ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Antara salah dan benar?


***


Para tukang rias itu bekerja dengan baik "Kami selesai tuan. Apakah anda ingin melihatnya?" Tanya para perias menatap Gery penuh harap.


Gery masih duduk dan belum bergeming meski dua wanita perias itu telah meminta pendapat atas usaha kerasnya itu.


"Baiklah... Jika begitu, kami akan..." Ujar perias tersebut sedikit canggung.


"Tak apa... Biarkan dia terlelap, toh sebentar lagi dia harus mengumpulkan tenaganya untuk melayaniku malam ini" Jelas Gery. Dua perias itu mulai mengangguk di iringi senyuman kecil, mereka seakan tahu apa yang akan pria itu lakukan pada Elizha.


"Begitu ya? Jika demikian, silahkan bersenang-sengan malam ini. Kami akan senang jika hasil kami bisa membuat anda puas" jelas para perias.


"... Kalian bekerja dengan sangat baik..." Balas Gery mulai beranjak.


"Terimakasih, Kalau begitu. Kami pamit undur diri" Para perias itu lekas keluar kamar BLAM!!! Pintu kamar tersebut mulai tertutup rapat, hingga suasana hening mulai tercipta di ruangan tersebut kembali.


"Heh..." Gery sedikit mendengus, ia pun mulai melangkah pelan menuju ranjang yang telah di tempati Elizha.


Sesaat, netra Gery terlihat berbinar di iringi senyuman kecil yang ringan tanpa beban "Heh... Masih pantaskah, aku menyentuhmu?" Bisiknya, Gery pun mulai duduk di samping ranjang tersebut dan mulai menatap Elizha kembali. Gery tersenyum beberapa kali, tatapannya sungguh tak bisa luput dari wanita tersebut.


Jika di perhatikan seksama... Dia memang lebih imut jika sedang terlelap. Bathinnya menggumam.


Elizha terlelap dengan beberapa riasan wajah yang cukup elegan dan ringan. Ia mengenakan pakaian malam warna merah dengan renda hitam di setiap keliman jahitan. Apa lagi, pakaian itu sedikit lembut dan begitu transparan.


Gluk! Gery sudah bersusah payah menahan hasrat biologisnya. Ia meneguk ludahnya berulang kali. Perlahan Gery meraih tangan Elizha dan mengelusnya lembut "Kamu pasti sangat marah padaku. Tapi, mau bagai mana pun juga... Aku tetap tak bisa melepaskan mu untuk siapapun" Bisiknya seraya mengangkat tangan itu perlahan lalu mengecupnya.


Tangan Gery meremas erat tangan Elizha, ia mulai membelai wajah imut Elizha yang terlelap dengan riasan wajahnya yang ringan itu. Elizha tampak seperti gadis di negri dongeng. Ia terlelap dengan lembut seperti seorang putri tidur yang menunggu kecupan seorang pangeran.


"Jika sedang penurut begini kamu memang tampak imut. Aku akan sabar menahan hingga kamu bangun nanti..." Imbuh Gery seraya mengecup kening Elizha.


Gery mulai bersiap dan masuk kamar mandi, Elizha hanya di biarkan terlelap beberapa saat hingga kesadarannya mulai kembali...


***


"Nomor yang anda tuju diluar jangkauan... Silahkan hubungi beberapa saat lagi" Suara oprator mengulang beberapa kali "Sial!" Gabvin merasa kesal. Malam hampir tiba tapi Elizha belum juga kembali.


"Sial. Apa yang aku pikirkan.. Walau pun Gery membuatnya terluka dengan pernikahan palsu dan juga kontraknya. Tapi, dia memang masih suami Elizha... Tapi, Ada apa denganku? Rasanya aku kesal dan ingin sekali menghajar Gery... Sial! Untuk apa semua ini! Untuk apa rasa khawatir ini... Aku sungguh tak pantas memilikinya!" Bentak Gabvin penuh kesesakan, kala ia gagal menjaga wanita yang paling ia hormati itu.


"Aku memang... Brengsek!" Bisiknya menjambak rambutnya sendiri. Gabvin terduduk lesu di pojok ruangan yang cukup gelap. Seraya mematikan ponselnya beberapa kali. Tampaknya Gabvin sangat flustrasi, ia tak terima jika malam ini. Elizha akan kelelahan karna ulah Gery. Tak sadar karna terlalu lelah memikirkan Elizha, Gabvin pun tak sengaja tertidur.


Ruangan remang...


Elizha terlelap di sana, lalu...


"Panas..." gumam Elizha mengerang. Wajahnya mulai basah oleh keringatnya sendiri. Namun tampaknya mata Elizha enggan terbuka sama sekali.


"Bangunlah gadis nakal!" imbuh Gery menghampiri Elizha di ranjang tersebut. Ia duduk di samping ranjang dan mulai tersenyum penuh makna.


"Panas sekali..." Gumam Elizha lagi.


"Cepatlah bagun!" Gery memaksa. Tangannya mulai gatal, Gery mendekap dua pundak Elizha dan menekannya "Cepatlah bangun!" seraya menarik tubuhnya dan memakasnya duduk.


"Sakit!" Pekik Elizha terpaksa bangun dari lelapnya.


"Bangunlah! Jika tidak, aku akan menaikan pemanas ruangan ini hingga 40°Celcius!" ancamnya. Elizha pun segera membuka matanya.


"Kau!" Pekiknya terbelalak.


"Malam ini... Pastikan, kamu melayaniku dengan Lembut!" Pinta Gery meluruskan ambisinya.


