ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA

ISTRI YANG DI BUANG SUAMINYA
Saling menyerang


Gery terduduk di kursi singgah sananya seraya memegang selebar kertas putih polos. Sedang Gabvin yang baru datang dengan suara terengah itu menatapnya tajam, seakan meminta sebuah pertanyaan atas hilangnya Elizha ketika berjalan bersamanya.


"Lama tak jumpa..." Sapa Gery bersama senyuman kecilnya. Sedangkan Gabvin masih terdiam bersama rasa penat di benaknya.


"Heh. Bagai mana bisa seseorang seperti mu acuh pada bawahannya. Sedangkan ia saat itu tengah tak sadarkan diri selama beberapa hari terakhir" Sindir Gabvin seraya menyungingkan bibirnya.


"Heh. Benar juga, tapi... Terlepas dari itu, kamu pasti tahu kan? Tugas Ceo itu seperti apa? Aku sungguh sibuk akhir-akhir ini. Hingga tak banyak waktu untuk istirahat... Lagi pula, kelihatannya kamu pulih total..." Balas Gery. Entah kenapa, suhu di ruangan itu terasa sedikit panas. Padahal kantor Ceo memiliki sirkulasi udara yang cukup bagus, juga ac yang selalu menyala.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu..." Tegas Gabvin mulai ke intinya.


Gery menoleh "Ya. Silahkan, tapi... Duduklah dulu" Pinta Gery masih menatap mata Gabvin dengan tatapan tajam.


"Heh. Tak perlu, lagi pula aku tak akan lama..." Gabvin bersikeras.


"Baiklah... Jika permintaan ku mengganggumu. Silahkan lakukan sesukamu... Lantas, hal apa yang begitu mendesakmu datang kemari. Jika itu penting... silahkan tanyakan saja..." Ujar Gery menyungingkan sebelah bibirnya.


Dari aura keduanya, tampaknya dua sahabat baik itu tengah bertentangan paham kali ini "Plat mobil itu... Apakah kamu pelakunya?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut kecil Gabvin. Seakan menyalahkan dan menunjuk Gery secara langsung.


Gery tersenyum dan menbuang wajahnya yang kala itu tengah perang tatap menatap "Cih. Plat mobil? Palakunya? Apa maksudmu... Kenapa rasanya kita sedang ada dalam suasana wawancara seorang detektif? Ayolah... Masa kanak-kanak kita telah berlalu. Apakah tak ada hal lain yang ingin kamu sampaikan selain pertanyaan konyol yang tak jelas itu?" tanya Gery menyimpang dari pokok percakan mereka.


"Jawab ya. Atau tidak?" Lugas Gabvin menekan intonasinya.


"Heh. Ayolah Vin... Sadar, bangun lah... Buka matamu lebar-lebar? Apa sebenarnya yang mengganggumu saat ini? Lihatlah dirimu di cermin. Tanyakan pada dirimu, sebanarnya untuk apa kamu menekan ku seperti ini?" Gery masih mengelak dan masih mau mempermainkan Gabvin.


"Aku hanya butuh jawaban Ya atau Tidak!!" Bentak Gabvin penuh emosi, detak jantungnya tak beraturan kala menahan luapan emosi yang cukup sepadan.


"Heh. Jika Ya.. Apa yang akan lakukan? Lalu jika Tidak, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Gery mulai serius dengan balik menekan Gabvin.


Gabvin terdiam, ia belum bisa menjawab pertanyaan yang berbalik lalu di tujukan untuknya.


"Jika Ya... Aku yang melakukannya, seharusnya kamu tak perlu marah. Sebab wanita yang ku ambil adalah milikku... Elizha adalah istriku... Dia adalah wanita ku! Apakah kau paham!!" Bentak Gery seraya menggebrak meja.


Gabvin makin marah, emosinya meluap-luap sekaan hendak meledak "Lalu.. Jika tidak, Karna aku tak perlu melakukan sebuah paksaan padanya. Karna dia adalah istriku! Wanita Ku! Dia adalah milikku!! Tak sepatutnya aku... Membiarkannya, bersama pria lain!!' Bentak Gery menambah dampak tekanan untuk Gabvin.


