
“Kamu makin cantik,” bisik Toni di sela-sela erangannya.
Pujian itu membuat Wulan semakin meremang. Kesadaran menjalari setiap jengkal kulit Wulan. Hasrat dalam sorot mata Toni, menyulut panas di antara tubuh mereka. Toni menunduk perlahan seperti sengaja mengulur waktu, yang membuat Wulan merengkuhnya, mendambanya, mendekatinya.
Mereka telah melepaskan sentuhan pembuka tadi. Karena, tangan Toni kini melingkari leher Wulan dan memagut bibir istrinya itu dengan kecupan yang dalam dan bergairah. Mereka berciuman dan mulai bergumul dengan lidah yang saling membelit dan meremaas rambut masing-masing. Seakan mereka tak cukup erat berpelukan, tak cukup dalam saat berciuman, dan tak cukup merapatkan tubuh mereka. Puncak dada Wulan telah mengeras.
Toni berguling. Meraup tubuh Wulan dan meletakkannya di sisi ranjang. Wanita mungil itu tak akan bisa melarikan dirinya lagi. Bagian tubuh Toni sudah menekan dan menggesek paha Wulan berulang kali. Dan pikiran mereka untuk segera memenuhi kebutuhan mendesak dengan cepat.
“Sayang,” bisik Toni, menggerakkan lidahnya dari leher hingga ke cuping telinga istrinya. “Aku ingin bercinta dengan kamu. Mengulanginya dengan lebih sempurna.” Suara Toni parau penuh bergairah.
Wulan merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua tangan mengelilingi punggung Toni. Menekankan kuku-kukunya dan menciumi leher pria itu. Ia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab perkataan Toni barusan. Bahwa ia juga sangat menginginkan pria itu. Mendambakan sentuhannya dan mendambakan kehangatan Toni yang akan memasukinya.
Toni mengangkat salah satu kaki Wulan melingkarkannya ke pinggang dan merapatkan tubuh mereka. Kedua dada mereka yang terbuka bertemu dan saat mereka berciuman, Wulan tak bisa menahan diri untuk menggesekkan dadanya ke tubuh Toni yang panas memenuhi gairahnya yang menggebu.
Toni melenguh dalam ciuman mereka. Lalu, menyisipkan tangannya di antara tubuh mereka dengan lembut. Kembali menangkap dan membelai di antara kedua paha Wulan.
Wulan ikut mengulurkan tangannya untuk menyentuh bagian bawah tubuh Toni lagi. Pria itu kembali membiarkan Wulan menjelajahinya. Ia membuka lebar-lebar kedua pahanya agar wanita itu dapat meraba dan menyentuh dengan puas. Toni mendesah panjang saat Wulan membelainya.
Wulan menyentuh bagian puncak kejantanan Toni yang telah sedikit basah dan mengusapnya dengan ibu jari.
Toni mencekal pergelangan tangan Wulan. Lalu, ia tertawa parau. “Aku nggak tahan lagi kalo kamu nerusinnya.”
“Kalo gitu, ayo, Mas.” Wulan menautkan pandangan mereka.
Kata-kata itu membuat Toni merasa semakin bergairah. Wulan meliukkan badan di bawah tubuh suaminya sebagai syarat untuk mengundang Toni segera memasukinya. Dan setelah waktu perlahan dan sentuhan romantis seperti ajaran Rio, Toni tak ingin membuang waktu lagi. Toni bergerak ke antara kedua kaki Wulan dan membukanya lebar-lebar. Memposisikan bagian bawah tubuhnya yang mengeras di atas bagian antara kedua paha istrinya.
Membuat Wulan tak mampu berpikir lagi saat Toni memasukkan bagian itu ke tubuhnya. Wulan bergetar menerimanya.
“Kamu luar biasa, Sayang.” Toni mendorong masuk sepenuhnya. Membuat Wulan memekik kecil, menahan sedikit rasa nyeri yang membuatnya heran. Padahal, ia sudah sangat lembab di bawah sana. Namun, gerakan masuk yang perlahan dan mengejutkan, membuat Wulan menarik napas.
Mereka sedang bercinta sekarang. Sangat menggairahkan terhempas gelombang sensasi dan emosi yang menyelimuti dada mereka. Menempel begitu erat merasakan bahwa kulit mereka malam itu tak memiliki pembatas. Bergesekan dengan panas, di bawah gempuran suhu yang semakin melorot. Di antara semua itu, Wulan merasakan sedikit nyeri di antara kedua kakinya. Rasa nyeri yang samar. Tak sesakit kala pertama Toni memasuki dirinya untuk pertama kali dulu.
Wulan menarik napas terkesima karena kenikmatan yang disodorkan Toni padanya. Toni mengerang di atas tubuhnya. Suaminya itu menunduk menciumi leher dan menggigit kecil pundaknya. Semua hal yang dilakukan pria itu melambungkan gairah Wulan. Toni terus menggumamkan sesuatu yang membuat darah Wulan semakin memompa.
