
Di depan gedung perkantoran, Dean dan Toni berdebat kecil soal memakai mobil siapa mereka berangkat. Setelah diputuskan memakai mobil Toni, ternyata muncul masalah lain.
“Kan gue bilang juga tadi gitu … pake mobil lo aja. Entar lo anter kita balik lagi ke sini. Gak asik kalo pisah-pisah mobil,” kata Dean. Ia lalu membuka pintu penumpang bagian depan dan naik. Ryan dan Santoso langsung menuju jok paling belakang. Sedangkan Musdalifah dan Toni, naik ke kursi bagian tengah.
“Kita nggak lama, kan, De?” tanya Toni, sedikit khawatir kalau Wulan akan lama menunggu makan siangnya.
“Lo berisik banget, ya … ini untuk kenyamanan salah satu bagian tubuh lo juga. Ikutin dulu napa, sih.” Dean mengomel dengan siku kirinya bertumpu pada pintu mobil.
“Gue cuma mau mastiin aja. Kasian, kan, katanya lagi nggak enak badan.” Toni meringis.
“Eh, ngomong-ngomong, yang nyetir siapa? Kok semua duduk di belakang?” Dean memutar duduknya dan melihat empat orang sudah duduk rapi di kursinya masing-masing. “Lo ngapain duduk di belakang, Ton?”
“Iya, ya …,” gumam Toni, kemudian turun dan memutari mobil untuk duduk di belakang kemudi.
Sebenarnya, hal itu sangat lucu. Tapi ketiga manusia lainnya yang berada di dalam mobil, sudah berada dalam tahap lelah untuk tertawa. Mereka hanya mengutuk di dalam hati soal kebodohan atasan mereka. Terlebih Ryan. Ia hanya melengos mendengar omelan Dean.
Mobil lalu melaju membelah lalu lintas pagi. Sudah pukul sepuluh, arus lalu lintas lumayan lancar mengingat jam absen pagi sudah lewat. Dean meminta Toni lebih dulu menuju kawasan pertokoan yang padat. Daerah itu termasuk kawasan pasar induk tempat di mana berbagai distributor bahan kebutuhan pokok berada.
“Ini ke mana, sih, De?” tanya Toni. “Jalannya jelek banget. Kenapa nggak dibenerin ama pemerintah, ya?” Toni memelankan laju kendaraan mereka agar seisi penumpang tidak terlonjak-lonjak karena mobil melalui lubang.
“Lo liat, dong, ini daerah mana …,” gumam Dean. “Benernya paling cuma sebulan doang. Tiap hari yang masuk kendaraan gede-gede gini. Pengusahanya juga nggak bisa komplain. Yang bikin rusak, mereka juga.” Dean menoleh pada sebuah truk yang berhenti di bahu kiri jalan.
“Kita berenti di mana?” tanya Toni.
“Tunggu .... Gue ada dapet info dari seseorang. Katanya gudangnya di sini. Gue cuma mau mastiin aja, barangnya apa. Gue, kok, agak ragu. Karena nggak sesuai ama bayangan awal gue.”
“Ya, apa? Lo yang jelas, dong. Sok misterius banget,” kata Toni. Ia kembali menoleh pada jam di tangan kirinya.
“Berenti di depan,” kata Dean. Ia menunjuk bahu jalan yang kosong sebagai perhentian. Ia kemudian sedikit menunduk memandang kaca spion kiri untuk melihat ke belakang. “Mmmm—itu laki-laki yang keluar, pakai kemeja biru. Kebetulan dia lagi sendirian. Nah, ini kayaknya, cocok untuk tugas Mbak Mus. Tanya ‘jual pupuk dalam partai kecil nggak?’ itu aja. Trus balik lagi ke sini.” Dean menoleh ke belakang.
Musdalifah sedikit terperanjat. Ia mendekap tas dan menjauhi Dean yang menjulurkan kepalanya. “Kok saya?” tanya Musdalifah. Ia duduk tepat di belakang kursi yang Dean tempati.
Dean memutar tubuh kembali menghadap ke depan. “Hayoo … di mana loyalitas dan solidaritas bawahan pada atasannya? Pak Toni dengan begitu baiknya menjaminkan dirinya selama 15 tah—”
BRAKK!
“Waduh!” Dean memegang dadanya. Musdalifah baru keluar dan membanting pintu. “Ternyata soal cicilan ini memang sensitif. Lebih cepat dari dugaan gue.” Dean terkekeh.
“Geblek!” umpat Toni, pada temannya.
Dean melihat Musdalifah berbicara dengan pria berkemeja biru. Selang lima menit kemudian, wanita itu sudah kembali masuk ke mobil.
“Tidak dijual dalam partai kecil. Mau beli jumlah besar, belum masuk barang karena baru dibawa. Mau dikirim. Laporan selesai,” ujar Musdalifah.
“Gampang banget infonya. Berarti udah banyak pembeli langsung. Prakteknya nyaris terang-terangan. Backingnya kuat kayaknya,” ucap Dean.
