GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
62. Ternyata Selama Ini


“Kenapa nggak lo yang manggil aja, sih, De?” tanya Rio. “Gengsi-gengsian ama bini sendiri. Gue ama Jenni kayaknya nggak ada gengsi-gengsi lagi, deh.”


“Entar dikira gue insecure gegara laki-laki dari Dinas itu,” tukas Dean.


“Memang insecure,” jawab Ryan. “Gimana?” Ryan menyenggol tangan Langit yang berada di depannya.


“Lo insecure, De? Ngerasa nggak pede?” tanya Langit, memastikan.


“Itu namanya insecure, ya? Gue sebel aja ngeliat Bini gue ketawa-ketawa di depan cowo lain. Gue merasa terancam aja. Rasanya pengen ikut duduk di sana. Tapi kayaknya nggak mungkin,” sungut Dean.


“Fixed, insecure. Mana? Sini?” Ryan menengadah tangannya ke arah Langit.


“Anjaaay ... kalah gue. Fixed lo sekarang jadi orang nomor dua setelah Bu Win,” kata Langit, meraih clutch di depannya. Langit mengaduk-aduk isinya sebentar, lalu mengeluarkan sebuah kartu bertuliskan Platinum Huge Gym Membership.


“Kalah apa?” tanya Dean.


“Enggak, bukan apa-apa.” Ryan mengambil kartu keanggotaan gym yang masa berlakunya seumur hidup. Ia memenangkan pertaruhan bersama Langit soal Dean.


Beberapa waktu yang lalu, di luar Polsek Sukabumi, Langit dengan percaya dirinya mengatakan kalau Dean adalah laki-laki dengan segudang rasa percaya diri.


“Kapan si Dean insecure? Omongannya suka ketinggian. Pede abis. Apalagi depan bininya,” ucap Langit waktu itu.


Ryan dengan cepat menampik. “Pak De insecure cuma ama Bu Win.”


“Masa, sih? Enggak percaya. Dean nggak pernah insecure. Pede abis.” Langit menggeleng. Mereka menatap mobil tempat di mana Dean bermesraan dengan Winarsih seusai urusan mereka di Polsek Sukabumi kala itu.


“Kalo Pak De insecure gimana?” tantang Ryan, pada Langit.


“Gue kasi member Huge Gym seumur hidup gue ke lo. Seumur hidup lo bisa pake, dapet locker, bisa ikut semua kelas, berlaku di semua cabang. Kalo beli sendiri, sekarang 30 juta-an. Gue kasi gratis buat lo. Gue yakin Dean nggak akan pernah insecure sampe mati,” kata Langit.


Dan malam itu, Ryan menerawang kartu member yang baru diangsurkan Langit padanya ke cahaya terang lampu cafe. Langit meringis melihat tingkah Ryan, sedangkan Dean mengernyit tak mengerti.


“Eh tadi lo ngomong laki-laki itu dari Dinas. Dinas apa?” tanya Langit.


“Dinas pendidikan,” jawab Dean.


“Wah, bisa jadi guru Bu Win, dong, kalo gitu.” Langit menoleh ke belakang. Dean melemparkan gulungan tisu di tangannya pada Langit.


“Harusnya dikasi temenan aja. Entar di acara ultah Mami Toni dikenalin ke Jenni, ke Jingga. Biarin, deh, sekali-kali hang out bareng temen cewe. Bini lo masih muda. Masa taunya muka lo doang,” jelas Rio.


“Lo nggak cemas para istri-istri itu bisa membentuk suatu kesatuan yang membahayakan? Lo tau, kan, alasan jaman penjajahan dulu semua bentuk perkumpulan itu dilarang? Itu karena akan berpotensi menimbulkan penggabungan ide yang membuat penjajah merasa terancam kedudukannya.” Dean memandang Toni yang baru saja kembali setelah berbicara dengan Winarsih.


“Dan lo mau jadi penjajah terus. Oh, cakepnya Pak Dean,” sindir Langit.


“Sebentar lagi katanya. Bakal nyusul,” kata Toni, saat kembali duduk di seberang Dean.


“Sebentar lagi? Bakal nyusul?” tanya Dean, terlihat gusar.


“Ya, mau gimana? Lo aja yang manggil sana!” sergah Toni, mulai kesal.


“Ya, memaaaang ....” Semua pria di meja itu menjawab serempak sampai beberapa orang dari meja sebelah menoleh pada mereka.


“Ehem!” Dean berdeham. “Jadi lo bilang apa? Lo yang perlu pendapat Bini gue soal Wulan, kan?” tanya Dean.


“Iya. Gue bilang gitu. Gue yang perlu pendapat Bu Win,” jawab Toni. Biarlah Dean dengan pikirannya sendiri, pikirnya. Toni merasa membiarkan Dean menjaga ego di dalam pikirannya sendiri, sangat penting saat itu.


“Oh, ya, udah. Bagus kalo gitu,” sahut Dean, mengaduk minumannya dengan sedotan. Ryan meringis mendengar hal itu. Ternyata atasannya memang bisa bodoh untuk hal-hal khusus.