"Oh begitu ya... Lantas... Untuk apa, selama ini kamu mempercayakannya padaku! Lantas... Bagai mana kamu bisa menjaganya saat hatinya benar-benar hancur! Apakah kamu bertanya padanya tentang pernikahan sah mu bersama Angel! Apakah dia sungguh baik-baik saja menerima kenyataan bahwa dia hanyalah istri kontrakmu!! Di mana... Kebersaran hatimu sebagai laki-laki... Lalu, dimana... Keadilanmu sebagai suami, kontraknya?" Jelas Gabvin menyerang Gery dengan impas.


"Heh. Memangnya, jika kamy merengek seperti ini... Aku akan menyerahkan istriku padamu? Hahahahaha... Kamu sungguh konyol, tak pernah ku banyangkan sedikitpun. Jika nantinya kamu akan benar-benar merebutnya dariku..." Gery terkekeh membuang wajahnya untuk menutupi perasaan kecewanya pada Gabvin.


"Heh. Lantas, untuk apa pernikahanmu dengannya jika setiap waktu dalam hidupnya adalah sebuah siksaan?" Tanya Gabvin belum puas mencecah Gery.


"Hentikanlah omong kosongmu Gabvin. Aku takan segan jika kamu bertindak di luar batasanmu... Sikapmu yang seperti ini, membuatku curiga... Apakah kamu memang mencintai istriku?" tanya Gery sedikit menusuk. Pertanyaan yang terlontar itu seakan meninju hati Gabvin. Hingga Gabvin membisu sesaat.


"Jelaskan... Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Apakah kamu sungguh mencintai istriku? Atau hanya kasihan padanya... Karna aku selalu menomber duakannya?" Pertanyaan bertubi itu sungguh tak bisa membuat Gabvin berpikir jernih. Ia malah bingung pada dirinya sendiri, ia bertindak gegabah atas urusan pribadinya tanpa memikirkan jangka panjang.


"Jawablah... Hanya kamu yang tahu isi hatimu sendiri. Apakah harus aku yang memastikannya sendiri... Kadang tebakan itu bisa jadi jelas ketika wajahmu menunjukan jika saat ini kamu ingin berkata Ya?" Ujar Gery terus memancing Gabvin atas kedatangannya bersama pertanyaan yang Gabvin bawa untuk Gery.


Gabvin mematung dengan sorot mata tajam lurus kedepan, matanya memerah seakan menahan sebuah tangisan yang begitu memalukan untuknya, Sedang Gery hanya bisa membalas dengan senyuman puas. Mereka saling menatap bengis satu sama lain.


Mereka mulai diam satu sama lain, hingga membuat ruangan itu senyap. Gery pun mulai putus asa ketika menunggu jawaban dari Gabvin yang menurutnya penting.


"Ruangan ini jadi begitu panas setelah kedatanganmu... Mungkin aku harus memasang Ac baru" gumam Gery memecah suasana.


"Ohhh astaga... Aku sungguh jadi ngantuk dan haus... Menunggu jawaban darimu membuatku sungguh bosan" Tambahnya.


"Apakah kamu ingin minum sesuatu?" tanya Gery menawarkan sesuatu. Setelah itu, Gabvin mulai tersenyum lebar dan mencemooh Gery seeprti biasa...


"Jangan berlebihan . Aku bukanlah tamu istimewamu" Jelas Gabvin.


"Jangan menolak tawaranku, karna kamu pasti akan menyesalinya" imbuh Gery memalingkan wajah.


"Sayangnya. Aku tak begitu suka kopi hitam, karna rasanya begitu pahit seperti hidupmu..." Hujat Gabvin keras kepala. Gery sungguh naik pitam karna sahabatnya ternyata mengkhianatinya dan menghujatnya dengan kata-kata yang tak pernah ia dengar sebelumnya.


"Baiklah jika begitu. Sayang ambilkan aku coffe hitam, buatlah satu... Spesial saja untukku" Pekik Gery.


Gabvin sedikit tercengang mendengar Gery berkata demikian, ia pikir yang di sahut Gery adalah Angel istri sah nya. Namun rupanya... seketika itu, Elizha muncul lalu meletakan kopi itu di meja Gery. Gabvin terbelalak sedang Elizha hnya bisa menunduk tanpa menoleh ke arahnya.


Apa yang sebenarnya terjadi... Tolong Jelaskan padaku! Bathin Gabvin bersama emosinya.


Bersambung...