GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
98. Tunggu Kami


Setelah kembali menyelesaikan sesi yang sudah kesekian kali, Toni dan Wulan keluar kamar pada jam makan malam. Mereka langsung menuju kamar Bu Anderson untuk membawa wanita itu ke ruang makan. Wulan melihat raut wajah ibu mertuanya seperti biasa saja. Tidak ada gurat penasaran, pertanyaan atau merasa bahwa ia adalah orang asing di rumah itu. Hal itu dengan segera menambah rasa percaya diri Wulan.


Di meja makan, Wulan meladeni ibu mertuanya lebih dulu. Ia seperti seorang menantu yang keranjingan yang cari muka. Sebenarnya ia agak sedikit malu pada Toni, karena terlihat begitu antusias menawarkan ini dan itu kepada ibu mertuanya.


Tapi, melihat raut bahagia di wajah suaminya, Wulan menjadi semakin bersemangat. Meski belum memiliki anak, Wulan sudah merasa berada dalam keluarga yang utuh.


“Mami, gimana hari ini? Maaf karena aku dan mas Toni pulang terlambat. Mami nggak kesepian, kan?” tanya Wulan.


“Jelas aja Mami kesepian. Tapi, karena kalian pergi untuk bulan madu kedua, Mami enggak apa-apa. Oh, ya, kamu jadi beliin Mami bunga anggrek?” Bu Anderson menghentikan gerakannya menyendok nasi dan menatap Wulan.


“Maaf Mami, kami tadi terburu-buru, karena khawatir Mami kelamaan sendirian di rumah. Jadi kami langsung pulang. Enggak sempet untuk mampir beli bunga anggrek.” Wulan yang duduk di sebelah ibu mertuanya, meletakkan sendok dan mengusap tangan wanita itu.


Bu Anderson mengangguk pelan. “Ya, sudah. Enggak apa-apa. Lain kali aja,” sahutnya.


Wulan merasa tak enak. Janji membeli bunga anggrek itu memang sudah lama sekali. Bertahun-tahun yang lalu. Ia tak menyangka bahwa ingatan itu masih tersimpan rapi di kepala ibu mertuanya.”Gimana kalau kita belinya sama-sama? Besok? Mami mau?” Wulan menawarkan hal itu sambil menatap wajah ibu mertuanya.


“Apa kamu enggak repot bawa Mami? Di kursi roda begini nanti malah nyusahin orang.” Bu Anderson memandang ke bawah, menatap kakinya yang tertutup selimut.


“Kita bawa Mbak Perawat. Dua-duanya kita bawa. Biar aku juga nggak khawatir Mami di jalan kenapa-napa. Pokoknya, Mami santai aja. Besok kita pergi ya.” Wulan lalu menoleh Toni yang sedang mengunyah makanannya dengan wajah riang. “Boleh, kan, Mas? Kita besok keluar, ya. Cari bunga anggrek,” cetus Wulan.


“Boleh—boleh. Kenapa nggak? Besok Mas belum kerja, kok. Kan, nggak ngantor,”sahut Toni.


Sebenarnya mengharapkan kalau ingatan Bu Anderson akan tetap seperti itu adalah hal yang sangat jahat. Tapi, Wulan sementara ini memang ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu. Toni sudah mengatakan kalau beberapa hari ke depan, ia menugaskan Musdalifah membereskan urusan perusahaan Wulan. Toni mengatakan pada Wulan agar mempercayakan perusahaan itu padanya.


Sikap Bu Anderson saat ini disadari Wulan sebagai sikap yang ditunjukkan ibu mertuanya di awal-awal duduk sebagai pasien kursi roda. Meski saat itu mereka belum terlalu dekat, tapi Bu Anderson masih lebih bersahabat.


Atau bahasa kasarnya ibu mertuanya pada saat itu masih lebih waras. Namun, dua bulan sesudah kecelakaan, Bu Anderson mulai merindukan suaminya. Mulai marah-marah, menyalahkan setiap orang. Terlebih, menyalahkan Wulan yang belum juga hamil.


