ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Patut di curigai 2


***


"Sayang telpon dari siapa?" tanya Elizha menatap intrents suaminya.


"Rio..." Jawabnya singkat.


"Oh Kakak, kenapa dia menelpon?" tanya Elizha bingung.


"Tugas kantorku... Aku sudah menyerahkannya pada Lucas, jadi tak ada masalah" jawab Gabvin bohong.


"Begitu ya..." Elizha lekas memode pesawatkab ponselnya begitu pun Gabvin. Mereka pun mulai duduk tenang hingga pesawat mereka lepas landas.


"Apa kamu gugup sayang?" tanya Gabvin menatap Elizha yang kala itu meremas tangannya begitu erat seakan takut.


"Hahhahaha... Setiap naik pesawat aku selalu grogi" balas Elizha ringan. Gabvin tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya ke arah pucuk kepala wanita itu dan mulai memeluknya di dada "Mulai saat ini... Kamu tak akan takut lagi, tenanglah karna ada aku di sini' Ucap Gabvin membesarkan hati wanita itu.


Jika dulu Elizha adalah wanita malang yang terbuang, maka saat ini dialah wanita paling beruntung. Karna ia di cintai oleh pria baik yang tulus padanya tanpa imbalan apapun "Terimakasih sayang. Kamu selalu menjadi tempat terbaikku untuk menyandar" jawab Elizha lekas membalas dekapan hangat suaminya.


Mulai saat ini dan seterusnya... Aku janji dalam hidupmu hanya akan ada dua kata... Bahagia dan senang... Itulah janjiku. Tak akan ku biarkan satu tetes air mata pun tumpah oleh ego ataupun lisanku aku janji padamu. Bisik Gabvin...


Selepasnya, mereka pun tidur hingga pesawat mendarat...


***


"Bagai mana?" tanya Tn Dian dengan tawanya yang menggema.


"Wah aku tak menyangka jika tuan Dian memiliki anak laki-laki yang pintar memasak" balas Margaret seraya tak henti menyantap kudapan ringan buatan Rio.


"Terimakasih atas pujian anda..." Rio sangat tersipu.


"Terimakasih atas sambutan anda yang ramah dan menyenangkan" Balas Derik membungkukan setengah tubuhnya saat berdiri "Lho sayang? Kenapa kamu berdiri?" tanya Margaret.


"Lho ku pikir acara jamuannya sudah selesai?" tanya Derik pada istrinya.


"Wah bagai mana ini? Apakah makanan yang ku buat sangat tak enak hingga membuatmu tak nyaman?" Tanya Rio menatap Derik dengan sinisnya.


"Tidak... Sebanarnya aku sedikit tak suka makanan yang manis" Jelas Derik kembali duduk dan membenahi kancing jasnya. Margaret menoleh "Benarkah? Oh maaf ada beberapa hal yang tak aku ketahui tentangmu sayang... Maafkan aku" Ucap Margaret sungkan. Sementara Rio mulai menyungingkan bibirnya dan menggerutu dalam hatinya.


Binggo... Ternyata sedikit demi sedikit perkiraanku benar, bahwa Derik dan Gery adalah orang yang sama. Mereka sama-sama tak menyukai makanan ataupun minuman manis. Bathin Rio.


"Oh ia tuan Derik ... Apakah anda ingin minum kopi?" tanya Rio. Derik mulai merspon "Ya jika tak keberatan, tolong beri aku kopi hitam tanpa gula..." Jawab Derik merespon dengan cepat sesuai ke inginan Rio.


"Baiklah akan aku buatkan... Ayah apakah kau juga ingin minun teh manis?" tanya Rio. Tuan Dian pun merespon.


"Ya aku ingin teh manis tapi jangan terlalu manis..." pinta Ayah Rio.


"Baiklah mohon tunggu sebentar..." Rio mulai berdiri dan tergesa-gesa ke area dapur.


Sementara Margaret kembali berbincang dengan ayah Elizha "Tuan. Katanya Elizha melahirkan bayi kembar ya?" tanya Margaret.


"Ya begitulah... Dia memang wanita yanh sangat beruntung" Ucap tuan dian


"Aku sungguh terlambat... Ingin rasanya aku bertemu dengan Elizha dan menengok bayinya" Margaret tampak Antusias.


"Kamu begitu terobesesi dengan bayi sayang?" tanya Derik merangkul pundak istrinya manis.


"Ya. Tapi aku akan bersabar" balas Margaret menatap tuan dian dengan semangatnya.


"Berusahalah... Lagi pula kalian kan pengantin baru..." Tuan Dian tertawa girang.


Tak lama berselang Rio pun datang bersama tatakannya yang berisikan teh manis dan kopi pahit itu.


Mereka kembali minum dan makan bersama... Sementara Ayahnya tertawa lepas, justru Rio seakan tak nyaman atas kehadiran Derik di antara mereka, ia belum bisa lupakan noda apa yang ia torehkan di wajah adiknya sebelum ia leyap dan kembali membawa identitas barunya.


Bersambung...