GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
97. Semangat Baru


Semua tamu yang datang dari Jakarta ke resepsi pernikahan Toni dan Wulan, check out minggu siang. Sebenarnya, Dean, Rio dan Langit ingin mengajak Toni makan siang bersama di restoran yang menyajikan makanan khas Bogor.


Tapi, raut wajah Toni dan Wulan sepertinya tidak memungkinkan. Kedua pengantin baru itu terlihat sangat lelah. Terutama Wulan. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Siang itu, Wulan terlihat mengantuk dan tampilannya sangat sederhana. Wanita itu hanya mengikat rambutnya. Begitu sederhana tanpa polesan make up apa pun.


"Kelihatan capek banget. Semaleman, ya?" tanya Dean pada Toni. Saat itu mereka tengah menuruni undakan tangga di teras lobi. Para ibu-ibu sudah naik ke mobil lebih dulu. Semua bawaan mereka tengah disusun oleh petugas concierge ke bagasi.


"Emang keliatan, ya?" Toni balik bertanya seraya terkekeh.


"Gimana? Enak banget pasti. Kayak pengantin baru, kan?" tanya Langit sembari mencolek-colek lengan Toni.


"Kan, memang pengantin baru. Kok, kayak?" balas Rio.


"Udah lo bolak-balik?" tanya Dean seraya tertawa. "Harus rajin bolak-baliknya biar tepat sasaran, Dude!"


"Semua dicoba. Dibolak-balik, atas-bawah, malah diangkat-angkat. Lo pasti iri karena nggak bisa ngangkat tinggi-tinggi." Toni tertawa terbahak-bahak menepuk pundak Dean.


"Gue nggak pernah sempet buat ngangkat-ngangkat. Bini gue selalu bawa bayi. Entar anak gue malah pusing di dalem, karena bapaknya banyak gaya."


"Rasain, lo ... rasain. Hamilin teruuusss," dengus Langit.


Usai mengobrol dan bercanda sejenak di depan teras resor, mereka berpisah menaiki kendaraan masing-masing.


Dalam perjalanan pulang, Wulan memang terlihat sangat lelah. Ia menurunkan sandaran kursi mobil dan berbaring menghadap suaminya. Mobil matik yang tak memerlukan perpindahan persneling terlalu sering, membuat Wulan menjadikan lengan Toni sebagai guling.


"Maaf, ya ...," ucap Toni dengan raut jahil dan gemas. "Bu Arista Wulandari jadi capek banget ngeladeni Mr. Anderson," tambah Toni. Ia lalu tertawa kecil melihat Wulan mencibir.


"Mas, aku pengen cepet punya anak. Temenku anaknya udah ada yang dua, tiga. Aku belum ada," ucap Wulan.


Toni menarik napas panjang lalu menghelanya. "Maaf, ya. Harusnya aku lebih gigih dari dulu. Kita berdua sehat, enggak ada yang salah. Harusnya aku yang ngasi kenyamanan biar kamu nggak stres." Toni mengusap lengan istrinya.


"Ya, udah. Enggak usah diomongin lagi. Yang penting gimana sekarang." Wulan meraih telapak tangan Toni yang sedang mengusap lengannya. Ia lalu mencium telapak tangan pria itu.


"Pakaian yang di apartemen kamu, gimana? Udah di koper semua, kan? Aku mau minta Pak Mus aja yang ambil. Gimana?" tanya Toni, menoleh sekilas pada Wulan yang terkantuk-kantuk.


"Iya. Pak Mus yang ambil juga nggak apa-apa." Wulan kembali mendekap tangan suaminya. "Aku ngantuk. Mas jangan ajak aku ngobrol. Mau tidur," sungut Wulan.


"Tapi, aku masih ada mau ngomong sesuatu ke kamu. Kamu jangan marah ya," ujar Toni.


"Ngomong apa?" Wulan langsung membuka mata, mendongak menatap suaminya. Kata-kata orang yang akan membicarakan sesuatu kepadanya, memang selalu membuat gelisah. Hal itu selalu terdengar serius.


"Sebenarnya kemarin sewaktu aku minta izin untuk pergi ke Bogor, ingatan Mami sedang kacau. Mami nggak inget kita udah pisah. Beliau malah nanya kamu ke mana. Mami juga bilang, katanya kamu janji mau beliin bunga anggrek. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu. Kamu inget, nggak? Memangnya pernah janji ke Mami?" Toni menunduk sekilas, mengecek ekspresi di wajah Wulan.


Wulan masih diam mematung memandang dagu suaminya yang sedang menyetir, menatap jalan. Pandangan mereka bertumbuh sejenak.


"Bunga anggrek ...," gumam Wulan. Seketika ia teringat akan satu momen terbaiknya bersama sang ibu mertua. Mereka berjalan-jalan di taman dan membicarakan bunga. Ibu mertuanya sedang bersemangat menambah koleksi bunga di taman waktu itu.


