungguh marah..." Balas Gabvin masih menatap Elizha.
"Maafkan aku..." Elizha mulai membuang tatapannya.
"Aku marah, jika kamu terus bertanya tentang hatiku. Aku sungguh tulus mencintaimu dan segala kekuranganmu... Aku akan tetap menjaga mu dan anak-anakmu. Aku akan menyayangi mereka... Aku sungguh akan bertanggung jawab penuh atas kamu dan anak-anakmu. Aku janji..." Jelas Gabvin bersikeras hingga terus menyakinkan Elizha.
Mendengar keputusan Gabvin yang menurutnya amat merugikan Gabvin, Elizha pun lekas meraih Gabvin dan melingkarkan tangannya di punggung Gabvin. Ia menariknya dalam pelukannya "Terimakasih... Terimakasih... Terimakasih!" Elizha terus berkata demikian... Gabvin yang merasa iba pun mulai membalas pelukan Elizha.
"Janga takut sayang. Aku akan tetap ada di sampingmu sesuai janji yang selalu aku ucapkan padamu. Akan aku tepati apa yang sudah aku jaminkan padamu... Jadi jangan khawatir akan hal tersebut. Dan jangan terus bertanya tentang hatiku, sebab aku tulus mencintaimu..." Manisnya kata-kata itu hingga membuat siapapun iri pada pasangan tersebut.
"Nona maaf karna telah menggaggu, tapi anda harus membersihkan diri dulu. Agar darah yang mengotori kulit anda tidak megering" Jelas sang suster. Elizha merasa malu dan lekas melepas pelukan Gabvin.
"A-aku... Akan mandi dulu..." Ucap Elizha malu-malu.
"Akan ku bantu?" Ucap Gabvin. Elizha lekas menolak 'Tidak perlu, aku bisa kok mandi sendiri!!" Pekik Eizha.
Gabvin tersenyum karna Elizha terlihat konyol di matanya "Bukan membantu mu mandi sayang. Tapi membantumu turun dari ranjang mu" Jelas Gabvin. Elizha sungguh malu kala ia salah pokus "Hmmpphh..." Sang suster lekas menahan tawanya kala dua pasangan itu terlihat konyol.
Elizha menunduk dan Ia lekas berdiri dan melepas tangan Gabvin. Biarkan aku saja yanh pergi sendiri" Imbuhnya. Namun saat tangan Gabvin di lepas, ia justru sedikit sempoyongan.
"Sayang!!" Pekik Gabvin lekas menahan Elizha yang hendak jatuh.
"Nona duduklah sebentar... hal tersebut normal bagi ibu muda seperti anda. Darah dalam tubuh anda belum stabil..." Jelas sang suster. Tapi, Gabvin panik "Apakah dia baik-baik saja suster. Tolong beri dia obat atau semacamnya agar dia tak terlalu kesakitan" Gabvin sungguh panik. Susterpun lekas membuatkan sebuah minuman hangat..
Teh manis hangat "Nona silahkan minum teh hangat ini. Makan atau minuman manis ini akan membuat gula darah menjadi stabil... Silahkan" Ucap suster ramah. Gabvin lekas meraihnya dan membuat Elizha minum beberapa tegukan.
"Bagai mana sayang. Kamu udah baikan kan?" Tanya Gabvin sangat cemas, bahkan wajah Gabvin lebih pucat dari Elizha.
"Jangan terlalu panik. Aku jadi risih karna aku selalu membuatmu begitu menderita" Gumam Elizha . Gabvin pun tersenyum "Syukurlah jika kamu sudah baikan..." Gabvin tenang. Dan Elizha mulai perlahan-lahan berjalan.
"Masih pusing?" tanya Gabvin masih cemas.
"Tidak, sudah agak mending... Ketimbang tadi, sekarang lebih baikkan" Balas Elizha. Gabvin pun mengangguk dan Elizha pun di tuntun sang suster menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Tuan... Tolong kemarilah" Pinta sang dokter.
"Ya..." Gabvin bagun dari duduk dan lekas menghampiri sang dokter "Ada apa dok. Apakah bayi kami sehat?" Tanya Gabvin antusias.
"Bayi anda sehat. Hanya saja, mereka belum bisa pulang secepatnya..." Jelas dokter membuat Gabvin kaget.
"Kenapa dok. Apa yang terjadi?" Tanya Gabvin.
"Mereka lahir dengan berat badan yang kurang dari dua kilo gram. Lalu usia mereka lahir sangatlah kurang tepat. Mereka bisa di sebut prematur. Jadi, mereka harus tetap di dalam inkubator hingga beberapa hari atau minggu, setelah perkembangannya bagus. Anda bisa kapanpun membawa si kembar pulang" Jelas sang dokter.
"Bagai mana jika kami merawatnya di rumah atau membuat ruangan sterilisasi di dalam sebuah kamar..." Pinta Gabvin.
"Biaya akan di kluarkan bisa terlalu mahal. Lebih baik jika kami saja yang merawat para bayi ini secara intensif" Jelas Dokter.
Gabvin mulai berfikir, ia tak bisa menjelaskannya pada Elizha "Oh ia tuan. Silahkan, buat sebuah nama untuk putra dan putrimu..."Pintaa sang dokter. Gabvin pun menunjuk dirinya sendiri "Aku? Apakah aku harus memberinya sebuah nama?" Tanya Gabvin bingung.
"Ya. Bukankah anda ayah dari anak ini?" Dokter lekas memberikan pertanyaan tersebut hingga Gabvinpun tersentak.
"Ah ia... Akan ku beri nama si kembar dengan nama panggilan yang penuh Arti..." Gabvin lekas menghampiri box inkubator.
Ia menatap sang bayi dan mulai tersentuh hatinya "Oh ya tuhan. Kalian sungguh kecil dan mungil. Apakah kalian senang dengan ruangan ini? Perut ibumu terlaku sepit ya hingga kalian begitu mungil..." Gabvin sangat senang kala melihat dua bayi mungil yang begitu imut terlelap tanpa tangisan.
"Apa nama yang akan anda pilih?" Tanya Dokter.
"Untuk nama pria tanggu! Aku pilih nama Algozali, untuk yang perempuan... Anisa ya, anissa artinya perempuan... Itu dok, nama mereka akan keren!" Jelas Gabvin antusias.
"Anda harus menambahkan nama panjang di belakang nama anak anda" Ujar dokter.
"Ya. Tambahan nama Ya, emmm Algozali wilson saja, dan Anissa Wilson saja... Mungkin sudah cukup..." Gabvin bingung, ia takut Elizha marah kala ia memberi nama yang sembarangan pada anak nya.
"Baiklah akan ku catat" Jelas sang dokter. Ia pun lekas pergi dari ruagan tersebut setalah mendapatkan data indentitas si bayi.
Bersambung ...