
“Mbak Asih,” panggil Musdalifah. Asih seketika menoleh pada Musdalifah yang mendekatinya.
“Iya, kok tau?” tanya Asih. Musdalifah meringis. Haruskah ia memberitahukan dari mana ia memperoleh informasi itu pada Asih?
Musdalifah sebenarnya belum memiliki ide harus mengatakan apa pada Asih. Patokannya bahwa ia harus memastikan bahwa Asih tidak menemani Mami Toni di rumah itu. Juga soal memutus rantai hubungan Mami Toni akan hal-hal yang berbau klenik.
“Ada apa, ya?” tanya Asih, memandang wajah Musdalifah. “Aura Mbak terlihat suram. Sedang kesal dengan seseorang?” tanya Asih.
“Untuk hal itu kayaknya nggak perlu sampai lihat aura saya. Liat wajah saya aja orang pasti bisa nebak kalau saya sedang kesal,” jawab Musdalifah. “Saya duduk di sini, ya.” Musdalifah menunjuk bangku besi dan duduk di sebelah Asih. Ia memandang ke arah ruang keluarga yang pintunya terbuka lebar. Di kanan pintu itu, menyembul tiga kepala pria yang sedang mengintipnya. Musdalifah mendengus.
“Dasar kurang kerjaan,” umpat Musdalifah pelan.
“Saya?” tanya Asih.
“Bukan,” jawab Musdalifah. “Saya sekretarisnya Pak Toni. Saya mau ngobrol sedikit soal tujuan Mbak Asih ke sini. Setau saya tamu hari ini tidak ada orang luar. Kapan Mbak Asih tiba di sini?” tanya Musdalifah. Ia sudah sangat lelah berbasa-basi. Ekor matanya melirik pada tiga pria yang sedang berbicara kemudian berbalik meninggalkan pintu teras. Mereka semua benar-benar makan siang dan meninggalkannya menunaikan tugas itu sendirian.
“Saya dipanggil Bu Anderson. Katanya perlu konsultasi untuk menenangkan pikirannya. Bu Anderson sepertinya sering melihat penampakan-penampakan aneh—”
“Efek samping obat penenang,” potong Musdalifah. “Beliau lagi sakit. Demensia. Kondisi kejiwaannya tidak stabil. Rasanya kok nggak bijaksana, kalau Mbak Asih mencekoki beliau dengan hal-hal supranatural,” ujar Musdalifah.
“Bu Anderson ngerasa tenang. Saya ke sini karena beliau, bukan karena anaknya.”
“Saya sarankan jangan lagi, deh.” Musdalifah berdiri dari duduknya dengan raut malas.
“Kenapa?” tanya Asih, menengadah menatap Musdalifah. “Bu Anderson bilang minta ditemani beberapa minggu.”
“Kalau saya jadi Mbak, saya bakal menolak. Tapi, semua terserah Mbak Asih. Saya permisi dulu,” kata Musdalifah.
“Mbak—Mbak, tunggu dulu.” Asih berdiri dari duduknya. “Memangnya kenapa?” tanya Asih, rautnya sekarang tak begitu percaya diri.
“Mbak pernah ketemu dengan laki-laki yang sering pakai setelan jas? Yang matanya sipit rambutnya hitam? Temannya Pak Toni? Pernah tau?” tanya Musdalifah, memandang lekat pada raut Asih.
“Ooh, yang suka berdebat? Emosian? Egois? Dan ngeliat orang selalu sinis?” cerca Asih.
“Wah ... sepertinya dari belum lahir ke dunia juga sudah bermusuhan,” ujar Musdalifah.
“Kenapa dengan dia?” todong Asih, matanya melirik ke pintu ruang keluarga yang sedang dibelakangi Musdalifah.
“Katanya dia bakal bantu Pak Toni bikin tuntutan buat Mbak Asih kalau Bu Anderson masih sakit, tapi terus-menerus disodori dengan hal-hal aneh. Mbak Asih akan dituding memperparah gangguan kejiwaan Bu Anderson.” Musdalifah diam meneliti raut Asih.
“Pengacara itu yang ngomong?” tanya Asih.
Musdalifah mengangguk.
“Saya cuma menjalankan apa kata almarhumah ibu saya aja. Enggak ada tujuan apa-apa padahal. Saya nggak kasi apa pun yang menyebabkan Bu Anderson semakin parah. Saya memberi sugesti bahwa—”
“Sugesti Mbak Asih itu membuat Bu Anderson jadi semakin mempercayai Mbak Asih. Enggak baik, Mbak. Tapi semuanya kembali ke Mbak Asih. Saya cuma menyampaikan itu sebagai sesama perempuan. Enggak enak dengernya Mbak sampai mau dipidana. Mbak tau sendiri perangai pengacara itu kayak apa.” Musdalifah menoleh ke belakang. Di pintu teras masih kosong tak ada orang lain.
“Saya bisa ngeliat dari auranya kalau dia arogan sekali,” gumam Asih. Asih masih memakukan pandangannya pada pintu teras.
