
Pagi itu, Elizha mendapatkan sebuah pesan singkat "Aku akan datang dua jam lagi. Jadi bersiaplah bersama Ayah dan kak Rio... Kita akan makan siang di restorant bersama" Jelas Gabvin.
"Apa maksudnya ini?" bisiknya, tanpa banyak bicara lagi... Akhirnya Elizha mengabarkan hal tersebut pada Ayah nya tentang pesan singkat yang Gabvin beritahukan tersebut.
"Ayah... Kita harus bersiap. Katanya akan ada acara makan bersama kluarga Wilson..." Pinta Elizha sedikit tergesa-gesa.
"Apakah itu benar?" Tanya sang ayah sedikit sembringah. Elizha pun mengangguk...
Acara makan kluarga? Jangan-jangan Gabvin akan mengenalkan Elizha pada kluarganya dan membicarakan tentang pernikahan mereka. Bathin Ayah Elizha menggumam.
"Oh ia ayah. Di mana kakak?" Tanya Elizha mencari sekeliling.
"Kakakmu ada di kamarnya... Beberapa hari ini dia selalu mengurung dirinya di kamar setelah pulang kerja" jelas sang ayah sedikit khawatir.
"Kenapa dia?" Bisik Elizha tak habis pikir. Soalnya, biasanya Riolah yang paling bersemangat di kluarga itu.
"Mungkin, dia sibuk akan perkejaan kantor... Kasihan, ayah jadi memberinya begitu banyak pekerjaan hingga ia jadi tertekan dan banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja" Ucap sanga ayah sungkan.
"Tapi inikan tanggal merah yah, seharusnya kakak isturahat saja" ucap Elizha.
"Entahlah... Cari tahu saja apa yang terjadi padanya..." Jelas sang ayah.
"Baiklah... Aku akan ke sana" Ucap Elizha.
Elizha mulai naik ke lantai dua di mana kakaknya selalu menghabiskan waktu untul beristirahat "Kakak!" Pekik Elizha mengetuk pintunya dan lekas masuk "Kakak, kau di dalam...?" Tanya Elizha meraksak ke dalam kamar tersebut...
Ia celingukan mencari sosok sang kakak, namun nampaknya memang tak ada jawaban yang belarti "Aneh sekali... kemana sebenarnya kakakku pergi?" tanya Elizha. Elizha mulai duduk di ujung matras empuk milik sang kakak dan menunggu beberapa saat.
Nampaknya Elizha berfikir bahwa kakaknya sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, hingga ia menunggunya sesaat dan duduk di matras itu dengan sabar.
"Sepeti biasanya, kamar kakakku memang selalu rapi dan bersih" Ia memutar bola matanya untuk menelisik seisi kamar sang kakak, namun ada sebuah bagian yang menurut Elizha cukup mencolok. Itu adalah sebuah meja belajar di kamar itu, da tumpukan buku yang terdapat di sana.
"Hanya bagian itu yang amat berantakan..." bisik Elizha seraya mulai berdiri dan mulai melangkah menghampiri meja tersebut.
Saat ia sampai di sana, suasana kacau tertera di antara tumpukan kertas koran dan beberapa surat kabar. Dan juga ada sebuah amplop putih, dengan cap stampel dari luar negri, Elizha begitu penasaran hingga membuka amplop tersebut. Saat ia menyimak, betapa herannya ia kala dapati sebuah photo yang cukup membingungkan. Di mana seorang wanita cantik telah di potret bersama pria bule tampan dan sangat harmonis.
Elizha membalikan photo itu dan ada sebuah tulisan yang tertera di sana Claudia dan Arnold blascyl?" Bathin Elizha menggumam. tersemat sebuah undangan dan sepucuk surat di dalamnya. Elizha amat penasaran dan mulai membacanya "Oh... Claudia adalah pacar kakakku?" Bathin Elizha menggumam. Belum juga ia selesaikan isi pesan di dalam surat tersebut, tapi surat itu sudah di rampas Rio dan membuat Elizha membatu "Ka-kakak..." bisik Elizha panik.
"Kakak, gadis cantik itu? Apakah dia pacarmu?" tanya Elizha khawatir.
"Jika tak ada urusan keluarlah..." Rio tampak sangat marah kala Elizha membaca surat tersebut dan menyuruh Elizha keluar.
"Apakah itu, surat undangan pernikahannya? Apakah dia sudah menghianati kakak? Surat itu datang tiga minggu yang lalu kakak? Apakah kakak di campakan..." tanya Elizha bertubi-tubi.
"Elizha... Keluarlah, kakak sedang ingin sendirian" jelas Rio kembali mengusir Elizha.
"Wanita itu sungguh keterlaluan! Kenapa kakak hanya diam saja... Setidaknya kakak harus tanyakan padanya, apa salah kakak?" tanya Elizha menentang sang kakak atas ke diamannya.
"Sudah lah Elizha... Lagi pula, sudah terlambat... Dia sudah bahagia bersama lelaki pilihannya. Kakak memang tak pantas untuk wanita mapan dan terpelajar seperti Claudia... Dia cantik dan begitu cerdas, jika menikah denganku... Dia hanya akan menderita" Keluh sang kakak dengan suara yang parau.
Pantas saja, kakak malah berpaling pada Angel... Jadi ini sebabnya, kasihan sekali kakakku... Dia memang malang seprti nasib ku... Kakak kita memang senasib Bathin Elizha menggumam.
"Kakak... Ada hal yang harus aku sampaikan" ucap Elizha. Rio mulai mengalihkan atensinya.
"Apa itu?" tanya Rio mulai menggubris.
"Gabvin menyuruh kita untuk datang ke acara pertemuan kluarga..." Jelas Elizha.
"Benarkah?" tanya Rio senang.
"Ya. Kamu juga harus ikut kak" pinta Elizha.
"Mmh... Begitu ya, baiklah... Tunggu aku di bawah. Kita akan datang bersama" jelas Rio. Elizha pun mengangguk dan lekas keluar dari kamar sang kakak.
Ternyata bukan hanya aku yang mendapatkan penghiatan, tapi juga kakakku... Dan aku tak mau kakak ku mendapatkan nasib yang buruk seperti nasibku tempo dulu. Bathin Elizha.
Mereka bersiap, hingga mulai berkumpul di ruang tengah dengan tatanan pakaian dan rambut yang rapi "Zha... Sebaiknya kita bergegas" pinta Rio. Ayah Elizha dan Elizha pun mengangguk, mereka mulai meninggalkan rumah dan menguncinya.
Mereka masuk mobil lalu satpampun mulai membukakan Gerbang kediaman itu. Mobil yang di kendarai Rio melesat cepat membelah jalanan menuju ke Restaurant bintang lima di pusat kota yaitu El Restour bintang lima...
Bersambung...