GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
46. Potongan Kisah Masa Lalu (1)


Santoso adalah pengacara muda berusia 27 tahun dan merupakan sosok yang terlihat pendiam. Tubuhnya gempal dengan bentuk wajah bundar dan terlihat selalu serius. Namun siapa sangka dia suka bercanda meski terkadang ekspresinya tidak lazim.


Danawira's Law Firm adalah tempatnya mengawali karier sebagai pengacara kasus-kasus umum yang sering bertugas ke lapangan. Santoso sosok pekerja yang gigih dan mampu menjaga klien-nya untuk tidak berpindah ke lain hati. Layanannya sering dibilang sangat memuaskan karena totalitasnya bekerja.


Tiga tahun lalu, dia merupakan fresh graduate yang mencoba peruntungannya dengan memasukkan aplikasi lamaran pekerjaan ke Danawira’s Law Firm melalui situs pencari kerja.


Seleksi yang ketat saat melamar di kantor Dean membuat Santoso berbangga hati, saat calon pelamar hanya tersisa empat orang termasuk dirinya.


Santoso tak bisa melupakan bagaimana dia dan tiga orang lainnya, menjalani diskusi bersama pemilik firma hukum tempatnya melamar. Mereka harus menjawab pertanyaan dari pria berwajah oriental yang memasang raut datar sepanjang waktu.


Empat orang yang tadinya berteman dekat selama masa seleksi, saat itu tampil bagai musuh. Mereka semua saling jawab, saling sanggah, saling menyudutkan satu sama lain dengan diawasi seorang pria yang mendengarkan mereka dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


Pria itu adalah pemilik firma hukum itu. Dengan nama belakang yang dijadikan nama kantornya. Santoso mendengar kalau pria itu adalah lulusan luar negeri dengan predikat memuaskan.


Saat itu, besar sekali harapan Santoso untuk diterima. Selain karena dia memang ingin mengembangkan kariernya, sebagai anak perantauan, Santoso merasa harus segera mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidup di ibukota.


Malangnya Santoso, dari empat orang pelamar itu, hanya dia satu-satunya laki-laki. Saat berdebat dengan tiga orang wanita, Santoso tersudut dan kalah. Dia sudah pasrah tak diterima bekerja di sana. Tempat bekerja impian para laki-laki yang bercita-cita menjadi eksekutif muda dan mengawali karier sebagai pengacara profesional.


Siang itu, Santoso yang kalah berdebat hanya mengatakan, “Aku membiarkan kalian menang karena memang sudah seharusnya begitu. Wanita tak pernah salah. Aku yang laki-laki hanya ingin melengkapi kodrat itu,” ucap Santoso kala itu.


Tak menyangka, Dean Danawira Hartono, LLM, langsung mengulurkan tangannya. “Santoso, selamat datang di Danawira’s Law Firm. Besok mulai kerja. Buat tiga orang lainnya, silakan temui Pak Ryan untuk klaim biaya transportasi selama menjalani tes penerimaan.”


Santoso terperangah. Dia tak menyangka akan hal yang baru saja didengarnya. Pria bermata sipit yang sepanjang mereka melakukan diskusi terlibat sangat bengis, ternyata bisa tersenyum juga. Dia benar-benar tak menyangka telah diterima.


Santoso yang baru menamatkan gelar sarjana hukum-nya kala itu sempat bertanya. “Kok saya yang keterima, Pak? Jawaban mereka benar semua,” pungkas Santoso, terheran-heran.


“Menjawab benar itu mudah. Tapi menjadi tetap benar ketika salah, itu adalah soft skill yang nggak sembarangan dimiliki orang. Skill berkelit namanya. Kamu memenuhi kriteria yang saya cari.”


Santoso tak mengerti akan jalan pikiran calon atasannya saat itu. Dia menilai pemilik firma hukum itu sangat nyentrik. Tapi, kesempatan yang diberikan padanya tak akan dia sia-siakan. Santoso bersiap membuktikan bahwa dia memang layak diterima bekerja di tempat itu.


Dan sejak saat itu, Santoso mengawali kariernya di firma hukum milik Dean.


Kembali ke ruangan kantor tempat Santoso masih berdiri tiga langkah dari Musdalifah yang memegang nampan. Pagi itu dia baru saja membereskan kelengkapan berkas atas nama Toni Setyo Anderson. Sesuai janji yang diutarakannya kemarin, pagi ini mereka akan berdiskusi soal kasus ringan itu.


“Diskusinya di mana? Di sini, atau—”


“Di sini aja,” kata Dean, memotong ucapan Santoso. “Gue lagi banyak waktu pagi ini.”