Toni telah memasukinya lebih dalam, mendesak Wulan sampai dirinya benar-benar merasa begitu penuh. Toni bergerak dengan tempo kuat dan berirama. Memberikan hunjaman yang membuat Wulan merasa semakin mengharapkan lebih dan lebih
“Sayang, kamu luar biasa.” Sekali lagi Toni mengatakan hal itu. “Aku udah lama banget menantikan ini. Lebih lama dari yang kamu bayangin.
Wulan menangkup pipi suaminya. “Aku juga,” sahutnya.
Lalu, Toni mengecup Wulan lembut seraya mendorong kembali dengan dalam, kuat dan sungguh-sungguh.
Wulan melengkungkan tubuhnya mengikuti gerakan Toni. Ia melingkarkan kedua kakinya di sekeliling pinggang pria itu. Membuat Toni benar-benar berada di dalam tubuhnya. Suaminya terus mendorong. Membuat Wulan mengeluarkan erangan seraya membenamkan jari-jarinya di punggung pria tegap yang berada di atasnya. Menarik Toni lebih dekat dan mengores bahu pria itu dengan giginya.
“Jangan berenti,” rengek Wulan.
Wulan mengarungi gelombang kenikmatan yang kian tinggi, kian memuncak hingga akhirnya membuncah.
Toni memegang Wulan dengan kuat. Terus mendorong saat wanita itu menggeliat dan bergetar di puncak kepuasannya. Lalu, Toni menyangga kedua tangannya di kedua sisi tubuh Wulan, mendorong masuk dengan kecepatan yang semakin kuat.
Toni meringis dengan kedua alisnya yang menaut, erangan parau panjang keluar dari mulutnya yang setengah terbuka. Tak lama, tubuhnya bergetar dan menyentak keras berulang kali. Ia melengkungkan senyum kepuasan dengan titik-titik keringat di dahinya.
“Udah?” tanya Wulan, membelai punggung suaminya.
“Kamu—masih bisa?” tanya Toni sedikit sungkan.
“Masih kayak biasa?” tanya Wulan dengan nada penuh misteri.
Toni mengangguk dan tersenyum. Ia lalu mengeluarkan bagian tubuhnya sejenak dan kembali memasuki tubuh Wulan. Dengan satu tangan menumpu kepalanya, Toni memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengangkat kaki wanita itu. Keahliannya yang sulit dilupakan meski sudah bertahun-tahun berpisah dari Wulan. Bersama Wulan, ia bahkan tak perlu jeda.
***
“Win, jangan tidur dulu. Aku masih sekali,” rengek Dean. Ia kembali menciumi leher Winarsih yang tidur membelakanginya.
“Aku ngantuk, Mas. Besok pagi aja lagi. Aku hutang satu,” jawab Winarsih asal. Ia kini memiliki jawaban-jawaban aneh karena ajaran suaminya juga.
“Kamu nggak boleh hutang. Duit kamu banyak,” jawab Dean tak mau kalah.
“Besok pagi,” jawab Winarsih lagi.
“Aku belum layu sepenuhnya, Win. Masih mau ini,” tukas Dean, meraih tangan Winarsih dan mengusapkan ke bagian bawah tubuhnya.
“Apa itu?” tanya Winarsih, menutup mukanya dengan selimut karena menahan tawa. Mempermainkan Dean yang merengek-rengek terkadang menjadi sebuah hiburan baginya. Ia sering teringat pada Dirja yang dulu sangat lahap menyusu dan terpaksa disapih karena ia hamil besar. Dirja juga merengek persis seperti bapaknya.
“Baru Lima menit yang lalu kamu bilang enak, sekarang udah lupa. Ayo, aku mau lagi,” ujar Dean, meremat pinggul Winarsih dan sedikit mengangkat kaki wanita itu.
“Memang nggak pernah sabar. Padahal besok pagi sama aja,” cetus Winarsih, kembali menggigit bibir bawahnya karena Dean sudah mulai memasukinya.
“Besok pagi beda lagi. Kamu awalnya aja males-malesan. Nanti tiba-tiba kamu udah dua kali aja. Enggak mungkin nggak enak, lho.” Dean mengusap perut Winarsih dan memijat dadanya.
“Mas kalau yang kedua lama banget,” rintih Winarsih.
“Namanya ini usia keemasanku, Win. Sedang perkasa-perkasanya. Kamu nikmatin aja. Ngomong-ngomong, ini ikut gerak, gemesin banget.” Dean kembali meremaas dada istrinya.
To Be Continued
Jangan lupa klik tombol like-nya.
Hari ini tiga bab, ya. Yang belum favorit TINI SUKETI, boleh difavorit, ya ....
Kok upnya lama? si bungsu sedang sakit, jadi sangat rewel.
Terima kasih karena sudah menunggu dan dukungan ikhlas tanpa pamrih untuk karya JUSKELAPA.
Sayang semuanya :*