
Mobil yang dikendarai Toni menanjak naik menuju parkiran gedung tunggal yang bertuliskan merek ponsel anyar. Toni mengarahkan mobil tak jauh dari pintu masuk. Dari luar terlihat jelas aktifitas di dalam lobi karena sekeliling ruangan itu adalah kaca.
Bagian depan mobil yang mengarah lobi memudahkan Dean untuk melihat situasi dan kondisi di dalam gedung.
“Kalo customer service pasti duduk di bagian depan, kan?” tanya Dean.
"Sampai sekarang customer service di depan dan office boy di belakang, Pak. Belum ada perubahan," kata Musdalifah.
Dean merapatkan giginya, melirik ke belakang melalui spion.
“Setau gue, mereka juga pake shift, De.” Toni ikut mengamati bagian dalam gedung. Ucapan Musdalifah luput dari telinganya.
“Itu mantan Rey dua tahun yang lalu. Bisa jadi doi udah naik jabatan. Oke, gue masuk. Lakukan kesibukan kalian masing-masing. Yang mau turun jalan-jalan menghirup udara segar di luar, juga bisa. Jangan sungkan. Musdalifah kalo mau keliling gedung ini, juga boleh.” Dean lalu turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk lobi.
“Aku disuruh keliling gedung? Alesan aja biar nggak diuber-uber ngobrolnya,” gerutu Musdalifah.
“Ehem!” Santoso berdeham.
Musdalifah langsung terdiam. Sesaat tadi ia lupa kalau di belakangnya duduk dua orang bawahan pria licik yang baru saja turun. Musdalifah melirik Toni yang sibuk dengan ponselnya.
“Mbak Musdalifah udah punya pacar?” tanya Santoso, memajukan letak duduknya. Ryan yang terbiasa dengan ulah Santoso, menyibukkan diri dengan tabletnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Musdalifah, ketus. Ia sebenarnya malas meladeni Santoso, tapi di lain sisi rasanya tak sopan kalau tak menanggapi orang yang sedang mengajaknya berbicara.
“Saya dulu punya pacar, Mbak. Tapi sekarang sudah putus karena LDR.” Santoso menggeleng lemah dengan raut prihatin.
Musdalifah menghela napas panjang. Haruskah mengatakan bahwa ia tak peduli? Sedangkan Ryan, diam-diam mulai menyimak perkataan Santoso. Ia pernah berada di posisi itu. Putus karena hubungan jarak jauh. Merasa senasib, Ryan mulai menaruh iba.
“Padahal saya itu nggak neko-neko selama pacaran jarak jauh.” Santoso kembali meneruskan ucapannya.
“Mungkin karena lo nggak ada duit, makanya lo nggak neko-neko.” Akhirnya Ryan tak sanggup untuk tak menimpali. Ia meng-copy paste ucapan Dean padanya dulu. Ternyata rasa iba-nya tak bertahan lama.
“Itu ada benarnya, Mas Ryan. Enggak neko-neko karena enggak ada duit,” sahut Santoso, dengan raut datarnya. “Tapi, penyebab LDR itu yang lebih kentara. Saya di Jakarta, dia di Banyuwangi. Lantas, kami enaknya ketemu di mana?” tanya Santoso.
“Akhirat, Mas ....” gumam Musdalifah, menatap keluar kaca jendela. Ia melihat Dean berdiri dengan satu tangan berada di saku dan memegang selembar kertas.
“Jawaban-jawaban Mbak Musdalifah selalu membuat saya berdebar,” ujar Santoso.
“Berdebar karena rasa? Atau karena denger akhirat, San?” tanya Ryan. Mau tak mau kali ini ia ikut terkekeh.
“Keduanya, Mas ... karena keduanya.” Santoso mengangguk-angguk menatap Ryan.
Toni sudah selesai dengan ponselnya. Dan telinganya kembali menangkap percakapan aneh yang terjadi di belakang.
“Padahal aku minta dia menunggu dan bersabar. Apa semua wanita seperti itu, Mbak Mus?” tanya Santoso, memandang Musdalifah.
Musdalifah lalu menoleh menatap Santoso, “Pak Santoso, bukan semua wanita seperti itu. Tapi lebih tepatnya, akan ada waktu di mana semua sabar akan menjadi sadar. Enggak cuma wanita aja,” tukas Musdalifah. Toni mendengar perkataan Musdalifah dan kini ikut terdiam.
