GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
48. Potongan Kisah Masa Lalu (3)


“Ini, Pak .... Salah seorang nasabah, menuntut perusahaan asuransi untuk segera membayarkan premi asuransi yang dijanjikan. Tuntutan ini sudah beberapa kali diajukan dalam forum pertemuan antara nasabah dengan pihak perusahaan asuransi, namun kejelasan pembayaran premi masih belum dapat dipastikan. Yang mau saya tanya, biasanya forum pertemuan ini di mana? Di asuransi cabang tempat nasabah membuka polisnya? Atau di kantor pusat?” tanya Ryan.


Dean sedang menatap komputernya. Ryan sebenarnya takut kalau-kalau dibentak atau diomeli oleh atasannya itu jika banyak bertanya. Tapi ia merasa perlu mengorek ilmu dari Dean yang percaya dirinya luar biasa itu.


“Biasanya forum pertemuan itu difasilitasi oleh kantor asuransi cabang. Masalahnya tetap dilimpahkan ke pusat. Nah, ini juga ada keanehan. Manajemen asuransi kayak saling buang badan. Yang cabang melimpahkan ke pusat, sedangkan yang pusat melimpahkan ke cabang dengan alasan di mana nasabah membuka polisnya pertama kali, di sanalah mereka harus menyelesaikannya. Ini yang mau saya bahas dengan direktur asuransinya. Nanti malam kita ke klub. Direkturnya sering nongkrong di sana bareng cewe-cewe. Hobinya jadi Don Juan. Ngakunya pailit. Tapi kalau belum sidang putusan menyatakan perusahaannya pailit, nggak bisa seenaknya dia ngomong kayak gitu. Dia kaya. Jadi, uangnya harus keluar.” Dean menggaruk-garuk dagunya memandang layar komputer.


Pada hari pertamanya bekerja, Ryan tenggelam dalam tumpukan berkas dan terlambat makan siang. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi, tapi, ia sungkan menyela Dean yang terlihat sangat serius.


“Saya mau keluar makan siang. Kamu pasti sekarang udah laper banget tapi takut buat ganggu saya, kan? Saya traktir makan. Karena saya tau kamu pasti nggak punya cukup uang untuk makan di restoran gedung ini,” kata Dean.


“Iya, Pak.” Ryan tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain hal itu. Semua yang dikatakan atasannya benar. Ia lapar dan tak punya cukup uang untuk makan di restoran gedung itu. Bisa-bisa ia menghabiskan biaya hidupnya seminggu hanya untuk sepiring makanan bernama aneh.


“Nanti selesai makan siang, kita beli pakaian kamu untuk acara ke klub malam.” Dean mendahului langkahnya.


Ryan menatap atasannya itu dari belakang. Atasannya itu sangat percaya diri. Namun … Dean tak sepenuhnya salah soal itu. Dean memang layak menyombongkan diri. Apalagi ditambah dengan perkataan bahwa dia adalah anak pemilik Grup Cahaya Mas yang memiliki banyak anak perusahaan. Atasannya itu sudah kaya sejak lahir.


Ryan diajak makan di sebuah restoran di lantai dasar gedung. Lebih tepatnya itu adalah sebuah café. Karena namanya adalah Brothers Café. Dan saat mereka masuk ke dalam restoran itu, Ryan menyadari kebenaran perkataan atasannya. Penampilan mereka sangat timpang. Ryan merasa seperti seorang supir ketimbang sekretaris.


Hari itu Dean mengenakan setelan jas berwarna krem. Kemeja di bawah jasnya berwarna hitam. Ryan masih menatap Dean dari ujung kaki hingga ujung kepala saat atasannya berbalik memandangnya.


“Liat apa kamu? Liat saya? Jangan sampe kamu suka dengan saya. Saya normal, penyuka wanita-wanita cantik. Kamu liat sendiri sekretaris pilihan saya tadi tampilannya kayak gimana. Jangan coba-coba kamu punya pikiran aneh ke saya.” Dean mengetatkan dasinya dan menaikkan helai rambutnya dari dahi.


“Duduk di situ!” pinta Dean, menunjuk sofa yang letaknya berseberangan.


“Saya normal, kok, Pak … saya punya mantan di Pekalongan. Tapi … sebulan yang lalu minta putus. Enggak kuat LDR katanya,” jawab Ryan, duduk di sofa yang ditunjukkan atasannya.


“Enggak kuat LDR karena asupannya kurang. Kalo cukup, pasti nggak ngomong gitu. Tapi kamu tetep duduk di sana, jangan terlalu deket kalo jalan sama saya. Nanti orang-orang mikir aneh, trus nggak ada cewe-cewe yang liatin saya lagi.” Dean mengambil buku menu. “Pilih, makanan yang mau kamu makan. Gratis sampai kamu terima gaji dari saya.”


“Serius, Pak?” Ryan membulatkan matanya.


