
Wulan masih berdiri mengeluarkan kotak-kotak makanan dari tas spun bond berwarna merah. Toni hanya melihat jemarinya yang mungil dan ramping. Pandangannya turun ke bawah. Memperhatikan apa yang dikenakan Wulan malam itu. Jeans, kemeja putih, tas kecil yang disilangkan di bahunya, juga sepasang sneakers putih bertali. Sesederhana itu, tapi Wulan sangat manis, pikirnya.
“Ini udah malem banget, kok bisa belum makan?” tanya Wulan.
“Belum sempet,” sahut Toni.
“Aku nggak bahas yang lain-lain dulu. Kamu makan dulu,” ucap Wulan. Ia menyodorkan sekotak nasi bermenu lengkap ke hadapan Toni. Ia juga mengambil sebotol air mineral dan membuka tutupnya.
“Kamu nggak makan sekalian?” Toni mengambil sendok yang baru disodorkan Wulan.
“Udah. Aku tadi masih di kantor. Mampir ke resto itu, terus ke sini. Itu yang nelfon kook agak aneh, ya …. Siapa?” tanya Wulan.
“Kamu duduk.” Toni menepuk kursi di sebelahnya.
“Aku nggak bisa lama-lama,” kata Wulan.
“Kenapa?” Toni mendongak. “Setidaknya duduk sebentar. Tadi kamu nanya apa? Yang nelfon? Nelfon siapa? Kamu?” desak Toni. Ia harus membuat Wulan berada di sana lebih lama. Ia harus mengerahkan segala kemampuannya. Kalau Dean tahu ia tak bisa membuat Wulan bertahan di sana, ia tak bisa membayangkan apa yang dikatakan sahabatnya itu.
Wulan memandang kursi yang sandarannya melingkar tangan Toni. Jika ia duduk, Toni akan memeluknya. Sebelum tiba di sana, ia sudah beberapa kali menolak panggilan Rey. Mereka ribut besar.
“Itu—yang nelfon aku tadi. Suara perempuan yang ngabarin kamu di sini. Kayaknya aku pernah denger suaranya.” Wulan perlahan duduk di sisi kiri Toni. “Kamu makan …,” ucap Wulan, menoleh pada Toni yang terdiam memandanginya.
“Oh, iya.” Toni kembali menunduk melanjutkan makannya. “Yang nelfon kamu, ya? Aku malah nggak tau siapa yang nelfon. Siapa ya … apa mungkin orang Polsek ini?” Tak mungkin ia tak tahu. Itu pasti adalah Musdalifah. Menelepon Wulan atas perintah Dean.
Toni kembali menyuapkan nasinya. “Ibu sehat? Ayah?” tanya Toni.
“Ibu sehat. Ayah yang baru aja keluar rumah rumah sakit,” jawab Wulan.
“Kenapa? Asam lambungnya kambuh?” Toni memandang mantan istrinya.
Wulan mengangguk. “Iya. Lumayan lama di rumah sakit. Tapi sekarang udah pulang ke rumah lagi kok,” ujar Wulan, melirik sekilas pada Toni kemudia mengatupkan mulutnya.
“Adik kamu, Wisnu di mana sekarang?”
“Wisnu di Riau. Udah hampir tiga tahun kerja di perusahaan minyak,” jawab Wulan mengangguk-ngangguk kecil. Ia tak menoleh pada Toni karena khawatir akan kembali bertemu pandang.
“Kalo Winda? Udah nikah sama Aryo?” tanya Toni lagi.
“Udah—udah. Dua tahun yang lalu. Sekarang udah punya anak, bayi perempuan. Usianya setahun lebih. Winda masih tinggal sama Ibu,” jawab Wulan, matanya berbinar.
“Oh, ya? Udah punya keponakan, ya, sekarang.” Toni melihat binar bahagia di mata Wulan saat wanita itu menceritakan soal keponakannya. “Nama anak Winda siapa?” tanya Toni.
“Namanya Icha, lucu banget. Kalo aku pulang ke rumah ibu, sering aku bawa tidur.” Setelah mengatakan hal itu, Wulan Diam. Bayangan soal percakapan rencana memiliki momongan bersama Toni kembali masuk dalam ingatannya. Dan bayangan menyakitkan soal perkataan Mami Toni juga muncul.
Di waktu bersamaan, Toni juga terdiam. Wulan sekarang berusia 30 tahun. Adik perempuannya yang berusia 28 tahun sudah menikah dan memiliki anak. Wisnu, adik bungsu Wulan yang berusia 27 tahun, sudah bekerja dan merantau di daerah lain. Sebentar lagi, Wisnu juga pasti berkeluarga.
Toni teringat akan percakapan-percakapan malam mereka sebelum tidur. Wulan ingin anak sulungnya perempuan.