“Mungkinkah para wanita tak memahami bahwa kami para lelaki ini sebenarnya berjuang dalam diam?” tanya Santoso lagi.
“Kalau pahlawan kita bisa berjuang dalam diam, bambu runcing nggak akan masuk buku sejarah. Ngomong berjuang, tapi diam. Di mana logikanya itu?” omel Musdalifah. Kali ini, Toni semakin merasa tersentil.
Ryan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Pipinya pegal karena sejak tadi ia berusaha keras menahan tawa. Akhirnya, untuk mengakhiri pembicaraan absurd itu, Ryan harus mengalihkan pikiran semua orang.
“Kayaknya Pak De udah ketemu targetnya,” ujar Ryan. Semua mata langsung tertuju ke lobi gedung.
Di dalam lobi gedung, seorang pelanggan baru saja berdiri dari kursi di seberang salah satu customer service. Dean langsung mendekati kursi kosong, sebelum wanita itu kembali memanggil nomor antrian berikutnya. Sejak menunggu tadi, Dean sibuk memikirkan sesuatu. Papan nama customer service itu bertuliskan nama, ‘Mahda’.
Dean sedang menimbang bagian nama wanita itu yang bisa ia sebutkan.
“Hai, aku Dean.” Dean langsung mengulurkan tangannya pada Mahda.
“Eh—Hai …,” sahut Mahda, raut terperanjat begitu cepat berganti dengan raut terkesima saat menatap Dean. Ia menyambut uluran tangan Dean, lalu menunjuk kursi di depannya.
Dean duduk, lalu menyapukan pandangannya ke atas meja. “Jam istirahat di sini bergantian, ya? Aku pengen ngobrol sedikit dengan Mbak Mahda. Boleh?” tanya Dean, membasahi bibirnya lalu tersenyum hingga matanya tinggal segaris.
Mahda menoleh jam di pergelangan tangannya. “Boleh, aku bisa minta istirahat jam pertama. Dua puluh menit lagi. Ngobrol penting, ya?” tanya Mahda, penasaran.
“Bisa, kok. Enggak usah panggil aku ‘Mbak’. Panggil nama aja,” pinta Mahda.
“Oke. Aku panggil nama. Tapi kalo aku panggil ‘Mah’ kamu jangan panggil aku ‘Pah’ ya …,” canda Dean, tertawa pelan.
“Bisa aja,” sahut Mahda. “Udah ada yang manggil ‘Pah’ kayaknya …,” ucap Mahda.
“Soal itu sebaiknya sesudah ngobrol aja. Gimana? Aku tunggu di konter minuman boba itu ya.” Dean menunjuk konter boba bertuliskan ‘Raiyo Boba & Milk Tea’.
“Boleh—boleh. Nanti saya nyusul,” ujar Mahda, mengangguk.
Dean ikut mengangguk dan berlalu dari depan meja. Dua puluh menit lagi pikirnya, ia masih sempat pergi ke mobil dan berbicara dengan Toni.
“Gimana?” tanya toni saat Dean kembali menghempaskan tubuh di kursi sebelahnya.
“Nunggu doi, dua puluh menit lagi mau ambil jam istirahat pertama,” jawab Dean. “Kok senyap? Atmosfernya mencurigakan,” ujar Dean, menatap satu persatu penduduk di jok belakang. Hanya Santoso yang bereaksi dengan menggelengkan kepala.
“De, gue ada kekhawatiran.” Toni meletakkan ponsel yang sejak tadi dipegangnya.
“Sejak mo balikan ama Wulan, lo keliatan lebih resah. Cemas terus,” ujar Dean.
“Banyak yang gue cemaskan. Soal Mami, gue letakkan ke list berikutnya. Ini soal Rey dan perusahaan Wulan. Kalo cuma sekedar hutang, bisa langsung dibayar. Kalo saham di perusahaan Wulan dia tahan? Sama aja boong. Dia masih ada alasan untuk terus datengin Wulan,” tukas Toni.
“Toni, sahabatku. Kritik itu adalah hal yang wajar. Gue mengkritik orang, wajar. Dan gue nggak dituntut untuk harus ngasi solusi atas kritik yang gue lontarkan. Itulah indahnya jadi kritikus. Tapi … di sini gue adalah sahabat lo. Kalo gue sekedar mengkritik tanpa solusi, itu bukan Dean namanya. Bisa Santoso, bisa Ryan. Atau siapa aja. Yang jelas, bukan gue.”