Dean mengangguk. “Iya, serius. Kamu kurus dan terlihat miskin. Saya kasian. Jadi anak kos itu nggak enak, kan? Dulu juga saya jadi anak kos. Kamu jangan ngeluh … saya yang anak orang kaya juga pernah makan seadanya di Amerika. Orang tua saya nggak akan ngasi uang lebih kalo saya kehabisan uang sebelum akhir bulan. Saya nggak boleh pulang kalo nggak selesai S2 tepat waktu. Dan kalo molor, uang saku saya akan dihentikan. Dan kesimpulan dari semua itu, saya terancam dicoret dari penerima warisan. Saya mau hidup mandiri … tapi kehilangan harta juga nggak enak. Semoga kamu paham, ya …. Kalo saya sukses dan kamu bisa lama kerja dengan saya, kamu juga bisa kaya, kok” Dean menarik senyum tipis.


Ryan kembali merasa takjub oleh sosok laki-laki di seberangnya.


Sekitar tiga puluh menit mereka duduk di restoran itu. Dean menerima telepon. Sepertinya dari seorang wanita karena nada bicara atasannya yang biasa datar, menjadi lembut mendayu.


Ryan memasang telinga untuk mendengar potongan-potongan percakapan yang didengarnya.


“Ya, kangenlah …. Kamu aja yang nggak ada kabar. Aku? Ada kok, di kantor. Aku nggak jawab telfon karena sibuk. Pasti aku tadi terlalu fokus sampai-sampai nggak sadar kalo yang nelfon itu cewe cantik.”


Tak sengaja, Ryan sedikit mendengus dan membuang muka. Terlalu fokus sampai-sampai tidak sadar ada wanita cantik yang meneleponnya? Jelas-jelas tadi atasannya itu mengumpat saat mendengar ponselnya berkali-kali menyala.


“Pantang disentuh dikit … langsung penasaran pengen diapa-apain lagi. Huh!” Itu adalah perkataan atasannya satu jam yang lalu di ruangan.


Dengan mata kepalanya sendiri Ryan melihat bagaimana Dean mencampakkan ponselnya ke atas sofa.


Dan beberapa detik saja setelah itu, seorang wanita dengan pakaian kantor berwarna hitam mendekati meja mereka.


“Dean …,” sapa wanita itu. “Dean, kan?” tanya wanita itu lagi.


“Ya … aku Dean. Siapa, ya?” sahut Dean. Ryan melirik tingkah atasannya menghadapi wanita cantik lain yang sedang menghampiri mereka. Dean merapikan rambutnya, kemudian membasahi bibirnya sebelum mulai kembali berbicara. “Kamu … Feby ya?” tanya Dean.


“Nah, itu inget. Ya, ampun. Kamu udah berapa lama pulang ke Indonesia? Enggak ada kabar, ih.” Wanita yang bernama Feby itu memukul manja bahu atasannya. Ryan melihat Dean menoleh sedetik pada bahunya.


“Duduk, dong …,” ajak Dean, menunjuk sofa kosong di sebelah kirinya. Saat wanita itu menoleh ke belakang melihat sofa, dengan cepat Dean mengibaskan bahu tempat di mana wanita bernama Feby tadi memukulnya.


Berengsek sekali pria ini, pikir Ryan. Disentuh begitu saja padahal. Langsung dibersihkan.


“Kantor kamu di mana?” tanya Feby.


“Di gedung ini juga. Di atas,” jawab Dean. Ryan mengaduk minumannya. Ia terus mengamati dan menyimak tingkah atasannya diam-diam.


“Iya … gedung ini lantai berapa?” tanya Feby lagi.


“Enggak penting di lantai berapa, yang penting itu kalo kamu ngajak aku ketemuan, aku pasti bisa.” Dean mengedipkan matanya memandang Feby. Wanita yang baru saja dikedipi atasannya itu langsung tertawa manja.


“Bener, ya …. Asal kamu jangan pura-pura nggak kenal aja,” ucap Feby.


“Enggak mungkinlah. Bego banget kalo cowo nggak mau kenal ama cewe cakep.” Dean tertawa pelan kemudian mengangkat gelasnya.


Benar-benar licin sekali, pikir Ryan. Tak mau memberitahu di mana kantornya, tapi tetap menebar pesona. Tak sedikit pun dalam pembicaraan mereka, Dean menanyakan soal wanita itu. Tak mau diganggu, tapi tetap mau dikagumi. Tak sampai sehari penuh, ia sudah paham metode yang dipakai atasannya ini.


“Oh, ya, Ryan. Jadwal saya berikutnya apa?” Dean menatapnya. Memancarkan sorot mata yang dimengertinya. “Yan …,” panggil Dean lagi menaikkan alis.


“Oh, jadwal berikutnya? Mmm—oke, pertemuan dengan perwakilan nasabah asuransi. Setengah jam lagi, Pak. Kita harus bergegas. Kita berangkat sekarang, Pak?” tanya Ryan, berdiri dari duduknya.


“Ya, tentu. Sekarang.” Dean bangkit. “Feby … aku duluan ya. Jadwalku hari ini benar-benar penuh. Lain kali kita ketemu di café ini."


Ryan sudah memahami job description-nya hari itu. Dengan langkah tegap ia berjalan mendahului atasannya. Demi menjalani peran mereka di bawah tatapan sepasang mata wanita cantik yang ditinggal pergi, Ryan membukakan pintu kaca agar Dean bisa lewat lebih dulu.


To Be Continued


Like-nya jangan kelewatan yaa.... wkwkwkk


jangan bosen Njusss ngomong itu-itu aja.


Selesai untuk hari ini. Selamat istirahat semuanya :*