
***
Elizha dan Gabvin sudah pulang beberapa hari yang lalu. Mereka tampak lelah, mungkin karna harus bergadang tiap malam sebab mereka memang sepasang pengantin baru yang masih hangat.
Rio juga Angel sudah sibuk mengasuh si kembar yang baru saja pulang dari rumah sakit. Karna dokter bilang, meski mereka prematur. Tapi keadaan sepasang bayi kembar Elizha sangat sahat dan bisa di rawat di rumah.
"Jika kita begini. Kita seperti pengantin baru ya kan Sayang?" Ujar Angel pada Rio.
Rio hanya bisa tersenyum atas guaraun Angel yang tarasa menghkayal saja "Mungkin" Balas Rio menyimpulkan senyumnya.
Jika aku menikahi mu... Kamu pasti sedih. Kamu tak akan pernah memiliki malaikat kecil sepeerti mereka... Tapi, jika tuhan berkehendak atas ke sembuhanmu. Kamu pasti akan memiliki baby seperti mereka... Bathin Rio menggumam.
"Lho kamu kok sedih?" tanya Angel menatap wajah Rio yang tiba tiba murung.
"Sedih? Nggak kok... Aku hanya kagum oada wajah keponakanku yang ganteng ini" Goda Rio menatap baby Al.
"...Ia. Tapi kadang kadang, wajahnya sangat mirip sekali dengan Gary. Hingga membuatku sedikit sebal padanya" Umpat Angel.
"Jangan begitu dong. Mereka kan tidak bersalah sama sekali" Pinta Rio mencemaskan hati Angel.
"Aku cuma bercanda kok..." Balas Angel cengengesan.
"Syukurlah... Karna baby twis sudah tidur. Ayo rebahkan mereka di kotak bayi... Agar mereka tetap hangat" Pinta Rio seraya membaringkan baby Al di matras khusus bayi prematur.
"Ya. Kita rebahkan saja malaikat malaikat kecil ini... Agar mreka bisa beristirahat. Begitupun aku..." bisik Angel.
Usai di rebahkan di Matras baby, Angel dan Rio pun meninggalkan kamar bayi tersebut. Mereka malah mengintif kamar Elizha. Tapi mereka tak lihat apapun selain Elizha yang tidur di samping Gabvin.
"Sungguh bukan pasangan yang romantis. Mreka bahkan tidak tidur seperti pengantin baru. Apa an tuh tidur berjauhan... Kasihan sekali Elizha" umpat Angel.
"Jangan begitu... Mungkin mereka lelah, ayok... Dari pada ngintip nanti bintitan, mending kita belanja sayuran ke pasar swlayan" Pinta Rio. Angel hanya mengangguk saja dan mulai mengikuti ke mana Rio akan membawanya.
***
Swalayan...
"Apakah masih ada yang perlu kita beli?" Tanya Angel sedikit cemberut. Angel sebenarnya gedek sama Rio yang selalu saja membawanya belanja sembako atau bahan masakan. Karna Rio memang gamar sekali memasak, bahkan Rio sangat mahir memasak makanan apapun.
"Sudah Sayang. Jangan marah, mending kita bayar sekarang pesannya... Nanti aku masakan camilan yang enak dan nggak bikin gendut buat kamu" Rayu Rio seraya mencolek dagu Angel.
"Kalau ada maunya ya begitu... Ya udahlah... Sebaiknya kita lekas masak. Seperti biasanta aku yang jadi asistennya" Pinta Angel.
Mereka pun mulai menuju kasir dan lekas membayar pesanan tersebut "Sayang. Aku jalan duluan ya..." Angel berjalan lebih dulu dan Rio membuntutinya dari belakang. Tapi entah karna ceroboh atau apa, Angel malah menabrak seseorang.
BRUKKK!!
Angel dan orang itu sama sama tersungkur "Angel!!" Pkik Rio menjatuhkan belanjaannya lalu menghampiri Angel karna panik.
"Aahh sakit' Gumam Angel kesakitan, karna jatuh sedikit saja sikut angel jadi terluka dan berdarah.
"Kalau jalan lihat lihat dong!" amuk seorang wanita yang turut membangunkan suaminya yang sama sama jatuh mencium lantai.
"Sayang sudah jangan marah. Ini juga bukan salah mereka kok" ucap Suami wanita itu.
"Kami minta maaf..." ucap Rio mengalah.
Saat Rio dan Angel menatap lawan bicara di hadapannya. Mereka baru sadar jika yang bicara nyerocos seraya nyolot itu adalah Margaret.