“Jadi, kalian ke mana aja? Cuma di Bogor?” tanya Bu Anderson malam itu.


“Iya, Mi. Cuma di Bogor aja. Resornya bagus, deh. Lain kali kita pergi bareng ya,” kata Toni.


“, lain kali pergi bareng aja,” tambah Wulan.


“Bener, ya. Mami udah lama banget nggak kemana-mana di rumah terus. Mau perg, tapi khawatir merepotkan orang. Kaki ini memang nggak ada gunanya. Mending nggak punya kaki,” ujar mami Toni kembali memandang kakinya.


“Mami, ko, gitu ... nggak boleh,” kata Toni. Itu sudah bukan hal yang mengherankan. Bu Anderson memang sering mengatakan hal itu, dan semua penghuni rumah sudah terbiasa.


“Kok, Mami rasa, Wulan Makin cantik, ya? Waktu di Bogor, Wulan ke salon? Kayaknya rambu Wulan nggak kayak gini. Beda. Tapi, makin cantik. Wulan sekarang lebih berisi,” ujar mami.


“Serius, mi? Lebih berisi? Aku suka kalo ada yang ngomong aku makin berisi. Soalnya Mas Toni juga nggak suka, kalo aku terlalu mungil.” Wulan mencebikkan bibirnya. Toni terkekeh melihat wajah Wulan yang menggemaskan.


Usai makan malam, Toni membawa ibunya ke depan televisi. Menonton sekaligus mengobrol soal kota Bogor. Soal jajanan khas kota itu, serta apa saja yang mereka lakukan di sana. Hari itu Bu Anderson lupa pada rutinitasnya mencari dan menanyakan soal suaminya.


Seorang perawat telah berdiri di sebelah kursi roda Bu Anderson untuk membawa wanita itu kembali ke kamar.


Toni dan Wulan mengikuti dari belakang. Lalu, setelah membantu memindahkan ibunya ke ranjang, Toni berdiri di sebelah ibunya. Wulan duduk di tepi ranjang mengawasi Kepala Perawat memeriksa tekanan darah Bu Anderso. Wulan mengamati seraya merapikan selimut yang menutupi bagian bawah tubuh ibu mertuanya.


Kepala perawat meletakkan stetoskop beberapa saat di dada Bu Anderson. Dahinya sedikit mengernyit. Toni langsung merasa bahwa wanita itu pasti akan mengatakan sesuatu padanya.


“Hari ini sedikit. Enggak seperti biasanya,” jawab perawat muda itu.


Toni dan Wulan saling pandang. Mereka ikut menantikan jawaban Kepala Perawat menggurat raut cemas di wajahnya. Wanita itu lalu memeriksa telapak tangan dan sedikit membuka selimut bagian bawah untuk melihat kaki Bu Anderson. Ia lalu kembali merapikan selimut dan mengusap tangan pasiennya.


Perawat senior Bu Anderson berusia kira-kira hampir 40 tahun. Dia adalah orang pertama dan masih bertahan menjadi perawat utama yang merawat Bu Anderson setelah mengalami kecelakaan. Sedangkan para perawat muda pendampingnya, sudah beberapa kali berganti.


“Mami kenapa, Sus?” tanya Toni tak sabar.


“Kita keluar aja, Pak.” Kepala Perawat memandang Bu Anderson yang sudah terkantuk-kantuk, seakan tak menyadari bahwa orang di sekitarnya tengah berbisik.


Toni mencium puncak kepala ibunya, kemudian mengusap pipi wanita itu sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan meninggalkan kamar.


Seorang perawat muda masih duduk di sebelah Bu Anderson, untuk menunggui sampai wanita itu tertidur.


Di luar kamar, Toni langsung bertanya. “Memangnya Mami kenapa? Enggak sehat?” tanya Toni.