Entah kenapa, Musdalifah sedikit merinding saat mendengar Dean mengatakan hal itu. Ia lebih berharap kalau Dean sibuk dan tak ada waktu untuk mereka. Menghadapi ucapan garing Santoso, tak terlalu berat jika tak diiringi tatapan Dean.


“Ryan mana?” tanya Dean pada Santoso. “Panggil Ryan. Biar dia sebel diminta duduk di sini,” sambung Dean lagi.


“Saya naruh nampan ini dulu,” kata Musdalifah, mengangkat nampan kecil di tangannya.


“Enggak usah Mbak Mus yang naruh. Biar saya aja. Sayang saya terlambat. Harusnya Mbak Musdalifah cukup duduk aja. Biar saya yang sediain minum.” Santoso mengambil nampan dari tangan Musdalifah. Dean mencibir karena bangga akan sikap Santoso.


Musdalifah hanya menyipitkan matanya tak menjawab Santoso. Ia bergegas menuju sofa dan duduk di sebelah Toni. Ada sedikit keresahan jika ia harus duduk bersebelahan dengan Santoso. Ia khawatir Dean akan langsung menyalami mereka berdua dan mengucapkan selamat. Musdalifah merinding.


“Ya, manggil saya, Pak?” tanya Ryan.


“Iya Ryan … gue panggil elo. Lo duduk aja di situ. Sofa tunggal di tengah. Lo jadi juri aja. Atau lo simak aja percakapan di sini,” pinta Dean. Ia menunjuk sofa besar yang berada di tengah.


“Ih, saya ada kerjaan …,” sungut Ryan. “Lagian duduk di sofa tengah pula. Kayak lagi ulang tahun aja,” tambahnya lagi.


“Kan—kan, sebel lo, kan? Makin lo sebel, makin gue suruh duduk di sini.” Dean masih menunjuk sofa tunggal dan menatap Ryan.


Ryan menghela napas dan duduk di sofa tunggal yang dipilihkan Dean. Santoso kemudian duduk di sebelah Dean, berhadapan dengan Musdalifah.


“Ton, kita kayak lagi pertemuan keluarga ya,” ucap Dean tiba-tiba. Ia terkekeh sendirian menyadari posisi duduk mereka. “Kenalin Pak Toni … ini anak laki-laki saya, namanya Santoso.” Dean kembali terkekeh-kekeh.


“Iya juga ya,” sambut Toni, menoleh berkeliling melihat posisi duduk mereka.


“Wah, kebetulan memang. Kemarin malam kami pulang bareng-bareng mirip sebuah keluarga. Ditambah dengan kehadiran Pak Mustafa yang menambah kesan kami sebagai keluarga yang hangat.” Santoso mengatakan hal itu dengan santai.


“Wow … udah pulang bareng ternyata. Sayang Pak Mustafa enggak ikut. Padahal kita perlu saksi lain di sini,” tukas Dean.


“Buat saya semua harus ada dasarnya,” kata Musdalifah.


“Setidaknya, kemarin malem udah nyicil satu dasar. Dasar kepedulian. Cie … Santoso,” ucap Dean lagi.


“Benar-benar percakapan yang sangat berfaedah,” desis Ryan, melemparkan pandangannya pada Dean yang masih terkikik-kikik.


“Sorry, saya nggak suka yang biasa-biasa aja.” Musdalifah duduk menyilangkan kakinya dan mencibir.


“Denger sendiri, kan? Kenapa gue milih si Mus jadi sekretaris gue? Karena dia nggak suka yang biasa-biasa aja. Makanya, bosnya juga kayak gue, luar biasa.” Toni secara tak sadar membela sekretarisnya.


“Gue kok tersinggung, ya … Seluruh pengacara di Danawira’s Law Firm nggak ada yang biasa-biasa aja. Tunjukkan kelebihan lo, So!” Dean menepuk bahu Santoso.


“Ehem!” Santoso berdeham, kemudian memajukan letak duduknya.


“Kurang kerjaan,” desis Ryan lagi.


“Saya memang pernah jadi badut untuk seseorang yang kini tertawa bersama yang lain. Tetap menghibur walaupun sedang hancur. Tapi ada sesuatu dalam diri saya yang bisa membuat Mbak Musdalifah penasaran kalau nggak ngeliatnya ….”


“Kalo udah diliat, So?” tanya Dean.


“Bakal overthinking,” sahut Santoso, kalem.


To Be Continued


Jangan kelewat likenya ya .... :*


Jam tayangnya deket-deket soalnya. Mmmuaah