"Kamu nggak marah?" tanya Toni.


"Karena aku nggak terus terang dari awal, kalo Mami nggak tau soal pernikahan ini."


"Enggak apa-apa. Kan, Mami memang nggak inget. Cuma ...." Wulan menggantung kata-katanya.


"Cuma apa?" Toni memijat kepala istrinya.


"Cuma kalau Mami tiba-tiba inget, gimana? Terus marah, dan nanya ngapain aku di rumah? Aku takut, Mas." Wulan menatap samping kiri wajah Toni. Ia melihat suaminya mengatupkan mulut seakan sedang berpikir.


"Kita liat aja nanti. Gimana? Sementara ini aku nggak ngantor. Aku temenin kamu di rumah. Kita bulan madu di rumah aja. Gimana? Mau, kan?" Toni sedang menenangkan hati wanita yang sudah ia nikahi dua kali. Kehidupan mereka beberapa tahun yang lalu sudah menjadi pelajaran penting dalam hidupnya. Ia merasa perlu berhati-hati dan memastikan bahwa Wulan tak akan pernah menyesal menikah dengannya.


"Aku nggak apa-apa," sahut Wulan. "Aku tidur, ya .... Ngantuk," ujar Wulan. Ia lalu memejamkan matanya.


"Istirahat yang banyak sekarang. Nanti di rumah, aku mulai lagi. Kita, kan, nggak tau. Gaya apa yang bisa bikin cepet punya bayi." Toni terkekeh. Ia sedikit geli saat mengucapkan hal barusan. Sejenak ia merasa omongannya sudah sama mesumnya dengan Dean.


Wulan menjawab perkataan Toni tadi dengan menggaruk pelan lengan suaminya.


Ternyata apa yang Toni dan Wulan khawatirkan sepanjang perjalanan tidak terjadi. Toni menyapa ibunya lebih dulu ke kamar, sementara Wulan sudah diantarkannya masuk ke kamar. Dan Bu Anderson masih sama. Masih menanyakan soal Wulan. Toni mengatakan bahwa istrinya sedang mandi dan sesaat lagi akan datang ke kamar itu.


"Sayang," panggil Toni. Ia tak melihat Wulan berada di kamar.


"Ya ...." Kepala Wulan menyembul dari balik pintu kamar mandi.


"Mami masih nanya kamu," lapor Toni, menghempaskan tubuhnya yang lelah usai menyetir.


"Kalo gitu aku cepet-cepet Mandi. Aku mau ngeliat Mami," ucap Wulan. "Mas jangan tidur. Mandi dulu," kata Wulan.


"Enggak tidur. sekali lagi, yuk. Sebelum kamu mandi," ajak Toni, bangkit dari posisi baringnya dan langsung melepaskan kancing kemeja.


"Aku, kan, mau ngeliat Mami. Entar malah keburu tidur," tukas Wulan dari depan pintu kamar mandi.


"Aku ikut ke kamar mandi kalo gitu." Toni sudah berjalan menuju pintu kamar mandi dengan bertelanjang dada. Kemejanya tergenggam di tangan kanan. "Ayo, masuk. Kemarin belum sempet di sini." Toni mendorong pelan bahu Wulan agar kembali masuk ke kamar mandi. Ia lalu mencampakkan kemejanya ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Nanti Mami keburu tidur. Kasian, Mas. Udah ditinggal dua hari." Wulan masih melontarkan alasan. Namun, Toni sudah menarik tali pengikat jubah mandinya.


"Sebentar aja," bisik Toni, menyingkirkan rambut dari bahu istrinya, lalu membungkuk untuk mencium leher wanita itu.


Sambil menciumi leher Wulan, Toni tergesa-gesa melepaskan pengait di celana jeans-nya. "Pengantin baru, agak susah nahannya. Apalagi kita dikejar target." Toni membuka jubah mandi Wulan dan menyangkutkannya di jemuran besi yang melekat di dinding.


Di balik jubah mandi itu, Wulan ternyata sudah tak mengenakan apa pun. Toni langsung mengangkat istrinya dan mendudukkan wanita itu di meja porselen dekat wastafel.


"Kita belum nyoba di sini. Aku bisa sambil ngaca," bisik Toni, kembali menciumi leher dan dada istrinya. Ia lalu meraih kedua kaki Wulan untuk dilingkarkan ke kakinya.


Wulan tak bisa menolak. Meski tubuhnya terasa remuk karena percintaan semalam suntuk yang mereka lakukan berulang kali, sore itu ia tetap tak bisa menolak. Wulan sudah mengerang saat Toni memasuki tubuhnya. Mencengkeram kedua lengan suaminya dan membenamkan kukunya di sana. Toni melakukannya dengan sangat cepat. Sekejab saja, Wulan sudah melenguh panjang dan menggores lengan suaminya dengan gigi.


To Be Continued