Kepala perawat mengalungkan stetoskop di lehernya. “ Denyut nadinya melemah dan cepat tidak beraturan. Saya cuma khawatir dengan jantungnya Bu Anderson. Tapi, untuk sekarang ini, sepertinya baik-baik saja. Kesehatannya memang naik turun. Tadi saya nggak kasi obat tidur. Tapi, Ibu harus tau bahwa dia diberi obat tidur. Kayaknya itu membuat dirinya lebih tenang.”


Saat mendengar hal itu, Wulan menoleh pintu kamar ibu mertuanya tertutup. Bisa jadi ibu mertuanya memang sedang sakit yang sedikit serius. Saat mereka mengobrol di depan televisi tadi, suara wanita itu memang terdengar sangat lemah.


“Doain aja mami nggak ada apa-apa. Jangan khawatir,” ucap Wulan, mengangkat satu lengan Toni dan memeluk pinggang pria itu. Toni mengangguk-angguk masih dengan dahi mengernyit. Mereka lalu kembali ke kamar untuk beristirahat. Niat mereka memang benar-benar untuk beristirahat, setelah kemarin malam mereka hanya tidur tak lebih dari dua jam.


Tapi seperti halnya pengantin baru di mana pun, meski badan mereka lelah, tapi sepertinya melewatkan malam tidur seranjang tanpa berbuat apa-apa begitu terasa merugikan. Apalagi Wulan telah meninggalkan ranjang besar milik Toni bertahun-tahun yang lalu. Rugi rasanya jika malam itu mereka langsung tidur.


Tony kembali mencium Wulan. Mencium, membelai pipi istrinya seraya merapikan rambut. Lalu, ia mendaratkan kecupan dalam dan memeluk tubuh istrinya begitu erat. Dan menempel.


Bagi Toni, rasanya bagai mimpi. Melihat Wulan kembali berbaring di sebelahnya setelah malam-malam panjang yang ia lewati dalam kesepian.


Beberapa bulan seperti pria gila yang membuka album foto pernikahan dan mengenang pernikahan mereka. Setiap harinya penuh penyesalan, dan penuh pertimbangan untuk meminta istrinya kembali. Malam itu, Toni bersyukur bisa memiliki Wulan kembali. Ia merasa Wulan adalah rumahnya.


Setelah ciuman panjang bertubi-tubi, Toni kembali membuka kancing demi kancing piyama istrinya. Ia tak mampu melewatkan malam itu begitu saja. Tenaganya masih kuat. Ia masih sanggup melewati beberapa sesi lagi. Kini, ia tak sabar kembali menyatukan tubuhnya dan Wulan.


Beberapa saat yang lama, mereka telah kembali terengah-engah bersama tanpa busana. Dengan Toni yang mengungkung istrinya di bawah lengan kekar dan otot pahanya yang menegang. Kaki Wulan masih terlipat di depan dadanya. Kedua tangan Toni menyatukan tangan Wulan di atas kepala wanita itu. Mereka baru saja mencapai titik puncak bersamaan. Mata mereka saling menaut. Melepaskan sorot penuh cinta bagi satu sama lain.


Lalu, dering ponsel Toni di atas nakas, mengejutkan mereka. Serentak mereka langsung menoleh. Toni segera melepaskan tubuhnya dari Wulan dan merangkak meraih ponselnya.


Tampilan nama di depan layar membuatnya tersentak. ‘Kepala Perawat’.


“Ya, Sus?” tanya Toni langsung.


“Pak—Pak, maaf ganggu. Bu Anderson pingsan—syok kardiogenik. Tiba-tiba terbangun dari tidur mengeluh sakit di dada—”


Toni tak sempat mendengarkan perkataan Kepala Perawat itu semuanya. Ia mencampakkan ponselnya dan memunguti pakaian.


“Lan, Mami—Mami,” ucap Toni panik.


To Be Continued