Di meja lain, Winarsih berdiri dari kursi besi yang sejak tadi ia tempati.


“Aku ke meja suamiku, ya. Kalian lanjut ngobrol,” kata Winarsih, menyampirkan tasnya ke bahu.


“Buru-buru banget,” kata Pratama, melirik sekilas pada Dean yang sedang menatap tajam padanya. “Pesen makan dulu. Kan, belum makan.” Ia mengetuk buku menu di depannya seraya tersenyum.


“Iya, nih, aku juga laper. Tapi pengen makan bareng suamiku. Ya, udah, aku ke sana dulu. Nanti ada waktu kita ngobrol-ngobrol lagi,” ucap Winarsih, tersenyum kemudian berbalik menuju meja di mana Dean berada.


Winarsih berjalan memegang tasnya agar tak berayun. Matanya bersitatap dengan mata sipit dengan alis hitam legam yang membingkainya. Alis yang bagus itu menaut muram. Rambutnya turun menutupi sebagian dahi. Laki-laki egois itu memang ganteng, pikir Winarsih. Ia tahu laki-laki itu pasti merasa tak dipedulikan. Belum makan malam, padahal bisa memanggil pelayan dan memesan makanannya. Sering ke cafe itu dan bisa mandiri, namun begitu rewel saat ia ikut datang ke sana.


Dean menatap Winarsih berbalik meninggalkan meja teman-temannya. Bagaimana ia bisa duduk dengan tenang kalau wanita yang biasa hanya mencurahkan perhatian padanya kini duduk tertawa di depan pria lain? Istrinya adalah mutlak miliknya. Selain ia sendiri, cuma anak-anak mereka yang berhak perhatian istrinya. Oh, ya, keluarga mereka juga. Tapi tidak untuk orang lain. Winarsih dikirimkan ke rumahnya oleh Tuhan. Melalui perantara Utomo tentunya. Selama wanita itu berada di luar jangkauannya, ia merasa tak bisa mengerjakan apa pun dengan tenang.


“Kok, belum pesen makan?” tanya Winarsih, saat baru tiba di sisi kanan suaminya.


Dean langsung menggeser duduknya dan menarik tangan Winarsih. “Duduk sini, jangan ke mana-mana. Pesenin makan malamku.” Ia menggenggam tangan dan merengkuh pinggang istrinya saat wanita itu duduk.


“Pffff ....” Toni menghembuskan napas lega tertahan.


Dean melambaikan tangan pada pelayan dengan isyarat meminta menu. Tak lama pelayan itu datang membawa sebuah buku menu. Dengan sigap Dean meletakkan tangan Winarsih yang tadi ia genggam ke atas pahanya. “Jangan ke mana-mana,” bisik Dean lagi. Ia lalu membalik-balik menu dan memesan beberapa piring makanan untuk istrinya.


“Kamu duduk di sana kelamaan. Padahal udah waktunya makan malem. Anakku nanti bisa kelaperan di dalem,” sungut Dean. Ia mengembalikan buku menu dan mengangguk pada pelayan.


Winarsih duduk santai. Mengambil gelas Dean dan menyeruput isinya. Ia diminta ke sana karena Dean belum makan malam. Padahal, setibanya di meja itu suaminya dengan gesit memesan makanan.


Dean bisa melihat senior istrinya di kampus masih melihat ke arah mereka. Dean menunduk dan berbisik di telinga istrinya.


“Aku nggak suka kamu ketawa-ketawa di depan orang lain selain aku.” Dean mencium telinga Winarsih, lalu menyapukan ujung hidungnya ke pipi wanita itu. “Jangan ke sana lagi,” bisiknya. Membenamkan hidungnya di pipi Winarsih yang meringis karena geli akan napas hangat Dean di lehernya.


“Oke—kalo gitu meeting yang sebenarnya bisa dimulai. Danawira’s Law Firm nggak jadi tutup!” seru Langit dari ujung meja.


Keikutsertaan Winarsih ke Beer Garden baru saja membuat Langit harus mengurus kartu Platinum Membership Gym seumur hidup yang baru untuknya.


“Jadi, De ... bisnis ilegal si Rey apa?” tanya Toni. Ia melihat raut Dean sudah kembali normal.


“Jadi gini ... Rey itu punya bisnis penampung dan jual pupuk subsidi. Diseludupkan ke luar daerah. Salah satunya, ya, Situbondo itu. Jadi menurut gue, kasus lo itu nggak perlu sampe pengadilanlah. Barter aja dengan info ini. Dia nggak perlu dilaporkan karena pasti bakal berenti setelah kita kasi tau. Sekalian soal utang-piutang dan saham di perusahaan Wulan. Sedangkan kesaksian dari Mah—”


“Pak, kita bisa ngomong kalo Mbak Wulan juga mengeluh soal kekasaran si Rey.” Ryan memotong pembicaraan Dean tepat pada waktunya. Ia tak mau atasannya yang sedang on fire, salah menyebutkan nama.


To Be Continued