“Apa, sih? Penasaran,” ujar Toni lagi.
“Entar aja. Sekarang kita jalan lagi. Kalo gitu ke perusahaan pengangkutan. Lo chat Wulan sekarang. Bilang, ‘Tunggu, Mas, Sayang.’ Kayaknya lo bakal telat dikit. Enggak enak kalo baru baikan terus dicemberutin lagi,” tukas Dean.
Tanpa bertanya lagi, Toni kembali mengeluarkan ponselnya dan mengetik beberapa saat. Setelah selesai, ia kembali memasukkan persneling dan melaju.
“Nah, selanjutnya liat siapa yang kerja. Tergantung laki-laki atau perempuan yang harus ditanya.” Dean menatap jalanan.
“Lo biasa emang nyari sendiri kayak gini? Enggak pake agen pihak ketiga?” tanya Toni.
“Mereka cari info, gue mastiin lagi. Mereka check. Gue re-check. Eh, by the way, Ton … si Rey kabarnya apa? Enggak ada nelfon Wulan, gitu? Atau datengin Wulan?” Dean sedikit memutar duduk menghadap Toni.
“Wulan belum ada bilang, sih ….” Toni berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.
“Dia nggak minta, De. Gimana gue mau bantu? Dia nggak ada minta tolong ke gue,” keluh Toni. Rautnya tiba-tiba menjadi begitu serius.
"Yakinkan dia, Toni. Lo tanamkan sesuatu yang ...." Dean diam, lalu menoleh ke belakang. "Ternyata banyak audiens. Konsultasi ditunda. Gue cemas dengan dua orang yang belum menikah di sini," ujar Dean. Menatap Musdalifah dan Santoso bergantian.
“Pengangkutan bagian mana?” tanya Toni.
“Lo jalan pelan-pelan, kita berenti di belakang mobil itu.” Dean menunjuk sebuah mini bus dan Toni menghentikan mobil itu tepat di belakangnya.
Setelah mobil mereka berhenti, Dean kembali mengamati keadaan mereka dari kaca spion. Lalu, ia menoleh ke belakang.
Musdalifah langsung mendekap tasnya.
“Yang turun Mbak Musdalifah lagi?” tanya Santoso yang sejak tadi duduk anteng di belakang.
“Enggah, ah!” sergah Musdalifah.
“Kenapa?” tanya Santoso.
“Capek,” jawab Musdalifah, masih menatap raut Dean yang mengernyit memandangnya.
“Pantes capek,” kata Santoso.
“Kenapa?” Musdalifah balik bertanya.
“Dari tadi Mbak Mus lari-larian dalam pikiran saya,” jawab Santoso.
“Astaga, Santoso ….” Ryan meringis dan bergidik mendekap tabletnya.
“Bisa aja, ya ….” Toni tertawa dari kursi depan.
Sedangkan Dean bertepuk tangan. “Bravo! So! Kali ini, lo yang harus turun. Di pengangkutan itu, pegawainya cewe. Kayaknya cocok buat kalimat-kalimat, lo. Tanya apa ada pengiriman jumlah besar ke Situbondo. Sana, buruan!” Dean kembali menoleh ke depan.
Dengan sigap, Santoso bangkit dari duduknya. Sejurus kemudian ia sudah merapikan tampilan rambut dan dasinya di kaca jendela mobil bagian luar. Musdalifah harus meletakkan tasnya di kaca mobil untuk menghalangi pantulan Santoso yang sedang tersenyum lebar dan mengusap-usap janggut mininya.
“Wulan bales apa?” tanya Dean, melihat Toni membuka-buka aplikasi pesannya.
“Katanya, ‘Iya, enggak apa-apa.’ Itu doang.”
“Lo udah ada ngomong ke Mami lo? Soal Wulan?” tanya Dean.
“Belom sempet. Dari kemarin gue di luar terus,” kata Toni.
“Rio kemarin ada ngasi saran, kayaknya cocok buat dicoba. Lo juga harus persuasif ke Mami lo,” kata Dean.
Tak berapa pintu mobil kembali dibuka dan Santoso kembali ke dalam.
“Ada, Pak. Baru berangkat. Situbondo, 3 ton.” Santoso berbicara sambil menuju kursinya.
“Nah, bener berarti.” Dean kembali menatap Toni lekat-lekat. “Kalo gitu kita sekarang menuju galeri ponsel merek POPO. Kali ini nggak perlu Mbak Mus atau Santoso, atau Ryan. Gue langsung yang turun. Gue tau kalian semua pasti capek,” kata Dean.
“Halah!” dengus Ryan, dari belakang.
“Apa, sih, Ryaaaan …. Sensi amat,” ucap Dean, mengetatkan dasinya.
To Be Continued
Btw, nyebut nama DEAN itu tetap DEAN seperti biasa. Bukan, DIN, ya .... Kebetulan ada yang nanya tadi :D