
***
Pagi itu, bukanlah pagi yang cerah untuk Elizha meski cuacanya sangat indah "Zha hentikan tangisanmu... Ayo makan! Kita lihat, seperti apa Gery bisa menahannya rasa cemburunya pada mu" Pinta Gabvin.
Elizha tidak merespon dan tetap menagis "Zha... Aku ada ide..." Gabvin amat berusaha, meski Elizha tak ingin menggubrisnya. Gabvin membisikan sebuah rencana di telinga Elizha. Dan seketika itu, Elizha mulai berhenti menangis dan mulai menatap Gabvin intrents.
"Bagai mana menurutmu... Ini akan membuatmu makin yakin akan posisimu yang sebenarnya" Pinta Gabvin.
Elizha masih berfikir, mungkin kata-kata Gery sama seperti yang ditiskannya di surat perjanjian pra nikah itu. Bathin Elizha.
"Gimana Zha... Kamu setuju kan?" Tanya Gabvin masih berharap. Lambat laun Elizha mulai mengangguk dan menyetujui rencana Gabvin yang entah apa itu. Gabvin tersenyum dan lekas meyeka air mata Elizha. Elizha sungguh tercengang dan begitu canggung "He-hentikan... Aku bisa melakukannya sendiri" Jelas Elizha menepis pelan tangan Gabvin.
"Baiklah... Ayo... Bersihkan dirimu dan mari kita ke meja makan..." Jelas Gabvin penuh semangat.
Elizha tiba-tiba jadi penurut dan lekas ke kamar mandi dan tak lama kemudian ia pun kembali dengan cepat.
"Ayo..." Ucap Elizha. Gabvin sungguh senang, pagi ini Elzha sendiri yang mengajaknya pergi.
Meja makan...
"Sayang... Cobalah ini. Ini adalah cumi goreng kesukaanmu... Ayo makan sini aku suapi" Pinta Angel menyodorkan makanan ke mulut Gery.
Aku sangat muak dengan wanita ini... Heh, lambat laun... Aku akan membuatnya tutup mulut di bawah peti mati. Bathin Gery menggumam.
"Hentikanlah... Aku bisa sendiri" Gery kesal.
"Biar aku saja... Lagi pula kamu kan suamiku" Pinta Angel. Lalu Elizha dan Gabvin datang, Gery lekas menoleh ke arah datangnya dua orang yang membuat moodnya jelek itu.
"Lho... Bukankah itu Gabvin? Ada apa dia pagi begini ada di masionmimu sayang?" Tanya Angel pada Gery.
"Entahlah... Mungkin ia ingin ikut sarapan bersama kita" Jelas Gery.
Gabvin pun mulai menarik kursi untuk Elizha duduk "Silahkan sayang... Duduklah" Jelas Gabvin lantang dan membuat Gery membelalak "A-apa? Apa aku tak salah dengar?" Tanya Gery bengong dan tak percaya.
"Makanlah yang banyak... Agar bayi kita sehat" Pinta Gabvin menyodorkan piring di hadapan Elizha. Ia melayani wanita itu dengan baik "Apa maksud kalian... Gabvin? Bukankah wanita ini adalah pelayan di masion suamiku?" Tanya Angel.
Elizha amat murka pada wanita di depannya itu, Elizha lekas meraih garfu dan menusuk daging yang ada di depan Angel "Cleb!" Angel kaget dan teriak "Oh. Oh... Astaga... Kamu mebuatku kaget saja" Angel lekas mengusap dadanya.
"Sayang... Pelan-pelan, nanti tangamu bisa terluka" Pinta Gabvin. Gebvin lekas duduk di depan Angel dan Elizha duduk di depan Gery.
"Ayo makan..." Pinta Gabvin. Namun, Elizha tetap saja dingin pada Gabvin dan menatap tajam Angel juga Gery.
Pria brengsek ini sudah mencampakanku karna setatusku di rumah ini tak pants di matanya. Ingin sekali ku congkel mata itu dan ku potong lidahnya hingga ku iris tipis- tipis. Lalu ku pajang burung nya di kamarku!! Bathin Elizha menggumam.