Ryan berdecak-decak dari kursi belakang. “Oke, thank you, Yan. Gue lanjutin lagi. Sekarang … gue menitikberatkan masalah Rey ini, bukan mau mempidana dia, Ton. Tapi gue sedang menciptakan bahan barter untuk lo. Sesuatu yang bisa lo tukar, agar Rey mau menyerahkan saham dan menandatangi surat pelunasan hutang-piutang. Rey punya bisnis ilegal yang gue rasa murahan banget. Enggak banget, deh, gue rasa. Dan menurut gue, Wulan pasti nggak mau Rey diseret ke penjara karena itu. Itu nggak masalah, setidaknya kita harus memutus rantai. Paham lo sekarang?” tanya Dean, melirik konter minuman Raiyo Boba di luar lobi gedung.
“Paham garis besarnya aja,” jawab Toni.
“Oke. Itu juga udah cukup, kok. Gue emang belum garisin yang kecil-kecil. Oke, gue keluar lagi. Itu si ‘Mah’ udah nunggu.” Dean membuka pintu mobil dan keluar.
Dean berlari kecil menghampiri Mahda yang celingukan mencarinya.
“Hei, aku baru dari mobil. Duduk sebentar, yuk. Aku pengen ngajak kamu makan, tapi—yah, ngerti sendiri gimana lalu lintas Jakarta.” Dean menarik sebuah kursi untuk Mahda, lalu duduk di seberang wanita itu.
“Kan, bener … pasti Pak De bantu narik kursi untuk cewe itu,” ujar Santoso, pada Ryan.
“Iya, kalo itu pasti. Abis narik kursi, ngapain lagi?” tanya Ryan.
“Menaikkan rambutnya dengan tangan kanan, lalu meletakkan sikunya di meja. Pak Dean akan tertawa renyah kemudian membasahi bibirnya.” Santoso menempelkan dahinya di kaca jendela mobil demi mengamati atasannya.
“Kita tunggu aja,” sahut Ryan. Matanya ikut tertuju keluar mengamati Dean. “Oke, Santoso. Lo bener.” Ryan mengangguk membenarkan Santoso karena di kejauhan, Dean benar-benar melakukan apa yang dikatakan Santoso barusan.
“Abis ini—abis ini pasti ….”
“Sebenarnya bapak-bapak ini lagi ngapain, ya?” tanya Musdalifah sebal. Apa semua pengacara selalu aneh seperti ini, pikirnya. Musdalifah khawatir setelah debt collector, ia juga akan trauma dengan pengacara.
“Ini tes kelayakan pegawai setia namanya,” jawab Santoso. Dahinya masih menempel di kaca.
Sebelum berbicara pada Mahda, Dean menelengkan kepalanya menoleh ke arah mobil Toni. Ia tahu bahwa saat ini Santoso yang begitu mengaguminya pasti sedang mengamati tiap gerak-geriknya dari jauh. Dan Ryan sedang berusaha mencari celah Santoso.
“Mah …,” panggil Dean. “Aku boleh nanya soal Rey?” tanya Dean.
“Ha? Soal Rey, ya? Ada masalah apa lagi? Rey terlibat kasus apa? Kamu dari kepolisian? Aku udah lama nggak ketemu Rey.” Mahda sekarang memandang Dean dengan cemas.
“Enggak—enggak, aku bukan dari kepolisian. Rey juga baik-baik aja. Aku cuma mau sedikit lancang. Itu juga kalo kamu izinkan. Kalo kamu terganggu dengan kehadiranku sekarang, aku bisa pergi. Aku cuma mau kamu nyaman saat ngobrol dengan aku. Sekarang, kenyamanan kamu yang utama." Dean menatap lekat Mahda. Ia menebak-nebak jam berapa Mahda bangun setiap pagi untuk membentuk ikal di ujung rambut panjangnya yang diwarnai cokelat muda.
Mahda mengerjap saat mendengar hal yang dikatakan Dean. Bulu mata ekstensinya menambah kesan ekspresif mata wanita itu. Ia menghela napas kemudian tersenyum. “Aku nyaman, kok, ngobrol sama kamu, Dean ….”
“Seorang customer service terlena …,” lirih Santoso. Uap dari mulutnya membentuk embun di kaca mobil yang sejak tadi ia tempeli.
To Be Continued
Jangan kelewatan Like-nya ya sayang-sayang enjuuusss .... :*