“Kamu kenapa pindah rumah?” tanya Toni. “Aku sempet nyari kamu. Tapi, tetangga bilang kamu pindah nggak lama kita—”
Toni telah menghabiskan makan malamnya. Ia menyingkirkan kotak nasi ke sisi kanannya. “Aku nggak pernah menceraikan kamu, Lan … aku nggak pernah ngomong kayak gitu.” Toni memberanikan diri menatap wajah dan tiap bagian tubuh wanita di sebelahnya dengan lebih teliti. Ia melihat kalau malam itu, wajah Wulan nyaris tanpa bedak. Mungkin sudah hilang, karena sejak pagi wanita itu berada di luar rumah. Tapi, lipstik yang menempel di bibir Wulan terlihat baru saja dipoleskan.
Toni tersenyum. Ia tak ingin berbangga diri. Tapi, Wulan memoles lipstik sebelum bertemu dengannya. Masih dengan senyum yang tinggal di wajahnya, Toni kembali melihat menelisik Wulan dengan pandangan. Wulan memakai kalung tipis dengan liontin mungil huruf ‘W’. Lalu pandangan Toni berhenti pada pergelangan tangan kiri Wulan. Sedikit samar karena tertutup jam tangan.
“Tangan kamu kenapa?” tanya Toni. Ia seketika meraih kedua sisi kursi Wulan dan memutarnya hingga mereka berhadapan.
Wulan tersadar dengan hal yang dimaksud Toni. Ia mengguncang pergelangan tangan agar jamnya merosot dan menutupi hal yang dimaksud Toni.
“Enggak—enggak, aku mau liat ini.” Toni memegang tangan Wulan.
“Enggak apa-apa, Ton ….” Wulan berusaha menarik tangannya. “Ini luka waktu aku ngangkat kardus tadi siang,” jawab Wulan mengusap luka memar di pergelangan tangannya.
“Lan … kamu nggak perlu sepanik itu kalo memang ini cuma luka kena kardus.” Toni membuka jam tangan Wulan untuk memastikan pikirannya. Ia lalu meraih tangan Wulan yang satunya. Kedua pergelangan tangan itu ada luka lebam.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Wulan, kembali memakai jam tangannya.
“Ini bukan luka karena ngangkat kardus. Ini karena cengkeraman kuat tangan orang lain, Lan …. Jangan bohong.” Toni kembali meraih kedua tangan Wulan dan menggenggamnya.
“Aku nggak apa-apa. Aku bilang, aku nggak apa-apa, Ton …. Aku mau balik,” kata Wulan, bangkit dari duduknya.
Saat Wulan berdiri dan mengibaskan rambutnya ke belakang bahu, Toni mendongak. Ia kembali melihat sesuatu yang aneh di leher mantan istrinya. “Tunggu, aku masih mau ngomong. Duduk, Lan … sebentar aja.” Toni memegang kedua sisi bahu Wulan dan meminta wanita itu kembali duduk.
Wulan terlihat pasrah. Ia kembali duduk dan hanya diam saat Toni menarik kursinya hingga kursi mereka beradu. Kini mereka berhadapan.
Wulan terlihat begitu mungil duduk diapit lutut Toni. Tangan kiri pria itu meraup kedua tangannya dalam satu genggaman. Wulan hanya bisa menahan napas saat Toni menyibak rambutnya. Toni pasti melihat luka bekas kuku Rey yang mencengkeram rahangnya tadi siang. Wulan memejamkan matanya yang mulai memanas. Ia bisa merasakan napas hangat Toni menerpa bagian lehernya yang masih perih.
“Ini luka kenapa, Lan? Ini bekas kuku, kan? Kuku siapa? Pacar kamu? Iya?” Toni menangkup wajah mantan istrinya. “Aku ngelepasin kamu, karena aku nggak mau ada bagian diri kamu yang luka karena aku. Aku ngelepasin kamu bukan untuk diperlakukan kayak gini,” kata Toni.
“Enggak—enggak. Ini nggak apa-apa. Kena kuku aku. Bukan apa-apa.”
Wulan berusaha menunduk. Ia tak mau memandang mata cokelat muda yang sedang menginterogasinya.
“Sayang … kamu kenapa? Siapa yang giniin kamu?” tanya Toni, begitu lembut.
Lalu, tangis Wulan pun luruh. Ia menarik bagian depan kemeja Toni dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Wulan menangis sejadi-jadinya. Ia mengingat Rey yang mencampakkan sebuah bingkisan ke mejanya tiba-tiba. Ia bahkan tak sempat bertanya itu apa. Rey mencengkeram kedua tangannya dan menyudutkan ke dinding.
“Sayang-ku, dipukul orang. Karena aku yang nggak bisa menjaganya,” gumam Toni dengan suara bergetar. Ia emosi, sekaligus menangis untuk wanita yang masih amat ia sayangi.
Bagaimana mungkin Rey tega melakukan itu pada Wulan yang mungil dan terlihat rapuh. Jantungnya berdenyut menyakitkan mengingat hal itu.
To Be Continued
Maafkan njuss yang tak jelas jam updatenya. Doakan event menulis di Watt pad lancar-lancar yaaa, biar njuss biasa normal kembali.
Pokoknya njusss sayang semuanya :*