ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Putus Asa


"Ada apa kakak?" Tanya Kelvin khawatir.


"Baiknya kita kembali saja... Lagi pula tak ada gunanya mengejar mobil itu. Toh, mobilnya sudah pergi jauh" Balas Gabvin risih.


"Tapi kak..." Kelvin tak terima.


"..." Tak ada komentar terdengar lagi, toh Gabvin tampak kacau saat ini.


"Kak, kenapa tiba-tiba kakak ingin kita putar arah? Apakah kakak tahu siapa mobil yang telah membawa paksa Elizha?" tanya Kelvin sungguh penasaran.


"... Entahlah, sebaiknya... Kita kembali, mungkin dia di tangan orang yang tepat" balas Gabvin tampak gusar.


"Tangan yang tepat? Apa maksudmu?" tanya Kelvin bingung dan masih sangat penasaran juga gelisah.


"Ya sudah... Akan ku antar kamu ke rumah" Hanya itu saja yang Gabvin katakan, ia cenderung menghindari pertanyaan Kelvin.


"Ini sungguh membuatku bingung. Tadi kakak sendiri yang panik dan ingin mengejar mobil itu. Tapi, sekarang malah pasrah... Apakah ada hal yang telah kakak sembunyikan dariku?" Kelvin tetap mendesak sebuah informasi dari kakaknya. Tapi, nampaknya Gabvin masih begitu tertutup dan enggan menjawab satu pun pertanyaan Kelvin.


"Apakah aku perlu mengantarmu ke Mol yang tadi?" Gabvin sengaja mengelak dari pertanyaan Kelvin.


"Ini aneh sekali... Kakak sungguh menghidariku dan juga pertanyaan ku. Kakak terus mengelak dan enggan menjawab satupun dari pertanyaan ku ini! Kakak baik-baik saja kan? Apa yang terjadi pada mu kak. Aku sungguh tak paham..." Desak Kelvin terus meminta penjelasan.


Gabvin tersenyum pahit seraya mendelik "Hem... Memangnya kamu bisa membaca hati orang. Sebaiknya pulanglah... Akan ku antar, aku akan segera pulang. Hari ini sungguh melelahkan untukku" Jelas Gabvin. Kelvin tak banyak bertingkah dan mulai pasrah. Kelvin pun setuju untuk di antar ke Mol tempatnya tiba tadi. Kelvin harus mengambil mobilnya di sana...


***


"Hati-hati kak! Ingatlah pulanglah... Ayah sedang tak sehat!" Seru Kelvin memperingatkan Kakaknya agar mau berkunjung ke kediaman Wilson.


Gabvin pun menyeringai "Heh. Akan ku pikirkan lagi..." Bisik Gabvin seraya menginjak pedal mobilnya.


"Heh. Dasar anak durhaka... Berulahlah sesukamu kak. Tapi, kamu tetaplah anak tunggal kluarga kami... Dan kamu tetap harus meneruskan perusahaan kita..." Cemooh Kelvin setelah mobil sang kakak melaju jauh. Ia tersenyum menyungingkan sebelah bibirnya pertanda sinis.


***


Masion Gery...


Mobil Gabvin melaju cepat secepat kilat, hingga sampai lebih awal di kediaman Gery. Ia lekas memarkir mobilnya tak beraturan "Tuan, tolong kunci mobil anda" Pinta pelayan kediaman Gery.


"Ini..." Balas Gabvin melempar kunci mobil tersebut. Sang supir menangkap kunci tersebut dan mulai memarkirnya di area yang seharusnya.


"Apakah Gery sungguh ada di kediamannya?" Tanya Gabvin dalam hatinya. Ia melangkah lebar dan mempercepat gerakannya.


"Yan. Apakah Elizha datang kembali..." tanya Gabvin sedikit panik. Yan sedikit bengong dan memutar otaknya "Ehm... Bukankah, nona Elizha pergi bersama anda?" Tanya Yan malah makin membuat Gabvin tak nyaman.


"Ah... Sial!" Pekik Gabvin seraya berlari ke dalam kediaman tersebut.


"Tuan Gabvin! Anda tidak boleh berlari di masion tuan Gery!" Yan memperingatkan.


Langkah Gabvin terhenti ke kantor pribadi Gery "Ger!" pekik Gabvin lekas membuka pintu kantor pribadi Gery. Namun nyatanya, netra Gabvin tak menemukan sosok pria kekar yang menurutnya brengsek itu.


"Sial... Jangan bilang dia yang melakukannya!" Bisik Gabvin tampak tegang.


Gabvin kembali berlari ke arah kamar Gery "Tok! Tok!" Gabvin mengetuk pintu tersebut "Gery! Kamu di dalam... tolong jawablah..." pinta Gabvin menyeru dari luar.


Klek! Pintu terbuka dan Gebvin pun mulai merasa lega "Ya. Eh... Gabvin, ada apa?" tanya Angel. Gabvin lekas menerobos ke dalam "Vin. Ada apa... Kenapa kamu tampak panik. Apakah ada hal yang terjadi?" Tanya Angel kebingungan.


"Eh. Apakah, Gery ada di dalam?" tanya Gabvin masih panik.


Angel menoleh ke kamarnya lalu menatap Gabvin yang berdiri di daun pintu "Eh... Ku pikir dia ada urusan denganmu. Sebab dia pergi tergesa-gesa. Katanya, ada urusan penting yang harus di selesaikan denganmu..." Jelas Angel. Gabvin sungguh lemas ketika Angel berkata demikian.


"Oh. Begitu ya?" tanya Gabvin putus asa.


"Lho. Memang kalian tidak bertemu ya?" Tanya Angel.


Gabvin menggelengkan kepalanya "Lalu... Di mana tunanganmu...?" Tanya Angel kembali. Gabvin mulai menempelkan jemarinya di jidaknya dan kembali memijatnya berulang kali.


"Haah... Dia sedang pergi ke rumah orang tuanya..." Balas Gabvin mulai mundur dari hadapan Angel.


"Begitu ya. Kalian memang pasangan yang cocok... Dan sebentar lagi, kalian akan menikah kan?" Tanya Angel polos.


Gabvin mengangguk "Begitulah... Nona Angel, silahkan kembali beristirahat, maaf sudah mengganggu. Dan saya akan kembali melanjutkan tugas saya" jelas Gabvin.


"Ya. Silahkan..." Angel mengangguk dan mulai masuk kembali ke kamarnya.


Sedangkan Gabvin... Ia melangkah dengan penuh ke putus asaan, dan pikirannya mulai kacau...


Apakah pria brengsek itu yang telah melakukan semua insiden ini. Sungguh menyebalkan! Bagai mana bisa dia menjilat ludahnya sendiri. Bathin Gabvin.


Bersambung...