"Gabvin... Siapa wanita di sampingmu itu? Kenapa dia ada di sini dan kenapa kalian begitu akrab padanya?" tanya Angel yang ke heranan.
Gabvin tersenyum dan mulai merogoh ponselnya, ia mengirim Gery pesan "Piiip!" Bunyi ponsel Gery.
"Gabvin... Kamu mendengarku kan? Ayo katakan? Siapa wanita di sebelahmu itu... Aku yakin dia bukan nona muda dari golongan orang kaya. Sebab sikapnya urakan sekali" Jelas Angel dengan kata-kata menusuk bagi Elizha.
Sial... Wanita ini bermulut pedas juga rupanya. Uughh ingin ku sumpal mulutnya dan ku robek jadi dua bagian... Teriak Elizha.
"Hehe... Sebenarnya kami adalah tunangan" Jelas Gabvin di iringi sebuah senyuman tulus.
Elizha menoleh ke arah Gabvin dengan mengigit bibirnya sendiri kemudian menginjak kaki Gabvin di bawah meja.
Jrak! Gabvin pun sedikit terkejut kerna kakinya sakit, ia pun menoleh ke arah Elizha dengan menahan sakitnya "Benarkan sayang?" Tanya Gabvin
Sial. Apa lagi ini... kenapa dia berpura-pura jadu tunanganku di depan suamiku? Jangan sampai Gery dan Gabvin bertangkar lagi. Bathin Elizha.
"Oh astaga... Kenapa kamu mau bertunangan dengannya?!" Bentak Angel. Elizha menatap Angel dan meyorot tajam ke arahnya Apa yang wanita ini katakan? Memangnya aku seburuk itu hingga tak boleh dekat dengan Gabvin. Menyebalkan... Bathin Elizha mengumam.
"Sebab dia adalah wanita yang mampu mencuri hatiku dan membuatku terpesona hingga ingin menjaganya siang dan malam... Ya kan sayang?" tanya Gabvin menatap Elizha lagi.
Oh tuhan selamatkan aku... Bathin Elizha.
Gery masih menatap Elizha yang saling terpaut tatapan dengan Gabvin. Gery yang marah pada sandiwara itu tak ingat jika ia minum air terlalu banyak "Tambah lagi..." Pinta Gery pad Yan "Tapi tuan... Anda sudah minum sebanyak lima gelas" Jelas Yan. Tapi tatapan Gery tak bergeming dari Elizha.
"Baiklah..." Yan kembali menuangkan air putih di gelas Elizha.
"Sayang ayo makan... Aaaaa buka mulutmu, biarkab sayuran ini masuk dan menutrisi bayi kita" Pinta Gabvin mesra. Elizha masih syok dan tak menduga semua ini akan terjadi di meja makan.
"Gabvin... Kau sungguh membuatku ke cewa! Padahal aku sudah berjanji pada Siska... Bahwa aku akan membuat kalian berkencan nanti" ujar Angel.
"Tak perlu repot-repot. Sebab... Wanita manapun tak mampu menandingi kecantikan calon istriku ini..." Jelas Gabvin menghempas sisa makanan di pipi Elizha dengan saputangannya.
Gery yang tak tahan itu mulai menaruh gelasnya dengan cukup keras "BRAK!!" Angel, Gabvin dan Elizha di buat kaget oleh tingkah Gery yang kesal itu.
"Aku sudah selasai... Sebaiknya aku pergi" Ucap Gery lantang seraya meraih tas kerjanya.
Angel mulai beranjak dan mengikuti Gery, wanita itu bergelendongan di sikut Gery hingga membuat Elizha cemburu.
"Kau lihatkan... Hatinya memang milikmu Zha..." Imbuh Gabvin.
Elizha meraih sepetong ayam dan menyumpal mulut Gabvin "Ummmmmh" ringis Gabvin.
"Buatlah mulutmu diam... Dasar! Skenariomu tetang pertunangan kita malah memperburuk situasi. Angel akan menyebar rumor dan aku malah makin jauh dengan Gery" umpatnya kesal.
Padahal... Aku melakukan hal itu, hanya untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya pada Elizha...
Bersambung