"Tidak... Apa yang merasukimu hingga kamu melakukan ini padaku?" tanya Elizha tampak muram.


Gery terkekeh "Hahahahha... siapa ini yang bicara? Bukankah kamu sendiri yang ingin aku menikahi mu? Lalu sekarang, kamu sendiri yang ingin melepaskannya?" tanya Gery mencemooh.


"Tapi. Aku tak ingin hal ini menyiksaku! Kamu bukan menjadikanku istri, melainkan Selingkuhan! Wanita simpanan! Selir! Dan bahkan pemuas hasrat biadab mu itu! Kamu membiarkanku hancur setiap kali aku menatap mu!' Teriak Elizha menunduk dan meronta. Ia memukul dada Gery berulang-ulang kali. Hingga Gery makin marah "Kau! Kau pikir siapa dirimu!!" Teriak Gery seraya memukul pipi kanan Elizha dengana keras "PLAK!" Elizha terhempas ke bantal. Lalu Gery menyergapnya "Kelakukan mu sungguh menggelikan!" ungkapnya. Tangan Gery mulai hinggap di batang leher Elizha dan mencekiknya.


"Aakhhh! He-n-tikan..." Desah nya menatap Gery penuh sesal, giginya menggigit bibirnya hingga berdarah "Kau yang meminta melawanku!" Amuk Gery mencoba meyakinkan Elizha untuk patuh padanya.


"Heh. Pilihlah... Memuaskanku malam ini? Atau mati bersama bayimu!" bentak Gery mengeggretak wanita tersebut.


"Baji-ngan..." Bisik Elizha tak berdaya. Gery yang marah mulai menghempaskan Elizha kembali bantal dan membuatnya membayar.


BREAT! Gery mulai melepas pakainnya kasar hingga kemeja yang ia pakai robek begitu saja.


"Apa yang kau inginkan!" Tanya Elizha panik. Ia berusaha bangun, namun Gery bergerak lebih cepat dari dugaannya dan lekas menahannya dengan menekan bahu Elizha sekuatnya hingga Elizha tak bisa bangun "Lepaskan aku! Kamu gila!" pekik Elizha meronta.


"Lepaskan katamu? Coba saja jika kau bisa lari dariku!" Ucap Gery mulai menahan dua tangan Elizha hingga ia terlentang sempurna dan tak bisa melawan Gery sama sekali.


"Diam... Dan patuhlah..." Ujarnya, seraya mulai menyerang. Gery memulai dengan menggigit leher Elizha "Chuuup!" Tanda merah pun mulai tampak lebih terang dan begitu tipis.


"Mulai saat ini... Kamu mutlak milikku, jangan sampai pria lain merebutmu. Karna akan ku pastikan pria itu menerima akibatnya!"


"Kamu pria gila" Bisik Elizha tak berdaya.


"Diam dan nikmatilah..." Balas Gery mulai mengecup bibir Elizha.


Ia hendak melakukannya "Tidak, jangan... Tidak! Tidaaakkkkk!!" teriak Elizha lantang.


"ELIZHAAAA!!!" Teriak Gabvin bangun seketika itu dan mulai duduk menunduk "Hosh! Hosh! Hosh!... Elizh..." bisiknya. Gabvin tampak panik hingga hatinya sungguh kacau "Tuan Gabvin, apakah anda baik-baik saja?" tanya seorang wanita.


Gabvin lekas menoleh, lalu ia simak sekeliling. Suasana begitu asing baginya "Dimana ini?" tanya Gabvin memutar bola matanya.


Ruangan hening dan bercat putih, bahkan Gabvin terlelap di sebuah ranjang dengan selang infus di lengannya.


"Tuan. Anda pingsan dan tuan Yan mengantar kan anda kemari... Anda sudah tak sadarkan diri selama dua hari satu malam..." Jelas Wanita itu. Dan rupanya, Gabvin di jaga oleh Sarah, asisten pribadi Gery.


"Apa yang terjadi padaku.. Sarah?" tanya Gabvin sedikir syok.


"Tuan demam dan kekurangan cairan. Jadi, karna suhu tubuh anda belum menurun. Jadi anda terlelap begitu lama..." Jelas Sarah menerangkan beberapa hal yang terjadi.


Gabvin mulai terdiam menatap tangannya "Apa yang terjadi..." bisiknya.


Ia mulai memutar otak dan ingat satu hal "Elizha... Elizha! Mana Elizha?" tanya Gabvin mencari sekeliling. Sarah cukup kaget kala nama itu yang di ucapkan Gabvin.


"E-lizha? Bukankah itu nama X- oficce Girls di perushaan?" tanya Sarah ragu.


"Apakah kamu melihatnya? Apakah dia menjengukku?" tanya Gabvin panik.


"Tampaknya anda kurang sehat. Sebaiknya anda beristirahat kembali..." Pinta Sarah.


"Ponsel! Mana ponselku?" tanya Gabvin panik. Bahkan Gabvin tak perduli pada wanita yang sepanjang malam selalu terjaga untuk memperhatikan perkembangannya. Dan juga Sarah mulai cuti kerja sejak Gabvin di rawat intrents. Sarah sungguh kecewa pada Gabvin...


"I-ini.. Tapi mungkin telah habis batrai..." Jelas Sarah.


Gabvin tak perduli dan mulai menyalakan ponsel itu lalu menelpon seseorang yang ingin ia hubungi.


"Hallo... Ger! Dimana posisimu sekarang?"


"Baik... Aku akan ke sana sekarang..." imbuh gabvin mulai bersiap.


Bersambung...