
“Dari mana kamu dapet nomor telfon dan alamatnya Wulan, Mus?” Toni masih terpana menatap selembar kertas di tangannya.
“Dari sekretarisnya. Saya bilang dari kepanitiaan outing mau mengirimkan bingkisan.” Musdalifah berdiri tegak di sebelah atasannya dengan raut jumawa.
“Itu aja?” Toni menoleh heran.
“Iya, itu aja.” Musdalifah terlihat semakin sombong. Ia melirik wajah Dean untuk menunggu reaksi. Nyatanya, Dean hanya memasang wajah datar sambil menyilangkan tangan di dadanya.
“Mana dokumen yang mau aku tandatangani? Kamu bilang kemarin perlu cepat.” Toni memandang Musdalifah.
“Oh, nggak apa-apa. Besok aja, Pak.” Musdalifah melontarkan tatapan sedikit resah.
Dean menyadari perubahan suara Musdalifah yang berkurang tingkat rasa percaya dirinya. “Kenapa harus nunggu besok? Sekarang aja. Mumpung Pak Toni masih di sini. Besok saya mau ajak dia ke suatu tempat,” dusta Dean. Ia hanya penasaran dokumen apa yang harus ditandatangani sahabatnya.
“De, temenin gue sebentar ya … ke sini.” Toni mengibaskan kertas yang berada di tangannya.
“Gue mau pulang. Lo denger sendiri tadi, gue ngomong apa di telfon.” Dean menarik senyum kecut dan menggeleng.
“Sebentar aja … lagian lo cari masalah banget. Coba dikasi sebentar aja buat bini lo pergi bareng temennya.”
“Jangan dibahas lagi. Mending ke kantornya Wulan duluan. Gak usah ke rumah. Ke kantor lebih mudah masuk untuk urusan pekerjaan,” ucap Dean.
Toni berpikir sejenak, lalu kembali menoleh pada Musdalifah. “Mana, Mus? Biar aku tanda tangan.”
“Ya, udah, sebentar.” Musdalifah lalu pergi keluar ruangan.
“Ya, De … please. Sebentar aja temenin gue ke kantornya Wulan. Iseng-iseng aja sekalian lo jalan pulang ke rumah. Gue bukan takut ama cowonya. Tapi lo juga ikut tanda tangan di Polsek kalo kita harus jaga jarak.”
Dean diam berpikir. “Lo sekalian balik? Kalo sekalian balik, lo ikut mobil gue. Pulang sekalian jalan. Gimana? Gue bener gak bisa lama-lama. Pisah mobil juga nggak asik.”
“Oke-oke. Susah bener ngajakin lo sekarang,” kata Toni.
“Nanti, kalo lo udah punya anak, lo rasain sendiri. Dicemberutin itu nggak enak banget. Gue mending diomelin, deh. Tapi bini gue nggak tukang ngomel. Diem aja. Bikin gue belingsatan,” tukas Dean.
“Pak,” seru Musdalifah yang tiba-tiba sudah ada di dekat sofa Dean.
Dean terhenyak. Memejamkan matanya sejenak seraya memegang dada. Ia lalu melirik kaki Musdalifah. Masih menjejak, pikirnya. Kenapa sekretaris Toni itu seringnya berjalan tanpa suara?
“Sini—sini,” panggil toni meminta berkas dari tangan Musdalifah. “Jadi … yang mana aja harus aku tandatangani?”
“Di sini, di sini, dan di sini, Pak.” Musdalifah menunduk dan membalik-balik kertas di tangan Toni.
“Oke—di sini. Hmmm ….” Toni menandatangani tiap lembaran yang ditunjukkan Musdalifah. “Kamu rasa, nggak kejauhan kalo ngambil KPR di daerah ini?” tanya Toni pada sekretarisnya.
“Mmm—enggak sih Pak.” Musdalifah melirik Dean.
“Ooh … permohonan pengajuan KPR …,” sela Dean. “Pantes gesit banget. Ternyata …,” sambung Dean lagi. Ia kembali bersandar menyilangkan dadanya.
“Iya, Mus mau ambil KPR.” Toni kembali menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani pada Musdalifah.
“Tenor berapa tahun?” tanya Dean.
“15 tahun ya, Mus?” Toni dengan santai kembali bertanya dengan sekretarisnya. Musdalifah mengangguk.
“Permisi, Pak …,” ujar Musdalifah.
“Eh, jangan pergi dulu. Saya punya kerjaan untuk kamu,” kata Dean. “Pak Toni udah tanda tangan buat jamin KPR kamu. Kamu harus kerja ekstra keras sekarang.”
Toni tertawa. “Apa, sih, Pak Dean …,” gumam Toni terkekeh.