"Eh! Kalian... Ah maaf, ku pikir bukan saudaranya Elizha. Maaf atas kelancanganku" Skarang malah Margaret yang meminta maaf.
"Tak apa... Oh ia. Kalian habis belanja?" Tanya Rio.
"Ah ia. Kami akan membeli beberapa kado untuk Elizha. Katanya Elizha sudah pulang, jadi aku hedak prgi kesana sekarang" jelas Margaret.
"Oh begitu ya..." Rio sebenarnya ingin berbohong dan tak mau Derik ikut ke rumahnya. Tapi karna Margaret terlanjur tahu bahwa Elizha sudah pulang. Akhirnya Rio pun tak berdaya.
"Kak Rio. Mana belanjaanmu? Apakah kalin belum selesai berbelanja?" tanya Margaret menatap dua lengan Rio yang hampa tanpa barang bawaan.
"Ah... Aku lupa. Aku menjatuhkannya tadi" Rio lekas menghampiri barang belanjaannya lalu membawanya ke rumah...
...***...
Sampailah mereka di kediaman Diandartara... Margaret duduk di sofa ruang tengah bersama Derik, sementara. Angel dan Rio masuk dapur lalu berbisik bisik "Sayang. Kenapa kamu membawa mereka ke mari? Kalau sampai Gabvin melihat Derik... Bisa marah nanti" Cerocos Angel.
"Mau bagai mana lagi, jangan khawatir... Mereka sangat mudah di bodohi..." Bals Rio mulai bekutat untuk memasak dan menjamu Margaret dan Derik...
"Sayang. Kamu mau minum?" tanya Margaret menatap suaminya.
"Terserah kamu" Suami Margaret sangat penurut, ia bahkan lebih mirip boneka...
"Baiklah aku akan ambilkan air ya..." Margaret melangkah ke arah dapur. Saat kakinya melangkah dua kali hentakan... Suara tangisan bayi mulai terdengar nyaring.
Margaret mulai mencari suara bayi tersebut hingga sampailah di ruangan bayi "Oh tuhan. Cantik sekali mereka..." Margaret tak tahan melihat bayi mungil yang imut itu. Hingga ia pun meraih salah satu bayi dan membawanya keluar.
"Sayang... Lihat ini. Baby boy yang sangat tampan" Ujar Margaret.
Margaret menghampiri Derik dan memberikan bayi mungil itu padanya "Lihat dia. Dia sungguh tampan..." Ujar Margaret menatap bayi mungil di gendongan suaminya.
"...Bayi ini sangat tampan" Bisik Derik. Lalu tak sengaja Margaret menatap wajah Derik dan wajah Bayi di gendongannya "Sayang. Apakah ini hanya menurut penglihatanku sjaa ya? Kenapa aku merasa bayi ini sangat mirip denganmu ..." Ujar Margaret terheran heran.
".. Mana mungkin" Balas Derik dingin.
Saat mereka sedang mengamati bayi tersebut, entah angin apa yang membawa mereka ke dalam sebuah pertemuan besar. Elizha melangkah ke arah kamar bayi tanpa menoleh ke arah di mana Margaret dan Derik duduk. Namun suara tangisan bayi memecah titik fokus Elizha, dan membuatnya menoleh ke arah di mana Margaret dan suaminya duduk.
"Hoooaakk..." Tangis bayi Elizha. Elizha yang tengah memegang botol susu itu seketika terbelalak ketika menatap Gery tengah menggendong anaknya.
Pluukk... Botol susu itu terjatuh dari tangan Elizha lalu menggelinding ke arah kaki Gery.
Tap... Botol tersebut terhenti pas di kaki Gery. Gey melihat botol itu lalu meraihnya, tatapannya mulai tertuju pada kaki Elizha yang kala itu berdiri jauh di depannya.
Pandanganya naik ke atas secara perlahan, hingga Derik menatap wajah Elizha secara seksama "Elizha!" pekik Margaret berdiri dari duduknya lalu berlari memeluk Elizha.
Graap!!!
"Elizha!! Kamu sudah pulang?" tanya Margeret memeluk Elizha erat.
"...Margaret. Kamu, datang dengan siapa?" tanya Elizha menunduk Derik.
"Oh dia... Tentu saja dia adalah suamiku" Jelas Margaret.
Mendengar penjelasan Margaret, Elizha sedikit Syok... Ia takut jika anak di pelukan Derik tak bisa ia ambil kembali.