“Enggak perlu aura. Liat dari gayanya ngomong aja. Aduh, jantung saya senut-senut tiap dia ngomong. Rasa kesel semuanya jadi satu. Makanya saya kasi peringatan ke Mbak Asih. Jangan berurusan dengan dia. Perangai pengacara itu buruk banget.” Musdalifah mendekap kedua lengannya membuat ekspresi bergidik.
“Ibu saya dulu kerja di sini. Benar-benar dekat dengan Bu Anderson. Sampai akhirnya ibu saya sakit dan dipulangkan ke desa, Bu Anderson membiayai pengobatannya. Ibu saya sakit dan mendengar Pak Anderson meninggal. Benar-benar terpukul. Pak Anderson benar-benar baik. Beliau yang membiayai sekolah saya. Jadi ... saya cuma mau membalas budi. Itu aja sebenarnya.”
“Bu Anderson tidak sesehat itu untuk menilai maksud Mbak Asih. Bahkan saya dengar dari perawatnya, Bu Anderson sering bicara dengan suaminya berkat bantuan Mbak Asih. Itu memperparah gangguannya, Mbak. Saya nggak mau Mbak Asih malah kena imbasnya. Itu cuma sekedar saran saya,” ujar Musdalifah berdusta. Perawat Mami Toni tak pernah bicara dengannya.
Musdalifah menoleh ke belakang dan memandang tiga orang pria telah kembali berada di dekat pintu. Ia sedikit mendengus melihat tampilan raut kenyang mereka bertiga.
“Kalau Bu Anderson—"
“Saya nggak akan menghubungi dia lagi. Saya cuma orang desa. Enggak akan sanggup berurusan dengan hukum.” Asih memotong perkataan Musdalifah.
“Itu cuma sekedar saran dari saya. Tadi saya denger pembicaraan mereka secara nggak sengaja. Saya kasian dengan Mbak Asih duduk sendirian di sini,” ucap Musdalifah lembut. Ia memandang tampilan Asih. Sebenarnya gadis itu masih terlihat sangat muda.
“Saya permisi beres-beres dulu, Mbak.” Asih mengangguk pada Musdalifah. Ia melangkah menuju ke bagian belakang rumah. Beberapa detik melangkah, Asih berbalik. “Sampaikan salam saya ke pengacara yang anaknya lima itu, saya pulang sore ini juga.”
“Anak lima?” gumam Musdalifah, ia membelalak dan menoleh ke arah pintu teras. Di kejauhan tiga pria itu sedang melambai-lambai memanggilnya.
“Mbak Asih!” panggil Musdalifah, berjalan menjajari langkah kaki Asih.
“Ya?” sahut Asih, melambatkan langkahnya.
“Ke Pak Toni? Enggak nyampein salam ke Pak Toni?” tanya Musdalifah, jantungnya sedikit berdebar saat bertanya akan hal itu. Ia tahu ini gila. Hal yang gila. Tapi ia hanya ingin berspekulasi soal atasannya.
“Anak Bu Anderson?” Asih menaikkan alisnya.
Musdalifah mengangguk-angguk seperti boneka di dasbor mobil.
Asih menelengkan kepalanya seakan berpikir. “Bayi laki-laki dalam waktu dekat, mungkin.” Asih menyunggingkan senyum samar, lalu melanjutkan langkahnya.
Musdalifah berdiri terpaku mendekap mulutnya. Kepalanya kembali menoleh pada pintu teras.
“Pssst! Psst! Mus!” panggil Dean. “Sini!” Dean kembali melambai memanggilnya.
“Yang satu ini memang berisik banget! Aku nggak bakal bilang anaknya bakal lima. Untuk membuktikan ucapan si Asih.” Musdalifah terkikik-kikik berjalan menuju pintu teras.
“Gimana, Mus? Gimana?” tanya Langit, rautnya penasaran dan girang karena melihat gelagat keberhasilan mereka.
“Katanya bakal pulang sore ini,” jawab Musdalifah.
“Kamu bilang apa?” tanya Rio. “Kok kayaknya mudah banget.”
“Saya cuma kasi pengertian soal nggak mungkin tinggal di rumah ini bareng Pak Toni. Kesannya nggak baik,” ucap Musdalifah.
“Ah, masa, sih?” Dean mengernyit. “Asih itu keras kepala dan suka berdebat,” ucapnya.
“Kok, saya kayak kenal dengan yang disebutkan barusan.” Musdalifah menghela napas panjang. “Ya, udah. Saya mau makan dulu,” ujarnya melangkah masuk. Dalam hati ia tertawa terbahak-bahak. Pengaruh pengacara sombong ini memang luar biasa, pikirnya.
“Soal kelanjutannya, Mus?” Rio mengekori Musdalifah menuju ruang makan.
“Beres pokoknya,” sahut Musdalifah, langsung ke meja buffet.
“Beres katanya, De, Lang.” Rio memutuskan untuk mempercayai Musdalifah. Ia kembali duduk di dekat istrinya.
“Yakin, Mus?” tanya Dean yang kini juga sudah berada di sebelah Winarsih.
“Seyakin bakal lima, Pak.” Musdalifah terkikik-kikik kembali. Menatap wajah bingung Dean dan istrinya bergantian.
To Be Continued