“Minta si Mus telfon Wulan sebelum kita ke kantornya,” pinta Dean menunjuk kertas yang berada di tangan Toni dan Musdalifah bergantian.
Musdalifah dengan sigap mengambil kertas itu. “Lalu?” tanya Musdalifah.
“Telfon Wulan entah sebagai siapa. Terserah. Tapi kamu harus memastikan, Wulan ada atau enggak di kantornya, keberadaannya di mana, kalo ada di kantor jam berapa, dan apa pacarnya ada di sana atau tidak. Cepat! Saya kasi waktu lima menit untuk berpikir. Kalo enggak bisa, saya minta bos kamu batalkan permohonan KPR itu,” ujar Dean dengan wajah puas.
Toni mulai tertarik dengan hal yang baru saja dikatakan oleh Dean. Kini, ia ikut memandang Musdalifah dengan wajah penasaran dan menunggu.
Musdalifah mulai salah tingkah karena ditatap oleh Dean dan atasannya. Ia langsung merogoh kantong jas, dan mengambil ponsel. Setelah mengetikkan sederet nomor, Musdalifah meletakkan ponselnya di telinga.
Toni dan Dean bersandar di sofa dengan kedua tangan tersilang di depan dada. Musdalifah memandang wajah kedua pria itu bergantian. Merasa tak nyaman karena terintimidasi oleh pandangan, Musdalifah memutar tubuhnya memunggungi Toni dan Dean.
“Wah … luar biasa emang sekretaris lo ini. Dia dulu masuk kerja di sini pake orang dalem, ya?” Dean berdecak-decak dan menggeleng.
“Ssstt ….” Musdalifah berbalik. Dengan wajah kesal, ia meletakkan telunjuknya di bibir menatap Dean.
Dean terdiam seketika.
“Halo? Dengan ibu Arista Wulandari? Saya dari kantor PLN. Ingin memberi informasi kalau sesaat lagi bakal ada pemadaman untuk aliran ….” Musdalifah melirik kertas di tangannya. “Untuk kawasan Timur.”
Musdalifah diam sejenak. Lalu, “Iya. Saya mau menginformasikan sebelumnya. Untuk menyesuaikan waktu operasional perkantoran. Masih perlu ya?” Musdalifah tertawa sumbang menutup mulutnya. “Tapi, kalau ada yang menemani, kan, mati lampu juga nggak masalah. Malah lebih romantis. Maaf, lho, Bu ….” Musdalifah kembali terkikik-kikik palsu.
“Baik, Bu … akan saya masukkan dalam catatan. Selamat bekerja over time. Tetap semangat. Salam dari kami, PLN! Listrik untuk kehidupan yang lebih baik!” pekik Musdalifah. “Eh, maaf, Bu. Ternyata sekarang sudah ganti slogan. Bekerja! Bekerja! Bekerja!”
Tak tahu bagaimana reaksi Wulan di seberang telepon. Yang jelas, Musdalifah mengakhiri pembicaraan dengan senyum sumringah.
“Saya berhasil. Mana hadiah untuk saya?” tanya Musdalifah dengan sombongnya pada Dean.
“Hadiah untuk kamu? Enggak minta Pak Toni untuk mindahin kamu ke Indonesia bagian Timur adalah hadiah terbesar dari aku untuk kamu,” cetus Dean.
Toni tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya saat mendengar perkataan Musdalifah. “Jadi, gimana Mus?”
“Bu Wulan sedang di kantor. Katanya ‘Jangan ada pemadaman dulu, dong. Aku nyampe malem di sini. Lagi sendirian, banyak kerjaan. Tega banget, deh.’ gitu, Pak.” Musdalifah menirukan nada bicara Wulan yang barusan didengarnya.
Toni terlihat bahagia. Namun, tatapan matanya berubah muram saat mendengar perkataan Musdalifah. Terselip rasa iba di hatinya, saat mendengar Wulan bekerja over time sendirian.
Sedangkan Dean, melemparkan tatapan aneh pada Toni dan sekretarisnya. Setelah sekian lama memiliki sekretaris seperti Ryan, akhirnya, Dean mensyukuri mendapati seorang sekretaris normal seperti pria itu.
“Ayo, De. Berangkat sekarang. Thank you, Mus. Kalo mau ambil cicilan yang lain lagi, pasti aku tandatangani.” Toni bangkit dari duduknya.
“Enggak ada, Pak. Gajinya sudah habis untuk cicilan. Kecuali, Bapak mau nambah gaji saya.” Musdalifah menjajari langkah atasannya. Jelas tergambar harapan besar di wajah wanita itu.
“Cukup, Mus. Cukup. Berenti mimpi. Sana kerja lagi!” usir Dean membuka pintu ruangan lebar-lebar untuk Musdalifah.
To Be Continued